
Gemas dengan wajah tampan, hidung mancung, rahang tegas tanpa bulu halus dan bibir tipis yang selalu nakal di setiap malam mau tidur.
Menusuk-nusuk pipi pria itu dengan telunjuk jarinya, gemas melihat wajah suaminya yang tertidur lelap seperti bayi jika berada di sampingnya.
Tersenyum sendiri jika pria yang kini menjadi suaminya, selalu manja bila di dekatnya. Apa lagi jika di dalam kamar. Sungguh suaminya sangat perkasa, tanpa lelah di atas ranjang. Sedangkan dirinya sendiri, sudah mulai terbiasa menyeimbangkan pekerjaan suami di atas ranjang hingga sama-sama terkulai dan nikmat bersamaan.
Tidak menyangka hidupnya akan berubah bertemu dengan Bima. Beruntungnya Lisa, memiliki Bima yang mencintainya.
" Sayang?" Kecup Lisa, di pipi suaminya. membangunkannya dengan lembut.
" Sayang? Sudah pagi?" Imbuhnya lagi, sambil menghirup aroma tubuh Bima. Setiap pagi hari semakin candu dengan aromanya, rasa ingin sekali melarang Bima mandi dan tetap berada di sampingnya hingga dirinya merasa bosan dengan aroma tubuh itu.
Bukannya bangun, Bima justru merapatkan tubuhnya dan memeluk erat istrinya. Mencari tempat ternyamannya dengan tangannya yang mulai jail.
Mulai?" Gumam Lisa, mencoba memukul tangan Bima yang menggerilya kemana-mana.
" Sudah pagi sayang! Mandi sana." Kata Lisa, gemas dan menyisir rambut Bima dengan lima jarinya ke belakang.
" Nanti ya, Malas bangun? Maunya kayak tadi malam." Jawab Bima, membuat Lisa memukul lengan Bima tanpa baju.
" Sakit Sayang?"
" Jangan ngaco ya! Aku capek ini, perutku kram gara-gara semalam." Ketus Lisa, membuat Bima mendongakkan kepala menatap istrinya yang cemberut dan terlihat wajah sedikit pucat.
" Kamu sakit?" Khawatir Bima, mensejajarkan wajahnya pada istrinya. Menempelkan telapak tangannya ke kening istrinya.
" Aku tidak sakit Sayang? hanya perutku kran saja." Ujar Lisa.
" Tapi wajah kamu pucat sayang, kita ke rumah sakit sekarang." Perintah Bima.
" Sayang?"
__ADS_1
" Aku tidak mau di bantah?" Tegas Bima. jika sudah bermode tegas Bima sulit untuk di rayu dan sulit untuk di bantah. Perintahnya harus di penuhi dan harus terlaksanakan sekarang juga.
Seperti semalam. Dirinya memanggil Bima dengan sebutan sayang, dan suaminya sangat suka dengan panggilan itu. Dan detik malam itu juga, Bima dengan tegas menyuruhnya memanggil sayang. Jika tidak, dirinya akan mendapatkan hukuman. Hukuman yang sangat mengerikan.
Di larang ke gudang, sampai dirinya terbiasa memanggil sayang.
Hanya bisa menghembuskan nafas berat dan mengangguk setuju dengan perintah suaminya. Menyibakkan selimut, menahan sakitnya perut sedikit kram. mengambil baju Bima yang berserakan di lantai dan akan mengambilnya tapi di larang oleh Bima.
Hingga dirinya terkejut saat tubuhnya di angkat suaminya, membuat dirinya segera mengalungkan ke dua tangannya ke leher Bima.
" Kita Mandi bersama?" Kerling Bima, dengan Lisa yang melototkan mata.
" Hanya mandi? Gak ngapa-ngapain, janji." Ujarnya lagi, dan berjalan menuju kamar mandi dengan sepasang suami istri tanpa busana penutup tubuh mereka di pagi hari.
*****
" Terima kasih Pak, Sudah menerima lamaran saya. Dan saya boleh menginap di sini." Ucap Max, duduk di kursi tamu setelah selesai sarapan pagi bersama dengan keluarga Santi.
Ya, semalam Santi menerima lamaran Max yang mendadak ke rumahnya dan tidak mau di tolak lamarannya oleh dirinya. Lamaran tanpa rencana, tanpa di kenalkan terlebih dulu pada orang tua Max. Dan pertama kali datang bertemu dengan orang tua Santi. Sendiri, tanpa saudara, teman atau orang tuanya.
Rasa senang, Santi menerima lamarannya. tak lupa kotak kecil dalam saku celananya ia ambil dan menyerahkan pada ibunya Santi. Dengan ibu Santi sedikit terkejut, setelah membuka kotak kecil berwarna biru yang isinya ternyata cincin berlian putih permata satu. Bukan hanya Ibunya Santi saja yang terkejut, Santi juga sama terkejutnya. Saat melihat cincin yang ada di tangan ibunya.
Sebelum Santi pulang ke kampungnya, Max sudah membelikan cincin terlebih dulu. Untuk melamar Santi kala ia akan mengajaknya makan malam romantis di luar kontrakan.
Tapi sayang, lamaran romantis gagal. Kala Santi pulang ke kampung halamannya dengan dirinya berfirasat tidak enak, hingga akhirnya Max nekat menyusul Santi ke kampungnya dan membawa kotak cincin permata yang siap melamarnya di hadapan orang tau Santi secara langsung.
Felling Max benar, Santi di lamar dan beruntung orang tua santi, serta Santi tidak menerima lamarannya. Jika menerima, pupus sudah harapannya. Dan pasti, sakit hatinya yang terdalam.
" Secepatnya saya akan datang lagi ke sini sama orang tua saya pak, sekalian membahas tentang pernikahan." Ucap Max.
" Bapak akan tunggu orang tua kamu datang." Jawab Bapak Santi, Max hanya mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
" Pak Max? Berangkat sekarang?" Santi keluar dari ruang tengah bersama ibunya, membawa tas kain berisi makanan dan juga bingkisan untuk dirinya kembali ke kota bersama Max yang tidak bisa lama-lama meninggalkan pekerjaan.
Melihat jam di pergelangan tangan, kurang tiga jam lagi pesawat yang sudah ia booking akan berangkat. Max menganggukkan kepala dan berdiri dari duduknya.
" Iya, bandara dari sini sedikit jauh. Takut nanti kita ketinggalan pesawat." kata Max.
" Buk, Santi berangkat dulu ya. Ibu jangan terlalu sering ikut bapak ke sawah, biar Adi saja yang bantuin bapak sepulang sekolah ke sawahnya." Nasehat seorang putri pada ibunya, yang sudah mulai renta dan selalu mengeluh sakit kepala selepas dari sawah.
Bapak Santi sudah melarang istrinya tidak ikut ke sawah, benar tidak ikut. tapi ibu Santi malah mengikutinya ke sawah sendiri naik sepeda, satu jam setelah di larang. Dengan alasan mengantarkan bekal makan siang untuk bapaknya.
" Ibu kamu selalu ngeyel San? Di bilangi selalu bantah. Bapak sudah capek nglarang ibu kamu terus." Ujar bapak Santi, susah bilangin istrinya yang cukup diam di rumah saja tanpa mengikutinya ke sawah.
Ibu Santi berdecak, tapi tersenyum dan mengangguk. " Iya, iya. Ibu bakal di rumah terus? biar adi saja yang bantuin bapak ke sawah." Jawab Ibu Santi, tidak ingin membantah ucapan putrinya. Yang sudah memberikan kehidupan layak dengan kerja kerasnya selama ini di kota.
Memeluk ibu, mencium tangannya dan bergantian memeluk bapak serta mencium tangannya. kembali ke kota dengan dua rasa bahagia.
Satu Tuhan mengabulkan doanya untuk bisa membahagiankan keluarganya dan ke dua di lamar oleh pria tampan dan kaya dari kota tanpa memandang status perbedaan.
" Saya pamit dulu Pak, Buk." Pamit Max, menyalimi ke dua orang tua Santi bergantian.
" Hati-hati nak Max, tolong jaga Santi di sana." Pinta ibu Santi, membuat Max mengangguk dan tersenyum.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃
__ADS_1