
...Tatapan itu lagi, yang datang saat aku ingin melupakannya....
.
.
.
.
Saling mengobrol, bercerita dan tertawa di mana bos dan karyawannya nongkrong di cafe puncak, dengan hawa dingin di temani secangkir kopi hangat dan juga cemilan ringan.
Tawa Lisa begitu lepas dengan kekocakan karyawannya yang sering kali bercerita dan melawak hingga mereka melupakan sejenak lelah rutinitas pekerjaan yang terbebani dalam pikiran mereka.
Lisa tak menyadari jika dirinya sudah di tatap begitu lama oleh seorang pria yang duduk tak jauh darinya, memandangnya dengan dia yang ikut tersenyum saat melihat Lisa tertawa seperti itu.
Dan mulai menatap tajam saat ada pria yang mencoba mendekat ke arah Lisa. Dengan Lisa sedikit risih dengan pria yang mendekatinya.
" Hay? Boleh gabung gak." Ucap pria berdiri di samping Lisa, membuat Lisa dan karyawannya menatapnya dengan mengerut dan saling menatap.
" Silahkan." Jawab Lisa acuh, dan cowok itu tersenyum. Mengambil kursi dan duduk di sebelah Lisa.
" Makasih." Ucap cowok sepantaran seperti karyawannya.
" Kopi mas?" Tawar pasangan karyawannya.
" Iya makasih mas?" Ucap cowok itu dengan senyum " Cuma pengen kenalan saja sama mbak ini boleh gak." Imbuhnya, membuat semua karyawan dan pasangannya saling menatap dengan Lisa yang menggelengkan kepala tersenyum simpul mendengarnya.
" Mas kalah permainan ya!" Tebak Wulan membuat cowok itu mengerutkan kening dan tertawa.
" Ngaku dech!" Timpal yang lain. Karna memang sudah hafal, jika ada yang ingin mengajaknya kenalan di hadapan semua teman, itu berarti salah satu orang yang kalah dalam permainan harus mengajak kenalan dalam tongkrongan anak cewek atau cowok.
" Enggak mbak! Malah aku sedari tadi perhatiin mbak ini." Tunjuk ke Lisa dengan kepalanya. " Mbak ini cantik, manis kalau senyum." Ujarnya lagi dengan gombal. Bukannya tersipu malu malah Lisa hanya tersenyum.
" Boleh gak mbak kenalan?" Tanyanya pada Lisa, membuat Lisa menoleh ke samping. Dengan tangan dia yang sudah terulur di depannya sambil tersenyum manis.
" Kau sudah selesai?" Tanya pria bersuara dingin, membuat Lisa yang mendengar, dengan cepat menatap ke sumber suara, hingga dirinya membulatkan mata menatapnya.
" Kamu!" Pekik Lisa, terkejut melihat kehadiran Bima yang berdiri di sampingnya.
Ya, Bima ada cafe. Mengikuti Lisa kemana wanita itu pergi bersama temannya malam-malam.
__ADS_1
Bukan menguntit, tapi itu adalah amanah dari seorang ibu yang memintanya untuk menjaga Lisa yang pergi ke luar kota sendirian.
Bima datang ke rumah Lisa, kala hatinya ingin bertemu dengan wanita yang sudah membuatnya selalu mengingat wajah manis dan cerewetnya. Selama tiga minggu Bima mencoba melupakan Lisa, tapi tetap bayangan Lisa selalu ada di pikirannya. meskipun ia sudah mencoba untuk menyibukkan diri bekerja hingga malam, tapi tetap tidak bisa.
Datang berkunjung ke rumah Lisa, di sambut baik dan hangat oleh ibu Lisa. Menanyakan kabar tentang kesehatan ibu Lisa serta sedikit mengobrol dengan wanita tua yang sudah mulai sedikit lancar berbicara.
" Lisa per gi, keluar kota sen diri?
" Ibu boleh minta to long?
" Jika kamu ti dak ada peker jaan, Nak Bima mau, samperin Lisa ke luar kota. Ibu kha watir dengannya.
" Ini alamat ho tel Lisa mengi nap? Memberikan alamat yang sudah di tulis oleh Suster Santi dan di berikan pada Bima. Membuat dirinya tersenyun saat melihat hotel tempat menginap Lisa.
Sempat bimbang, dirinya mau menuruti permintaan ibu Lisa atau tidak, tapi wanita itu juga ceroboh pergi sendiri tanpa di temani karyawannya, membuat dirinya juga sedikit khawatir. Hingga itu ia memutuskan untuk pergi ke luar kota menaiki pesawat dengan perjalanan yang singkat, menuju hotelnya, dimana Lisa menginap.
" Ayo pulang!" Ajaknya dengan suara datar dan dingin, masih tetap menatap Lisa yang mengerutkan kening.
" Siapa mbak?" Tanya Wulan lirih, penasaran dengan pria yang mengajak bosnya pulang dan mewakili para karyawan yang menatap pria matang dan tampan.
" Teman." Jawab Lisa. " Enggak ma-," Belum sempat berkata pada Bima, ponsel Lisa berbunyi dan mendapatkan pesan dari suster Sinta.
" Ibu meminta pak Bima, nyusul mbak Lisa ke xxx dan di kasih alamat hotel tempat mbak lisa menginap.
" Ciye-ciye? semangat ya mbak.
Lisa yang melihat pesan dari Suster Santi terkejut, membulatkan mata dan kembali mendongakkan kepala menatap Bima yang masih menunggunya berdiri.
Ibu!!" Jeritnya dalam hati. Mencoba menghindar, tapi ibu malah mempertemukannya dengan pria dingin yang sudah membuatnya sedikit sakit hati karna mengingat bentakannya.
Sungguh wanita itu pintar mengingat!
Menghembuskan nafas berat, mencoba menahan emosi saat bersama semua karyawannya.
" Pulang bersamaku." Kata Bima.
" Mobi-,"
" Suruh dia yang membawa." Sahut cepat Bima, menatap pria yang terkejut mendengarnya.
" Kamu bisa menyetir?" Tanya kekasih, yang di tatap Bima.
__ADS_1
" Bisa." Jawabnya lirih, dirinya terkejut karna Bima tau kalau dirinya bisa menyetir.
Menyerahkan kunci mobilnya pada kekasih karyawannya dan berdiri dari duduknya dengan wajah cemberut.
" Hati-hati ya mbak." Kata Wulan.
" Iya, makasih ya Lan sudah di ajak nongkrong." Ucapnya, membuat Wulan mengangguk dan tersenyum.
Dan berjalan terlebih dulu meninggalkan Bima, sedang menatap tajam cowok yang ingin mengajak kenalan Lisa. Membuat cowok itu sedikit takut dan mengalihkan tatapannya pada yang lain.
Lisa yang sudah menunggu di bawah dengan wajah yang di tekuk dan rasa masih tetap seperti dulu marah. Entah kenapa!
Mengikuti langkah Bima, berjalan di belakang dengan diam tak berbicara sama sekali. Bukan menuju jalan hotelnya, tapi menuju jalanan yang lebih tinggi hingga membuat Lisa mengerutkan kening.
" Kamu mau membawa saya kemana?" Ucap Lisa terlebih dulu, dan menatap Bima yang fokus ke jalan.
" Nanti kamu akan tau." Jawabnya, tanpa menatap Lisa.
" Saya ingin pulang ke hotel." Pinta Lisa, tapi tak hiraukan Bima. Ia semakin melajukan mobilnya menuju puncak lebih tinggi.
Rasanya mereka kembali seperti dua orang asing yang baru kenal, saling diam dan tidak ada yang mencuri pandang. Hingga Bima membelokkan arah ke rumah lantai dua dengan pagar besi yang sudah terbuka.
" Tuan?" Sapa penjaga Villa, menghampiri Bima yang sudah turun dari mobil. Bersama Lisa yang ikut turun dan memperhatikan rumah berlantai dua, dengan suasana indah di halaman rumah.
" Terima kasih pak." Ucap Bima, penjaga Villa hanya mengangguk dan tersenyum. Dan meninggalkan Bima menuju rumah di samping Bima.
Berjalan masuk meninggalkan Lisa yang masih tercengang sendirian di luar, dan dia berjalan cepat mengikuti Bima yang sudah masuk ke dalam Villa bernuansa klasik berwarna putih.
Tercengang melihat dalam villa sangat terawat, tanpa ada kotoran dan bedu.
Melihat Bima berjalan menuju dapur, dirinya lebih memilih berjalan ke lantai atas untuk melihat keindahan kota di atas puncak. tanpa mempedulikan sang pemilik menatapnya dengan senyum.
.
.
.
.🍃🍃🍃🍃
Buat kalian, terima kasih sudah vote, like, dan komen.
__ADS_1