
...Kata nyaman itu dari kita sendiri, jika aku tak nyaman aku akan pergi. Dan bila aku nyaman, aku tetap di sisimu....
.
.
.
.
" Mbak Lisa?" Sapa Mbak jum, menghampiri Lisa yang sedang sarapan pagi bersama ibu dan juga Riski di tempat makan.
Semalam Riski menginap di rumah Lisa, Lisa yang menyuruhnya mungkin karna kemalaman dan takut jika terjadi apa-apa dengannya.
" Iya mbak?" Jawab Lisa. Sudah hafal dengan nama pria yang semalam mengantarkan anaknya pulang dan terlihat jelas jika pria itu sangat baik.
" Saya menemukan ini di bawah meja ruang tamu mbak?" Ucapnya, mengulurkan dompet hitam pada Lisa. Membuat lisa mengerutkan kening dan mengambilnya.
" Punya siapa ini?" Lirih Lisa, masih melihat dompet pria klasik.
" Makasih mbak." Kata Lisa, dan di anggukkan Mbak jum serta pergi menuju dapur.
" Mungkin punya Mas yang tadi malam mbak?" Kata Riski.
" Nak Bi ma?" Tanya ibu Lisa.
" Mungkin buk?" Jawab Riski, membuat Lisa penasaran dan membuka dompet hitam. terdapat beberapa kartu Atm, SIM, dan juga ktp.
Mengambil ktp dan melihat nama yang tertera.
" Alfrado Bima?" Lirih Lisa, membaca nama dan juga foto yang persis dengan pria semalam menolongnya.
" Coba lihat mbak?" Pinta Riski, penasaran dengan isi dompet dan juga ktp yang di lihat Lisa.
" Wihh!! Namanya keren!" Seru Riski, dan juga ikut melihat ktp Bima. " Alamat rumahnya gak jauh sama rumah mbak." Ujarnya lagi, membaca alamat rumah Bima. Hingga Lisa kembali mengambil ktp Bima di tangan Riski dan kembali melihatnya.
" Benar kan mbak?" Kata Riski dan di anggukkan Lisa.
" Kem bali kan Sa?" Perintah ibu.
" Iya buk?"
" Ba wa kan, ma ka nan, ju ga." Perintahnya, membuat Lisa mengerutkan kening.
" Buat apa buk?" Tanya Lisa.
" Se ba gai, tan da, ma ka sih. Su dah, antar ka mu pu lang." Jawab ibunya, Hanya mengangguk walaupun sebenarnya enggan sekali membawakan makanan pada pria dingin itu. Tapi yang namanya perintah, haruslah di laksanakan. Apa lagi perintahnya dari ibu suri.
" Aku berangkat dulu mbak?" Ucap Riski, selesai sarapan.
__ADS_1
" Gak bareng saja sama aku Ki?" Tanya Lisa.
" Enggak, Ada castamer yang mau datang ke gudang katanya." Jawabnya, dan di anggukkan Lisa.
" Aku berangkat dulu ya buk." Ucap Riski, menyalimi ibu Lisa.
" Ha ti-Ha ti." Hanya mengangguk dan tersenyum, melangkah pergi menuju bagasi meminjam motor Lisa yang jarang sekali di pakai.
Menatap dompet Bima, yang membuat dirinya menghembuskan nafas berat, kala dirinya harus bertemu kembali dengan pria dingin itu. Rasanya malu dan takut, malu karena sudah berbuat lancang dan takut dengan tatapan elang dari Bima yang selalu ingin menerkamnya saja.
****
" Kenapa punggung Loe sampai bisa begitu?" Tanya Doni, melihat punggung Bima memar kehitaman yang tidak memakai baju di balkon kamarnya.
Doni ikut pergi ke rumah Bima bersama dengan asisten Bima yang membawakan berkas kerjanya, kala mendengar kabar dari pak Agus jika Tuannya sedang terluka.
" Loe habis di berantem!" Tanya lagi.
" Tidak." Jawab Bima, menghisap rokok dan mengeluarkan asap perlahan dari bibirnya.
" Terus! Itu kenapa bisa sampai begitu?" Masih dengan mode penasaran akan Bima yang terluka.
" Nolongin orang." Jawabnya, memandang langit yang cerah dan matahari masih terasa hangat.
" Tumben!" Cetus Doni, karna selama bersama dengan Bima, ia tak pernah melihat Bima menolong orang dan begitu acuh dengan apa yang di lihat. Seperti pertengkaran sepasang kekasih di club, atau berantem sesama pria karena mabuk.
" Ke sini ngapain!" Tanya Bima, mengalihkan pertanyaan Doni yang tak ada habisnya jika di tanggapi terus menerus.
" Mana berkasnya!" Sewot Doni, sebelum dirinya di usir lebih baik ia sendiri yang langsung pergi dari hadapan Bima.
" Ada di ruang kerja." Jawab Bima.
" Gue cabut." Pamit Doni, membuat Bima menganggukkan kepala.
Masih setia dengan rokok yang dirinya hisap, mengalihkan pikiran untuk menenangkan diri, sambil menikmati udara pagi hari tanpa ke kantor. Kala punggung masih terasa begitu sakit.
" Pak Doni?" Ucap penjaga sedikit membungkuk menghampirinya kala dirinya sudah keluar dari ruang kerja Bima.
" Ada apa pak?" Tanya Doni.
" Ada seorang perempuan mencari Tuan Bima pak." Kata penjaga, membuat Doni mengerutkan kening.
Tak ada wanita yang datang ke rumah Bima dan tidak ada pula wanita yang berani mencari Bima sampai datang ke rumah. Dan untuk pertama kali ada wanita yang mencari Bima.
" Suruh masuk saja pak." Perintah Doni, membuat penjaga itu mengangguk dan berlari menuju depan rumah.
Seringai kecil tersemat di bibir Doni, dan Hanya Doni sendiri yang tau seringai itu.
Membuka pintu pagar, menyuruh wanita itu masuk ke dalam rumah Tuannya dan mengantarkannya ke dalam rumah, hingga bertemu Doni yang ada di ruang tamu.
__ADS_1
Menatap wanita cantik yang berpakaian seperti anak remaja. Dengan Doni yang mulai terpesona melihatnya.
" Permisi?" Ucap Lisa, untuk menyadarkan Doni yang menatapnya tak berkedip.
" Ah! Iya, mbak cantik mau cari siapa?" Tanya Doni, jiwa play boy mulai meronta. Lisa yang mendengar itu justru ingin mual dan menggelengkan kepala.
" Saya mau cari Tuan Bima, apa Tuan Bimanya ada?" Tanyanya.
" Ada keperluan apa?" Tanyanya kembali, masih mengintrograsi wanita cantik di hadapannya.
" Mau antarin dompetnya yang semalam jatuh di rumah saya pak?" Jawabnya, mengulurkan dompet Bima pada Doni. Dan Doni terkejut dengan ucapan Lisa.
" Tu anak main ke rumah cewek cantik ini!" Gumam Doni tak percaya.
" Dan ini! Ada titipan dari ibu saya untuk Tuan Bima." Imbuh Lisa, dan memberikan paberbag pada Doni.
" Gila! tu anak, udah kenal emaknya juga." Gumamnya lagi, terkejut dengan Ulah Bima. Yang ternyata sudah mempunyai wanita incaran begitu cantik.
Tangan masih mengudara begitu saja hingga Lisa mengerutkan kening.
" Pak?" Tegur Lisa, membuat Doni kembali tersadar.
" Tuan Bima ada di kamarnya mbak? Tuan Bima lagi sakit."
" Sakit!" Ulang Lisa. " Apa punggungnya sudah di obati pak?" Tanya Lisa, dan lagi Doni terkejut dengan ucapan Lisa.
" Cewek ini tau!" Ucapnya dalam hati.
" Pak!" Tegur Lisa, merasa sebal pria di hadapannya ini selalu melamun.
" Belum mbak!" Jawab asal Doni. " Lebih baik mbak lihat saja di kamarnya." Ujarnya.
" Saya!"
" Iya!" Jawab Doni. " Pak Agus!" Panggil Doni, melihat kepala pelayan yang keluar dari dapur.
" Iya Pak?" Jawab Pak Agus saat menghampirinya.
" Pak, tolong antarin mbak ini ke kamarnya Tuan Bima." Perintah Doni, membuat Pelayan itu mengerutkan kening. Pasalnya pelayan itu juga tak pernah mendapati wanita datang ke rumah Tuannya. Dan ini pertama kalinya Pelayan itu melihat wanita ada di rumah Tuannya.
" Pak Agus!" Panggil Doni, sedikit menajamkan mata menatapnya.
" Baik pak?" Jawab pak Agus. " Mari Nona, saya antar ke kamar Tuan." Ucap pak Agus pada Lisa, sedikit ragu untuk ikut pria paruh baya itu ke lantai dua kamar Bima. Hanya mengangguk pelan dan memberanikan diri untuk ikut serta ingin melihat pria dingin yang sakit karena sudah menolongnya.
.
.
.
__ADS_1
.
🍃🍃🍃🍃