
...Semua berubah hanya dalam sekejab, saat jati diriku sudah terungkap....
.
.
.
.
" Tuan ini, adalah Tuan Alfrado Bima!"
Jelas sekali ucapan lantang dari Asisten Bima, membuat semua orang di dalam gedung pesta terkejut bukan main.
Pak Bima, adalah alfrado!
Apa itu benar!
Tidak mungkin.
Tapi memang Pak Bima sangat pintar dan bisa merebut tander besar.
Tapi kenapa menyembunyikan jati dirinya.
Jadi selama ini Tuan Alfrado adalah pak Bima?
Oh!! Astaga!!
Selama ini aku selalu menawarkan pekerjaan untuknya, dan memberikan gaji tiga kali lipat. Jika dia mau bekerja denganku.
Apa nasib kita akan sama seperti Pak Nico dan Tuan Zain!
Tidak. Aku tidak mau.
Banyak orang yang saling berbisik dan saling mengingat akan perlakuannya pada Bima. Dan ada orang yang mulai takut, jika nasib mereka seperti Nico dan Tuan Zain. Di ambil alih setengah sahamnya atau lebih dari setengahnya atau bisa semuanya di ambil oleh pria di hadapannya sekarang.
" Tuan Alfrado?" Lirih Nico. " Tidak pria ini tidak mungkin Tuan Alfrado!!" Teriak Nico, masih tidak percaya jika Bima adalah penguasa seluruh perusahaan dan pria di takuti oleh pemilik perusahaan yang tau akan desas desus kekejaman Tuan Alfrado pada klaen yang membuatnya terusik.
" Iya, pria ini tidak mungkin Tuan Alfrado." Lirih Mama Zellin dan masih terdengar oleh Bima dan Lisa.
Bima hanya bisa tersenyum sinis dan mengejek mama Zellin dan juga Nico yang masih menyangkal tentang dirinya.
Lisa masih berusaha menghadang tubuh Bima, menyentuh tangan Bima dengan lembut dan menatap lekat pria yang terasa auranya dingin dan buas saat kemarahannya tidak bisa di kendalikan.
Ini seperti Bima yang awal pertemuannya ia kenal.
__ADS_1
Dingin dan kejam, saat berlawan dengan begal dan pria sombong di restoran.
Saat ia pernah di bentak dan juga di tatap tajm olehnya.
Ya, Ini kemarahannya. wajah itu berubah saat Bima di usik dan tidak terima akan dirinya yang di hina oleh siapapun itu.
Bima melindunginya.
Bima menjaganya, menepati janjinya pada mendiang ibunya.
Menutup mata, menundukkan kepala. Air mata mulai menetes. Entah itu bahagia atau merasa sedih akan kemarahan Bima yang membelanya.
Tangan kekar merengkuh tubuhnya, membawanya ke dalam dekapannya dan menanamkan wajahnya di bidang dadanya.
Zellin yang melihat Bima memeluk gadis di hadapannya. Seketika hatinya terasa sakit, sakit melebihi di hianati dan di siksa batin oleh suaminya.
Pria yang masih di cintainya, kini memang sudah berubah dan sudah mendapatkan wanita yang bisa merebut hatinya dan menyingkarkannya dari hati Bima.
" Tidak akan saya biarkan orang yang menghina wanitaku hidup tenang!" Sambil menatap tajam ke arah Mama Zellin.
Wanitaku!" Gumam Lisa.
Wanitanya!" Gumam Zellin, dan tetes air mata membasahi pipinya.
Sesakit inikah rasanya.
Sesesak inikah Tuhan.
" Urus mereka!" Perintah Bima, dan melangkah pergi membawa Lisa keluar gedung yang sudah membuat dirinya terbakar.
" Baik Tuan." Ucap Asisten Bima, dan memerintahkan sebagian pengawal untuk mengawal Bima dan sebagian menahan orang yang sudah membuat Tuannya marah besar.
" Tuan Bima! Tolong maafkan saya dan istri saya Tuan" Teriak Tuan Zein, meminta maaf pada Bima yang melangkah pergi tanpa mau berhenti dan mendengarkan ucapannya.
" Papa!" Seru Mama Zellin.
" Diam kau Winda!!" Teriak Tuan Zein, geram sudah dengan kelakuan istrinya dan membuat kembali usahanya mulai bangkrut karena semua itu ulah istrinya.
Istri pembawa malapetaka.
Karena ulah istrinya, untuk ke dua kali ia mengalami kebangkrutan. Pertama menikahkan putrinya dari pilihan istrinya yang membuatnya harus menandatangi perjanjian palsu, yang di buat oleh menantunya. Menjebaknya, mengambil sahamnya, mengalihkan semua tander besarnya pada perusahaan menantunya hingga membuatnya hampir bangkrut.
Di tolong oleh Bima, saat tau perusahaannya hampir bangkut Karena ulah menantunya. Memberikan bantuan dengan percuma, dan tentu saja Tuan Zein tidak boleh membocorkan rahasianya kala Bima ternyata adalah orang terkaya di negaranya. Dan terkenal kejam dalam usaha bisnisnya.
Menyesal! Tentu saja menyesal. Tuan Zein menyesal, dulu tidak memberikan restunya pada Bima yang ingin menikahi putrinya. Jika saja ia tidak terprovokasi oleh istrinya, mungkin Tuan Zain akan menjadi metua terkaya dan di sanjung semua orang karna putrinya menikah dengan Tuan Alfrado atau Tuan Bima.
__ADS_1
Nyatanya itu semua hanyalah hanyalan. Dan itu tidak akan bisa di ulang kembali. Apa lagi ini adalah ulah istrinya lagi.
Dari sekian lama, istrinya berjumpa kembali dengan Bima. Dan masih saja istrinya dendam keramat dengan Bima. Merendahkan dan msmpermalukan Bima di depan umum.
Tidak habis pikir dengan sikap istrinya yang selalu sombong dan angkuh. Rasanya dirinya sudah tidak betah dengan prilaku istrinya itu. Jika bukan putrinya, sudah dari dulu ia akan meninggalkan istrinya.
Di bentak oleh pria tua dan di tatap tajam olehnya, membuat dirinya tidak bisa berkutik. Dan menundukkan kepala.
Untuk pertama kalinya, suaminya membentaknya di depan umum dan untuk pertama kalinya suaminya marah seperti itu.
" Kau tidak tau siapa dia Winda!! Dia Tuan Alfrado! Dia yang membantu perusahaanku stabil kembali. Karna menantu kamu yang tidak tau diri itu!" Sungutnya, menunjuk ke arah Nico yang masih di cengkram kuat oleh dua pengawal Bima.
" Apa yang papa bilang?" Lirih Zellin, dan mamanya yang membulatkan mata saat mendengarnya.
Menghembuskan nafas berat, mengontrol emosi dan menatap keseluruh orang yang sedang memperhatikannya.
Istri dan menantunya yang membuat ulah, menghina dan merendahkan orang. Di tampar oleh Tuan Alfrado, di tarik saham perusahaannya dan di permalukan di depan semua orang yang sedang menyaksikannya. Membuat wajahnya ingin sekali menghilang untuk saat ini.
" Kita bicarakan di rumah." Lirih Tuan Zain.
" Maafkan saya pak Lukas?" Ucap Tuan Zain pada asisten Bima, setengah menundukkan badan. " Saya terima semua konsekuensinya." Imbuhnya lagi, tanpa bisa lagi mempertahankannya.
Percuma juga ia mencoba mempertahankan, dirinya tentu saja tetap kalah melawan Bima. dan Apapun akan ia terima, karna ini memang salah.
" Pulanglah Tuan Zain, bawa putri dan istri anda pulang. Sebelum saya berubah pikiran untuk memberi pelajaran pada Istri anda yang sudah membuat Tuan saya marah malam ini." Perintah Lukas, dan membebaskan istri Tuan Zain yang ketakutan melihatnya.
" Terima kasih pak Lukas, terima kasih." Ucapnya, merasa sedikit lega karena Asisten Bima membebaskannya.
" Ayo Zellin kita pulang." Ajak Tuan Zain.
" Ayo ma?" Ajak Zellin, menuntun tubuh mamanya yang menunduk takut dan malu di lihat semua para tamu undangan
" kalian semua! silahkan pulang." Perintah Lukas pada para tamu, membuat mereka mau tidak mau pergi dari dalam gedung. " Dan dia!" menunjuk Nico dengan tajam. " Bawa dia ke gudang!" Imbuhnya dan di anggukkan pengawalnya.
" Apa!! Tidak! Aku tidak mau, Lepas!" Berontak Nico. " Maafkan saya pak! Maafkan saya." teriaknya pada Lukas, tidak ingin dirinya menjadi sandra dari Tuan Alfrado.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃
__ADS_1