Nona Lisa

Nona Lisa
Dadakan.


__ADS_3

" Hah?" Kejut orang tua Santi.


" Apa?" Bersamaan dengan ibu Ryan yang masih berada di ambang pintu dan mendengarkan ungkapan Max.


Sedangkan Santi, melebarkan mata dan juga menajamkan pendengaran. saat Max sudah mengungkapkan ke inginannya yang datang malam-malam ke rumah orang tuanya di kampung menyusul dirinya.


" Iya, Saya ingin melamar putri bapak untuk menjadi istri saya." Ucapnya lagi, dengan tegas tanpa rasa bergetar melamar seorang wanita yang baru dia kenal tanpa beracaran. Berhadapan langsung pada orang tuanya, tanpa rasa takut.


Mata Max melirik sekilas ibu Ryan, yang berbalik menghadap ruang keluarga, melototkan mata mendengar ungkapannya datang ke rumah Santi.


Ya, Max sudah mendengar semuanya kala dirinya baru sampai di teras rumah Santi. kedatangan seorang pria bernama Ryan bersama orang tuanya tentang tujuan melamar Santi.


Tubuhnya menegang kala mendengar orang tua Ryan meminta Santi sebagai menantunya, tapi sedetik itu juga Max tersenyum, mendengar bapak Santi menolak lamaran Ryan.


Lega, sangat lega.


Bersorak gembira dalam hati, dan dirinya tidak menyia-nyiakan kesempatannya datang ke rumah Santi malam ini.


Ya, walaupun dengan keadaan wajah sedikit kusam dan butuh sedikit lelah. Ia mengungkapkan ke inginan serta tujuan menyusul Santi adalah ingin melamar Santi di hadapan langsung pada orang tua Santi.


Bukankah seorang pria dewasa, harus datang ke rumah wanita yang di sukainya. Meminta baik-baik putri dari orang tua yang merawatnya sedari kecil. Di terima atau tidak di terima, dirinya akan tetap memperjuangkan wanita yang di sukainya sampai ke dua orang tua wanita itu menerimanya.


Dua kali ucapan Max, terdengar sudah sangat jelas di telinga Santi. otak sulit berpikir, jantung seakan ingin berhenti, bibir sulit sekali untuk berbicara. Sungguh saat ini dirinya seperti patung dadakan.


Ke dua orang tua Santi sama terkejutnya, kedatangan pria tampan, gagah dan berwibawa datang ke rumahnya dengan tujuan melamar putrinya. Yang baru saja menolak lamaran dari seorang lelaki bersama ke dua orang tuanya. Kini di hadapkan lagi laki-laki sendirian dari kota melamar putrinya.


Keberuntungan macam seperti apa putrinya ini, di lamar oleh laki-laki kota yang sangat tampan dan terlihat dari pakaiannya pastinya orang kaya.


Bapak Santi mencoba mengatur nafas dan tersenyum. " Santi?" Panggil Bapak Santi dengan lembut. Santi yang mendengar panggilan bapaknya, segera menyadarkan diri dan menoleh ke arah bapaknya.

__ADS_1


" Bagaimana Nak?" Tanya bapak Santi, Bapak Santi juga bingung harus menjawab apa.


Dalam naluri dan hatinya, ingin sekali menerima lamaran lelaki kota itu. Tapi itu semua kembali lagi dengan Santi, yang menjalani hidupnya berumah tangga adalah putrinya. Tidak ingin dirinya menjodoh-jodohkan, atau menerima lamaran lelaki yang Santi sendiri tak menyukainya.


Santi berpindah menatap ibunya, meminta saran yang juga dirinya bingung harus berbuat apa. Pasalnya saat ini hatinya sungguh merasa tak karuan. Sungguh, dirinya kenal dengan Max dan beberapa kali bertemu, tak pernah ada dalam bayangan atau khayalannya ingin Max menikahinya. Tidak! Dirinya takut, jika berkhayal dan mengharap tak sesuai dengan kenyataan, hatinya akan jatuh dan hancur berkeping-keping.


Ibu Santi hanya tersenyum dan mengangguk. seperti setuju dengan lelaki dari kota melamarnya untuk menjadikan istrinya. Dan kembali beralih menatap bapaknya, yang juga ikut tersenyum dan mengangguk.


" Ya pastinya jelas di terima lah! Orang yang ngelamar kaya. cewek matrek kan gitu!" Ketus Ibu Ryan sedikit meninggi, membuat ke dua orang tua Santi, Santi dan Max beralih menatap ke ibu Ryan.


" Mama?" Tegur Ryan, yang juga melihat ke arah ruang tamu.


" Lihat saja Yan, pasti di terima. mana mungkin mau nolak." Ujarnya lagi dengan sinis.


" Kalau saya terima lamaran Mas ini kenapa? Masalah buat ibu!" Jawab Santi ketus dan berdiri menantang balik ibu Ryan.


Sudah cukup rasanya di tindas seperti dulu. Tidak ingin lagi harga dirinya di injak-injak di hadapan orang. Meskipun itu orang tua, iya akan melawan selagi dirinya benar dan tidak bersalah. Dan tidak mempedulikan lelaki yang melamarnya ilfil dengannya karena bertengkar dengan yang tua, dan tidak menghormatinya.


" Masalah! Hah, ya tidak lah! Malah bersyukur anakku gak jadi sama kamu. anakku bisa bangkrut kamu plorotin terus uangnya." Kata ibu Ryan.


" Ya jelas lah buk, sebagai istri harus memanfaatkan uang suami. Kalau enggak di manfaatkan, uangnya mau di bawa kemana? Mau di ambil ibu mertua! Buat foya-foya makan ke mall, traktirin temennya! Biar gak di jauhi! Ngaku kaya, padahal gak seberapa. Cih!" Sindir Santi mantap menusuk hati.


Kenyataan yang di lakukan ibu Ryan, mengaku kaya padahal hidupnya juga sama sekarang dengan Santi. Tidak beda jauh dan tidak ada kemajuan. Sedangkan Santi, sudah mulai maju dan bisa mengangkat derajat ke dua orang tuanya. Walaupun banyak nyinyiran dan penasaran para tetangga tentang dirinya mendapatkan uang dari mana.


" Kamu menyindirku!" Geram ibu Ryan, menunjuk-nunjuk Santi dengan wajah yang memerah.


" Mama? Berhenti Ma? Malu." Lerai Ryan, sambil melototkan mata.


" Sudah Ma!" Tegas Ayah Ryan, mengetahui sifat istrinya yang suka marah-marah di depan umum hanya masalah kecil, menjadi di perbesar.

__ADS_1


" Kok ibu marah sih! Ibu tersinggung dengan ucapanku! Kan aku enggak bilang itu ibu! Kenapa harus marah?" Dengan senyum mengejek, tepat sasaran Santi menyindirnya. Dan wanita tua itu merasakan sindirannya, hingga membuat dirinya marah.


" Kam-,"


" Kalau Anda tidak ada kepentingan lagi, pergi dari sini! Saya masih ada perlu dengan orang tua Santi." Sela Max, tegas dan menatap tajam ibu Ryan yang mulai diam serta sedikit mulai. takut dengan tatapannya.


" Maaf Pak Tejo, bukan saya mengusir. Sebaiknya bawa istri pak Tejo pulang. Saya tidak ingin tetangga berkerumun nanti ke rumah saya." Kata ibu Santi, pertama kali menyuarakan ucapan setelah sekian lama diam. Jenuh dengan kelakuan Ibu Ryan.


" Maaf Bu Santi?" Ucap pak Ryan yang juga merasa malu sekali akan tingkah istrinya. " Ayo Ma, pulang!" Geram Bapak Ryan, menatap tajam istrinya. Membuat nyali istrinya menciut seketika.


" Ryan?" Panggil Santi, membuat Santi seketika menoleh ke arah Santi.


" Tentukan masa depan kamu sendiri. Jangan sampai menyesal di kemudian hari Yan." Kata Santi, mengingatkan apa yang harus pria itu lakukan pada dirinya sendiri, tanpa di atur dan di kekang oleh ibunya.


Ryan hanya mengangguk dan tersenyum, ucapan yang di maksud Santi memang ada benarnya. Dirinya begitu di atur dan begitu di kekang oleh ibunya sendiri. Membuat dirinya tidak terlalu bebas dan sulit untuk melakukan apa-apa kemauannya sendiri


Miris.


Sepeninggal Ryan dan orang tuanya, Santi sedikit merasa lega. Tapi sedetik kemudian, ia sadar, Jika masih ada satu lelaki yang masih ada di rumahnya. Menunggu tentang jawabannya, atau dia akan mengurungkan niatnya tentang lamarannya padanya.


" Aku tidak ingin di tolak, karna aku sudah tau semuanya San?" Bisik Max, di samping Santi. Membuat Santi membulatkan mata menatapnya dengan Max yang tersenyum manis melihat wajahnya.


.


.


.


.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃


__ADS_2