Nona Lisa

Nona Lisa
Menyebalkan


__ADS_3

...Banyak yang bilang, pria akan bucin pada wanita yang sudah menempati hatinya. Dan ya, aku termasuk dari pria itu....


.


.


.


.


" Mau kemana?" Tanya Bima, mengalihkan pandangannya dari laptop di pangkuanya kepada Lisa.


Membuat Lisa yang akan berjalan berhenti menatapnya. Dan mengerutkan kening saat di tanya.


" Mau ke kamar mandi?" Jawab Lisa, dan mulai berjalan kembali menuju pintu arah keluar kamar.


" Kenapa keluar? Kamar mandi ada di sebelah sana?" Ucap Bima, membuat Lisa kembali lagi menatapnya dengan tangan yang sudah memegang gagang pintu.


Menghembuskan nafas berat melihat Bima dengan wajah frustasi, seakan pria yang ada bersamanya saat ini seperti bukan sifat Bima.


Dia sangat berubah. Manis tapi menyebalkan. Dan Juga seperti anak kecil, selalu tanya kemana dirinya akan melangkah pergi. Seakan enggan sekali di tinggal hanya untuk beberapa menit saja.


Selesai makan, Bima mengajak Lisa kembali ke dalam kamar. sempat mengerutkan kening, kenapa pria itu mengajaknya kembali ke kamar, tidak mau berprasangka buruk, mungkin saja Bima masih pengaruh alkohol. Hingga itu kepalanya mungkin masih pusing atau badannya mungkin masih lemah akibat darah keluar begitu banyak di tangannya.


To Bima juga tidak akan berbuat macam-macam padanya, karna dulu Bima juga pernah tidur bersamanya di dalam satu kamar dan beruntung Bima tidak berbuat asusila pada gadis yang menempel tidur di badannya.


Ternyata, oh ternyata. Lisa hanya disuruh diam dan mengamati gerak gerik Bima yang sedang fokus dengan laptop dan tumpukan maap di atas laci sebelah tempat tidurnya.


Entah kapan laptop dan map itu ada di kamar Bima. Dirinya sama sekali tidak tau.


Cukup lama dirinya hanya diam, kadang memegang ponsel untuk membalas pesan dari karyawan dan terkadang pula membaca buku yang ada di rak sebelah duduknya.


" Mau pakai kamar mandi luar saja, sekalian mau bantuin mbak-mbak di dapur." Jawab Lisa, membuka pintu kamar dan berjalan keluar tanpa meminta persetujuan Bima.


Bima yang mendengarnya hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum. Karna dirinya tau, jika Lisa bosan di dalam kamarnya tanpa melakukan aktivitas apapun. Dan hanya diam memerhatikannya yang sibuk dengan laptopnya.


Bukan niatnya untuk mendiamkan Lisa, tapi memang dirinya sedikit sibuk dan harus cepat menyelesaikan pekerjaannya. Agar dirinya bisa berduaan dengan Lisa, tanpa ada gangguan pekerjaan.


Kembali fokus pada laptop dan hanya tinggal sedikit lagi pekerjaannya selesai.


Sedangkan Lisa berjalan menuruni anak tangga dengan bergumam sendiri.


Tau begitu aku pulang saja. Ngapain juga aku nungguin tu pria, kayak anak kecil saja minta di tungguin.!" Gerutunya dalam hati, sambil mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


Berjalan menuju dapur, sambil melihat pelayan Bima bekerja membersihkan rumah dan menunduk hormat dengannya. Sempat risih Lisa di perlakulan seperti itu pada pelayan Bima, ia pun hanya tersenyum membalasnya.


Melihat dapur Bima, ada tiga pelayan satu di antaranya pak Agus yang sedang mengawasi mereka memasak.


" Nona Lisa?" Sapa pak Agus menundukkan kepala, melihat kehadiran Lisa ada di dapurnya. Di ikuti pelayan lain yang juga menundukkan kepala.


" Pak Agus jangan seperti itu! Aku ini bukan majikan pak agus, jadi perlakukan aku seperti biasa saja." Ucap Lisa, sangat kentara sekali semua pelayan melakukannya seperti Nyonya besar pemilik rumah saja.


Meskipun Lis mempunyai pelayan, tapi tidak sebegitunya juga pelayan kaku terhadap majikannya. Sungguh ia sangat tidak suka itu.


Ia lebih suka berhambur dengan pelayan dan suka sekali membantu pekerjaan yang membuatnya tak akan menganggur seperti ini.


Miris, seperti orang sakit saja.


" Kami tidak bis-,"


" Ayolah pak! Jangan seperti itu, santai saja. jangan formal kayak Bima." Sahut cepat Lisa, membuat para pelayan saling berpandangan.


" Eemm, maksud saya Tuan Bima." Jelas Lisa, salah dalam mengucapkan kata. dan tau keterkejutan para pelayan.


" Saya mau bantuin masak ya. Pak agus dan mbak masak apa." Tanya Lisa, sambil melihat apa saja yang akan di masak oleh pelayan Bima.


" Banyak sekali masaknya." Gunam Lisa. " Ini masak untuk Tuan Bima?"


" Panggil Lisa saja." Ketus Lisa, merasa tidak enak di panggal nona. Seperti seorang putri saja.


" Ini masakan untuk Nona Lisa dan Tuan Bima." Jawab Pak Agus, membuat Lisa berdecak sebal. Pasalnya pelayan tua itu masih saja memanggilnya Nona.


" Maaf Nona?" Lirih pak Agus sambil menundukkan kepala, di tatap tajam oleh Lisa.


Menghembuskan nafas berat, percuma saja dirinya memohon. Tetap, Pak Agus akan memanggilnya Nona.


" Aku bantu ya mbak?"


" Jangan No-,"


" Ssstt! Jangan ngelarang." Ketus Lisa, membuat semuanya diam tanpa melawan. Dan kembali mulai melakukan aktivitasnya, meskipun sedikit canggung dan serba takut.


Membantunya sambil mengobrol, meskipun para pelayan Bima masih kentara masih sangat formal menjawabnya. Tapi, setidaknya Lisa bisa berbaur dengan para pelayan Bima.


Mengamati Lisa dari ambang pintu dapur, hanya bisa tersenyum melihat Lisa sudah begitu akrab dengan para pelayannya. Tidak melarang, membiarkan Lisa berbicara dengan pelayannya dan memberikan ruang adaptasi di rumah yang mungkin akan nanti di tempatinya.


Mengangkat telapak tangan, menyuruh pak agus untuk diam saat melihat kehadirannya dan akan memberitahukan Lisa tentang dirinya.

__ADS_1


Mengamatinya cukup lama, melihat Lisa tertawa, tersenyum dan banyak bicara. Rasanya senang dirinya bisa mengembalikan keceriaan Lisa. Meskipun bukan dirinya yang membuat dia tertawa.


" Bima?" Sapa Lisa, membuat pelayan yang ada bersamanya melihat ke arah Bima munundukkan kepalanya dan menggeserkan tubuhnya di samping Lisa.


" Sudah matang?"


" Sudah? Tunggu sana di meja makan." Perintah Lisa, karna kehadiran Bima membuat para pelayan kembali formal dengannya.


Menyebalkan.


" Kamu mengusirku!" Sambil mengerutkan kening.


" Enggak mengusir!" Saut Lisa, berjalan mendekat ke Bima. " hanya saja kehadiran mu membuat mereka kembali berbicara formal denganku." Bisiknya, sambil mengerucutkan bibir, membuat Bima kembali menatap satu persatu pelayannya yang menundukkan kepala.


" Bima!!" Seru Lisa, selalu saja pria ada di hadapannya mengacak-acak rambutnya dan tersenyum menggoda.


" Sana-sana cepat keluar." Usir Lisa, mendorong punggung Bima untuk keluar dari dapur.


Pengganggu.


" Jangan lama-lama, aku tunggu." Ucap Bima.


" Iya, iya! Iihh.!"


" Maaf ya? Ada iklan sebentar." Ucap Lisa, membuat pelayan wanita tersenyum menahan tawa. Dan mengangguk, kembali menata makanan di atas piring untuk segera di bawa ke meja makan.


" Aku tunggu! Emang mau kemana." Gumam Lisa dalam hati, mengerutkan kening mendengar ucapan Bima yang akan menunggunya.


****


" Dia pasti menyukai ini?" Ucap Fahmi, memandang kotak kecil berwarna merah terdapat cincin putih di dalam kotak. Yang di belikan khusus untuk wanita yang di cintainya.


" Aku ingin kamu segera menjadi milikku Lisa, dan aku akan melamar kamu." Senyum mengembang di bibir Fahmi, saat dirinya sudah mantap untuk melamar wanitanya. Dirinya menutup kotak, menaruhnya di laci kerja dan kembali berkutat dengan laptop di atas meja.


.


.


.


.🍃🍃🍃🍃


Buat kalian, terima kasih sudah memberi Koin dan Votenya 😊😊

__ADS_1


Sayang kakak dari jauh ya.😘😍


__ADS_2