
...Tidak perlu untuk di umbar, karena hidup lebih nikmat dengan kesederhanaan....
.
.
.
.
Berjalan menelusuri mall sendiri, kala Riski sedang mengajak kencan karyawannya yang sedang berlibur. Sangat menyebalkan, mengajaknya ikut malah dirinya yang di tinggalkan. Tapi Lisa juga tau diri, harus memberi ruang untuk karyawannya menikmati mainnya setelah bekerja.
Dirinya tak seperti wanita lain, yang suka hoby berbelanja, ke salon dan menghabiskan uang dalam sekejap saja. Yang pastinya itu sangat boros.
Jika mau dirinya bisa, hanya saja ia sudah terbiasa dengan kesederhanaannya. Berpenampilan sederhana dan juga tak terlalu boros menghabiskan uang yang tidak terlalu penting.
Melihat toko boneka, teringat akan ponakan kecil yang jauh darinya dan selalu memintanya boneka jika sedang vidio call bersamanya. Siapa lagi jika bukan anak Mawar, yang memanggilnya aunty cantik jika ada maunya. Dan ketika tidak mau menurutinya, dirinya akan di panggil aunty pelit.
Sungguh menggemaskan.
Padahal ayahnya sangat kaya, tapi sukanya minta-minta ke auntynya. Apa lagi mintanya dengan mata yang menggemas, serta merajuk hingga tak mau menyapanya. Tapi ponakannya tau, akan kata maaf jika mempunyai salah dan akan bilang makasih jika sudah mendapatkan hadiah, serta tak lupa akan kesederhaan, saling menghargai dan juga merhormati orang tua yang di ajarkan oleh mamanya.
Sangat mirip dengannya dulu.
Dulu dirinya juga seperti anaknya Mawar, tidak di belikan selalu ngambek, tak mau bicara hingga ayahnya membujuknya, serta merayunya agar mau berbicara padanya. Dan kini mengerti tentang perjuangan orang tua untuk mendidik anaknya bisa merubah kebiasaannya agar suatu saat tak akan tergantung dengan fasilitas yang di milikinya.
Masuk terlebih dulu ke dalam toko boneka, mencari boneka yang di inginkan ponakan cantiknya beberapa hari yang lalu saat dia menelponnya.
Menelusuri rak boneka untuk menemukan apa yang di pesan oleh ponakannya dan menemukannya dengan tersenyum. boneka litte pony keinginan gadis kecil berumur tiga tahun.
Menemukan yang besar, Tinggi sama seperti gadis kecil itu. Membawanya ke kasir dan membayarnya.
Rasanya enggan untuk kembali ke tokonya, saat perut sudah begitu sangat lapar dan dirinya memilih berjalan cepat ke tempat restoran cepat saji.
Restoran jepang, memilih duduk di tempat biasa sedikit ramai akan pengunjung. Memesan makanan yang pedas, kala dirinya ingin sekali makan mie ramen dan memesankan beberapa box untuk karyawan tokonya.
Mencoba memfoto boneka yang di beli dan di kirimkan pada Mawar untuk menunjukkannya pada ponakannya, jika dirinya sudah membelikan apa yang di inginkan gadis kecil kesayangannya.
__ADS_1
" Kamu punya mata gak sih!! Lihat ini tumpahkan jadinya!!" Teriak pengunjung wanita memaki pelayan yang terdiam karena tidak sengaja menumpahkan minuman di atas meja makan pengunjung. Saat ada anak kecil berlari dan menyenggol tubuhnya.
Teriakan itu membuat pengunjung mulai menatapnya dan mulai memperhatikan wanita yang marah pada pelayan.
" Maaf kak saya tidak sengaja."
" Tidak sengaja kata mu, Kamu buta hah!!" Teriaknya lagi, menunjuk muka sang pelayan yang takut.
" Maaf buk!" Lirihnya.
" Kamu harus ganti! Saya enggak mau tau." Ujarnya dengan marah, merasa sangat iba Lisa berdiri dan menghampiri pelayan itu.
" Mbak ini sudah minta maaf, dan dia enggak salah. Kenapa ibu minta ganti rugi." Kata Lisa, membuat wanita yang ada di hadapannya menatapnya tajam.
" Kamu jangan ikut campur!"
" Jelas saya ikut campur karena ini tempat umum dan Anda sudah mengganggu ketenangan saya." Jawab Lisa, tak takut dengan tatapan wanita di hadapannya yang sombong.
" Dia menumpahkan minuman di meja saya."
" Kan bisa di bersihkan lagi, gak perlu teriak-teriak begitukan sama mbaknya." Saut cepat Lisa.
" Kamu!" Geram wanita itu tak terima akan Lisa yang membela pelayan dan menjawab semua pertanyaannya.
" Apa!" Tantang Lisa tak kalah sengit.
" Hei! Jangan ikut campur urusan kami." Bentak pria menggebrak meja, tak terima akan perkataan Lisa. membuat Lisa dan pelayan itu terkejut.
" Kamu pergi!" Ujarnya lagi menunjuk Lisa, mengusirnya dengan tatapan tajam. "Dan kamu pelayan, ganti semua kerugian ini." Imbuhnya, meminta ganti rugi atas makanan di mejanya.
" Biar saya yang ganti semua ini." Kata Lisa.
" Tiga kali lipat." Saut wanita itu, membuat Lisa melototkan mata, serta pelayan yang juga terkejut mendengarnya.
" Anda gila Apa! Tiga kali lipat!" Pekiknya, tak percaya harus menggantikan makanan yang di pesan oleh wanita itu tiga kali lipat.
" Kenapa! Enggak mampu, mangkanya jangan sok jadi malaikat kesiangan." Sindirnya, mengejek Lisa dari penampilan yang sangat sederhana, berbeda dari dirinya.
__ADS_1
Lisa yang mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum saat mendengar hinaan dari wanita sombong di hadapannya.
Inilah dirinya yang tidak suka, orang akan meremehkan seseorang yang di lihatnya dari penampilan dan juga pekerjaannya. Meremehkan, menindas dan juga akan menyombongkan dirinya yang lebih tinggi darinya.
" Kau minta ganti tiga kali lipat, apa kau miskin tidak mampu membayar ini. dan sisanya bisa buat kau beli baju, beli sepatu atau beli tas karna sudah bisa memeras saya." Ucap Lisa, menyunggingkan senyum saat melihat ibu itu melototkan mata karena ucapannya.
" Hei! jaga ya ucapan kamu!" Kata pria itu tidak terima di hina balik oleh Lisa, beranjak maju menghampiri Lisa dengan tangan yang sudah terangkat hingga dengan cepat tangan itu di cakal dari samping.
Sedikit terkejut saat tangan suami dari wanita angkuh itu akan memukulnya, dan dirinya mulai membuka mata kala tak merasakan sesuatu yang akan membuatnya sakit.
" Jangan pernah memukul wanita, apa lagi di depan umum." Ucap pria yang menahan tangan suami wanita angkuh.
" Dia!" Gumam Lisa dalam hati, menatap pria yang pernah menolongnya dari para begal.
Menarik tangan dari pria sombong dengan rasa sakit dan juga tatapan sedikit menakutkan akan mata elangnya.
" Kamu jangan ikut campur! Ini urusan kami dengan dia." Larang suami wanita angkuh, menunjuk Lisa dan pelayan yang ada di belakang Lisa sedang menunduk ketakutan.
" Anda bisa jelaskan di kantor polisi." Kata pria sombong, membuat dua kubu terkejut mendengarnya.
" Kenapa harus di kantor polisi! saya tidak mau." Jawab wanita angkuh.
" Ya, seharusnya permasalahan ini harus di selesaikan di kantor polisi." Setuju Lisa, tau akan gerak gerik dari wanita angkuh yang tak mau berurusan di kantor polisi.
" Mbak?" Lirih pelayan, membuat Lisa mencengkram kuat pergelangan tangan pelayan itu untuk memperingatinya diam dan jangan takut.
Pelayan itu diam dan mengerti akan maksud dari cengkraman tangan Lisa.
" Ayo kita pergi!" Kata suami wanita itu dan tidak mau juga berurusan dengan polisi, entah kenapa. Tapi dari gerak geriknya mereka takut akan namanya polisi.
" Iya." Jawabnya. " Awas kamu!" Ancam wanita angkuh menatap tajam Lisa.
" Enggak takut." Ucap Lisa, tak kalah angkuh dan tajam menatapnya.
.
.
__ADS_1
.
.🍃🍃🍃🍃