
...Memang ya, dunia itu sangat sempit. Atau hanya kita saja yang masih berada satu kota....
.
.
.
.
" Lepasin!!" Seru Santi, mencoba melepaskan tangannya dari pria yang sudah menjadi mantannya. Saat dirinya tidak sengaja bertemu di salah satu restoran makan sederhana pinggir jalan.
Santi yang sedang memesan makanan untuk anak kecil mengamen di pinggir jalan itu, terkejut kala ada pria yang memanggil namanya dan tak asing di telinganya.
Pria itu menunggunya di parkiran, dengan Santi yang coba menghindar dan akan segera pergi. Tapi terhadang oleh mantannya, merebut kunci motor dari tangan Santi dan menggeret Santi menjauh dari parkiran.
" Aku akan teriak, kalau kamu enggak mau lepasin!" Ancam Santi, sambil mencoba memberontak. Hingga pergelangan tangannya merah dan sakit.
" Aku hanya ingin minta maaf sama kamu San! Aku gak akan ulangi lagi." Ucap mantan Santi.
" Gak akan ulangi lagi! " Sinis Santi. " Sudah berapa kali kamu bilang gitu, ha! Berapa kali!! Aku muak tau gak."
" Selingkuh, selingkuh dan tetap selingkuh!" Geram Santi.
Sakit sekali karna perbuatan mantannya yang sering kali berselingkuh di belakangya dan berulang kali meminta maaf serta berapa kali mereka berbaikan dan seterusnya seperti itu. Hingga Santi sendiri merasa tertekan dan bosan karna seringnya sang mantan mengucap maaf dan melakukannya kembali berselingkuh di belakangnya.
" Aku selingkuh juga karna kamu!"
" Aku!" Sambil mengerutkan keningnya.
" Iya aku selingkuh karna kamu. Karna kamu lebih mementingkan pekerjaan kamu dan tidak mau menurutiku."
" Menuruti permintaan kamu yang harus rela tidur di bawah tubuh mu gitu." Sungut Santi. " Cih! Maaf ya, aku bukan cewek polos dan gampangan ketipu dengan rayuan manis mu." Imbuhnya.
Dan dirinya bukan wanita munafik, memang Lisa tidak akan mau melakukan hubungan suami istri sebelum pria itu menikahinya.
" Aku ingin menikahi kamu, tap-,"
" Tapi aku enggak mau, aku menolaknya. Karna kamu baj*ngan." Potong Santi, sambil menatap tajam mantannya yang terkejut mendengar ucapannya.
Meskipun masih mau berbalikan dengan mantan, bukan berarti Santi sepenuhnya percaya dengan sang mantan yang raja memelas saat dia ingin berbalikan.
Sekali di selingkuhi, wanita tidak akan percaya. termasuk Santi. Dan dirinya tidak percaya lagi dengan ucapan manis dari sang mantan meskipun sudah berbaikan dan kembali menjalin kasih.
" Santi!"
__ADS_1
" Apa!!" ketus Santi. " Lepasin tanganku!" Imbuhnya dan mencoba memberontak lagi, hingga dirinya menginjak kaki sang mantan dengan kuat.
"Aauuww!" Pekik sang Mantan, dan genggamannya terlepas dari tangan Santi, membuat Santi dengan cepat berlari dari sang mantan hingga dirinya tidak sadar menabrak bidang dada pria di depannya.
Hampir terjatuh, jika saja Santi tidak menarik jas pria itu. Pria itu dengan cepat menarik pinggul Santi dan kembali membuat Santi terbentur di bidang dada.
" Santi!!" Teriak sang mantan, membuat Santi terkejut, melepaskan pelukan dan bersembunyi di balik punggung tegap pria itu sambil meremas jasnya.
" Tolongin saya mas!" Pinta Santi, memejamkan mata takut dengan sang mantan yang masih mengejarnya.
Sempat menoleh ke belakang, melihat ketakutan wanita yang menabraknya dan meremas jasnya dengan kuat.
" Santi!!" Geram sang mantan, membuat Pria itu kembali melihat ke depan dengan pandangan tajam mengarah pada pria bertubuh kurang tinggi dan kurus darinya.
" Tolongin saya mas!" pinta Santi dari balik punggung pria itu.
Melihat tatapan pria yang menyembunyikan Santi, Ralat, tapi Santi yang bersembunyi di belakang pria itu. Nyalinya menciut, kala tubuh pria itu sangat tinggi, gagah dan tatapan tajamnya seakan ingin menerkamnya membuatnya sedikit melangkah mundur dan menelan salivanya.
Sedikit mengintip dan melihat sang mantan takut, membuat dirinya sedikit bernafas lega karna ia tidak perlu berlari lagi.
" Urusan kita belum selesai San!" Ancam sang mantan, meskipun begitu Santi tak mempedulikan. setidaknya sekarang dirinya aman.
" Kunci motor saya ada di dia mas!" Lirih Santi, yang melihat sang mantan akan pergi.
" Kembalikan kunci motor dia." Ujarnya lagi, mantan Santi hanya bisa berdecak dan melempar kunci motor Santi, membuat pria itu sigap menangkapnya dengan satu tangan.
Hanya bisa menatap tajam kepergian pria kurus dan , karna Santi masih meremas kuat jasnya dan tidak membiarkannya berjalan selangkah saja.
Menghembuskan nafas lega, membenturkan kepalanya di punggung pria itu tanpa sadar dan tanpa salah. Dan pria itu hanya bisa menaikkan satu alisnya, merasakan punggungnya yang di buat sandar.
" Apa kau bisa menyingkir!" Seru Pria itu, membuat Santi membuka mata dan terkejut saat kepalanya menyandarnya di punggung pria yang menolongnya.
" Maaf!" Lirih Santi, melepaskan cengkraman tangannya dari jas dan melangkah mundur sedikit jauh darinya.
Berbalik badan, dan saling menatap. Saling mengerutkan kening dan saling membulatkan mata.
" Kau!"
" Kamu!"
Ucapnya bersamaan, saling menunjuk dan salinh menatap tajam. Seperti permusuhan dalam hidup.
****
" Maaf fahm, aku tidak bisa."
__ADS_1
" Iya, aku enggak mungkin meninggalkan tamu sendirian di rumah ku dan memilih pergi. Enggak etis dan seperti tidak menghargai tamu lain."
" Aku ingin meminta jawaban kamu dulu Lis, ketika kamu mengantarkanku di bandara."
" Aku.. Maaf fahm."
" Apaa karena pak Bima."
" Tidak ada hubungannya dengan Bima."
" Terus Karena apa?"
" Maaf Fahm, Aku tidak bisa memberitahukanmu."
Menghembuskan nafas berat, mencekram setir mobil dan memukulnya berkali-kali. Saat ia mengingat Lisa menolak ajakan keluar dan jawaban yang di tunggunya bertahun-tahun ternyata tidak dengan khayalannya selama ini.
Dia berpaling darinya, dia tidak mau menunggunya dan dia sudah menyukai orang lain, bukan dirinya.
Tidak, itu tidak benar.
Dan berulang kali Lisa hanya mengucapkan maaf tanpa mau memberitahukannya. Dirinya tidak tau apa yang sebenarnya sedang di sembunyikan Lisa.
Apa karena pak Bima, atau karena orang lain. Bukan karena orang lain, ini pasti kerena pak Bima.
Iya pasti.
Dan Lisa menutupinya hanya untuk melindungi pria itu, tidak ingin membuat nama pria itu tercoreng jelek di hadapannya atau semua orang. Atau karna Bima mengancam Lisa, untuk tidak berbicara apapun tentang dirinya pada semua orang.
Ya pasti karena itu.
Pria pengusaha, kaya raya, dan juga pria yang tertutup identitasnya. Pasti dia pria yang kejam dan jahat. Bukan orang baik yang seperti papanya bilang, suka di bangga-banggakan dan di puji begitu tinggi. Papanya sudah tertutup mata hanya karna pria itu pemilik perusahaan.
Asumsi demi asumsi, dan pikiran negatif Fahmi sangat yakin jika Bima bukan orang baik. Membuat Lisa tertekan dan takut untuk mengungkapkannya. Dan dia bukan pria yang pantas bagi Lisa.
" Aku tidak akan membiarkan kamu terluka Lis, dan aku akan berusaha menjauhkan kamu dari dia." Gumam Fahmi dalam hati.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃
__ADS_1