
...Aku memang sudah janji pada ibu mu, tapi aku sudah cinta sebelum janji itu aku ucapkan pada ibu kamu....
.
.
.
.
" Bagaimana kabar kamu Nak Bima?" Ucap papa Zellin, mengalihkan tatapannya ke arah bima tanpa mau membalas jabatan tangan Lisa yang sedang menggantung ke arahnya.
Tentu saja Lisa terlihat sangat kesal, tapi ia mencoba untuk tetap tersenyum. menurunkan tangannya dan juga mengalihkan tatapannya ke arah lain.
Sombong.
" Saya baik." Jawab dingin Bima, membalas kekesalan Lisa yang tentu saja dirinya lirik akan wajah Lisa yang kesal.
" Lama tidak berjumpa dengan kamu, kini ada yang berubah." Kata Mama Zellin sedikit mengejek penampilan Bima yang sekarang.
Hanya bisa tersenyum tipis dan malas sekali untuk membalas.
" Masih bekerja jadi bawahan!" Ucap mama Zellin.
" Ma!!" Tegur Zellin, bersama suaminya yang menatap tajam ke arahnya.
Terlihat jelas akan Mama Zellin yang masih suka merendahkan orang. Sedangkan kehidupannya sendiri sedang berada di ujung jurang.
" Kenapa kalau masih bawahan, Nyonya?" Tanya Lisa. " Yang terpenting kekasih saya tidak pernah merugikan orang, dan tidak menumpang pada keluarganya lagi." Imbuhnya, merasa tidak terima dengan perkataan wanita tua angkuh itu pada Bima.
Merendahkan orang yang bekerja keras dan sudah merubah kehidupannya menjadi lebih baik dan mapan. Tapi tetap saja masih di rendahkan. Toh! Tidak harus begitunya juga kan!
Hanya karena tidak mempunyai usaha sendiri, wanita tua ini suka merendahkan orang. Mentang-mentang suaminya mempunyai perusahaan, dia menyombongkan diri dan juga menginjak-injak harga diri kalangan bawah.
Angkuh!
Belum pernah merasakan kesengsaraan.
" Jelas tidak menumpang keluarga! Keluarga dia saja berantakan, aibnya sudah kemana-mana.!" Ketus Mama Zellin.
" Ma!!" Tegur Zellin sekali lagi.
" Winda!!" Pekik Papa Zellin memanggil nama Istrinya dengan lantang serta rahang dan tatapan menajam ke arahnya. Istrinya sudah melampaui batasannya dan sudah membuka aib Bima di hadapan orang-orang yang kini melihat ke arahnya.
" Mak-sud mama apa?" Tanya Nico, dirinya tidak tau akan rahasia di antar mertua, istri dan Bima.
__ADS_1
Tentang Bima, aib keluarga Bima. Sungguh sangat menarik sekali untuk mencari celah merendahkan pria yang sanjung oleh semua kalangan pebisnis.
Lisa yang mendengar itu sedikit terkejut, tidak tau semua tentang Bima, apa lagi tentang seluk beluk keluarganya. Dan wanita tua di hadapanya ini tau tentang keluarga Bima.
Aib keluarga.
Tidak mempunyai keluarga.
Rahang Bima sudah mengeras, wajah terlihat dingin dan tatapan tajam seperti elang yang mengintai mangsa. Saat Mama Zellin mengungkit keluarganya, Ralat keluarga yang mengasuh dirinya.
Tentu saja dirinya tidak terima, selama ini bapak dan ibu angkatnya lah yang merawatnya dengan kasih sayang dan perhatian yang sangat lebih. Layaknya seperti anak kandung sendiri. Dan tidak membiarkan hidupnya menderita. Apapun semasa kecilnya Bima, ia selalu di jadikan raja oleh ibu dan bapaknya.
Bima anak yang sangat berarti bagi orang tua angkatnya. Apapun akan di lakukannya untuk membahagiakan Bima.
Hanya satu orang yang tidak suka dengan bapaknya dan berhasil menjebaknya dalam jeruji besi. Kehidupannya mulai berubah dan ibu yang menjadi tulang punggung untuk mencoba menebus bapaknya di penjara dan membiayai putranya yang masih membutuhkan biaya sekolah.
Mencari uang yang gampang, ibunya rela menjual diri pada orang yang membayarnya tiga kali lipat dalam perjanjian sewa. Dan itu akan bisa membuat bapaknya keluar dari penjara. Tapi naas, ibunya di bohongi dan di beri imbalan hanya setengah dari perjanjian. Karna pria itu bilang, Ibunya tidak bisa memuaskannya.
Bangs*t.
Ternyata pria yang membeli ibunya terkena penyakit menular dan mematikan. Membuat ibu tertular dan membuat ibu meninggal.
Dan dirinya sendiri dalam rumah tanpa ke dua orang tuanya. Tapi, ia masih bisa bersyukur ada tetangga sebelah rumah begitu baik dengannya. Dan sering memberikan makanan untuknya. Tidak akan pernah ia lupakan kebaikan tetangganya itu.
" Benar kan Pa! Yang aku bil-,"
" Kenapa, kau malu semua orang tau!" Sinis Mama Zellin. " Ada kemajuan kamu memanggilku Nyonya." Imbuhnya lagi, tersenyum senang karna pria yang menyukai anaknya memanggilnya nyonya.
" Jaga bicaranya Anda Nyonya!" Ucap Asisten Bima, memajukan badan membela Tuannya yang telah di hina oleh wanita itu.
" Siapa kau berani sekali ikut campur!"
" Cukup Winda! Jangan membuat keributan." Geram Papa Zellin.
" Mama! Zellin bilang cukup Ma!"
" Aku tidak membuat keributan, wanita miskin ini yang memulainya dulu." Tuduh Mama Zellin, pada Lisa.
Miskin!
" Kalau saya miskin kenapa! Anda iri Nyonya?"
" Buat apa saya iri dengan kamu." Setengah sinis. " Paling-paling kamu tidak jauh dari wahita penghibur." Imbuhnya, membuat Lisa melototkan mata.
Waauu! Semakin seru." Gumam Nico dalam hati, tersenyum senang melihat dram semakin panas dan orang-orang saling berbisik.
__ADS_1
Plaakk.
Zellin membungkam bibirnya dengan ke dua tangan, Papa Zellin terkejut melihatnya dan Mama Zellin terkapar di lantai karna tamparan keras dari pria mata elang.
Lisa yang melihatnya sama terkejutnya, dan mematung tanpa berkedip.
Bukan hanya Lisa, semua orang yang melihatnyapun sama terkejut. Dan tidak percaya akan apa yang di lihatnya sekarang.
Seorang karyawan menampar istri pengusaha.
Luar biasa?
" Mama!" Seru Zellin, menghampiri mamanya yang duduk terkulai lemas sambil memegang pipinya.
" Haaii!!" Geram Nico, menunjuk Bima dan berjalan ke arah pria yang menampar ibu mertuanya. Sayang, ke dua tangannya tercekal oleh dua pria berbaju hitam dari belakang. Membuat Nico berhenti dan mencoba memberontak. Tidak terima akan dua orang menghentikannya.
Banyak para pria berpakaian hitam tegap berlari datang menghampiri Bima dan menunduk padanya. Dan semua orang semakin tidak mengerti, para berpakain hitam itu menghormat pada Bima.
" Bima?" Lirih Zellin, tidak menyangka Bima sekasar ini dengan wanita. Apa lagi wanita tua, dan itu adalah ibunya.
" Saya sudah peringatkan Anda. Dan Anda masih saja berbicara panjang lebar." Dingin Bima, menatap tajam ke arah mama Zellin yang mulai ketakutan.
" Nak Bim-," Mengangkat tangan ke arah Papa Zellin untuk diam dan tidak boleh memotong ucapannya. Dan satu pengawal Bima menghadangnya, membuat Papa Zellin tidak bisa menghampiri Bima.
" Tidak masalah kau menghina saya. Tapi saya tidak akan terima, kau menghina orang tua saya. Apa lagi menghina calon istri saya." Ujar Bima.
Tangannya sudah mengepal dan melangkah untuk menghampiri wanita tua itu dalam rengkuhan Zellin. Lisa dengan segera menahan tangannya dan menghadang tubuhnya untuk tidak menghampiri wanita yang terjatuh akibat tamparannya.
Lisa tau bagaimana kemarahan Bima, ia hanya bisa menggelengkan kepala, memohon melas untuk tidak melukai wanita tua itu lagi.
Bima memejamkan mata, menetralkan nafas yang membara. Mengurangi rasa amarahnya dan kembali dengan wajah datarnya.
" Ambil saham tujuh puluh persen dari perusahaan sanjaya, dan lima puluh persen Tuan Zein." Lantang Bima, pada Asistennya yang ada di belakang.
" Hahahaha." Tawa Nico begitu kencang mendengar perintah Bima pada pria di belakangnya.
" Kau siapa! Hah! Berani sekali kau mengambil saham perusahaan saya!" Seru Nico.
" Tuan ini adalah Alfrado Bima." Ucap Asisten Bima, membuat semua orang di pesta terkejut. Termasuk Nico, ibu mertua dan Zellin. Tidak termasuk Tuan Zein papa Zellin.
.
.
.
__ADS_1
.
🍃🍃🍃🍃