
" Pa, Ma?" Sapa Fahmi, Melihat ke dua orang tuanya sedang berada di ruang tamu.
" Fahmi?" kejut Mama Fahmi, berdiri dari duduknya. Menghampiri putranya yang sudah lama tidak pulang ke rumahnya, karna terlalu sibuk dengan pekerjaan di kota.
" Kenapa pulang gak bilang mama? Kan mama sama papa bisa jemput kamu sayang di bandara? Sama buatkan makanan kesukaan kamu." Kata Mama Fahmi, melepas pelukan dan mencium ke dua pipi putranya.
" Buat mama kejutan, biar mama gak sibuk di dapur kalau fahmi bilang akan pulang." Jawab Fahmi, tersenyum senang melihat expresi terkejutnya mama yang melihatnya pulang ke rumah.
Lebih dari tujuh bulan Fahmi tidak pulang ke rumah orang tuanya, rasanya sudah lama juga tidak tidur di kamar kesayangannya dan juga makan makanan mama tersayangnya.
" Apa kabar nak?" Ucap Pak Yoga, menepuk bahu putranya dengan wajah rindu.
" Baik Pa, Papa apa kabar." Tanya balik Fahmi, mencium tangan papanya takzim.
" Papa baik? ambil cuti tahunan."
" Iya Pa, Sekalian liburan. Jenuh di kota terus." Jawab Fahmi.
" Libur berapa minggu! Mama jadi kangen liburan keluarga." Mama Fahmi antusias mendengar anaknya cuti tahunan dan pastinya akan lama di rumahnya. Bisa memanfaatkan waktunya bersama orang-orang tercinta.
" Hanya satu minggu ma? Tapi juga masih tetap kerja mantau lewat rumah." Jawab Fahmi, membuat orang tuanya mengangguk mengerti.
" Ya sudah sana ke kamar, taruh kopernya dan kembali lagi ke bawah. Kita makan siang bersama." Perintah Mama Fahmi.
" Siap buk Bos." Ucap Fahmi. Mama fahmi hanya berdecak dan pak Yoga tertawa menggelengkan kepala. Rindu akan kehangatan yang sudah lama sekali rumah yang tidak ada putranya, dan kini kembali lagi keceriaan di dalam rumah walaupun hanya sebentar saja.
Kamar masih rapi, tidak ada debu dan tetap segar meskipun tidak pernah ia tempati. Mungkin mamanya yang selalu meminta pembantu untuk membersihkannya setiap hari agar terawat dan tidak berdebu bila sewaktu-waktu anaknya pulang.
Ya, tidak perlu lagi Mama Fahmi membersihkan kamar saat seperti ini, pulang tanpa memberitahukannya dulu. Fahmi mulai membuka koper dan menata bajunya di lemari, sengaja dirinya membawa pakaian seakan dirinya ingin sekali pulang dan enggan kembali lagi ke kota.
__ADS_1
Pakaian yang masih rapi, tidak satu pun tersentuh atau berantakan seperti dirinya yang mengambil tanpa hati-hati. Tanpa sengaja, matanya tertuju pada kotak kayu yang selalu ia simpan dan lupa untuk ia pakai di kota. Mengambil kotak itu dan membukannya, perlahan bibirnya tersenyum, menatap jarum yang tidak bergerak.
" Sudah tidak berjalan, sama seperti ini harapan ku pada mu. Ini akan jadi kenangan terindah meskipun menyakitkan. Akan ku doakan semoga kamu bahagia selalu, Lisa."
Kembali menutupnya dan menaruhnya di laci lemari, agar dirinya tidak agi berharap pada wanita yang sudah menjadi istri orang. Dia sudah bahagia, tidak perlu lagi mengusik kebahagiannya. Meskipun dirinya yang lebih sakit saat ini. Tapi setidaknya ia lega, wanita yang di cintainya mendapatkan suami yang tepat untuk menjaga dan membahagiakannya.
Jika dirinya menyalahkan Lisa, itu salah. Karna Lisa tidak bersalah. Wanita itu tidak bersalah untuk memilih siapa pendamping hidupnya, tidak bersalah karna sudah meninggal dirinya yang berharap lebih pada Lisa. Wanita butuh kepastian, wanita juga butuh perlindungan dan kebahagian dari pria yang mendapatkan hatinya.
Bukan seperti dirinya, pria yang tidak pernah memberikan kepastian. Pria yang tidak pernah melindunginya dan pria yang tidak pernah memberikan dia senyuman dan keceriaan di wajahnya.
Hanya bisa tersenyum kecut mengingat bagaimana bodohnya dirinya meninggalkan dia dulu hanya demi membahagiakan ke dua orang tuanya. Tapi tidak apa-apa, setidaknya ia sudah berbakti pada orang tuanya dan sudah mewujudkan impiannya juga kuliah ke luar negeri serta membahagiakan orang tuanya.
Menutup lemari kembali dan sedikit berjingkat karna kehadiran mamanya yang diam di belakangnya tanpa bersuara.
" Astaga Mama!!" Seru Fahmi, sambil mengusap dadanya yang berdetak kencang.
" Kenapa gak manggil sih ma?" Ujarnya lagi.
" Punya aku ma? Di kasih teman dulu."
" Dari Lisa?" Membuat Fahmi menatap dalam Mamanya. Seakan lidah keluh untuk menjawab.
" Kenapa enggak di pakai? Kan sayang kalau di simpan terus." Imbuhnya, tau akan tatapan putranya bila jam itu adalah hadiah spesial dari wanita yang pernah mengisi hati Fahmi.
" Jamnya mati, mungkin sudah habis batrainya." Jawab Fahmi, berjalan menuju ranjang mencoba mencari kesibukan agar mamanya tidak lagi menatap matanya.
" Kamu masih menyukainya?" Tanya Mama Fahmi.
" Lisa sudah milik orang ma? Dan suaminya adalah bosku."
__ADS_1
Mama Fahmi menghembuskan nafas berat duduk di sisi ranjang sambil memperhatikan putranya yang sedang mencoba menghindar dari dirinya.
" Maafin mama sama papa Fahm. Karna keegoisan mama dan papa, Lisa pergi dari kamu." Lirih Mama Fahmi, meminta maaf atas apa yang pernah di perbuat olehnya dan suaminya.
Keegoisannya untuk menjadikan putranya seorang sarjana, berpendidikan tinggi dan ingin memiliki jabatan yang baik bila kerja di perusahaan tinggi. Membuat putranya bersedih karna meninggalkan wanita yang pernah di cintainya hingga sekarang, meskipun wanita itu sudah mempunyai suami.
" Ma? Tolong jangan di bahas lagi ya." Lembut Fahmi, ikut duduk di samping mama dan menggenggam tanganya. " Mama dan Papa juga tidak salah. Itu semua juga demi kebaikan masa depan anak, apapun yang di lakukan orang tua juga demi anak."
" Tapi tidak dengan cara memisahkan kamu dengan Lisa? Cara mama sama papa sangat buruk, apa lagi di mata Lisa." Kata Mama Fahmi, bagaimana dirinya ingat dulu saat di cafe bandara bersama Suaminya dan Lisa.
" Lisa sudah memafkan mama sama papa kan?" Tanya Fahmi, membuat Mama Fahmi mengangguk.
" Hinaan yang mama dan papa beri tidak seberapa, dan masih wajar Lisa memafkannya. Ya, walaupun dia akan mengingatnya selalu. Tapi mama tidak perlu khawatir, Lisa bukan wanita pendendam." Kata Fahmi, sifat Lisa sudah ia pahami sejak duduk di bangku menengah sekolah.
Ya, Fahmi sudah mengetahuinya bagaimana perlakuan ke dua orang tuanya dulu pada Lisa saat berada di bandara. Fahmi tau dari Mawar, kala dirinya pulang ke kampung hanya ingin bertemu dengan Mawar di rumah suaminya. Dan memaksa Mawar untuk menceritakan semuanya kala dirinya berada di luar negeri, termasuk Lisa yang memutuskan kontak dengannya dulu.
Awalnya ragu Mawar menceritakannya karna takut hubungan orang tua dan anak akan renggang. Dengan bujukan dan janji Fahmi padanya, apapun yang dirinya dengar tidak akan marah ataupun benci pada orang tuanya. Akhirnya Mawar menceritakan semua awal Lisa memutuskan kontak dengan Fahmi.
Memang marah dengan ke dua orang tuanya, tapi ia tidak bisa membenci orang tua dan marah terus-menerus pada orang tua yang telah membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Hanya bisa memendam kemarahannya dan diam hingga orang tuanya sendiri yang ingin bercerita dan meminta maaf padanya.
Dan akhirnya Mama Fahmi menceritakan semua tentang dirinya bertemu dengan Lisa dan menceritakan semua kesalahannya pada Lisa ke dirinya. Dan Papanya entah dia tau atau tidak, karna papanya masih diam dan terlihat biasa saja.
Mama Fahmi mengangguk setuju, membenarkan ucapan putranya, jika Lisa wanita yang dewasa. " Lisa wanita pemaaf dan baik, dia pantas mendapatkan kebahagiaan meskipun bukan dari kamu Fahm." Ujar Mama Fahmi. Dengan Fahmi yang tersenyum tulus dan mengangguk.
.
.
.
__ADS_1
.
🍃🍃🍃🍃