Nona Lisa

Nona Lisa
Mall


__ADS_3

...Kamu datang, di saat hatiku sudah berubah....


.


.


.


.


" Kesehatan ibu anda sudah semakin membaik, ada kemajuan yang banyak pada ibu anda. Jadi ibu bisa pergi ke luar kota, asal harus menjaga kesehatan dan juga jangan terlalu banyak lelah. " Tutur dokter yang menangani ibu Lisa selama ini.


Mendengar tutur kata dokter membuat seulas senyum mengembang di bibir Lisa dan Ibunya. Karna ibunya sudah bisa untuk berpergian jauh seperti pulang kampung bersamanya, kala ibunya sangat merindukan suami dan tempat tinggalnya dulu.


" Terima kasih dok?" Ucap tulus Lisa.


" Sama-sama Nona Lisa." Jawab Dokter tersenyum.


Anak pasiennya yang sangat berbakti pada orang tua tunggalnya dan sangat memberikan perhatian lebih pada ibu yang melahirkannya.


Sunguh, dokter itu sangat terharu dan kagum pada Lisa yang mementingkan orang tua daripada kesenangan.


Jika saja dokter itu punya anak laki-laki lagi, mungkin dokter itu akan menikahkan putranya dengan Lisa. Tapi sayang, putra pertamanya sudah menikah dan tinggal putrinya saja yang masih bersekolah.


" Ibu sudah sehat sekarang?" Lisa begitu bahagia merangkul bahu ibunya dan menuntunnya keluar dari ruang dokter. Membawanya ke tempat penebusan obat sebelum pulang ke rumah.


" Ibu sehat kar na ingin pu lang ke kampung." Jawab Ibu Lisa, juga ikut senyum dan merasakan bahagia karna bisa pulang ke kampung halamannya untuk sekian lama ia merindukan kenangan bersama suaminya.


Mendudukkan kembali ibunya di bangku panjang.


" Tolong tebusin obatnya ya mbak?" Pinta Lisa pada suster Santi, untuk mengantri menebus obat.


" Iya mbak?" Jawab suster Santi, meninggalkan Lisa dan ibunya menuju kasir.


" Besok kita pulang ke kampung, sekarang kita kemasi baju ibu dan Lisa dulu ya?" Tutur Lisa lembut, mengusap tangan sedikit keriput.


" Iya. Belikan ha diah buat Rania ju ga Angga?" Perintah Ibunya, tidak lupa dengan anak dari sahabat putrinya yang sudah di anggapnya seperti putrinya juga.


Di mana Mawar dan suaminya selalu ada untuk Lisa, membantu dan juga memberikan dukungan semangat saat putrinya dulu sedang terpuruk dan masa susahnya berjuang demi ibunya yang sakit parah.

__ADS_1


Tidak akan pernah lupa akan jasa Mawar dan suaminya.


Persahabatan rasa saudara, benar-benar mengharukan. Tidak ada rasa iri, meninggalkan dalam kepurukan, ataupun saling menjatuhkan dari Lisa ataupun Mawar. Tidak ada. Persahabatan mereka saling membantu, menyayangi dan juga saling melindungi.


" Iya buk, nanti Lisa belikan oleh-oleh buat Rania dan Angga." Jawabnya, mengingat ponakan kecil yang menggemaskan dan adik Mawar yang sudah tumbuh remaja serta sedikit dingin. Membuat dirinya teringat dengan seorang pria selalu membantunya.


Bima?


Menggelengkan kepala, menghapus nama pria dari pikirannya semalaman ini. Nama itu selalu saja ada dalam pikirannya, saat ia sedang tidak ada kegiatan dan hatinya menjadi berbunga-bunga mengingat senyuman Bima.


Menyebalkan.


Setelah mengantarkan ibunya pulang, Lisa bergegas menuju mall. Untuk membelikan oleh-oleh Rania dan Angga. Menghubungi Riski terlebih dulu untuk menghandel gudang serta melayani castamer langganannya kala ia tidak bisa datang ke gudang.


Lisa begitu semangat. bagaimana tidak semangat. Dirinya akan pulang ke kampung halaman, sudah lama ia memutuskan pindah ke kota lebih besar demi pengobatan ibu dan juga membesarkan usahanya agar lebih maju lagi.


Rumah di halaman kampungnya pastinya selalu terawat, karna dirinya mempercayakan tetangga Lisa untuk selalu membersihkn rumahnya, tidak lupa dirinya juga setiap bulan mengirim uang gaji pada tetangga Lisa yang bersedia membersihkan rumahnya setiap hari agar tidak rusak atau suram meskipun tidak di tinggali olehnya.


Rumah masa kecilnya, rumah penuh kenangan dan bersejarah bagi keluarga. Yang tidak akan pernah Lisa jual, meskipun dirinya tidak menempati rumah itu.


Menghampiri tokonya yang ada di mall sebentar, mengecek laporan keuangan dan juga memberikan tips karyawannya yang sudah memenuhi karget pendapatan satu bulan yang lalu.


Berjalan mengelilingi mall, sambil melihat ponsel kala Riski mengirim pesan padanya. Dan terkejut saat tangannya di tarik oleh seseorang hingga membuatnya terbentur dada pria itu.


" Ceroboh! Enggak Lihat kalau ada tembok sebesar itu!" Ucap Bima, melepaskan tangannya dari lengan Lisa.


Jika saja dirinya tidak melihat Lisa jalan berlawanan mungkin ia tidak akan menarik tangan Lisa. yang kemungkinan wanita itu akan terbentur tembok dan malu karna terlalu fokus pada ponsel, hingga tidak melihat tembok besar ada di hadapannya.


" Jangan terlalu fokus dengan ponsel saat berjalan." Tutur Bima, membuat Lisa mengerucutkan bibir dan bersyukur dirinya di selamatkan dari rasa malunya oleh Bima.


" Iya! Makasih?" Lirih Lisa, menaruh ponselnya di tas dan menatap Bima.


" Kamu kenapa ada di sini?" Tanya Lisa, melihat pakaian kerja Bima.


" Habis bertemu dengan teman." Jawab Bima. " Kenapa sendiri! Riski mana." Tanya Bima, sambil mengendarkan pandangan ke seluruh tempat.


" Ada di gudang!"


" Mau ngapain ke sini!" Cecar Bima, seakan dia kekasihnya saja. Mengintrograsinya hingga detail.

__ADS_1


" Mua cari oleh-oleh buat ponakan!" Jawab Lisa, dan tersenyum saat menatap Bima. dengan Bima mengerutkan kening di tatap Lisa yang tersenyum penuh curiga.


" Temani aku belanja!" Ajak Lisa, menggandeng tangan Bima dan berjalan ria. Tidak mempedulikan Bima sedikit terkejut di tarik tangannya untuk mengikuti langkah Lisa.


Dan seulas senyum tipis itu muncul di bibir Bima. Melihat tangan di genggam oleh gadis ceroboh.


****


" Semalat kembali pulang sayang?" Ucapnya wanita paruhbaya cantik menyambut kedatangan putranya di bandara.


Memeluknya dan mencium pipi serta kening putranya, meluapkan rasa rindu yang lama tidak bertemu dengan putranya, kala putranya kuliah di luar negeri meninggalkannya sendiri dalam kesunyian di rumah besar.


" Apa kabar Ma?" Tanya putranya, mengusap air mata kerinduan mamanya.


Kalau di bilang rindu, pasti iya. tapi dirinya selalu telpon, vidio call ataupun chat dengan mamanya kala mamanya merasa kesepian di tinggal dirinya ke luar negeri untuk mengejar cita-citanya.


" Mama baik?" Jawab Mama tersenyum hangat, membuat Fahmi ikut tersenyum.


" Pa?" Sapa Fahmi, memeluk papanya dengan papa yang juga membalas pelukan serta menepuk punggungnya.


" Selamat Nak, papa bangga dengan kamu." Ucap Papa Fahmi, melepas pelukan menepuk pipi putranya yang di banggakan sudah lulus kuliah dengan nilai bagus.


" Semua berkat papa dan mama?" Kata Fahmi.


Memang benar semua ini berkat de dua orang tuanya. mendidik, menyekolahkan hingga keperguruan tinggi serta memberikan dukungan penuh. Tidak ada yang bisa ia balas kecuali membanggakan ke dua orang tuanya.


" Ayo kita pulang, mama sudah menyiapkan makanan kesukaan kamu." Ajak Mama Fahmi, membuat putra dan suaminya tersenyum mengangguk ajakan Mama yang tidak sabar untuk pulang.


Berjalan bersama, keluar dari bandara dengan mama yang antusias bertanya. Semua tidak seperti dulu sedikit berubah. Jalanan tertata rapi, gedung-gedung semakin tinggi.


menatap ke luar jendela, tersenyum dengan mall yang di lewatinya. Masih sama dan mengingat gadis yang di cintainya pernah ke mall bersamanya, menghabiskan waktunya di tame zone dan membelikan boneka untuknya.


Lisa?" Gumam Fahmi, tersenyum.


.


.


.

__ADS_1


.


🍃🍃🍃🍃


__ADS_2