Nona Lisa

Nona Lisa
reoni


__ADS_3

...Tatapan itu bukan hangat lagi, tapi seperti ada yang lain....


.


.


.


.


" Duduk Fahm?" Ucap Lisa, mempersilahkan tamunya duduk dengan dirinya yang juga ikut duduk dan menatapnya sedikit tersenyum.


" Ini untuk kamu?" Fahmi menyerahkan plastik putih pada Lisa dengan senyum mengembang. " Itu kesukaan kamu." Ujarnya lagi, kala Lisa sudah menerimanya sambil mengerutkan keningnya.


" Brownis stowbery." Kata Fahmi, tau akan kesukaan Lisa yang dulu saat masih sekolah salalu minta di traktir brownis stowbery.


" Makasih." Ucap Lisa, tersenyum dan menaruh brownis di atas meja. Tanpa mau membukanya.


Bukan tidak mau memakannya, hanya saja ia tidak tau kenapa rasanya berbeda tidak seperti dulu lagi. Dulu Senang jika mendapatkan makanan kesukaannya, memakannya dengan lahap meskipun yang membelikan tidak mendapatkan bagian atau memberinya satu potong saja pada orang yang membelinya.


Mood marah akan berubah senang, tau akan sogokan jika dirinya marah pada orang itu. Dan Fahmi selalu mengingat tentang dirinya.


" Kemarin aku ke rumah kamu, kamu kemana?" Tanya Fahmi.


" Ada urusan sama teman?" Jawab Lisa. " Jangan sering-sering bawa makanan, aku enggak enak." Imbuh Lisa.


" Gak papa, itu kesukaan kamu semua kan."


" Hmm, tapi jangan selalu membelikan jika datang ke rumah."


" Kenapa?" Tanya Fahmi mengerutkan kening.


" Aku enggak enak Fahm? Lagian yang kemarin belum habis dan ini di tambah lagi, sayang kalau nanti ke buang kan?" Ujar Lisa, dengan senyum paksa menutupi kebohongannya. Dirinya tidak memakan kue yang di belikan Fahmi, menyentuh pun tidak. justru suster santi dan ibu yang memakannya.


Bukannya tidak bersyukur dan berterima kasih tapi memang Lisa sudah sangat tersakiti dengan masa lalu, dan membuatnya ingin marah kembali.


" Baiklah." Ucap Fahmi, ikut tersenyum. Yang mau mengerti akan permintaan Lisa.


" Kamu ke sini ada apa." Tanya Lisa


" Aku mau mentraktir kamu."


" Untuk?"


" aku dapat pekerjaan dan mulai besok aku akan bekerja di kantor." Jawab Fahmi dengan senang dan membagikan kesenangannya pada Lisa.


" Selamat ya!"Ucap Lisa.


" Ayo!"


" Kemana?" Ucap Lisa, mengerutkan kening.

__ADS_1


" Jalan-jalan, ke taman kota." Kata Fahmi.


" Maaf Fahm, ak-."


" Aunty!!" Teriak suara gadis kecil, berlari ke arah Lisa. Dengan Lisa dan Fahmi sedikit terkejut dan menatap anak kecil berlari begitu riang.


Lisa yang melihat anak kecil itu, dengan cepat berdiri, sedikit membungkuk sambil merentangkan ke dua tangan. Menangkap anak kecil yang imut, memeluknya dan juga menciuminya.


" Aunty!" Ucap Rania.


" Apa Rania sayang!!" Seru Lisa, mencubit pipi Rania yang menggemaskan.


" Sama siapa ke sini! Hmm!" Tanya Lisa.


" Sama mama sama om Angga. Tuh!!" Tunjuk Rania melihat mamanya berjalan ke arahnya bersama Angga di belakangnya.


Mawar sempat mengerutkan kening melihat pria di belakang Lisa dan sedikit terkejut saat ia melihatnya secara dekat.


" Fahmi?" Ucap Mawar, membuat Lisa dan Fahmi menatapnya.


" Mawar?" Sapa balik Fahmi, dan tersenyum melihat Mawar ada di rumah Lisa.


Mawar kembali melihat Lisa dengan dia yang tegang dan sedikit menggelengkan kepala. Untuk tidak mengucapkan apapun, karna Mawar juga tau akan apa yang ada di masa lalu Lisa.


Rasanya juga ikut sakit hati dan marah, saat Lisa menceritakan semuanya tentang orang tua Fahmi. Yang menyuruh Lisa untuk menjauhi Fahmi dan juga menghinanya dengan memberi uang pada Lisa.


Sungguh itu sangat menyakitkan.


Menghembuskan nafas berat, mencoba menahan rasa terkejut dan juga mulai tersenyum menyapa Fahmi.


" Belum satu minggu. Ini anak kamu?" Tanya Fahmi, menatap anak kecil berponi sedang menatapnya.


" Iya?." Jawab Mawar. " Rania? Salaman dulu sama Om." Perintah Mawar pada putrinya.


" Rania om." Ucap Rania, mengulurkan tangannya pada Fahmi.


" Om Fahmi, putri cantik." Ucap Fahmi, mensejajarkan tubuhnya pada Rania dan mengacak rambutnya dengan gemas.


" Kamu apa kabar Ar?"


" Aku baik! Kamu bagaimana."


" Aku juga baik, masih satu nich Ar?"


" Masih otw yang satunya!" Ucap Mawar membuat Fahmi dan Lisa tertawa.


Menyuruh Angga dan Rania ke kamar ibu, sedangkan Lisa, Mawar dan Fahmi duduk di ruang tamu.


Seperti reoni dadakan di rumah Lisa, teman sekolah yang selalu bertiga saat ke kantin. Dan selalu bergiliran mentraktir makanan.


Menyenangkan, jika mengingat itu.

__ADS_1


" Kamu sudah punya pasangan Fahm!"


" Belum, masih menunggu seseorang."


" Siapa?" Tanya Mawar, mengerutkan kening.


" Wanita yang pernah berjanji padaku, saat mengantarku di bandara dulu." Kata Fahmi dengan senyum.


Dan Lisa terkejut mendengarnya, membulatkan mata menatap Fahmi. Seperti dia sedang mengingatkannya dan meminta jawaban pada dirinya, tentang masa lalu di bandara.


Tidak menyangka, jika Fahmi masih mengingatnya dan masih menunggunya.


****


" Sudah move on!" Seru pria duduk di sofa meminum teh hangat buatan istri tercinta, sambil tersenyum mengejek mantan asistennya.


Hanya mengangkat bahu, dan juga ikut menyesap teh hangat yang di sugukan istri mantan bosnya.


Siapa lagi jika bukan Kevin, yang selalu mengolok Bima yang masih saja memikirkan mantan pacarnya. Yang jelas-jelas keluarga mantan pacar tak merestui dan menghinanya.


" Buktinya sudah mau menginjak apartemen, dan tidak menginap di sini lagi." Ucap Kevin, sedikit terkejut mendengar Bima tidur di apartemennya.


" Perempuan mana yang kamu suka." Ujar Kevin lagi, menelisik wajah Bima yang terlihat tenang dan tersenyum.


Untuk pertama kali, selama beberapa tahun. Dan ini pertama kali Bima tersenyum tanpa paksaan di hadapannya. Dan senyum tulus hanya akan di tunjukkan pada putrinya yang bisa membuat Bima tertawa saat mendengar ocehan Rania.


Jangan bilang Kevin tau dari siapa tentang kedekatan Bima dengan seorang wanita. Siapa lagi yang akan memberitahukannya jika bukan Max, beberapa hari yang lalu berkunjung ke kantornya kala dia sedang di perintahkan pada Bima untuk mengambil proposal di kantor Kevin.


Sebenarnya Max tak akan bercerita jika Kevin dulu yang bertanya tentang Bima. Dan hingga itulah Max menceritakan semua tentang perubahan Bima pada Kevin, yang tidak lagi seperti dulu.


Perubahan Bima juga membuat Kevin senang karna pria di hadapannya saat ini bisa membuka lembaran baru lagi.


" Aku tidak berpacaran dengannya." Kata Bima.


" Kenapa!" Sambil mengerutkan kening. " Bukannya perempuan yang dekat dengan mu sudah membuat mu berubah!" Imbuh Kevin.


" Kamu orang ke empat, mengatakan perubahanku." Kata Bima, tertawa kecil dan menggelengkan kepala.


" Memang benarkan!" Kata Kevin, dan di anggukkan Bima dengan senyum.


" Cepat nikahi wanita itu, jika kamu sudah nyaman dengannya, sebelum dia di ambil orang!" Kata Kevin, membuat Bima diam dan teringat akan siang tadi dirinya sedang menelpon Lisa. Mendengarkan suara suster Santi jika ada pria yang bertamu dan mencari Lisa.


Melihat jam tangan, menunjukkan jarum masih di angka enam. Ia pun bangkit dari duduknya membuat Kevin mendongakkan kepala melihat Bima.


" Aku pulang dulu." Pamit Bima.


" Hmm, jangan lupa besok datang ulang tahun Rania dan bawa wanita itu." Kata Kevin


.


.

__ADS_1


.


.🍃🍃🍃🍃


__ADS_2