
...Bahkan benih pun menghancurkan dirinya, hanya untuk menjadi indah....
.
.
.
.
" Sory gue telat." Ucap pria bernama Max, duduk di meja bar bersama dua teman yang sudah menunggunya dengan saling diam.
" Loe lama sekali!" Gerutu temannya.
" Si bos ngasih gue kerjaan banyak!" Gerutunya menatap pria dingin yang diam sedang menikmati wine di dalam gelas yang sudah tersaji oleh pelayannya.
Sangat menyebalkan, bos sekaligus teman yang membuatnya harus bekerja lembur di kantor cabang baru milik dia. Dan dirinya di pindahkan sebagai kepercayaan untuk mengola dan mengawasi karyawannya.
" Alasan." Gerutu temannya bernama Doni.
Doni dan Maxel berteman lama dengan pria dingin itu sewaktu kuliah, tapi tak pernah seakur sekarang, kala mereka berpisah dan tak lagi mendengar kabar. Tapi saat pria dingin itu pernah melihat Doni bekerja di perusahaannya, ia merekrut Doni untuk menduduki posisi manajer karena kinerja yang bagus sekaligus teman masa kuliahnya yang dirinya percaya akan kesetiaan.
Bertemu dengan Max, saat pria dingin itu sedang menghadiri resepsi pernikahan mantan wanita yang pernah singgah di hatinya dan ternyata kekasih Max berteman dengan mantan wanitanya. Max sudah bekerja di perusahaan lain, dan karena tawaran Pria dingin yang menggiurkan dirinya mau mengundurkan diri dan bekerja dengannya.
Dan syarat yang sangat membuat dua temannya bingung sampai sekarang, tak ada yang boleh tau tentang identitas aslinya, hanya Max dan Donilah yang tau akan status pria dingin itu.
" Kenapa lagi tu bos!" Ucap Max, melihat Bosnya hanya diam dan menikmati wine tanpa mendegar atau menjawab ocehan temannya.
" Tau tu, tanya saja sendiri." Kata Doni yang juga bingung kenapa harus menemani bosnya minum tanpa mengobrol. Sedangkan dia sangat asyik dengan kesendiriannya.
" Loe kalau gak mau cerita ya sudah, gue mau tidur saja. Capek sama kerjaan yang numpuk." Kata Max, Malas dengan malam ini harus menemani pria dingin itu minum. Rasanya tubuh sangat lelah, dan otak harus segera istirahat untuk melanjutkan tempurnya esok pagi.
Meluruskan badan di sofa panjang, melepas sepatu dan dasi terasa ketat di lehernya.
Melihat Max mulai memejamkan mata, Doni pun juga mulai beranjak dari bar tander dan ikut merebahkan tubuhnya di sofa malas yang berada di dekat jendela. Hanya melirik sekilas, melihat dua temannya tertidur di sofa tanpa menemaninya dan memang di maklumi jika mereka sangatlah lelah sama seperti dirinya. Tapi tidak dengan hati mereka yang terlihat senang, tidak seperti dirinya sunyi.
Kehadiran Doni dan Max, membuat dirinya sedikit tidak sunyi serta mereka tak sungkan dan tak peduli dengan statusnya sebagai bos jika sudah di luar pekerjaan.
__ADS_1
" Mau di tuangkan lagi Tuan?" Tanya pelayan pada pria dingin.
" Tidak, kau boleh pergi." Kata Pria dingin itu, membuat pelayan mengangguk dan beranjak pergi dari ruangan tempat minum.
" Loe masih memikirkannya?" Tanya Max, berani bertanya saat pelayan sudah pergi dari ruangan.
" Gue harap loe lupakan dia, jangan buat loe menderita terus. dia gak mungkin kembali, dan gak mungkin dia mikirin loe." Imbuhnya lagi, untuk menasehati kesekian kalinya pada pria dingin yang masih memendam cintanya pada sang mantan yang sudah menikah.
" Dia bahagia?" Tanya Pria dingin, tanpa menatap temannya, sambil menuangkan minuman wine ke dalam gelasnya.
" Enggak tau, kan gue udah putus sama teman mantan pacar loe." Jawabnya, memang sudah satu tahun dirinya putus dengan teman mantan pacar pria dingin itu.
Dulu Max selalu bertanya tentang dia, saat pria dingin itu memintanya untuk menanyakan kabar tentang mantannya. Sungguh, rasanya sangat muak dirinya menjadi perantara kabar hanya karena pria dingin yang masih memendam cinta pada mantan kekasihnya.
Dan ketika Max putus, pria dingin itu masih saja menanyakan kabar. Hingga terpaksa dirinya harus berhubungan lagi dengan mantan kekasih meskipun sebatas teman.
" Kenapa enggak coba cari yang baru saja." Kata Doni, membuat pria dingin itu tersenyum membali menyesap minuman untuk kesekian kalinya.
" Ide yang bagus!" Saut cepat Max.
" Mutasi!" Ucap Pria dingin.
Meneguk kembali winenya, untuk menenangkan pikiran yang kacau. Dan entah kenapa dirinya mulai suka dengan minuman bermabuk.
Masih mencintainya, mungkin. Karena dia yang pernah singgah di hati dan di patahkan oleh kata tak restu. Meskipun berjuang, juga percuma, karena dari keluarganya tak suka dengan pria yang rendah, tak sederajat dengannya.
Hal yang paling di benci dari diri pria dingin itu, selalu memandang status dan kekayaan agar bisa menyeimbangi keluarganya dan juga mampu bekerja sama dalam bisnis.
Jika saja dirinya mau membuka identitasnya, mungkin dirinya akan mendapat restu meskipun tau akan latar belakang ke dua orang tuanya. Wanita pelacur dan Pria kurir narkoba.
Tapi sayang, ucapan orang tua dari wanita yang di cintainya membuatnya sangat marah karena sudah menghina keluarganya tanpa tau sebabnya.
Balas dendam, tidak. Tidak mungkin untuk membalas dendam pada keluarga wanita yang di cintainya, hanya saja ia akan mengingat itu sampai waktunya tiba, siapa dirinya yang sebenarnya.
Beranjak pergi dari ruang minum, meninggalkan teman yang sudah tertidur pulas di sofa. Menuju kolam renang, melepaskan semua pakaian, menyisakan boxer di tubuhnya dan melompat ke dalam kolam renang untuk menyegarkan diri.
*****
__ADS_1
" Kenapa aku Kebayang muka dia terus sih!" Gumam Lisa, yang tidak bisa tidur saat ia mengingat wajah pria dingin itu.
Rahang sempurna, mata elang hitam, hidung mancung dan bibir yang mengagumkan. Ciptaan Tuhan yang paling sempurna.
Tersirat jelas mata elang hitam yang menunjukkan kesedihan, tapi bisa menyembunyikannya dari siapapun jika di lihat dari kejauhan.
" Ihh!! kenapa aku mikirin dia sih!!" Gerutunya sendiri menepuk keningnya. " Tapi seperti tak asing wajah dia!" Ujarnya kembali, seperti pernah melihat dia tapi entah dimana.
Berbunyi perut yang keroncongan,
" Hah! Lapar!" Mendesah, dan berdiri dari tidurnya menuju ke dapur untuk mencari makanan yang bisa dirinya makan. Karena di mall dirinya tak sempat makan dan di habiskan oleh Riski.
" Mbak Lisa?" Sapa mbak Jum terbangun dari tidurnya untuk ke kamar mandi dan melihat dapur menyala.
" Eh, mbak Jum. Belum tidur mbak?" Tanya Lisa.
" Habis dari kamar mandi mbak, lihat lampu dapur menyala ya sudah mbak jum ke sini." Jawabnya.
" Laper mbak jum!" Kata Lisa.
" Kok gak bangunin mbak jum sih mbak! Kan bisa mbak jum panasi makanannya." Protes asistennya, merasa tak enak jika Lisa ke dapur untuk makan tanpa membangunkannya.
" Lisa pengen makan mie saja mbak! Udah sana mbak jum tidur." Perintah Lisa.
" Saya masakin ya mba!"
" Enggak usah mbak! udah sana mbak jum tidur." Tolaknya dan merintah asistennya untuk kembali ke kamarnya.
" Nanti kalau butuh bantuan panggil ya mbak."
" Iya mbak jum!!" Kata Lisa dan mengibaskan tangannya sebagai tanda mengusir karena tak ingin di ganggu atau merepotkan asistennya malam-malam.
.
.
.
__ADS_1
.🍃🍃🍃🍃
Yahoo, siapa sih!!!😁😁