
" Lisa?" Sapa wanita tua cantik berada di hadapannya dengan senyum tulus.
Berdiri dari duduknya dan membalas senyuman wanita tua itu. " Silahkan duduk Buk?" Kata Lisa ramah, mempersilahkan wanita tua yang mengajaknya bertemu itu duduk di depannya.
" Iya makasih Lis."
" Sendirian Bu fatmah.?" Ucap Lisa, duduk dengan tenang dan ramah memulai percakapan dengan Bu Fatmah, Mama Fahmi. Di cafe terdekat tidak jauh dari gudang.
Ya, setelah Lisa melihat kartu nama ibu Fatmah. Ia teringat mamanya Fahmi, dan dalam pikirannya untuk apa mamanya Fahmi mencari dirinya. Dan urusan apa ingin bertemu dengannya.
Malam itu, pikirannya terganggu dengan mamanya Fahmi dan dirinya mulai teringat akan sesuatu di dalam brankas yang lama sekali ia simpan di dalam sana.
" Kamu ingin mengembalikannya sayang?" Tanya Bima dari belakang, saat ia membuka brankas miliknya dan berbalik menatap suaminya.
Lisa sudah menceritakannya tentang uang dalam amplop coklat, yang di simpannya dalam brankas selama lima tahun lamanya. Uang yang masih tersegel, tidak pernah tersentuh atau berkurang satu lembar pun di dalam amplop coklat. Tidak pernah di gunakan, meskipun Lisa dulu dalam keadaan susah.
Meskipun Lisa tidak pernah menceritakannya, Bima sudah tau terlebih dulu. Dan dirinya mengetahui itu dari Kevin, saat ia menyusul Lisa di kampung halamanya. Dan mantan bosnya menceritakan semua perjalanan Lisa padanya. Tidak mudah, penuh rintangan dan tidak menyerah dalam memperjuangkan nasib untuk lebih baik lagi.
" Kapan hari mamanya Fahmi datang ke toko, kata karyawan Mama Fahmi mencariku. ibu itu memberikan kartu namanya." Ucap Lisa.
" Kamu ingin menemuinya."
" Boleh?" Tanya Lisa, membuat suaminya membelai pipinya dengan lembut.
" Apa aku pernah melarang kamu?" Tanya balik Bima, membuatnya menggelengkan kepala.
" Kembalikan? Dan minta temani Riski bertemu dengannya."
Dan di sinilah sekarang. Duduk berdua dengan Mama Fahmi dan tidak jauh dari tempatnya duduk. Ada Riski yang menemani dan mengawasinya.
Bima tau, Istrinya lebih nyaman di temani Riski atau Santi. Dia lebih leluasa bebas dan bisa apa saja yang di lakukan ibu hamil tanpa penjagaan ketat.
" Jangan panggil ibu?" Ucap Mama Fahmi. " Panggil saya seperti dulu Lis, tante?" Imbuhnya, yang mengingatkan Lisa untuk memanggilnya seperti dulu. Sebelum ia dan suaminya pernah menyakiti hati Lisa.
Dulu Mama Fahmi dan Lisa memang sedikit akrab sebelun Fahmi berangkat ke luar negeri. Dan ke akraban itu sudah hilang sejak lisa memutuskan kontak dengan Fahmi. Dan menghilang entah kemana. karna mama Fahmi dulu juga pernah datang ke rumah Lisa untuk menanyakan kabar, karna putranya selalu saja menanyakannya.
__ADS_1
Lisa hanya mengangguk, tersenyum tipis untuk meng'iyakan. Meskipun rasanya sangat sulit sekali untuk memanggilnya 'tante' lagi.
" Sudah berapa bulan Lis?" Tanya Mama Fahmi, melihat perut Lisa yang membuncit.
" Mau jalan enam bulan Bu, ehm Tan" Jawab Lisa. " Maaf, tante ingin bertemu dengan saya ada apa?" Tanya Lisa.
" Semoga bayinya sehat selalu?" Doa Mama fahmi tulus.
" Amin." Jawab Lisa tersenyum, mengusap perutnya.
" Tente minta maaf Lisa." Ucap Mama Fahmi.
" Minta maaf?" Sambil mengerutkan kening. " Minta maaf untuk apa tan?" Imbuhnya.
" Maaf soal dulu perlakuan Papa Fahmi dan tante pada kamu di bandara." Jawab Mama Fahmi mata terlihat sendu dan menundukkan kepala, seakan dirinya malu mengingat bagaimana perlakuan suaminya pada Lisa dulu.
" Maaf kalau dulu papa Fahmi pernah menyakiti hati kamu Lis. Maaf, bukan maksud papa Fahmi seperti itu pada kamu."
" Saya tau Tan?" Sergah cepat Lisa, menggenggam tangan Mama Fahmi yang terlihat mulai ketakutan. Mengangkat kepalanya, menatap Lisa yang tersenyum tulus ke arahnya.
" Saya tidak menyalahkan papa Fahmi dan tante, Apa lagi benci. Tidak tan? Saya memang marah, tapi kemarahan saya tidak pernah berangsung lama. Dan perkataan papa Fahmi bisa membuat saya bangkit, dan membuktikan kalau saya juga bisa." Imbuhnya.
Tidak ada dalam diri Lisaa marah, benci atau dendam di masa lalu mendengar ucapan Papanya Fahmi. Justru, itu adalah motivasi untuk dirinya bangkit dan membuktikan jika dirinya bisa dan mampu berusaha sendiri tanpa bantuan dari siapapun.
Bukankah ' Balas dendam terbaik adalah menjadikan dirimu lebih baik.'
Dan dirinya sekarang sudah lebih baik dari yang dulu.
" Tante tau, kamu anak yang baik, tidak pernah membuat hati orang terluka. Kamu wanita kuat, wanita yang pantas menjadi istri Tuan Bima. Tapi setidaknya tante bisa lega bila kamu memaafkan tante dan om." Ucap Mama Fahmi.
Lisa memang sudah pernah menceritakan tentang dulu perkataan orang tua Fahmi, pada Bima. Dan tidak pernah mencampur tangankan urusan pribadi dan pekerjaan. Jika Lisa mau, ia akan meminta Bima memecat Papa Fahmi dan Fahmi di perusahaan Suaminya.
Tapi tidak ia lakukan, begitu pula Bima. Tidak pernah membalas perlakuan orang tua Fahmi yang dulu merendahkan Istrinya. Tapi sekarang, bila istrinya di hina atau ada yang melukai hatinya, tidak segan-segan Bima akan membalas lebih kejam dari penghinaan yang pernah di lontarkan kepada istrinya.
Papa Fahmi dan Fahmi masih bekerja di perusahaan Lisa. Tidak ada yang berubah, Pak Yoga dan Fahmi tetap profesional bekerja di perusahaan Bima. Dan mereka tidak pernah membalas apa yang ada di masa lalunya.
__ADS_1
" Lisa sudah memafkan Tante dan Papanya Fahmi. Dan tante tidak perlu merasa bersalah lagi." Ucap tulus Lisa.
Memafkan orang masa lalu yang sudah sekali membuat dirinya bisa menjadi lebih baik.
" Oh iya, sebentar?" kata Lisa, mengambil amplop coklat di dalam tasnya dan menyerahkannya pada Mama Fahmi.
" Apa ini Lisa?" Tanya Mama Fahmi, mengerutkan kening melihat amplop coklat ada di depannya.
" Itu uang Papanya Fahmi dulu tan?" Jawab Lisa, membuat Mama Fahmi beralih menatapnya. " Saya hanya ingin mengembalikan uang yang dulu papa Fahmi berikan ke saya tan di bandara. Uang itu masih segel, masih utuh dan sama sekali tidak saya pakai satu lembar pun sampai sekarang." Imbuhnya.
" Tidak ka-mu pakai?"
" Tidak." Menggelengkan kepala tegas. " Saya tidak pernah memakai uang dari papa Fahmi. Walaupun keadaan saya dulu sangat memprihatinkan." Sambil tersenyum miris mengingat keadaannya dulu.
Gengsi.
Bukan gengsi, melainkan Lisa takut. bila uang dari papa Fahmi habis di saat dirinya berpikir negatif, tidak bisa mengubah hidupnya lebih layak di fase yang sekarang.
Dulu memang ingin sekali Lisa memakai uang Papanya Fahmi untuk di buat modal usaha. Tapi dalam hati kecilnya, menolak untuk tidak memakai uang itu. Dan dirinya dengan terpaksa menjual motor milik bapak dan ibunya, untuk modal usaha kecilnya. Dan uang pemberian papa Fahmi, ia simpan untuk di kembalikan di waktu yang tepat.
" Tante tenang saja, Fahmi tidak tau soal uang ini. Dan dia tidak akan pernah tau, saya janji." Kata Lisa, melihat wajah sendu Mama Fahmi yang kembali menatap amplop di hadapannya.
Tidak ada dalam pikiran Lisa ingin mengatakan uang itu pada Fahmi. Karena ia tahu, Fahmi pastinya akan kecewa dengan ke dua orang tuanya. Dan pastinya akan ada keretakan antara anak dan orang tua. Sudah cukup di antara dirinya dan orang tua Fahmi. Tidak perlu Fahmi mengetahuinya.
" Tolong sampaikan ke Papanya Fahmi ya tan. Makasih, sudah menjadi motivasi untuk saya." Kata Lisa, tersenyum hangat.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃
__ADS_1