Nona Lisa

Nona Lisa
Dia kembali


__ADS_3

...Bisa kita mulai kembali, meskipun aku tau kau sudah tak lagi mencintaiku....


.


.


.


.


" Tante?" Sapa ramah pria di hadapannya, membuat wanita paruh baya di kursi roda mengerutkan kening. Seperti pernah melihat wajah pria itu, tapi lupa akan di mana.


" Lisa, Siapa?" Tanya Ibu, menatap Lisa yang ada di sampingnya dengan pandangan putrinya yang diam seribu bahasa.


Tersadar dan menatap ibunya. " Teman SMA Lisa buk, Fahmi." Jawab Lisa, membuat ibunya sedikit berpikir dan sedikit terkejut dengan pria yang ada di hadapannya.


" Nak Fahmi?" Sapa Ibu Lisa, tersenyum akan kedatangan teman masa SMA Lisa dulu. Teman yang selalu menjenguk, menemani putrinya di rumah sakit kala putrinya tertabrak mobil hingga koma dan selalu datang ke rumah dengan membawa makanan.


Bagaimana ibu bisa melupakan Fahmi, Fahmi sangat baik pada putrinya, sangat menjaga putrinya dan selalu membuat putrinya tertawa. Saat Fahmi akan pergi ke luar negeri pun, dia juga berpamitan pada ke dua orang tua Lisa. Itulah kenapa ibu Lisa sangat ingat pada Fahmi.


" Iya tante?" Ucap Fahmi, menyalimi ibu Lisa dan tersenyum hangat.


" Ayo ma suk nak Fahmi?" Ajak Ibu Lisa, Fahmi hanya mengangguk dan tersenyum. Bersyukur ibu Lisa tidak lupa dengannya dan masih ingat akan dirinya yang sudah lama tidak pernah bertemu atau berkomunikasi.


Itu sangat membuatnya senang, karna dirinya juga di terima baik oleh ibu Lisa.


Ibu Lisa masuk terlebih dulu bersama suster Santi yang mendorong kursi rodanya. Sedangkan Fahmi dan Lisa saling memandang dalam diam, hingga Fahmi tersenyum terlebih dulu.


" Lis?" Sapa ramah Fahmi, hanya tersenyum kecil tidak tau harus berbuat apa.


Rasanya seperti aneh di dalam hatinya, tak ada rasa senang ataupun bahagia melihat pria dulu yang sempat dirinya suka kini hadir kembali di hadapannya.


" Apa kabar?" Tanya Fahmi.


" Aku baik, kamu apa kabar." Tanya balik Lisa.


" Aku juga baik." Jawab Fahmi.


" Duduk dulu di sana Fahm." Ajak Lisa, sedikit tidak sopan membiarkan tamunya berdiri di depan rumah.


Berjalan terlebih dulu, di ikuti Fahmi yang menatap punggungnya dengan senyum dan rindu yang amat dalam. Dirinya berhasil membuat Lisa terkejut dengan kedatangannya dan raut wajahnya terlihat canggung berhadapan bersama dirinya.

__ADS_1


Sudah lama tidak saling berkomunikasi dan memang Lisa sangat canggung berhadapan dengan Fahmi. Dirinya tidak tau harus melakukan apa.


Ini kedatangan yang tak terduga. Juga tidak membuatnya nyaman. Seperti ada rasa sakit kembali, tapi bukan dengan pria yang ada di sampingnya.


" Sudah lama di sini?" Tanya Lisa.


" Tiga puluh menit yang lalu." Jawab Fahmi. " Kenapa kamu ganti nomer." Imbuhnya lagi, Pertanyaan itu yang ingin sekali ia tanyakan pada Lisa. Dan selalu saja mengganggu pikirannya selama ini di luar negeri.


" Ponselku dulu hilang pas aku sedang dagang." Kata Lisa, hingga Fahmi memicingkan mata.


" Media sosial."


" Aku sudah tidak memakainya lagi." Jawabnya.


" Kenapa? Kamu ingin menghindar dariku. itu sebabnya kamu mendesakku untuk pergi kuliah ke luar negeri." Ucap Fahmi, membuat Lisa menatapnya dengan mengerutkan kening.


" Benar Aku memang menghindar dan tidak ingin lagi berhubungan dengan mu Fahm." Gumamnya dalam hati.


" Tidak, hanya saja aku ingin fokus kesembuhan ibuku." Jawabnya.


rasanya tidak ingin menjelaskan semuanya pada Fahmi, kenapa dirinya menghindar. Kenapa dirinya mengganti nomer ponsel dan tidak lagi bermain media sosial. Biarkan Fahmi tidak tau, jika dirinya bilang, sama saja dirinya mengadu domba antara orang tua dan anak. Dan akan mengakibatkan pertengkaran orang tua dan anak.


Itu bukan sifat Lisa.


" Tidak apa-apa." Jawabnya dengan senyum. " Kapan kamu kembali ke sini." Mengalihkan percakapan yang mungkin bisa membuatnya menangis, bila mengingat dirinya sendirian setiap malam tanpa sandaran bahu untuknya menangis dan berbagi cerita kepedihan serta kehilangan.


" Sudah empat hari yang lalu. Ini untuk kamu." Menyerahkan paberbag yang sedari tadi di bawanya.


" Terima kasih." Ucap Lisa, mengambil paberbag di tangan Fahmi dan sekilas melihat pergelangan tanga Fahmi yang memakai jam dari pemberiannya di waktu dulu.


Dirinya hanya bisa tersenyum kecil mengingat perjuangannya membelikan jam tangan untuk Fahmi, memakai simpanan uang jajan yang menguras isi dompetnya. Hanya demi Fahmi agar selalu mengingatnya. Dan terbukti, Fahmi mengingat dirinya hingga sekarang.


****


Malam semakin larut, pekerjaan Bima baru terselesaikan hingga dirinya sangat lelah. Menyandarkan punggung di kursi duduk dan memijat pangkal hidung untuk mengurangi rasa pusing di kepala.


Ponsel bergetar, membuat dirinya tersenyum mendengarnya dan tanpa menunggu ia pun mengangkatnya.


" Hal-,"


" Om Bima!!!" Seru suara cempreng dari sebrang telpon, membuat Bima sedikit terkejut menjauhkn ponselnya dari telinga dan melihat siapa yang menelponnya.

__ADS_1


Dan ternyata, mantan bosnya. Dirinya tertawa kecil, karna semangat mengangkat telpon tanpa tau siapa yang menelpon. Mungkin dirinya pikir yang menelpon Lisa, tapi ternyata salah.


" Om!! Kenapa gak pernah telpon Rania!!" Keluh mantan putri bosnya.


" Om kamu itu sibuk cari istri tapi belum dapat sampai sekarang, mangkanya lupa sama Rania." Timpal suara pria, yang pastinya suara itu pemilik ponsel. Suara sedikit jengkel, karna putrinya merindukan Omnya, tidak papanya.


" Beneran Om!!" Seru Rania.


" Enggak! Om sibuk kerja, sama kayak papa kamu?" Ucap Bima. " Rania Sudah malam kenapa enggak tidur, hmm!!" Imbuh.


" Kan sudah Rania bilang, Rania kangen Om." Ucap Rania yang pastinya ada maunya jika sudah bilang kangen padanya.


" Mau hadiah apa?"


" Wahh!! tau aja maunya anakku." Kata pria di sebrang telpon sambil tertawa.


" Aaww sakit sayang!" terdengar rintisan kesakitan dari pria itu, mungkin karna di cubit istrinya yang tidak tau malu. Membuat Bima berdecak sebal. Selalu saja ia mendengar keromantisan keluarga kecil teman sekaligus mantan bos.


" Papa diam, jangan ganggu." Tegur Rania, sebal dengan papanya selalu mengganggunya jika sedang telpon bersama Om Bima. Dan giliran Papa Rania yang berdecak tidak terima akan teguran putrinya.


" Suruh papa kamu tidur di luar saja Rania kalau masih saja mengganggu." Usul Bima, membuat Papa Rania membulatkan mata.


" Sialan Loe!!"


" Mas! Astaga!!" Tegur Mama Rania, karna ucapan suaminya di depan putrinya. Dan Bima tertawa mendengarnya.


" Rania mau ulang tahun om! Om datang ya!" Pinta Rania.


" Rania mau ulang tahun!"


" Iya Om. Datang ya Om?." Ucap Rania.


" Iya, Om pasti akan datang." Jawab Bima dengan senyum mengembang di bibirnya dan raut senang saat terbesit wajah Lisa.


.


.


.


.🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


Maaf ya updatenya slow.🙏🙏 karna ada sedikit kesibukan.


__ADS_2