Nona Lisa

Nona Lisa
rumah sederhana


__ADS_3

...Kenyataan yang pahit, tapi bisa membuatku mengerti....


.


.


.


.


Rumah sederhana, rumah yang damai dan nyaman saat dirinya merasa rindu dengan seseorang.


Memasuki perkarangan rumah, turun dari mobil, melihat sekeliling rumah dan di sambut baik gadis remaja dengan senyum mengembang saat melihat kehadirannya


" Kak Bima?" Sapa gadis remaja, bersalaman dan memeluk kakaknya.


" Bagaimana kabar kamu." Tanya Bima, mengacak rambut gadis remaja yang sudah semakin tumbuh besar.


" Bunga baik, kakak gimana kabarnya." Tanya balik gadis yang bernama bunya.


" Kakak baik, bapak di mana."


" Biasa tu di belakang." Jawab Bunga.


" Ini, buat kamu dan Rasya." Menyerahkan beberapa paberbag pada Bunga." Makasih!" Seru Bunga, senang mendapatkan hadiah dari kakaknya. Dan sambil berjalan masuk ke dalam rumah bersama Bima.


Tak ada yang berubah, masih sama. Lama sekali dirinya tidak pulang, dan tidak berkunjung ke rumah. Bukan tidak sayang hanya saja pekerjaan yang selalu menyita waktu. Mungkin!


Bapak.


Ya, Bima masih mempunyai bapak. yang sudah keluar dari penjara beberapa tahun lalu saat dirinya sudah mempunyai uang dan juga bisa membebaskan bapaknya.


Lebih memilih tinggal di rumah yang sederhana, jauh dari keramaian dan damai untuk di tempati. Belakang rumah yang di buat kebun oleh bapak untuk meluangkan waktunya bercocok tanam saat tak ada pekerjaan. serta di temani dua remaja yang tidak membuat dirinya kesepian di rumah.


" Bapak! kak Bima datang?" Ucap Bunga, membuat pria paruh baya yang sedang membersihkan kebun memberhentikan pekerjaannya dan melihat ke belakang dengan senyum, melihat putranya datang ke rumahnya. Kala sudah lama tak kunjung ke rumah.


melepas sarung tangan, berjalan ke arah putranya. Di sambut dengan Bima, mencium tangan bapak dan memeluknya.


" Bagaimana kabar bapak." Tanya Bima, melepas pelukannya.

__ADS_1


" Bapak sehat." Jawab bapak Bima. " Bapak pikir kamu marah dan tidak ingin bertemu bapak lagi." Imbuhnya.


" Tidak begitu! pekerjaanku banyak dan baru bisa njenguk bapak." Elak Bima, yang tidak ingin membahas tentang kenyataan ucapan dari pria paruh baya di hadapannya ini.


Hanya tersenyum, kala putranya masih mengingat ucapannya yang sangat menyakitkan tau akan kebenarannya. tapi rasa syukur, putranya tidak membencinya, hanya saja dia mungkin kecewa dan marah akan tau yang sebenarnya.


Mungkin itulah putranya sudah lama seklai tidak pulang ke rumah. atau sedang mencari informasi.


" Dimana Rasya?" Tanya Bima.


" Bapak suruh beli pupuk." Jawab bapak Bima, membuat Bima mengangguk dan duduk di kursi belakang halaman bersama bapak.


" Sudah menemukannya?" Tanya Bapak, membuat Bima mengerutkan kening. Tau akan pembahasan ini.


" Untuk apa."


" Untuk meminta jawabannya."


" Itu tidak perlu, karna kenyataannya sudah pasti dia tidak mau dengan bayi itu." Jawab Bima, tersenyum kecut menatap hambaran tamanan yang subur dan terawat.


" Jangan berprasangka buruk terlebih dulu, mungkin dia melakukan itu ada alasannya. Seperti bapak ini." Ucap bapak Bima. " Bapak melakukan itu juga demi kamu dulu, tapi yang bapak lakukan memang salah hingga membuat ibu terjerumus dan meninggalkan kamu selama-lamanya."


" Ibu yang mau menampung dan merawatku, tidak seperti dia. membuang bayi yang tak berdosa demi menutupi aibnya dan mengejar dunianya." Imbuhnya, mengertakkan gigi dengan raham mengeras dan juga tangan yang mulai mengepal saat mengingat kenyataan yang pahit.


" Cobalah mencarinya dulu, dan tanyakan kenapa. Biar kamu tau-,"


" Semua sudah jelas pak! Surat itu sudah jelas, dan tak perlu di tanyakan lagi." Potong Bima. " Jangan pernah bahas wanita itu lagi, aku ke sini bertenu bapak dan adik-adikku." Tekannya, tak ingin membahas hal yang sangat membuatnya marah kembali.


Bapak hanya bisa menghembuskan nafas berat dan mencoba tersenyum untuk tidak membahas atau menanyakannya lagi, karna memang itu bukan haknya dan juga tak ingin membuat putranya marah.


" Kamu sudah makan." Tanya Bapak Bima.


" Belum."


" Ayo kita makan besama." Ajak bapak, dengan Bima yang mengangguk dan beranjak ikit berdiri mengikuti bapaknya menuju menuju meja makan.


Makan siang bersama dengan putranya dan dua remaja yang sudah juga ia anggap anaknya. Tak ada yang nikmat selain memandang putranya yang sudah tumbuh dewasa, serta sukses hingga membuatnya bangga.


Putra yang dirinya sayang dan rawat sejak bayi bersama mendiang istrinya. Melihat betapa gagah, tampan dan pintar putranya itu. Tanpa sadar meneteskan air mata, karna Bima adalah putra satu-satunya yang dirinya punya saat ini. Dan menyesal karena sudah membuatnya menderita serta kesepian saat dirinya mendekam di penjara dan istrinya meninggal akibat sakit menular.

__ADS_1


*****


" Kenapa kamu tidak bilang sama papa dulu kalau mau mengambil keputusan!" Ucap pak Yoga, saat tau putranya yang sudah mengajukan diri untuk pindah ke perusahaan di kota yang lebih besar di cabang utama.


Pak Yoga tau dari sekertarisnya saat, sekertarisnya mengucapkan selamat padanya, soal putranya yang di terima pengajuan pindah kerja di cabang utama berada di kota besar.


" Maaf Pa." Ucap Fahmi, yang hanya bisa meminta maaf, tanpa terlebih dulu bertanya atau meminta pendapat pada orang tuanya.


Karna dirinya sudah mengajukan perpindahan satu minggu yang lalu ke cabang utama secepat mungkin, agar bisa bertemu dengan wanita yang di cintainya dan tetap ingin mengejarnya.


" Kamu baru satu bulan tinggal sama Mama Fahm, sekarang mau ninggalin mama lagi." Keluh Mama Fahmi. Yang merasa dirinya akan kesepian kembali karna putranya akan pergi dari rumah.


" Fahmi masih di indonesia Ma? Bukan di luar negeri. Mama bisa datang kapan pun dan nginap sepuas mama di tempat Fahmi kan?" Ucap Fahmi.


" Hmm, tapi gak setiap hari mama bisa ketemu sama kamu." Masih terasa berat dan tidak mau di tinggal putranya kembali, meskipun masih tetap di satu negara.


" Bukannya mama papa, ingin Fahmi sukses dan mandiri?" Sambil menatap mama dan papanya bergantian. " Jadi biarkan Fahmi mencoba pengalaman yang baru dan membuktikan jika Fahmi bisa." Imbuhnya lagi, mencoba meyakinkan pada orang tuanya jika dirinya ingin menjadi orang sukses.


Melihat kegigihan putranya, Pak yoga dan istrinya hanya bisa saling menatap dan tidak curiga sama sekali hingga seulas senyum menghiasi bibir ke duanya. Menyetujui putranya yang akan meninggalkan rumah kembali.


" Kamu akan tinggal di mana?" Tanya Mama Fahmi.


" Aku menemukan apartemen Ma, tidak jauh dari kantor aku bekerja. aku akan menyewanya sementara waktu." Jawab Fahmi, memang sudah mencari hunian apartemen lewat media sosial dan untungnya ada apartemen yang di sewakan tak jauh dari kantornya.


" Kapan kamu akan berangkat." Tanya Pak Yoga.


" Minggu aku sudah akan pergi pa?"


" Hmm, Mama dan Papa akan menemani kamu." Ucap Pak Yoga.


membuat Fahmi mengangguk dan tidak mempermasalahkannya. To ke dua orang tuanya juga harus mengetahui hunian apartemen sewanya dan bagaimana lingkungan di kota baru putranya.


.


.


.


.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃


__ADS_2