
" Mbak capek?" Keluh Riski, terasa pegal mengikuti Lisa yang tak ada hentinya selama satu jam penuh berjalan mengelilingi mall besar tanpa tau tujuan dan tempat kemana mereka akan singgah sebentar saja.
" Selalu ngeluh!" Cibir Lisa mengerucutkan bibirnya, mengajak Riski jalan mengelilingi mall selalu saja mengeluh. Tapi herannya, dirinya tidak merasa capek dan bingung mau kemana dirinya singgah sebentar saja.
" Ya ngeluh lah mbak! Sudah satu jam ini mbak jalan mutar mall dari lantai dasar menuju lantai paling atas sekalian. Tapi mbak Lisa gak berhenti juga." Jawab Riski. " Maunya kemana sih Mbakku yang cantik!!" Seru Riski, gemas dengan Lisa.
" Bingung Ki mau kemana?" Jawab Lisa, membuat Riski melototkan mata.
" Astaga naga!!" Pekik Riski. " Cari makan saja mbak aku lapar ini." Pinta Riski.
" Ya sudah ayok." Kata Lisa, mengikuti saran Riski yang mengajaknya makan.
" Restoran ayam bakar saja ya." Ujarnya lagi, membuat Riski menganggukkan kepala. Terserah kakaknya mau makan dimana, yang terpenting dirinya bisa duduk, mengistirahatkan kakinya sebentar saja dan juga membasahi tenggorokannya yang sangat kering akibat menahan puasa untuk meminum sesaat.
Mencari-cari tempat restoran, bukan singgah di restoran ayam bakar. Justru berakhir singgah di restoran jepang. Pastinya akan mempersulit riski yang setengah mati tidak bisa memakai sumpit. Tapi masih mau tetap belajar, walaupun masih kaku cara memegangnya.
" Ini yang bayar mbak kan?" Tanya Riski terlebih dulu, trauma jika masuk ke dalam restoran jepang dulu bersama Lisa tapi dirinya yang harus bayar lantaran Lisa lupa tidak membawa dompet.
" Kenapa? gak bawa uang ya?" Tebak Lisa.
" Bukan gak bawa uang mbak! Tapi tempat ini nguras isi dompet." Ujar Riski, membuat Lisa tertawa.
" Hahahah, masih trauma?"
" Banget!! Untung besoknya gajian, kalau enggak bisa mati aku mbak."
" Gajian juga dapat bonuskan! Dan mbak sudah ganti uangnya!"
" Iya sih! Heheheh." Cengir Riski, membuat Lisa mencibik kesal. Menggelengkan kepala melihatnya.
Ya, meskipun lupa Lisa tidak membawa dompet dan Riski yang membayarnya. Sesampai di rumah Lisa menggantikannya, karena tau Riski belum gajian dan uangnya harus di tabung untuk dirinya di masa depan.
Memilih pesanan, yang entah kenapa dirinya ingin sekali memakan makanan kuah pedas manis, tanpa nasi.
Seperti orang kelaparan, memilih pesanan yang begitu banyak. Termasuk shabu-shabu.
__ADS_1
" Yakin mbak mau habisin ini semua?" Heran Riski, menatap makanan ang hampir memenuhi di atas meja makannya.
" Hhmm, yakin. Tapi sayang enggak ada mbak Santi, kalau ada mbak Santi pasti lebih seru. Bisa makan rame rame." Jawab Lisa, teringat dengan Santi yang pastinya senang jika makan bersama. Tapi sayang Santi sedang libur bekerja sekarang, karena ada urusan yang mendesaknya untuk pulang ke kampungnya.
" Masakin shabu-shabunya dulu Ki?" Perintah Lisa, meracikkan bahan shabu-shabunya sambil mencicipi hidangan makanan yang lain, Seperti takoyaki dan tempura.
Riski pun hanya mengikuti perintah Lisa memasukkan semua bahan shabu-shabu yang sudah di racik Lisa. Sekali-kali juga ikut makan hidangan lainnya, sebelum Shabu-shabunya matang sempurna.
" Hhmm, enak." Ujar Lisa, mengambil shabu-shabu yang sudah matang di mangkuk kecil.
" Enggak mau pakek nasi mbak." Tanya Riski.
" Lagi enggak pengen makan nasi Ki?" Jawab Lisa, seperti tidak selera memakan nasi atau melihatnya saja rasanya ingin sekali menyingkirkannya.
Entahlah, sudah dua hari selera makan Lisa sangatlah berbeda. Makan yang berat tidak berselera dan makan yang ringan rasa ingin makan hingga habis dan ingin menambah-nambah lagi.
****
" Bima?" Sapa manisa Zellin, masuk ke dalam ruangan Bima.
" Ada perlu apa kamu ke sini?" Tanya Bima, menutup maap proposal dan menatap Zellin.
" Aku hanya ingin mengantarkan berkas ini pada kamu Bim." Jawab Zellin. Menyerahkan berkas kerja sama dengan Bima.
" Papa kamu bisa datang ke kantor saya untuk membahas ini, tidak perku kamu kan."
" Iya, tapi aku ingin bertemu dengan kamu. Dan ini alasannya." Jawab jujur Zellin. Membuat Bima mengunggingkan senyuman sebelah.
" Sudah bertemu, mau bicara apa?" Terdengar suara sinis Bima, masih menatap lekat proposal yang kini berada di atas ke dua tangannya.
" Kamu sudah menikah Bim."
" Sudah tau beritanya? kenapa masih tanya lagi." Jawab Bima duduk bersandar di kursi kebesarannya sambil menatap Zellin.
" Aku hanya ingin dengar langsung dari bibir kamu Bim." Lirih Zellin. " Dulu kamu pernah janji deng-,"
__ADS_1
" Manusia bisa berubah seiring waktu Zellin, saya tidak pernah mengucap janji. Kamu sendiri yang bilang, dan menyuruh saya untuk menyetujuinya." Sela Bima, membuat Zellin terkejut.
Ya, Bima tidak pernah satu kata pun mengucap janji pada Zellin. Hanya Zellin sendiri yang mengucapkannya dan memaksa Bima untuk menyetujuinya.
Jika di bilang Bima berjanji pada Zellin, itu salah. Bima hanya menganggukkan kepala, dan janji itu tidak akan pernah ada, meskipun wanita itu akan mengungkitnya. Dan terbukti sekarang, wanita yang pernah di sukainya mengingatkannya pada janjinya dulu yang di buatnya sendiri tanpa Bima mengucap apapun.
" Kamu salah kalau mengingatkan janji itu pada saya. Kamu tau sendiri kan terakhir kita bertemu? kamu yang meminta saya berjanji. Tapi saya tak pernah mengucapkan itu dari bibir saya." Tegas Bima, menatap tajam Zellin. Yang matanya mulai berkaca-kaca.
" Aku sudah bercerai Bim dengan dia." Lirih Zellin, membuat Bima hanya bisa menyunggingkan senyum.
" Bagus kalau kamu sudah cerai, tidak tertekan dengan dia lagi. Bisa hidup dengan kemauan kamu sendiri, tanpa di atur lagi sama orang tua kamu." Kata Bima.
" Kalau kamu, meminta saya untuk kembali lagi dengan mu. Maaf, saya tidak bisa. Karena saya mencintai istri saya dan istri saya sangat berharga sekarang." Tegas dan tekannya pada Zellin, agar wanita di badapannya tau jikanya dirinya sudah tidak ada rasa lagi dengannya.
Bukan menyakiti perasaan wanita itu, tapi Bima hanya ingin menegaskan dan juga menyadarkan Zellin bahwa hatinya tidak lagi mencintainya. Yang Bima cintai dari sekarang hingga nanti tua adalah istrinya. Hanya istrinya seorang.
Bagaikan di sayat pisau tajam, rasa ingin menangis tapi ia tidak bisa untuk menunjukkannya. terasa sakit hati, tapi ia mencoba untuk tersenyum, menahan air mata yang akan jatuh membasahi pipinya.
Perkataan Bima menyadarkannya, Jika dia juga butuh bahagia. Bukan dari dirinya, tapi dari orang lain. Yang kini terlihat dari mata Bima, Istrinya sangat berharga dan sangat di cintainya.
" Selamat Bima, semoga pernikahan kamu lenggeng seterusnya." Kata Zellin. " Maaf, aku mengingatkan kamu dengan janji yang aku buat sendiri." Imbuhnya, sekali lagi mencoba tersenyum dan berdiri dari duduknya.
Bima sedikit mendongakkan kepala, hanya tersenyum tanpa mau membalas perkataannya.
" Kalau begitu aku pulang dulu." Pamit Zellin, hanya mengangguk dan tersenyum simpul. Hingga Zellin melangkah pergi dengan rasa yang lebih sakit.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃
__ADS_1