
...Lelaki sejati tak akan obral janji pada wanita lain, dan akan setia dengannya....
.
.
.
.
" Ibu meninggalkanku Bim, ibu meninggalkanku sendiri!" Isak Lisa dalam dekapan Bima, dimana Bima memeluknya untuk menenangkannya.
Bima hanya mengantarkan Mawar dan Kevin ke rumah sakit, kala Kevin meminta tolong padanya. Sedangkan Kevin akan menenangkan Mawar yang menangis di kursi penumpang.
Dan mendengar Mawar mengatakan sesuatu saat menerima panggilan, dirinya merasa tidak asing dengan nama Lisa yang di panggil oleh Mawar.
Bukan penasaran, tapi instingnya mengatakan jika itu seperti benar, nama wanita yang sedang dekat dengan dirinya. Kevin dan Mawar terlebih dulu masuk ke dalam rumah sakit, sedangkan dirinya akan memarkirkan mobilnya.
Sedikit mengerutkan kening, melihat mobil yang tak asing bagi Bima. Menelisik plat nomer mobil itu dan ingatannya masih tajam, benar jika itu mobil Lisa.
dirinya pun bergegas masuk ke dalam rumah sakit, sambil menelpon seseorang. Tapi tak ada jawaban, dan mencoba menelpon susternya pun juga tidak di angkat. Membuat dirinya sedikit gelisah.
Mengingat ucapan Mawar yang memberitahu sebrang telpon alamat rumah sakit serta ruangannya. Saat akan berjalan, Bima memicingkan mata sekilas ia melihat putra pak Yoga berjalan dengan tergesa-gesa dan bertanya pada suster yang menunjukkan arah jalan.
Tak mau memikirkannya, ia pun mencoba mencari Kevin dan Mawar menuju ruang mayat. Dan melihat seseorang yang di kenalinya dari kejauhan.
Suster santi, sedang berdiri di samping Mawar yang memeluk seseorang. Dan rasa terkejut kala mendengar suara lelaki di hadapannya memanggil nama wanita dekatnya.
Lisa!" Gumam Bima.
Ibu Lisa! " Ujarnya lagi dalam hati.
Dan saat itulah ia melihat Lisa yang berjalan ke arahnya dengan mata memarah dan sembab.
" Husstt, jangan menangis." Ucap Bima, mengusap punggung Lisa.
" Ibu tega ninggalin aku, dan lebih memilih bersama bapak! Kenapa Bim, Kenapa Tuhan selalu membuatku menangis!! kenapa ibu mengambil ke dua orang tuaku!! Kenapa!!" Isaknya lebih dalam di dada Bima, dan meremas erat kemeja Bima.
__ADS_1
Terasa sakit dan marah saat ia di tinggal pergi ke dua orang tuanya untuk selama-lamanya di dunia ini. Seakan-akan Tuhan tak adil dengannya. Dimana ia sudah sukses dan bisa membahagiakan ibunya, Tuhan mengambil ibunya dari sisinya dan membuat dirinya hancur kembali. Di tinggal sendiri tanpa adanya saudara tanpa kerabat dan begitulah anak tunggal yang merasa akan kesepian tanpa siapapun.
Menyedihkan.
" Kamu tidak sendiri, masih ada saya." Ucap Bima, mencium puncak kepala Lisa. Tau bagaimana rasanya kehilangan dan bagaimana rasanya sendiri tanpa siapapun.
Melihat Bima bagaimana memperlakukan Lisa, membuat tiga orang yang melihatnya semakin terkejut.
" Lisa kenal sama dia." Lirih Mawar, terdengar suster Santi berada di sampingnya.
" Pak Bima mbak, teman dekat mbak Lisa."
" Apa!" Menatap suster Santi dengan mata membulat, Tangisannya berhenti karna perkataan Suster Santi yang membuat dirinya terkejut.
Pasalnya Lisa tidak pernah menceritakan tentang lelaki ataupun lelaki yang dekat dengannya. Yang selalu mereka bahas adalah kesibukan, tentang rania dan tentang ibu. Tidak ada yang lain lagi, selain itu itu saja. Sama seperti ucapan Angga.
Dan ini seperti dunia yang terlalu sempit.
" Pak Bima sudah beberapa kali datang rumah dan ibu mbak Lisa sangat menyukai pak Bima." Ujar Suster Santi.
Sedangkan di sisi lain, Fahmi masih menatap dua insan saling berpelukan. Melihat Lisa menangis di pelukan pria lain, menumpahkan kesedihannya di pelukan pria itu. Sungguh itu sangat membuat hatinya sakit.
Dan Fahmi sadar pria yang di peluk Lisa adalah bosnya, yang baru saja ia bekerja dengannya. Karna papanya yang memasukkannya ke dalam perusahaan Bima.
Sungguh Fahmi tidak pernah tau jika Lisa dekat dengan Bima, dan sejak kapan Lisa dekat dengan dia. Apa itu sebabnya Lisa menghindar darinya, dan tidak pernah menghubunginya.
Tidak, Lisa tidak bisa menghindar darinya, Lisa sudah berjanji padanya untuk menunggunya dan untuk jawab ucapannya di masa lalunya saat di bandara dulu kala Lisa mengantar kepergiannya.
****
Rumah duka, rumah yang kini di penuhi dengan para pelayat. Berbela sungkawa atas meninggalnya ibu Lisa. Rasa terkejut dan tak percaya akan apa yang mereka dengar dan lihat.
Secara ibu Lisa sudah membaik dan baru menginjakkan kampung halamannya, tapi nyatanya ibu Lisa pulang bukan untuk singgah sementara, tapi untuk pergi dan juga menetap selamanya di kampung halamannya.
Rasa cintanya begitu dalam dengan suami, dan rasa sayang pada sang anak menemaninya hingga sukses. Membuat ibu kini bisa tenang meninggalkan sang anak, karna sudah bisa hidup mandiri dan di kelilingi orang baik di dalam rumah kotanya.
sungguh malang kini nasib Lisa yang di tinggal pergi ke dua orang tuanya. Tak ada yang tau, kapan saja Tuhan akan memanggil orang yang kita sayang, termasuk orang yang tidak punya penyakit.
__ADS_1
Bima, Kevin, Angga dan Fahmi. Turut ikut membopong keranda ibu Lisa tanpa ada yang mau bergantian.
Di tanah gundukan merah, papan nisan nama ibu Lisa. Semua pelayat berdoa, mendoakan kebaikan ibu Lisa dan juga Amal-amal yang pernah beliau lakukan di masa kehidupannya dulu. Hingga satu persatu mereka pulang.
" Kita pulang Lis?" Ajak Mawar, merengkuh bahu Lisa untuk mengajaknya pulang.
" Pulanglah dulu Ar! Aku ingin di sini sebentar." Ucap Lisa, mengusap papan nama ibunya.
" Pulanglah, aku akan di sini dengan Lisa." Kata Bima, membuat Kevin mengangguk dan mengajak Mawar untuk ikut pulang, meskipun rasanya berat meninggalkan sahabatnya yang menangis.
" Lis?"
" Pulanglah Fahm? Aku ingin sendiri." Lirih Lisa, sedikit mendongakkan kepala menatap Fahmi dan kembali menatap nisan ibunya.
Tidak bisa berdebat, mungkin memang Lisa butuh sendiri. Meskipun rasanya Fahmi juga berat meninggalkan Lisa, apa lagi Lisa bersama dengan Bima.
Tidak terima sama sekali.
Kini, hnanya tinggal Lisa dan Bima di hapadan makam ibu Lisa. Lisa menangis kembali, seperti tak ada henti air mata yang turun membasahi pipinya.
Begitu bergetar tubuhnya, sangat kehilangan arah saat ini. Sudah tidak ada lagi yang bisa membuatnya senang selain orang tuanya. Selain membahagiakan orang tuanya, hidupnya terasa hampa dan menyedihkan.
" Buk! " Lirih Lisa. " Boleh Lisa ikut, Aku enggak mau sendiri buk! Lisa gak mau di tinggal ibu!!" Imbuhnya lagi, menyandarkan kepalanya di kayu nisan ibunya dan menangis begitu memilukan.
Menyentuh bahu Lisa, membuat Lisa mendongakkan kepala menatap pria yang masih setia menemaninya.
" Ayo kita pulang." Ajak lembut Bima, mensejajarkan tubuhnya dengan Lisa, mengusap air matanya dan membawa kembali ke dalam pelukannya.
Saya akan menempati janji itu, ibu!" Gumam Bima, menatap nisan tulisan nama Ibu Lisa.
.
.
.
.🍃🍃🍃🍃
__ADS_1