Nona Lisa

Nona Lisa
Datang ke rumahnya.


__ADS_3

...Jika suka ungkapkan, jangan di pendam....


.


.


.


.


Berkendara dengan tujuan yang entah kemana, dirinya tidak tau. Hanya mengelilingi jalanan tanpa mau berhenti atau bersinggah sebentar di tempat ala-ala anak tongkrongan.


Pikiran Max masih tertuju dengan satu wanita, Santi, dan dirinya semakin memikirkannya. Meskipun sudah berulang kali dirinya tidak ingin memikirkan wanita itu. Semakin mencoba untuk tidak memikirkan, semakin otaknya bekerja untuk mengulang kembali kebersamaan dirinya dengan Santi. Seakan tidak rela untuk menghapus semua jejak wanita di dalam otak dan hatinya.


Seperti menyatu dalam satu ikatan, dan semakin sulit untuk melupakan. Dia wanita yang sudah berhasil melupakan mantannya. Dan berhasil membuat Max suka kembali dengan wanita selama dua tahun lebih menjomblo.


Berhenti di depan rumah kecil sederhana, berlampu putih dengan pintu yang tertutup rapat. Tanpa sadar atau keinginan. Ternyata dirinya ada di depan rumah wanita yang sesang di pikirkannya.


Kaki ingin sekali melangkah, menuju depan pintu yang tertutup rapat. Entah wanita itu ada atau tidak. Tapi dirinya berharap semoga Santi ada. Agar rasa rindunya terobati.


Turun dari motor, melangkah pelan menuju depan pintu rumah. Sedikit ragu untuk mengetuk pintu, diam beberapa saat, mencoba untuk mengetuk tapi di urungkan kembali. Hingga dirinya tersentak kecil saat melihat pintu terbuka dan memperlihatkan wanita itu yang sama terkejutnya dengan dirinya.


" Pak Max." Ucap Santi, sedikit mengerutkan kening melihat Max ada di depan pintu rumahnya.


" Hai." Canggung, tersenyum kikkuk tak tau apa yang harus di perbuat sekarang di hadapan wanita ini.


Dan jelas Santi menahan tawa serta senyum melihat Max yang terlihat seperti orang ketahuan menguntit.


" Silahkan masuk pak." Ucap Santi, membuka pintu lebih lebar dan menggeser tubuhnya memberi jalan pada Max untuk masuk ke dalam rumah kontrakannya.


" Aku buatkan minuman du-,"


" Tidak perlu." Larang Max cepat. " Kamu sudah makan." Tanyanya, membut Santi menaikkan satu alisnya.


Di tanya seperti itu pada tamu yang baru datang, membuat dirinya heran. Kenapa pria itu perhatian dengannya. padahal lukanya sudah sembuh dan tidak perlu lagi pria itu perhatian atau datang ke rumahnya.


" Eemm, maksud saya kamu sudah makan apa belum. Saya mau minta kamu temanin saya cari makanan yang enak. Semacam makanan pedas. Aku ingin makan itu. dan saya enggak pernah tau makan di luar." Ujar Max.

__ADS_1


Bohong jika dirinya tidak pernah makan di luar, tapi membuat alasan yang tepat untuk bertemu dengan Santi tidak ada salahnyakan. Apa lagi mengajaknya makan di luar. Kesempatan baginya.


" Oohh.. Kebetulan aku juga mau cari makanan, mungkin kamu mau aku bel-,"


" Ya sudah ayo kita cari makan." Potong Max cepat, dan berdiri dari duduknya.


Hanya mengangguk dan tersenyum tanpa mau berdebat dan bertanya lagi pada pria itu. Mungkin Max memang sudah sangat lapar dan menginginkan makanan pedas. Dan dirinya tidak pernah berprasangka buruk pada pria yang sudah bertanggung jawab merawatnya hingga sembuh.


Dan Santi tau, selama bersama Max di apartemennya. Dirinya tidak pernah melihat Max membawa makanan dari luar, justru yang dia bawa adalah bahan makanan mentah dari supermarket terkenal. Untuk stock makanan di dalam lemari pendinginnya.


Pria itu sungguh sangat menjaga kesehatannya dan hidup mandiri dalam kesendiriannya.


" Dimana tempatnya?" Tanya Max, saat mengendarai motornya dan membonceng Santi.


" Lurus saja, tidak jauh dari jalan raya." Jawab Santi, membuat Max mengangguk.


Tidak jauh dari jalan raya, Santi dan Max sudah tiba di tempat makan yang di inginkan Santi.


Penyetan lele.


" Ini?" Tanya Max, sedikit ragu karna tempat makan tidak sesuai dengan bayangannya.


" Enggakpapa, ayo." Kata Max, membuat Santi mengangguk dan tersenyum.


Untuk pertama kali Max makan di warung tenda, dan untuk pertama kali Max mau makan di pinggir jalan. Selama ini dirinya tidak pernah makan di pinggir jalan. karna terbiasa makan di restoran, kantin kantor atau di rumah dengan masak sendiri.


Demi wanita di sampingnya, Max rela makan di pinggir jalan dan mencoba hal yang baru.


****


" Loe kenapa?" Tanya Doni, melihat Max sudah tiga kali ke kamar mandi di ruangan Bima. Kala Atasannya itu menghubungi Max dan Doni untuk datang ke kantor menemuinya di pagi hari. Meeting bersama dan membahas pekerjaan.


" Sakit perut." Lirih Max, kembali duduk di sofa penuh keringat dingin di wajahnya.


" Loe makan pedas!" Tanya Doni, mengerutkan kening jika Max sakit perut itu artinya dia makan-makanan pedas.


Dan Max pria yang tidak bisa memakan makanan pedas. Saksi teman yang selalu bersama di waktu masih menjomblo. Dan pernah memberi makanan pedas sekali pada Max yang kalah taruhan dalam bermain kartu. Hingga hasilnya pria itu masuk ke rumah sakit karna kekurangan cairan yang terus-menerus berkurang akibat makanan pedas.

__ADS_1


Hanya mengangguk, dan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Terasa lemas tubuhnya yang sudah banyak mengeluarkan isi perutnya.


" Kenapa bisa." Tanya Bima. Yang juga tak luput memperhatikan pergerakan Max bolak balik ke kamar mandi.


" Jangan bilang demi mengejar cinta." Timpal Doni yang tidak di tanggapi oleh Max. Dan mengambil obat dalam plastik putih yang sudah di beli oleh Lukas.


" Ciihh, dasar! Kemakan omongan sendiri." Sindir Doni, dan tertawa jahat menyaksikan Max menderita karna ingin mendapatkan wanita.


" Siapa?" Tanya Bima, masih belum mengerti apa yang di katakan Doni dan apa yang di lakukan Max beberapa hari ini.


" Belum di kasih tau?" Tanya balik Doni, membuat Bima menggelengkan kepala.


" Ketinggalan gosib." Cicit Doni tertawa keras membuat Bima melempar bulpoin ke arahnya dan kepalanya di pukul keras oleh Max.


" Anj*ng." Kesal Doni, pada dua temannya yang menganiaya secara bersamaan.


" Cepat cerita." Perintah Bima, tidak sabar dengan apa yang di lakukan Max.


" Temen kamu yang bangs*t ini sedang mengincar teman istri kamu." Ujar Doni, sambil melirik ke arah Max yang acuh dengannya.


Menaikkan satu alisnya dan mengingat siapa teman istrinya yang sedang di incar Max.


" Santi." Kata Bima, hanya Santi teman Lisa dan sudah di anggap sebagai saudaranya.


" Seratus persen benar." sambil mengangkat dua jempolnya ke arah Bima. Hanya mengangguk dan tersenyum kecil.


" Gue dukung." Kata Bima, dan Max tersenyum mendapatkan dukungan dari Bima.


" Terus gue!" Ucap Doni menunjuk dirinya sendiri. Yang masih jomblo dan belum mendapatkan incaran sama sekali.


" Cari tu di pinggir rel kereta. Banyak kan." Kata Max.


" Ogah!" Cicit Doni, geli dan sedih sendiri membayangkan di jalan raya rel kereta banyaknya wanita dan waria yang mencari uang demi bertahan hidup kerasnya ibu kota.


.


.

__ADS_1


.


.🍃🍃🍃🍃


__ADS_2