
...Benci jadi cinta dan sebaliknya, Cinta bisa jadi benci. Bukankah itu aneh!...
.
.
.
" Kenapa senyam senyum sendiri sih mbak!" Protes Riski duduk di samping wanita yang memancarkan sinar bahagianya dan tidak terlihat sedih lagi seperti dulu.
" Kayaknya ada yang lagi seneng nich! Tapi enggak mau di ceritain." Imbunya lagi, merasa curiga dan kepo.
Curiga, ketahuan berduaan bersama Bima di teras balkon. dan kepo akan apa yang terjadi di teras balkon di antara mereka berdua.
" Kepo!" Seru Lisa, dan tertawa melihat wajah cemberutnya Riski.
" Bukan kepo mbak! Cuma penasaran saja." Elak Riski. " Lagian ngapain saja berduan di teras balkon sampai malam begitu."
" Eh! Kamu ngintip!" Pekik Lisa, saat Riski tau dirinya berduan di teras balkon bersama Bima.
" Mana ada aku ngintip!" Jawab Riski. " Yang jelas-jelas sudah terlihat mbak naik ke lantai atas menemui Mas Bima, saat tamu sudah pulang. Terus mbak ketiduran, di gendong bawa ke kamar. Cih! Sok romantis!!" Imbuhnya lagi, tidak sengaja berpapasan dengan Bima yang menggendong Lisa dengan mata tertutup. Dan sebal sekali melihat keuwukan Bima pada Lisa. Dan Lisa yang mulai manja dengan Bima.
Apa enggak bisa di bangunin, sampai segitunya menggendong.
" Dan itu kenapa lama sekali Mas Bima di kamar mbak!" Memicingkan mata, menatap lekat wajah Lisa yang bersemu merah.
" Mana aku tau Ki!! Orang mata aku saja tertutup rapat." Jawab Lisa.
Macam pertanyaan yang menyudutkannya.
Sungguh menyebalkan!
" Aku harus jaga mbak ya! Aku enggak mau mbak sampai di apa-apain sama itu pria. Enggak rela aku kalau mbak sampai nangis gara-gara Mas Bima. Akan aku lawan nanti, meskipun badannya lebih besar dariku." Ucap Riski, sudah seperti adiknya saja. Menjaga dan melindungi Lisa dari para predator hidung belang.
meskipun Lisa bukan saudara kandung atau kerabatnya, tapi dia sudah di anggapnya sebagai kakaknya sendiri. Karena Lisa sangat baik dengannya dan juga keluarganya. Dan berjasa bagi dirinya.
" Eehhmm, aku terharu dengernya!!" Seru Lisa, dengan mata sendu dan memelas. mendengar Riski yang akan melindungi dan menjaganya.
Memang dirinya sangat lama bersama Riski dari awal buka toko berdua, mempromosikan tokonya berdua dan menemaninya sampai sesukses ini. Dia bisa di bilang karyawan setia dan sudah di anggapnya sebagai keluarganya juga. Menganggap seperti adik ke dua dari yang pertama adalah Angga.
" Enggak usah lebay mbak! Geli aku!!" Cibik Riski, menggeliatkan tubuhnya yang merasa meremang dan membuat dirinya tertawa melihat ekspresinya Riski
__ADS_1
" Eh mbak, tamu mbak itu sepertinya suka sama mbak Lisa."
" Dari mana kamu tau!"
" Ya taulah mbak, orang cowok itu kecewa. Mbak nolak ajakannya jalan. Pulangnya saja aku lihat mukanya muram dan kesel gitu." Jawab Riski, tersenyum bangga tau akan yang di dengar dan lihat kepergian Fahmi dengan wajah kecewa.
" Kamu ini sukanya nguping saja!"
" Enggak nguping mbak!! Enggak sengaja dengar pas mau masuk ke dalam rumah!" Sedikit mengelak, tapi memang benar jika dirinya menguping di balik pintu. Dan terlihat bangga serta bisa di buat bahan ghibah sama orang dalam rumah Lisa. Pastinya hanya mereka saja yang tau dan tidak akan di sebar luaskan.
Hanya bisa berdecak sebal dan menggelengkan kepala. Ada-ada saja bocah tengil ini mengelak dan suka kepo.
" Kenapa mbak Santi?" Tanya Riski, melihat Santi masuk ke dalam ruangan Lisa dan duduk lesu sambil menyandarkan kepalanya di atas meja.
" Eh!! Kamu kenapa mbak!" Tanya Lisa juga.
" Kamu pernah gak sih Mbak Lis bertemu orang nyebelin dua kali." Tanya Santi.
" Pernah! Apa lagi nyebelinnya tidak ada yang nandingi." Saut Riski cepat.
" Siapa?" Tanya Lisa dan Santi bersamaan.
Menyebalkan.
" Hahahah." Tawa pecah dari Lisa dan Santi menyadari jika memang castamer satu ini selalu membuatnya pusing tujuh keliling.
Rasa ingin marah, tapi melihatnya pun merasa kasihan. Teringat jika wanita paruh baya itu pelanggan pertamanya di tokonya dulu sebelum mempunyai gudang khusus grosir sendiri.
" Udah ah.. Enggak baik ngomongin orang tua." Tegur Lisa.
" Omonginnya memang kenyataan mbak! Enggak pakai bumbu-bumbu penyedap lagi." Ucap Riski, masih merasa sebal dengan bu Saroh jika sudah datang. Gudangnya akan seperti kapal pecah, baju-baju akan berhamburan kemana saja tanpa tentu arah.
" Ini, nich anak tukang dendam!" Cibir Santi.
" Halah, kayak mbak gak pernah ngelu saja." Cibir balik Riski.
" Ya jelas aku ngeluh lah! Sudah di buatkan nota, malah banyak coretan. Pas nominal besar ngeluhnya minta ampun, di suruh ngurangi barang dan parahnya nominalnya tinggal dikit, masih minta jatuh tempo pula. Malas aku kalau suruh rekap ulang punya bu saroh!" Keluh Santi, juga merasa sama nasibnya dengan Riski.
" Coba mbak tegur buk Saroh lah mbak!" Keluh Riski, dan Santi menganggukkan kepala memelaskan wajahnya menghadap Lisa.
Hanya bisa menghembuskan nafas berat " Nanti aku akan coba bicara sama bu saroh." Ucap Lisa, membuat Riski dan Santi tersenyum.
__ADS_1
Dan Santi melupakan curhatannya tentang pria yang menyebalkan itu. Dan terhanyut dengan curhatan isi hati castamer yang membuat semua karyawan emosi dan pusing tujuh keliling.
****
" Ada undangan pesta untuk kamu, besok malam di hotel xxx jam tujuh malam. Dari Pt. Sanjaya." Ucap Max, membuat Bima menghentikan tangannya dan menatap Max.
Pt. Sanjaya.
" Kenapa?" Tanya Max, menautkan sebelah alisnya.
" Enggak usah pura pura gak tau. Kamu sudah tau semuanya." Jawab Bima, membuat Max tersenyum.
" Mau tidak hadir karena menghindar! atau ada yang lain. Aku gak bisa gantiin kamu, masih ada urusan penting sama klaen." Ucap Max.
" Doni." Tanya Bima.
" Masih di luar kota, betah kayaknya tu anak di cabang perusahaan sana."
" Aku saranin datang saja, bawa Asisten kamu. Sudah waktunya juga! Jangan bersembunyi terus." Kata Max, yang sangat masuk akal. Dan seharusnya memang iya.
Tidak seharusnya marah, menghindar dan juga tidak hadir dalam pesta yang pastinya akan sangat membuatnya muak dengan semua itu.
" Akan aku pikirkan." Jawabnya, sambil kembali fokus pada kertas putih yang di bacanya. Max hanya mengangguk, mengambil proposal yang sudah di tanda tangani Bima dan berdiri dari duduk.
" Aku cabut dulu."
" Hhmm, iya." tanpa menatap kepergian Max, dan menghembuskan nafas berat saat Maz sudah keluar dari ruangannya.
Memijat ujung pangkal hidung, yang tidak terasa pusing dan menutup mata. Entah apa yang sedang ia rasakan saat ini.
Pt. Sanjaya.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃
__ADS_1