Nona Lisa

Nona Lisa
sepasang suami istri


__ADS_3

...Diamku bukan berarti aku takut, dan melawan bukan berarti aku sombong....


.


.


.


.


" Pak Bima!" Serunya, tersenyum penuh arti pada Bima yang menatapnya dingin.


Lisa hanya mendongakkan kepala, menatapnya dengan mengerutkan kening.


" Saya tidak menyangka, bapak datang di pesta saya?" Ucap pemilik pesta, tersenyum senang melihat kehadiran Bima di dalam pestanya.


Pt. Sanjaya.


Berdiri dari duduk di ikuti asisten, sedikit mengangguk dan tersenyum.


" Selamat malam Pak Nico?" Salam Bima.


" Ah.. Selamat malam juga pak Bima?" ucap balik, pak Nico.


Sekutu di balik selimut.


Yang mengundangnya penuh misteri.


Yang sangat membuatnya muak dengan senyuman palsu dari pria seumurannya ini.


Dua kali Lisa mendengar ucapan dari bibir pria yang terkejut dengan kehadiran Bima. Sebegitukah pandangan orang pada Bima, tidak pernah datang dan sekali datang mengejutkan semua orang akan kehadirannya. Walaupun dia hanya seorang karyawan.


Menajubkan.


Benar-benar membuat dirinya takjub.


" Bagaimana kabar Anda pak Bima?" Tanya Nico, pemanasan sebelum drama di mulai.


" Saya baik, Anda apa kabar?" Tanya balik Bima.


" Saya tentu saja sangat baik, apa lagi di dampingi istri yang sangat perhatian kepada saya dan mertua yang selalu menyanjungkan saya." Puji Istrinya di depan Bima, membuat Bima hanya bisa tersenyum dan mengangguk.


Muak!


Drama yang akan di mulai dari pria yang memusuhinya di awal perkenalan. Dia yang memulai peperangan dan permusuhan yang tidak tau apa penyebab pastinya.


Masalah wanita? Mungkin setengah berpengaruh pada Bima dulu, tapi sekarang wanita itu tidak ada lagi dalam kehidupannya. Jadi tak perlu lagi membuat permusuhan padanya.


Atau mungkin karna permasalahan pekerjaan, bersaing dalam urusan bisnis yang pastinya membuat lawannya sangat marah dan mengibarkan permusuhan.


" Apa Anda ke sini karna ingin melihat kabarnya pak Bima?" Tanya Nico. " Atau masih belum bis-," Ucapnya tergantung, kala mendengar suara istrinya dari belakang.

__ADS_1


" Bima?" Sapa istri Nico, membuat semua orang menatapnya. Termasuk Lisa, memandangnya penuh arti.


" Sayang!" Sapa Nico, tersenyum manis dan memberikan ruang untuk istrinya Menyapa mantan sahabatnya.


" Siapa wanita itu?" Gumam Lisa


" Zellin?" Gumam Bima, menatap Zellin sedikit berubah dari dia yang dulu.


Ada yang berubah, dari wanita yang di sukainya dulu. Zellin, terlihat badannya yang kurus, pipi tirus dan juga penampilan yang sangat berbeda sekali dari yang dirinya kenal dulu.


Seperti bukan Zellin.


" Bim?" Sapa Zellin kembali, dengan mata yang berkaca-kaca melihat kehadiran Bima saat ini.


Pria yang dulu di cintainya, pria yang membuat dirinya tersenyum, tertawa dan tenang bersamanya. Pria yang bisa melindungi dan menyayangi dan mencintainya setulus hati. Pria yang sedikit berubah, lebih tampan dan juga terlihat berwibawa.


Bima?


Lisa seperti tidak asing melihat wajahnya, seperti pernah melihat wajah wanita di hadapannya. Seperti!


Wanita itu?


Mengalihkan tatapannya pada Bima, yang masih fokus menatap wanita itu tanpa berkedip. Seakan dirinya di lupakan oleh Bima.


Wanita itu? Yang membuat Lisa pernah di bentak oleh Bima. Bima takut akan ponselnya yang hilang, hanya karna banyaknya foto dia di ponsel Bima.


Ya, Lisa ingat itu. Dan sangatlah ingat. Tidak akan pernah lupa akan hal itu.


" Sayang, mantan sahabat kamu datang." Ucap Nico, merengkuh pinggang Zillin untuk lebih mendekat padanya. Memberikan sedikit kobaran api pada hati Bima yang bisa melihatnya di depan mata.


Sedikit tidak nyaman Nico menyentuh pinggangnya di hadapan Bima, ingin sekali memberontak. Sayang, cengkraman di pinggangnya itu terlalu kuat dan tidak bisa membuatnya berkutik sama sekali.


" Apa kabar Bim?" Tanya Zellin pada Bima.


" Saya baik, Nyonya Nico?" Jawab Bima, membuat senyuman Zellin menghilang.


" Bima tidak memanggil namaku? Apa kamu masih marah padaku Bim!"


" Boleh kita bergabung di sini sebentar, Istri saya mungkin masih ingin berbicara panjang dengan mantan sahabatnya." Ucap Nico.


" Saya tidak bisa melarang Anda untuk duduk di sini. Ini pesta Anda pak Nico."


" Anda sangat pengertian pak Bima?" Puji Nico dengan maksud tertentu, dan menarik kursi untuk istrinya. Mau tidak mau Zellin duduk di tempat meja bundar Bima.


" Rasanya sudah lama kita. Eemm maaf, maksud saya, istri saya tidak bernostalgia dengan sahabatnya dulu." Ujar Nico. " Mungkin istri saya sangat merindukan ini! Benarkan sayang!" Imbunya, Hanya balasan senyuman dari bibir Zellin tanpa mau menjawab.


" Ah.. saya sampai lupa sama wanita cantik sebelah anda ini, Apa dia sekertaris Anda pak Bima?" Tanya Nico, melihat wanita duduk di samping Bima terlihat segar dan cantik.


Menggoda.


Yang di tatap dengan senyum, hanya menunjukkan wajah biasa serta tersenyum kecil mendengarnya.

__ADS_1


" Dia bukan sekerteris saya."


" Jika bukan sekertaris! La-,"


" Calon istri saya. Lisa." Jawab Bima, lagi dan lagi Lisa hanya tercengang dan sepasang suami istri lebih tercengang dari dirinya.


" Calon istri?" Lirih Zellin, menatap lekat wanita di samping Bima.


" Apa benar calon istri, apa kalian sudah bertunangan?" Cecar Nico, seperti tidak terima akan Bima mempunyai wanita.


Entah kenapa.


Dendam pribadi, Mungkin saja.


Sama seperti Nico, Zellin seperti tidak menyangka ucapan Bima. Entah senang atau sedih Bima mempunyai pasangan dan sudah melupakannya. Hati Bima sudah ada yang menggantikannya.


Sungguh menyesakkan.


" Sepertinya kalian belum bertunangan." Ucap Nico. " Tidak ada jari manis di tangan Nona ini." Imbuhnya lagi, tersenyum miring melihat tangan kiri Lisa di atas meja tidak ada cincin yang melingkar di jari manis.


Melihat itu Zellin, masih masih bisa bernafas lega. Ternyata, Bima hanya membuat ucapan palsu di hadapannya. Dan ia menatap Bima dengan seulas senyum


Seketika Lisa menurunkan tangan dan menyembunyikannya di bawah meja. Dan satu tangan kanan ia tunjukkan pada pada Nico yang membuat sepasang suami istri membulatkan mata.


Cincin emas putih, di tabur satu pertama menonjol mengkilap melingkah begitu indah di jari manis Lisa. Dan tersenyum hangat menatap Bima, yang juga ikut tersenyum melihatnya.


" Dia sudah melamar saya, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat saja untuk melaksanakan akad nikah." Ucap Lisa, kembali menatap sepasang suami istri dengan senyum yang di buat semanis mungkin.


" Benar begitukan, Bee?" Manja Lisa pada Bima, tatapan seperti mengunci dan terpana oleh wanita di sampingnya.


" Hhmm, iya. Sayang?" Jawab Bima, membuat Lisa dengan segera melingkarkan tangannya di tangan Bima dan menyandarkan kepalanya di bahu Bima.


" Love you." Kata Lisa.


" Love you too." Jawab Bima, dan mencium puncak kepala Lisa.


Dan Lisa tersenyum puas melihat Nico terlihat kesal dan wanita yang ada di sampingnya terlihat sangat sedih. Seakan Lisa sudah membuatnya terluka.


"Maaf." Gumam Lisa dalam hati, bukan maksud untuk menyakiti hati wanita itu. Tapi memang seharusnya ia lakukan, untuk Bima.


.


.


.


.


🍃🍃🍃🍃


Double up sayang.

__ADS_1


Gak di like, vote, comen santet online nich.😂😂


__ADS_2