Nona Lisa

Nona Lisa
Saudara.


__ADS_3

...Bukan mimpi, tapi kebenaran. Dan aku merasa bahagia....


.


.


.


.


Permintaan yang sangat mengejutkan, dan di hari ini juga permintaan pria tua itu seperti ingin harus terpenuhi. Terlihat jelas di mata calon mertuanya, kala beliau sangat menginginkan Bima menikah sekarang juga.


Bukan tidak mau, tapi rasanya sangat mustahil. Menikah secara mendadak dan belum ada persiapan sama sekali.


Lucu sekali! seperti cerita novel yang mungkin sering di bacanya waktu dulu masih sekolah. dengan judul Nikah dadakan. Mengesankan bukan! Itu hanyalah cerita novel, dan tak mungkin bisa menjadi kenyataan.


Bayangkan saja, gimana caranya menikah mendadak. surat belum terkumpul ke kua, wali serta saksi tidak ada dan penghulu pun juga belum di sewa. Dan yang pasti akan menggemparkan serta penuh penuh gosib kesana kemari.


Mendengar saja, Lisa hanya menahan bibirnya yang mungkin akan tertawa karena calon mertuanya menginginkannya menikah sekarang.


Dan saat Lisa akan menjawab pun, Asisten Bima datang bersama orang-orang yang dirinya kenal. Termasuk dua orang yang berarti dalam kehidupannya.


" Mawar, Angga?" Ucap Lisa, membuat Mawar tersenyum, berjalan menghampiri Lisa yang terkejut dengan kehadirannya.


" Lisa!!" Senang Mawar, memeluk Lisa sambil mengguncangkan tubuhnya dan Lisa tersadar jika ini nyata.


" Kamu kok ada di sini?" Ucap Lisa, selepas pelukan Mawar yang mengejutkan.


" Kenapa? Enggak suka aku di sini?" Ucap Mawar, mencibikkan bibirnya.


" Bukan begitu!" Elak Lisa. " Ta-,"


" Akong!!" Seru bocah kecil berlari ke pria tua yang di panggilnya kakek dengan Lisa yang lagi-lagi mengerutkan kening mendapati hal yang aneh di harinya ini.


" Akong!" Gumam Lisa dalam hati.


Tunggu! Ternyata tukan Mawar dan Angga saja yang dirinya lihat. Tapi juga ada Rania dan papanya, Kevin. Datang ke rumah calon mertuanya.


Dalam otaknya masih lemot, belum tersangkut apa yang di lihatnya sekarang. Keluarga yang ada di kota kelahirannya datang di rumah calon mertua, dan ponakannya sudah begitu akrab dengan calon mertua yang di panggil akong itu.


" Kenapa?" Tanya Mawar, menahan senyum karena kebingungan Lisa.

__ADS_1


" Hhm,, Ada yang aneh." Jawab Lisa, mengerutkan kening.


" Enggak ada yang aneh! Emang bapaknya Kak Bima kakek ke duanya Rania." kata Mawar, membuat Lisa melebarkan mata mendengarnya.


" Kakek ke dua?" Ulang Lisa.


" Akong! Kelinci Rania mana?" Tanya Rania, di pangkuan bapak Bima yang senang dengan kehadiran Rania, gadis yang di anggapnya sebagai cucu saat pertama bertemu dengannya waktu masih kecil dan juga terkadang Rania berkunjung ke rumahnya.


" Ada, di taman depan." Jawab bapak Bima.


" Mbak bunga, ayo?" Ajak Rania.


" Cium Akong dulu!" Pinta bapak Bima, tidak mau melepaskan gadis kecil dalam pangkuannya.


Rania pun menciumi seluruh wajah kakek ke duanya hingga Kakeknya merasa geli tertawa dan puas. Melepaskan pelukannya dan membiarkan Rania pergi bersama bunga ke taman halaman rumahnya.


" Kamu ini loadingnya lama sekali!" Gerutu Mawar dan berjalan menghampiri orang tua Bima.


" Bapak?" Sapa Mawar, menyalimi ayahnya Bima.


" Bagaimana kabar kamu sama suami kamu?" Tanya Bapak Bima, dengan Mawar yang mulai duduk di sampingnya di ikuti Angga yang juga menyalimi Ayahnya Bima dan memilih duduk di sebelah Lisa yang memandang Mawar dan calon mertuanya.


" Enggak usah heran mbak! Mas Bima sudah di anggap saudara oleh mas Kevin." Lirih Angga.


Mungkin karna banyak pekerjaan dan juga banyaknya pikiran yang entah kemana, Lisa baeu sadar dan mengerti tentang kedekatan Bima dengan Kevin. Bukan hanya teman, melainkan juga sebagai saudara dan keluarga Bima juga sudah di anggap kerabat oleh keluarga Kevin.


" Ciihh!! Baru ingat." Ledek Mawar, membuat Lisa meringis malu. Dan tertawa bersama, menikmati kebersamaan di dalam rumah sederhana.


Sedangkan Kevin, Bima dan Asistennya berada di ruang lain. Entah sedang membicarakan apa! Dan terlihat sangat serius.


****


" Jangan kencang-kencang naik motornya kiki!!!" Teriak Santi, memegang erat jaket Riski dengan wajah ketakutan di jok motor belakang. Dimana Riski sedang mengendarai motor dengan kecepatan tinggi di malam yang belum terlalu gelap.


" Biar cepat sampai mbak! Aku enggak pengen ketinggalan dan gak pengen terlambat." Teriak Riski.


" Aku juga pengennya gitu Ki! Tapi kamu juga harus liat kondisi!! kalau kamu ngebut salah jalan, bisa tambah terlambat!! Dan aku harus mengamati ponsel petunjuk jalan ini!!" Ujarnya, mengetok hlem Riski dengan keras karena geram dengannya.


Riski dan Santi sudah di beritahu oleh Lisa, untuk datang ke tempat yang sudah di share loke melalui chat Santi. Dan harus datang tepat waktu.


Tidak menghiraukan gerutuan Santi, dan sedikit mengurangi kecepatan. " Ini belok kemana mbak." Tanyanya, melihat jalan bercabang empat. " Jangan lama-lama mbak!"

__ADS_1


" Bawel!! belok kanan ki?" Jawab Santi setelah memperhatikannya lagi.


dan saat akan berbelok arah Riski tidak menyadari, dari arah belakang mobil sedikit melaju kencang membuat pengendara mobil terkejut karena motor akan memotong jalan tanpa melihat keadaan.


Braakkk!!


Motor itu terjatuh, Lisa terpental dan Riski yang terseret sedikit jauh bersama motor. Dan mengendara mobil mengerem serta terkejut melihatnya.


Pengemudi mobil dengan cepat turun dari mobil, di bantu pengendara lain yang melihat tabrakan. memberhentikan kendaraannya dan segera membantu orang yang tertabrak ke pinggir jalan.


Pengemudi mobil itu berlari ke arah Santi, yang terguling lemas di tengah jalan. Mengangkat tubuh Santi dan membawanya ke pinggir jalan.


" Dia?" Lirih pengemudi itu, melihat wajah Santi saat menurunkan tubuhnya di trotoar.


" Mbak Santi?" Ucap Riski berjalan dengan kaki pincang serta keadaan yang juga sangat parah.


Duduk di sebelah Santi, melihat keadaannya yang juga sama parahnya. Celananya dan lengan kemeja yang sobek terkena aspal.


" Ki! Aku enggak papa." Lirih Santi, duduk dengan raut wajah kesakitan.


" Aku juga enggak papa mbak." Ujar Riski, yang nyatanya lebih parah dari Santi. Tapi mencoba baik-baik saja.


" Motor kamu ki?" Ucap Santi, melihat motor Riski sudah tidak terbentuk lagi.


" Saya akan bertanggung jawab." Ucap Pria yang menabrak Riski dan Santi.


" Kamu?" Lirih Santi, melihat wajah pria yang tak asing baginya. Dan pernah bertemu dangannya dua kali.


" Tidak usah pak, Kami yang salah, maafkan kami." Ucap Riski, mengerti kesalahannya yang fatal. Memotong jalan tanpa menyalakan lampu san dan melihat spion untuk melihat di belakang.


" Tidak papa, saya akan bertanggung jawab." Ujar pria itu, tidak mau di tolak karena dirinya juga ikut bersalah. Lantaran sedikit fokus dengan ponselnya dalam berkendara.


" Kalau begitu, kita cari klinik terdekat. Biar luka kalian cepat di tangani." Imbuhnya lagi, membuat Santi dan Riski saling berpandangan.


.


.


.


.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃


__ADS_2