Nona Lisa

Nona Lisa
seperti keluarga


__ADS_3

...Bukan air mata kesedihan, tapi air mata kebahagiaan. Karena kini, kau tanggung jawabku....


.


.


.


.


Rasanya masih seperti mimpi. Menikahi wanita yang entah sejak kapan dirinya mencintainya. Menikah secara mendadak bukan keinginnya dan juga bukan keinginan Lisa.


Tapi melihat orang tua tinggal satu dan ucapan yang dulu pernah di bilang mendiang ibu Lisa untuk menjaga putrinya dan meminta untuk menikahinya, meskipun dirinya dulu belum sepenuhnya menyukai Lisa. Kini dirinya bertekat dan mantap untuk menikahi wanita yang sudah mengisi penuh hatinya.


Tidak ada yang tidak bisa Bima lakukan, meminta persetujuan pada Lisa. Kala Lisa juga terlihat bingung, terkejut, dan ragu untuk menjawab permintaan ayahnya.


Jika ada yang bertanya tentang Mawar, Kevin dan Angga datang ke rumah orang tua Bima. Itu karena Kevin sedang ada pekerjaan di kota Bima, sekalian membawa istri dan juga adik ipar yang kebetulan libur sekolah.


Memberi kabar pada Bima, jika Kevin akan ke rumah ayah Bima. Dan Bima memberi pesan yang membuat dirinya tersenyum.


Satu kemajuan yang luar biasa. Pikir Kevin.


Mengatakan pada istrinya, jika nanti tidak perlu untuk berkunjung ke rumah Lisa. dan bilang jika Lisa bersama Bima di rumah orang taunya. Tentu saja siapa yang tidak terkejut dan tersenyum mendengarnya. Bisa bayangkan bagaimana nanti expresi Lisa melihat kehadirannya. Dan bernar saja, Lisa sangat terkejut melihat dirinya.


Senang rasanya Mawar melihat Lisa sudah akrab dengan orang tua Bima. Banyak keterkejutan di hari ini hampir membuat jantung Mawar berhenti dalam sekejab.


Lisa mengatakan jika dirinya siap akan menikah di malam ini saat orang tua Bima bertanya sekali lagi. Menikah secara agama terlebih dulu, dan kedepannya akan di urus oleh Asisten Bima untuk mengesahkan pernikahannya di pengadilan agama.


Dan lihatlah malam ini, Lisa benar-benar siap di nikahi oleh Bima. Duduk berdua di hadapan penghulu serta wali perempuannya adalah Kevin, suaminya. Menikahkan Lisa yang sudah di anggap adiknya.


Jika di lihat dan terawang. Lisa sama seperti dirinya dulu. Menikah tanpa adanya ke dua orang tua, tapi masih ada ke dua orang tua Lisa yang menjadi saksi pernikahan dan wali yang menikahkannya adalah Ayah Lisa. Lucu ya! Dan kini suaminya membalas kebaikan Ayah Lisa.


Acara sakral sudah selesai, ada tangisan haru, bahagia dan juga senang dalam rumah yang sederhana. Mawar dan Santi wanita yang menangis mendramai acara akad nikah Lisa. karena tau bagaimana perjuangan Lisa sampai saat ini.


Tiga wanita saling menangis dalam berpelukan. tidak ada namanya atasan dan bawahan, mereka sudah seperti sahabat dan juga saudara. Melepaskan wanita lajang yang sudah menempuh hidup baru dan status barunya mulai saat ini.


beralih pada Riski, karyawan pertamanya di masa susahnya dulu, yang kini di anggap sebagai adiknya. Tersenyum hangat dan memeluknya, ikut menangis. Kala kakaknya sudah menikah, mendapatkan pria tepat, bisa melindunginya.


Meminta restu pada ayah Bima, menangis saat mencium tangan ayah Bima. orang tua memberikan petuah, nasehat dan juga restunya.

__ADS_1


" Selamat Pak bos, sudah tidak melajang lagi dan sudah tidak galau terus." Kata Doni, datang tepat acara sebelum di mulai dan bisa menyaksikan akad nikah Bima.


Seperti mendapat sindiran dari teman plus karyawan laknatnya. " Makasih." Ucap Bima.


" Selamat kawan." Ujar Max, memberi salam pada Bima, kembali mengangguk dan tersenyum serta tak lupa mengucapkan terima kasih.


Bima hanya memberitahu pada dua orang kepercayaannya untuk datang di acaranya akad nikah yang mendadak ini. dan menjadi saksinya baginya.


" Selamat menempuh hidup baru brother, jaga Lisa dan buat dia bahagia." Ucap Kevin.


" Makasih Vin, beruntung kamu datang."


" Hhmm, Anggap saja ini memang sudah takdir. Biar aku bisa nikahkan Lisa dengan mu." Jawab Kevin.


" Kamu masih mengingat pernikahanku dengan Mawar."


" Ya, ayah Lisa yang menjadi wali Mawar." Jawab Bima, dan mengingat pernikahan Kevin bersama Mawar. Karna dulu dirinyalah yang mengurus semua pernikahan Kevin.


" Membalas kebaikan, dan aku sudah melakukannya." Kevin tersenyum dan mengingat bagaimana menjadi wali Lisa. Membuat dirinya sekaan teringat dengan putri kecilnya.


Akankah lebih sesedih ini, nantinya. menikahkan putrinya dan menyerahkannya pada pria yang baru mengenal anaknya. Membayangkan saja sudah tidak sanggup, apalagi kenyataan.


Tertutup, memang sangat tertutup. Hanya ada sahabat, kepercayaannya dan orang tuanya saja. Tidak ada yang lain lagi di dalam acara akan nikahnya.


Bukan bermaksut menyembunyikan kebahagiannya. Tapi memang ini demi privasi Lisa. Lisa pun tidak masalah dengan itu. Dan dirinya tidak akan merasa risih berjalan sendirian di luar rumah karena tatapan orang-orang yang mungkin akan mengenalnya.


Makan malam keluarga penuh dengan orang-orang terdekat, duduk di atas karpet, tersedia banyak makanan, saling mengobrol dan penuh canda tawa. Menggoda pengantin baru yang duduk bersampingan, membuat pipi pengantin wanita bersemu merah kala dua wanita yang juga ikut menggodanya.


****


" Tolong antarkan aku ke jalan xxx." Pinta Santi, membenarkan sabuk pengaman dan menatap Max yang ada balik kemudi.


" Tidak ke rumah Lisa?" Tanya Max, mengerutkan kening karena itu bukan jalan ke arah rumah Lisa. Lisa sempat berpesan padanya untuk mengantarkan Santi ke rumahnya, agar ada yang merawat Santi nantinya.


Ya, Santi masih tinggal di tempat kontrakannya dan terkadang dirinya menginap ke rumah Lisa jika Lisa memaksanya. Bukan tidak mau pindah, tapi kontrakan yang di sewanya masih panjang dan sayang jika tidak di tempati. Di ambil uangnya pun tidak bisa, karena pemiliknya sudah memakai uangnya.


Menyebalkan.


" Enggak, antar saja aku ke jalan xxx." Jawab Santi.

__ADS_1


Dirinya tak mau menyusahkan penghuni rumah Lisa dengan keadaan dirinya terluka. Biarkan Riski saja yang ke rumah Lisa dan di rawat oleh mbak jum. Luka Riski lebih parah dari dirinya. Dan Riski di antar pulang terlebih dulu oleh Lukas kala acara makan keluarga sudah selesai, dan dirinya di antar oleh Max.


" Hmm, baik" Jawab Max, menyalakan mobilnya meninggalkan rumah Bima menuju alamat yang sudah di beritahu Santi.


Perjalanan sunyi, memilih saling diam. Santi menyandarkan kepala terasa mengantuk berat akibat obat yang di minumnya beberapa menit yang lalu.


" Tidurlah, nanti jika sudah sampai saya akan membangunkan kamu." Ucap Max, sedikit melirik ke arah Santi yang mencoba membuka mata lebar-lebar agar tidak memejamkan mata.


" Tidak, nanti bapak enggak tau di mana letak rumahku." Jawab Santi, mengubah duduknya sedikit menegak. Merasa sakit sekali tubuhnya untuk bergerak sedikit saja.


Tidak menjawab, memfokuskan kembali ke arah jalanan dan mendengarkan petunjuk jalan pada Santi. Hingga tiba di tempat kontrakan rumah minimalis.


Membukakan pintu mobil, membantunya turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah Santi.


Tidak ada perabotan di dalam rumah Santi, hanya terdapat dua kursi plastik dan meja plastik. dengan pelan Max mendudukkan tubuh Santi di kursi plastik, di ikuti dirinya yang juga ikut duduk sambil melihat sekeliling ruangan.


" Terima kasih sudah mengantarku pulang, maaf tidak ada apa-apa di sini." Sungkan Santi, tidak memberikan Max minuman.


" Tidak apa-apa." Jawab Max. " Kamu tinggal sendiri?" tanyanya.


" Iya." Jawab Santi, sambil meluruskan kakinya yang terbalut perban. Beruntung ada Mawar yang meminjamkan dresnya dan membantunya mengganti baju.


" Kenapa enggak pulang ke rumah Lisa saja."


" Riski ada di sana, enggak mungkin aku merepotkan buk jum dan mbok Imah." Saut cepat Santi. Rasanya tidak etis merepotkan orang tua apa lagi itu adalah pekerja Lisa sama seperti dirinya.


" Kamu bisa sendiri?"


" Luka ku enggak terlalu parah, dan aku masih bisa sendiri." Jawab tegas Santi, membuat Max sedikit ragu tapi tetap mengangguk. Tidak mungkin juga dirinya menginap di rumah Santi malam ini. Ya, meskipun dirinya bersalah atas apa yang menimpa wanita di hadapannya ini.


.


.


.


.


🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2