Nona Lisa

Nona Lisa
saling menatap


__ADS_3

...Belajarlah dari hati yang terluka, dan cobalah untuk mencari yang terbaik....


.


.


.


.


" Iya mbak, Pak Bima yang ngangkat mbak ke kamar." Jawab mbak Jum, Art Lisa yang melihat Bima menggendong dirinya yang tertidur.


" Romantis gak sih mbak!!" Kata suster Santi. " Habis di gendong, di taruh terus di selimutin! Soo sweet!!" Imbuhnya dengan senyum yang menggoda.


" Masah sih!!" Tanya Lisa, membuat dua Art mengangguk yakin. Hingga dirinya ikut tersenyum.


Bagaimana dirinya percaya, jika dirinya tak melihat sendiri apa yang di lakukan Bima padanya, tapi dengan melihat wajah Art yang sangat meyakinkannya. Membuat dirinya sediikit percaya apa yang di bilang oleh mereka.


" Ibu tau?" Tanya Lisa.


" Enggak mbak, ibu sudah tidur." Jawab Santi, kerena memang sebelum Lisa pergi ke pesta, dirinya sempat menelpon ibunya untuk tidak menunggunya pulang dan menyuruhnya untuk istirahat.


" Pak Bima baik dan sopan mbak." Ucap suster Santi. Membuat Lisa mengerutkan kening.


" Iya, pamitan pulang dan senyum ramah sama mbak Jum dan pak Yanto." Ujarnya lagi, membuat Lisa semakin tidak percaya.


Karna Bima orang yang tidak pernah tersenyum kepadanya ataupun pada orang lain. Wajahnya begitu datar dan dingin, serta senyumnya pun mahal sekali, tak pernah terlihat. Seperti semalam di pesta, dirinya bertemu dengan anak buahnya, tetap saja tak membalas senyuman dari anak buahnya yang menunduk hormat atau menyapa padanya. Ataupun membalas tatapan wanita yang menatapnya pun, tidak sama sekali.


" Sini, biar Lisa saja yang bawa sarapan ibu mbak?" Pinta Lisa pada Santi, saat melihat Santi membawa nampan berisi makanan.


" Apa benar dia senyum?" Gumam Lisa dalam hati, sambil melangkah menuju kamar ibunya.


Rutinitas setiap pagi, menyempatkan waktu paginya bersama ibu. Menanyakan kabar dan kesehariannya, menanyakan kondisi dan apa saja yang di lakukannya. Semangat hidupnya untuk mencari uang, memberikan kesembuhan ibunya dan juga memberikan kebahagian pada orang tua satu-satunya.


" Se ma lam, di anterin Nak Bi ma?" Tanya Ibu, selesai sarapan.


" Iya buk, Di antar Mas Bima?" Jawab Lisa. " Ibu tau?" Tanyanya, menyadari pertanyaan ibunya.


" Ta di tanya buk Ima." Kata ibu Lisa, membuat Lisa mengangguk mengerti.

__ADS_1


" Ka pan, ka pan, ajak, Nak Bi ma ke ru mah." Pinta Ibu.


" Ibu suka?" Tanya Lisa.


" Dia pria yang ba ik."


" Ibu tau dari mana? kalau dia baik?" Tanya Lisa lagi, sudah dua orang yang mengatakan Bima orang yang baik dan kini di tambah ibunya yang bilang jika Bima juga pria yang baik.


" Su dah, bera pa, kali di bantuin Nak Bi ma?" Tanya balik ibunya.


" Banyak buk?" Jawabnya, menyerahkan obat pada ibunya agar segera di minum.


" Ajak lah, ke mari, i bu, mengun dangnya ma kan malam." Kata Ibu Lisa, membuat Lisa sedikit terkejut dan hanya bisa mengangguk kecil menjawabnya, tidak yakin jika Bima mau menerima undangan makan malam dari ibunya dan rasanya malas sekali untuk bertemu kembali dengan pria dingin itu.


Berpamitan pada ibunya, melangkah keluar rumah menuju bagasi dan melihat mobilnya yang tidak terparkir di sana.


" Pak Yanto, di mana mobilku?" Tanya Lisa, pada pak Yanto yang sedang membersihkan taman.


" Semalam di bawa sama pak Bima mbak?"


" Apa!!" Pekik Lisa, terkejut mendengar jawaban pak Yanto. " Di bawa tu cowok!" Imbuhnya lagi.


" Hah!!"


" Dasar Pria pelit! Gak mau rugi!!" Umpat Lisa, saat mobilnya di bawa oleh Bima dan mobil khusus ibunya sedang berada di bengkel, hingga dirinya terpaksa harus memakai motor menuju tempat kerja.


****


" Maaf Pak? Ada seorang wanita mencari bapak?" Kata Asisten Bima, menghampiri bosnya yang masih fokus dengan pekerjaannya.


" Siapa?" Tanya Bima. Tanpa menatap asistennya.


" Namanya Lisa pak? " Jawab Asistennya. " Katanya ingin bertemu dengan Bapak, penting." Imbuhnya, membuat Bima berhenti dan seulas senyum tipis timbul di bibirnya.


" Antar dia kemari?" Perintah Bima, Hanya mengangguk dan undur diri dari hadapan bosnya. Dan kembali lagi dengan pekerjaannya.


Geram, sangat lah geram karena Lisa tak bisa mengambil mobilnya yang terparkir di rumah Bima. Kata penjaga, kunci mobilnya di bawa oleh Tuannya dan menyuruhnya untuk datang mengambil sendiri di kantor.


Sangatlah menyebalkan bukan, dirinya yang naik motor harus berpindah tempat dua kali untuk bertemu pria dingin yang membawa kunci mobilnya.

__ADS_1


Menunggunya begitu lama dan beberapa pasang bola mata wanita menatapnya dengan terkejut serta ada yang meremehkannya saat ingin bertemu dengan direktur. Seakan dirinya wanita pengejar atasannya.


Cihh!! Yang benar saja.


Jika bukan karena kuci mobilnya, dirinya enggan untuk bertemu lagi dengan Bima. Pria dingin yang menyebalkan.


" Mari mbak saya antar ke ruangan bapak Bima? " Kata resepsionis, saat dia sudah mendapat telpon dari atasannya untuk mengantarkan wanita yang ingin bertemu dengan direktur.


" Iya?" Jawab Lisa, mengangguk dan mengikuti resepsionis yang ramah mengantarnya ke ruangan Bima di lantai atas.


" Masuk?" Ucapnya dari dalam, membuat dua wanita masuk ke dalam ruangan Bima. Dengan Lisa yang sudah emosi melihatnya.


" Pria Gila!! Kembalikan kunciku!" Teriak Lisa, membuat resepsionis terkejut mendengar teriakan Lisa dan menghampiri Bima yang langsung menatapnya.


Begitu beraninya wanita di belakangnya berteriak pada Bima, yang di hormati dan takuti oleh semua karyawan. Bagaimana tidak takut, direktur Bima orang tegas, di siplin, dingin dan pemarah jika tidak ada karyawan yang becus dalam pekerjaannya.


" Kamu boleh Keluar?" Perintah Bima pada resepsionis, Hingga resepsionis itu keluar ruangan dengan isi kepala yang bertanya-tanya. Siapa wanita yang berani berteriak dan memaki direktur tampan dan dingin itu


" Mana kunci mobilku!!" Pinta Lisa lagi, Setelah melihat kepergian resepsionis, merasa dirinya di kerjai oleh Bima yang membuatnya harus berkeliling dua tempat yang sangat jauh dan terik panas yang menyengat di tubuhnya.


" Ada di kamar saya." Jawab santai Bima, membuat Lisa membulatkan mata.


" Apa! Di kamar kamu!" Ulang Lisa, hanya mengangguk santai menikmati wajah emosi Lisa yang sangat menggemaskan di matanya.


Entah sejak kapan ia mau melihat wajah Lisa yang menggemaskan jika marah. Dan mulai suka dengan expresi alami tanpa di buatnya.


" Pria Gila!!!" Teriak Lisa, berjalan menuju tempat duduk Bima dengan wajah emosi dan tangan mulai ingin mencakar wajah tanpa rasa bersalah itu.


Tangan yang hampir dekat dengan wajah Bima jika saja tangannya tidak di cekal oleh pemilik wajah mungkin sudah terkena cakarannya.


Terkejut, Mata elang dan mata yang sendu saling menatap begitu lama, dan wajah yang begitu sangat dekat. Hingga pintu terbuka dengan Doni yang melihatnya pun juga sama terkejutnya.


" Oh! tidak. Sepertinya aku salah ruangan." Ucap Doni, dan menutup pintu kembali.


.


.


.

__ADS_1


.🍃🍃🍃🍃


__ADS_2