Nona Lisa

Nona Lisa
Candu


__ADS_3

Siapa yang tidak senang, sebagai wanita di perkenalkan pada semua orang tentang siapa dirinya bagi Bima. Dan status apa dirinya dengan Bima.


Kini semua orang sudah tau dan tidak bisa akan di tutupi lagi oleh Bima. Jika dirinya sudah menikah dan mempunyai istri secantik Lisa dan seramah senyuman yang selalu bertengger di bibir mungilnya.


Wanitanya, istrinya, kehidupannya dan juga satu-satunya wanita yang di cintainya hingga akhir hayatnya.


Lisa begitu senang, bahagia dan terharu Bima mengumumkan statusnya dan juga memperkenalkan dirinya pada semua orang sebagai istri tercintanya. Dirinya tau, ini akan beresiko dan pastinya akan sulit baginya untuk keluar mencari udara segar sendirian. Banyak paparazi dan juga banyaknya bahaya yang akan mengganggunya dan menerornya.


Tapi ia tak akan peduli, dan akan menghadapinya. Meskipun dirinya sendiri atau di bantu oleh suaminya. Tau suaminya pasti akan melindunginya dan akan selalu menjaganya.


Di hadapan para awak media, Asisten Bima, Lukas. Menerangkan semuanya dan memjawab pertanyaan dari paparazi. Sekali, dua kali Bima juga ikut menjawab dan mengucap seperlunya serta dirinya. Duduk bersampingan, tangam Bima selalu menggenggam lembut tangannya, tenang dan juga sekali-kali tersenyum ke arahnya.


Bima sangat berwibawa, tatapan ke arahnya dan juga para awak media sangat berbeda. Ramah, tapi tak seramah menatap istri tercintanya. Tak selembut dan menghangatkan hati istrinya.


Sungguh sangat berbeda.


Penjelasan demi penjelasan Lukas terangkan dengan tenang dan memberikan bukti pada awak media akta pernikahan Bima dan Lisa. Serta tidak lupa memberikan tekanan untuk tidak lagi mencari sumber kehidupan Nona Lisa, istri Tuan Alfrado.


Penjagaan begitu ketat, Ketika pulang pun Bima tetap terus menggenggam tangan Lisa hingga berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di depan gedung hotel. Dan para awak media senantiasa mengikuti langkahnya hingga sepasang suami istri masuk ke dalam mobil. Mengambil foto mesra Bima dan Lisa, serta memvidio keromantisan mereka.


Malam ini Lisa pulang di rumah istana Bima, terasa sangat lelah badan dan juga pikiran. karena malam ini begitu banyak kejutan bagi dirinya.


Duduk di sisi tepi ranjang, ingatannya berputar beberapa jam yang lalu. Di mana suaminya menatap tajam pada pak Yoga.


'Istri Tuan, teman putra saya dulu. Saya tidak menyangka teman putra saya istri Tuan. Gadis dari keluarga yang sederhana.'


'Saya tau pak Yoga? Dan saya tau semuanya. Dan hidup tidak perlu di sangka-sangka, karena semua memang sudah takdir, begitu pula dengan garis kehidupan.'


'Jangan selalu memandang sebelah mata kehidupan orang. Orang yang pernah di rendahkan akan bangkit dan bisa memutar balikan keadaan, terutama orang yang pernah merendahkannya.'


Perkataan suaminya seperti perkataan menyindir dan mengingatkannya pada masa lalunya. Di mana dirinya di rendahkan oleh orang tua Fahmi, meskipun tidak begitu kentara dan merendahkannya secara halus. Untuk menyadarkannya di mana posisinya dulu saat bersama Fahmi.


Tapi sekarang, tidak ada sama sekali niatan dirinya untuk balas dendam atau memamerkan dirinya yang kaya pada ke dua orang tua Fahmi. Apa lagi mempunyai suami seperti Bima. Tidak, dirinya tidak berpikir sampai seperti itu.

__ADS_1


Yang dirinya mau, hanya ingin masa lalu itu pergi dan tidak akan kembali dalam kehidupannya. Sungguh pahit jika mengingat semuanya. Menutup mata sejenak, menarik nafas lebih dalam dan menghembuskannya dengan perlahan.


" Kenapa?" Suara lembut suaminya, membuat dirinya membuka mata dan tepat di depannya Bima berjongkok serta tersenyum menyentuh tangannya.


" Tidak apa-apa, kamu mau mandi? Aku siapin air hangat ya?" Ucap Lisa.


" Tidak usah, nanti saja? Kamu lelah?" Tanya Bima, duduk di sebelahnya dan masih setia menggenggam tangan Lisa.


" Sedikit. Kamu lelah."


" Lelahku hilang, saat bersama kamu." Jawab Bima, membuat Lisa berdecit tersenyum malu.


" Gombal?" Tawa Lisa. Membuat Bima ikut tertawa dan memeluk tubuh istrinya.


" Gak mau cerita itu siapa?" Kata Bima, membuat Lisa mendongakkan kepala. Tersenyum menatap suaminya yang pastinya sudah tau tentang siapa Fahmi dan ke dua orang tuanya.


" Yang mana? Bu Salma?" Pancing Lisa.


" Aku enggak pacaran sama dia? Dan itu, bukan calon mertua ku, sayang?" Ucap Lisa, mencolek pipi Bima.


Dengan Bima yang tertawa, menggeser tubuh Lisa untuk duduk di pangkuannya. Kedua tangan melingkar di pinggang ramping istrinya, serta menatap lekat wajah istrinya.


" Yakin dulu gak pacaran?" Tanyanya.


" Cuma dekat saja? Gak lebih." Jawab Lisa, sambil memainkan kancing kemeja suaminya.


" Kalau di restui?


" Ya pacaran, terus nikah." Jawab enteng Lisa. " Dan gak bisa jadi istri Mas Alfrado Bima." Imbuhnya, tertawa senang melihat mimik wajah suaminya yang berubah cemberut.


" Untung gak jadi nikah."


" Hmm, untung kan?"

__ADS_1


" Ya? Untung. Dan kini nikahnya sama aku." Jawab Bima, semakin gelak tawa Lisa di atas pangkuan suaminya.


Beruntung Lisa nikah dengan Bima, dan di pertemukan dengan pria dingin yang sekarang menjadi bucin padanya. Andai dirinya tidak bertemu dengan Bima, entah siapa yang akan menjadi suaminya kelak. Suami yang tampan dan bonus kaya raya.


" Lisa?" Sapa lembut suaminya.


" Ya?" Menatap dalam manik mata Bima. Teduh dan menghangatkan.


" I Love You." Ucap Bima, mengusap pipi istrinya yang bersemu merah mendengar ucapan cintanya.


" Love you too" Jawab Lisa.


Kini saling mendaratkan ciuman, cium*n lembut di bibir yang saling bersentuhan. Memberikan kehangatan, penuh gairah dengan nafas yang terengah-engah saat melepas sejenak untuk mengambil udara lebih banyak. Dan kembali untuk ke dua kali berciuaman lebih dalam, lebih menuntut satu sama lain.


Tangan sudah tak bisa di kendalikan, menurunkan resleting gaun. Mengusap punggung mulus yang membuatnya selalu suka dengan sentuhan itu. Tangan sudah mendarat seperti biasa dia selalu menempatkannya di tempat favoritnya. Memainkan ujungnya, juga memijat lembut hingga tangan terasa penuh. suara desah*n lolos dari bibir istrinya yang masih saling bercium*n. Merasakan sensasi yang sangat panas menjalar di tubuhnya.


Setiap malam, setiap hari, tiada waktu untuk mereka tak melepas rindu. Rindu yang selalu menggebu dan selalu menuntut untuk saling memuaskan. Memadu kasih, memberikan kehangatan di atas ranjang sebagai saksi cinta yang selalu ada untuknya.


" Bima?" Desah Lisa, meremas kuat rambut Bima. seakan menyuruhnya lebih dalam.


" Hhmm." Hanya menatap sekilas dan kembali bibir menghis*p kesukaannya.


" Bim?" Desahnya sekali lagi.


" It's oke, sayang." Ucapnya dan mengecup bibir manis Lisa, mengangkat tubuh Istrinya dan memulai memadu kasih di atas ranjang bersama istri tercintanya, yang akan selalu berakhir kenikmatan surga dunia malam.


.


.


.


🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2