
" Bima, aku minta ijin boleh ya. mau hadirin acara pesta salah satu pelangganku." Ucap Lisa, duduk di depan meja rias sambil menyisir rambut setengah mengering dan menatap suaminya dari pantulan kaca yang sedang duduk memperhatikannya.
Sudah kebiasaan dia, selalu memperhatikan istrinya ketika berada di meja rias. Untuk pertama kali Lisa memang sedikit risih, tapi lama kelamaan ia sudah terbiasa. Pernah menegurnya, dan malah mendapatkan jawaban yang membuat dirinya menjadi malu sendiri.
" Kamu cantik, aku suka rambut kamu basah."
Memalukan, rambut basah juga karena dia. Yang selalu saja minta jatah setiap hari, dan libur ketika sedang mendapatkan tamu bulanan atau libur ketika dia berada di luar kota atau ke luar negeri. Paling lama jauh dengan Lisa tiga hari. Dan yang paling parah, dua puluh empat jam dua puluh lima kali suaminya selalu saja telpon dan mengirim pesan padanya.
Suaminya benar-benar takut dirinya di culik pria lain. Bukan takut Lisa selingkuh, dan mana mungkin juga Lisa bisa selingkuh. Suaminya sudah tampan, serta plus kaya.
" Kapan?" Tanya Bima, berdiri dari duduknya dan berdiri di belakang istrinya.
" Nanti malam. Boleh ya?" Pinta Lisa berbalik ke belakang mendongakkan kepala sambil tersenyum untuk melihat suaminya.
" Jam berapa." Tanyanya lagi.
" Jam tujuh."
" Sama siapa."
" Sama Riski. Kalau sama kamu juga gak akan mungkin. Nanti malah yang ada gempar dan gak jadi kondangan lihat sepasang pengantin malah lihat Tuan Alfrado datang." Cicit Lisa. Sebenarnya dirinya ingin mengajak suaminya, tapi itu pasti tidak akan mungkin. Dan semua orang juga belum ada yang tau tentang status Bima dengan dirinya.
Tidak mengharapkan untuk di publikasikan, dirinya tau jika Bima melindunginya dari lawannya yang jahat dan dari paparazi yang mencoba mengorek tentang kehidupan Bima. Tapi dirinya ingin menjalani hidup sepasang suami istri seperti orang lain, seperti Mawar yang selalu mengumbar kemesraan di depan publik atau membagikannya di media sosial. Setiap ada kegiatan berlibur bersama suami dan anak.
Sedangkan dirinya, tidak berani untuk membagikan foto dirinya bersama Bima di media sosial. Dirinya takut, dan tentu saja Bima pastinya akan marah. Pikirmya begitu.
" Kamu malu mengajakku?" Tanya Bima.
" Tidak? Aku hanya takut saja kamu tidak bisa." Jawab Lisa, berdiri dari duduknya dan merapikan alat make up dengan rapi.
" Ayo kita sarapan?" Ajak Lisa, tersenyum untuk menutup kecewa kala tak ada jawaban lagi dari suaminya.
Percuma saja berharap, suaminya pasti tidak akan bisa dan pastinya tidak akan mau untuk ikut ke pesta pelanggannya. Bima juga tidak pernah mengajaknya untuk ikut ke pesta para kolagenya. pria itu datang bersama dengan asistennya dan itu juga pilihan. mana yang harus ia datangi sendiri dan mana yang harus di gantikan oleh Max dan Doni.
Hanya mengangguk dan tersenyum. serta berjalan di belakang istrinya yang terlebih dulu jalan dan entah apa yang ada di pikiran istrinya saat ini tentang dirinya.
****
__ADS_1
" Aku berangkat dulu Ma, Pa?" Pamit Fahmi, selesai sarapan bersama dengan ke dua orang tuanya. dan di masakkan oleh ibunya tercinta, yang pastinya sangat di rindukan oleh seorang anak yang jauh dari keluarga.
" Jangan lupa nanti malam Fahm?" Ucap Mama Fahmi, memperingatkan putranya sekali lagi. agar tidak lupa dengan apa yang sudah di katakan semalam tiba di apartemen Fahmim
" Iya ma? Nanti Fahmi nyusul. Papa, Mama duluan saja."
" Jangan bilang gak mau datang, hanya karena kalah duluan sama sepupu yang masih muda." Curiga Mama Fahmi, yang memang datang di kota putranya karena undangan dari kerabatnya dan juga melepas rindu pada anak kesayangannya.
" Enggak mama sayang! Fahmi pasti datang. Tenang saja." Ucap Fahmi, mencium pipi mama tercintanya dan tidak lupa mencium tangan ayahnya.
Kedatangan ke dua orang tuanya semalam membuat dirinya sedikit terkejut, orang tuanya datang tanpa memberi kabar terlebih dulu. Beruntung, dirinya ada di apartemen dan membereskan semua sampah kaleng bir berserakan di ruang tamu, hingga ke dua orang tuanya tidak mengetahui apa yang di lakukan Fahmi saat jauh dari mereka.
Bukan tanpa alasan ke dua orang tuanya datang ke apartemennya, mendapatkan undangan dari kerabatnya dan juga melepas rindu pada anak tunggalnya. Senang sekali, sangat senang. Dirinya juga sangat rindu dengan ke dua orang tuanya terutama dengan mama tercintanya.
*****
" Toko bagaimana Ka? Ramai?" Tanya Lisa, duduk di kursi meja komputer dan mulai meneliti data-data pengeluaran barang serta pendapatan toko di mallnya.
" Alhamdulillah mbak Lisa ramai terus." Jawab pegawai Lisa sebagai kasir dan juga penanggung jawab toko.
" Waah!! Dapat bonus nich." Seru Riski, mengintip komputer Lisa.
" Padahal belum akhir bulan ini! Sudah melebihi omset." Ujarnya lagi, dan pegawai Lisa tersenyum senang karna mereka akan mendapatkan bonus tambahan uang gaji karna omset sudah tembus dan melebihi yang di kiranya.
" Di pertahankan Ka? Kalau begini kan enak, dapat bonusan banyak." Kata Lisa.
" Siap mbak." Jawab pegawai Lisa dengan tegas.
" Cihh!! semangat sekali." Cicit Riski.
" Ya dong!! Dapat bonus!!" jawab pegawai Lisa dengan tertawa, di ikuti Lisa juga ikut tertawa.
" Ini, tolong belikan makanan seperti biasanya, untuk kalian juga, dan ajak Riski biar bisa bawa." Perintah Lisa, membeli empat lembar uang merah pada pegawainya dan
" Iya mbak, makasih mbak." Ucap pegawai Lisa berdiri dari duduknya keluar terlebih dulu dari ruangan Lisa dan di ikuti Riski dari belakang.
Dan Lisa juga ikut keluar dari ruangannya, menuju kasir untuk memperhatikan suasana toko serta rindu akan mengasiri orang berbelanja di tokonya.
__ADS_1
Memang, tokonya yang berada di mall sangatlah ramai. Dan juga pelayanan pegawainya begitu ramah serta cekatan dalam bekerja. Tidak salah dirinya memberikan bonus sedikit banyak pada pegawainya, sebagai jasa mereka yang sudah bekerja keras dan sabar dalam melayani castamernya.
" Selamat siang, selamat berbelanja." Ucap ramah Lisa, mengambil barang belanjaan di atas meja dan mulai menghitungnya.
" Kamu, temannya Fahmi dulu kan?" Tanya wanita tua itu, membuat Lisa kembali menatapnya dan sedikit terkejut saat kembali bertemu dengan wanita tua cantik di hadapannya sekarang ini.
Mama fahmi.
" Iya buk." Jawab Lisa, mengangguk tersenyum.
" Kamu Lisa?" Tanyanya lagi, dan Lisa mengangguk serta tersenyum kembali.
" Ini saja ibuk? Tidak mau nambah lagi." Tanya ramah Lisa, sambil memeriksa pembelian Mama Fahmi.
" Sudah itu saja." Jawabnya. " Kamu apa kabar Nak Lisa?" Tanya ramah mama Fahmi.
" Saya baik buk, Ibu apa kabar." Tanya balik Lisa, sambil memasukkan barang belanjaannya ke dalam plastik putih tebal berlogo nama tokonya.
" Saya juga baik Nak Lis?" Jawab Mama Fahmi.
" Semuanya enam ratus lima puluh ribu buk." Mama Fahmi, segera menyerahkan kartu gesek pada Lisa karna uang cashnya tidak cukup untuk membayar belanjaannya.
" Fahmi sudah pulang Lisa dan sekarang dia bekerja di kota ini juga."
Lisa hanya bisa tersenyum, tanpa mau membalas perkataan Mama Fahmi. To dirinya juga sudah tau akan itu dan buat apa mama Fahmi bilang kepadanya. Bukannya dulu merekalah yang menyuruh Lisa untuk menjauhi putranya.
Dan mama Fahmi menatap dalam Lisa, merasa seperti kasihan karena wanita yang di cintai putranya dulu, kini bekerja sebagai kasir dan merantau jauh dari rumahnya.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃
__ADS_1