Nona Lisa

Nona Lisa
kondangan part 1


__ADS_3

...Hanya Tuhan yang tahu, siapa aku dan bagaimana aku menjalani kehidupanku yang dulu....


.


.


.


.


Suasana hotel begitu ramai, akan banyaknya para tamu undangan yang hadir dalam pesta pernikahan, ada yang berpasangan dan ada yang bersama keluarga.


Lisa sedikit tidak percaya diri, hadir dalam pernikahan castamernya sedirian tanpa di temani seseorang. Jika tau begini, dirinya mengajak Riski untuk ikut, agar dirinya tidak seperti ini, bingung dan kurang percaya diri.


Jika dirinya memilih pulang itu tidak mungkin, karena dirinya sudah berada di depan hotel di sambut baik oleh pagar ayu ramah tamah.


Menarik nafas dalam, dan tersenyum untuk melangkah masuk ke dalam aula yang sudah di dekor begitu indah dan megah.


Tidak mempedulikan orang yang menatapnya seperti kagum, dan memuja, bak seperti model atau artis terkenal. Atau bisa dirinya salah dengan memakai baju yang memperlihatkan lekuk tubuh yang indah, hingga para pria terpesona dengannya.


Di tatap seperti itu, dirinya hanya bisa membalas senyum untuk menyapa dan berjalan menuju tuan rumah, memberikan ucapan selamat.


" Selamat ya bu, atas pernikahan putrinya." Ucap Lisa, berjabat tangan, sambil cipika cipiki.


" Terima kasih mbak Lisa?" Ucap castamernya, mengundangnya dalam acara pernikahan putrinya.


" Mbak Lisa cantik sekali! Saya sampai panggling lo!" Pujinya, melihat penampilan Lisa dari atas ke bawah berbeda dari hari biasanya. Yang setiap hari di gudang tidak pernah merias wajah dan juga berpenampilan elegan.


" Ihh, ibu bisa saja!" Timpal Lisa, dengan tertawa kecil. " Ibu juga cantik hari ini, apa lagi putrinya ibu, seperti cinderella. Iya kan pak? " Ucapnya, memuji castamernya dan juga menyapa suami ibu castamer.


" Mbak Lisa bisa saja?" Malu ibu castamer, memukul kecil lengan Lisa dan tertawa bersama.


" Jangan pulang sebelum incipin hidangannya." Kata Ibu castamer, membuat Lisa mengangguk dan tersenyum. Serta undur diri dari hadapannya yang mulai mengantri untuk bercakap dengan tuan rumahnya.


Rasanya enggan untuk makan, kala melihat banyaknya yang mengantri makanan. Hingga dirinya memilih untuk mengambil minuman saat tenggorokannya mulai terasa haus.


" Makasih." Ucap Lisa mengambil minumam di tangan pelayan, di anggukkan tersenyum dan pergi untuk melayani yang lain.

__ADS_1


" Hay?" Sapa seorang pria dari belakang, membuat Lisa menengoknya dengan alis mengerut.


" Boleh kenalan?" Ucapnya, tersenyum manis mengarah padanya. dan melihat di belakangnya ada beberapa cowok sedang berbisik, seperti teman dari pria yang mengajaknya berkenalan.


" Maaf, saya sudah punya kekasih?" Tolak halus Lisa, membalas senyum padanya.


" Oh iya!" Memicingkan mata. " Tapi dari tadi saya perhatikan, Mbak ini sendirian." Imbuhnya, tak percaya dengan ucapan Lisa.


Lisa yang mendengar itu sedikit terkejut, ternyata ada orang yang sedari tadi memperhatikannya. Membuat dirinya semakin tak nyaman, ia pun mencoba tersenyum menutupi kegugupannya dan melihat tak jauh dari segerombolan teman pria yang mengajaknya kenalan, ada pria lain yang sedang sendirian.


" Itu kekasih saya?" Ucap Lisa menunjuk tangannya ke arah pria yang membelakanginya.


" Benarkah!" Ujar pria itu, masih tak percaya dengan Lisa.


" Iya? Mari saya kenalkan." Ajak Lisa, tersenyum dan berjalan menghampiri pria yang belum tau wajahnya.


Semoga dia gak bawa pasangan Tuhan!" Doa Lisa dalam hati, takut jika dirinya malu dan membuat kekacauan hanya karna ingin menyelamatkan diri dari pria yang ingin meminta kenalan padanya.


" Sayang?" Panggilnya, dengan wajah ketakutan dan terkejut saat melihat pria itu berbalik menghadapnya.


" Dia?" Gumamnya dalam hati dengan mata membulat.


" Ini kekasih saya." Kata Lisa, membuat Bima dan orang yang ingin mengenalnya terkejut menatapnya.


" Pak Bi ma, kekasih mbak?" Ucap pria di hadapannya.


" Iya, ini kekasih saya." Jawabnya. " Iya kan sayang?" Ujarnya lagi, menatap Bima dengan senyum manis serta mata yang memelas.


Ya, Bima datang di acara pernikahan karyawan anaknya. Yang mengundangnya dengan rasa hormat dan berharap lebih. Bukan tidak bisa menolak, pria tua yang menikahkan putrinya sudah lama bekerja dengan perusahaannya dan juga ikut dalam mengembangkan perusahaannya yang semakin maju pesat, serta tak pernah berbuat curang dalam bekerja.


" Iya." Jawab Bima, memutuskan kontak mata dengan Lisa. Hingga Lisa merasa lega, dan tersenyum ke arah pria di depannya.


" Maaf Pak Bi ma, saya tidak tau jika mbak ini kekasih bapak." Jawab Pria itu dengan gugup dan takut. Lantaran status jabatan Bima di kantor lebih tinggi dari dirinya.


Bukan sebagai pemilik perusahaan, tapi dirinya lebih di kenal sebagai direktur dan itu adalah kemauannya sendiri, untuk menyembunyikan identitas aslinya serta melihat cara kinerja para karyawan kantornya.


Walaupun begitu banyak wanita yang memuja Bima dan ingin menjadi kekasihnya, meskipun bukan pemilik perusahaan. Tidak ada yang tau siapa pemilik perusahaan mereka bekerja, sangat sulit mendapatkan identitas yang di sembunyikan dengan rapat. Dan kepercayaan Bima hanya ada tiga orang, Asisten, Max dan Doni.

__ADS_1


" Maaf pak sekali lagi." Ucapnya dengan menunduk.


" Iya." Jawab Bima begitu singkat, tanpa berdebat atau berbasa-basi. Memang Bima terkenal dingin, jarang berbicara, tegas dan juga di siplin di kantor. Tidak ada yang berani pada Bima meskipun mereka sama-sama karyawan. Mungin, karena kedudukannya lebih tinggi dan takut jika membuat kesalahan.


" Ayo sayang kita pulang." Ajak manja Lisa, semakin mengeratkan tangannya yang melingkar di tangan Bima.


" Saya, pulang dulu." Ucap Bima, dan di anggukkan oleh karyawan bawahnya.


" Mari?" Pamit Lisa dengan senyum, dan pria itu hanya mengangguk serta senyum kikuk. menatap kepergian Bima dan Lisa serta menatap temannya yang sudah tertawa mengejeknya.


Berjalan keluar dari aula dengan masih menggandeng tangan Bima, dan berhenti di depan hotel dengan menghambuskan nafas lega.


" Hah!! Akhirnya aku bisa bebas." Ucap Lisa.


" Makasih!" Imbuh Lisa, tersenyum lebar serta mengedipkan mata. Membuat Bima, segera melepaskan tangan Lisa yang masih saja menempel padanya.


" Maaf." Ucap Lisa, melipat bibirnya ke dalam. Hanya bisa menghembuskan nafas berat, menggelengkan kepala menatap Lisa yang entah kenapa selalu ada di sampingnya saat masalah selalu menghampirinya.


" Tunggu!!" Seru Lisa, melihat Bima berjalan terlebih dulu meninggalkannya. Berjalan mengikuti Bima dengan cepat, tapi sayang baju pesta yang ia pakai terinjak sendiri hingga membuatnya terjatuh.


" Aauuww!!" Ringis Lisa, membuat Bima berhenti dan berbalik menatap Lisa yang terjatuh.


Bukan hanya membawa masalah, tapi juga ceroboh dengan dirinya sendiri. Hanya bisa menghembuskan nafas panjang menghadapi wanita yang membuatnya selalu extra sabar, jika berada di dekatnya.


Berjalan mendekati Lisa, tangan mulai terulur ke hadapan dia. Membuat Lisa mendongak dan mengerucutkan bibirnya.


" Sakit!!" Lirih Lisa, memasang wajah memelas berharap seperti ala-ala drama yang langsung di gendong menuju tempat duduk tak jauh dari kejadian.


Hanya mengerutkan kening masih menatap Lisa hingga tangan pun ia tarik kembali. Dan berbalik meninggalkan Lisa yang tercengang dengan perlakuannya.


" Dasar Pria arogan!!" Gerutu Lisa, dan berdiri sendiri dengan lutut yang berdarah.


" Aauuww." Ringis Lisa, menahan sakit melepas hak tingginya dan berjalan sangat pelan menuju kursi taman.


.


.

__ADS_1


.


.🍃🍃🍃🍃


__ADS_2