
...Dunia terasa sempit, dan ternyata kita sudah pernah saling bertemu....
.
.
.
.
Hari yang di tunggu-tunggu bagi gadis kecil, merasa senang akan perayaan ulang tahunnya. yang pastinya akan meriah, keluarga, kerabat dan teman-temannya berkumpul jadi satu.
Rumah yang di dekorasi berwarna merah muda kesukaan Rania, balon warna warni serta karakter boneka kuda poni terjajar rapi di belakang meja ulang tahun Rania.
Gadis kecil mamakai baju dengan pita belakang dan juga bando bunga melingkar di kepalanya.
Cantik dan menggemaskan.
Kerabat, keluarga dan juga teman Rania sudah datang berkumpul di rumah besar Kevin. Acara sangat meriah dan juga ramai akan perayaan ulang tahun putri Kevin.
Rania sangat senang dengan kedatangan orang tua kevin, Aunty intan dan Arsya. memeluk nenek dan juga kakeknya tidak lupa meminta kado pada orang tua Kevin. Yang membuat nenek dan kakeknya gemas, sangat mirip kelakuan Rania seperti Kevin dulu.
" Om Bima!" Seru Rania, membuat keluarga Kevin menoleh ke arah Bima yang berjalan ke arahnya.
" Selamat ulang tahun ponakan Om yang paling manis." Ucap Bima, menggendong Rania dan mencium pipinya.
" Makasih Om!" Ucap Rania, dan mengantungkan tangannya ke hadapan Bima membuat yang melihatnya menjadi tertawa.
" Ini?" Memberikan paberbag pada Rania, dan Rania senang menerimanya hingga mencium pipi Bima.
" Makasih Om!" Ucap Rania.
" Sama-sama manis!" Jawab Bima dan menurunkan Rania dari gendongannya.
" Om, tante?" Sapa Bima, menyalimi tangan orang tua kevin bergantian.
" Apa kabar nak Bim?" Tanya mama Kevin.
" Baik tan, tante dan om." Tanya balik Bima.
" Kami juga baik Bima." Jawab Papa Kevin. " Kapan datang." Imbunya lagi.
" Sudah empat hari om." Jawab Bima dan di anggukkan papa Kevin.
__ADS_1
" Ayo sayang kita tiup lilin?" Ajak Mawar pada Rania.
" Aunty tidak datang Ma?" Tanya Rania, yang tidak melihat Lisa di acara ulang tahunnya.
" Aunty Lisa sedang di perjalanan sayang, katanya jalanannya lagi macet." Ucap Mawar, saat Mawar mencoba menghubungi Lisa untuk menanyakan keberadaannya.
Mawar sedikit terkejut saat suster santi mengangkat telponnya dan bilang jika Lisa tidak bisa datang di acara ulang tahun Rania, karna Lisa sedang mengantarkan ibunya ke rumah sakit kala tiba-tiba sang ibu mengeluh sakit di dadanya.
Mawar pun juga merasa khawatir, serta ingin sekali datang ke rumah sakit untuk melihat kondisi ibu sahabatnya itu. Tapi ia juga tidak bisa membatalkan acara ulang tahun putrinya, itu juga akan membuat putrinya menangis dan juga para undangan pasti akan merasa sedikit kecewa karna di usir sebelum acara selesai.
Mawar pun hanya bisa meminta tolong pada Angga untuk ke rumah sakit, menemani Lisa dan juga melihat kondisi ibu sahabatnya itu. Beruntung Angga tidak keberatan dan mau di perintah oleh Mawar.
" Ayo sayang kita tiup lilin?" Ajak Kevin, tau akan kegelisahan istrinya. Yang sudah di ceritakan padanya tentang ibu Lisa sedang berada di rumah sakit.
" Iya pa?"Jawab Rania, mengangguk dan tersenyum. Meskipun sebenarnya anak kecil itu mengharapkan kedatangan Lisa.
" Kamu tidak membawanya?" Kata Kevin, berjalan beriringan dengan Bima menuju meja kue.
" Dia tidak bisa ikut, keponakannya juga sedang ulang tahun." Jawab Bima.
Dimana pagi hari ia menelpon Lisa, memintanya untuk menemani dirinya di acara pesta keponakannya. Bukan tidak mau menemaninya, Lisa juga sudah berjanji pada ponakanannya untuk datang ke acara ulang tahunnya. Hingga Lisa meminta maaf karna menolak ajakannya. Dan Bima bisa memahami itu, dan dirinya tidak marah.
*****
Duduk bertiga di kursi panjang, dengan rasa cemas, tegang, takut dan tak lupa memanjatkan doa untuk wanita tua yang sedang di tangani dokter di dalam ruangan IGD.
Lisa dan suster Santi mencoba untuk tidak menangis, tapi tetap saja matanya tak bisa menahan air mata. Saling menggenggam, saling menguatkan seperti saudara sendiri.
" Mbak?" Sapa Angga, mengusap lengan Lisa. Mencoba menenangkan Lisa untuk tidak menangis.
" Mbak takut Ga!" Lirih Lisa, membuat Angga merengkuh tubuh Lisa dari samping yang sudah di anggap kakaknya sendiri.
" Kita berdoa mbak, semoga ibu tidak apa-apa." Ucap Angga, Lisa pun hanya bisa mengangguk dan mengusap air mata.
" Maafin mbak Ga! Rania pasti kecewa sama mbak yang gak bisa datang." Lirih Lisa, masih saja memikirkan ponakannya yang ulang tahun.
" Jangan pikirin itu sekarang mbak, Mbak Mawar bisa hadapi putrinya. Sekarang kita berdoa untuk ibu." Ucap Angga, tidak habis pikir dengan Lisa, yang masih memikirkan Rania ponakannya.
Bukan alasan Lisa memikirkan Rania, Lisa mempunyai janji pada gadis kecil itu yang selalu berharap Lisa datang di ulang tahunnya. Dan saat Lisa menempati janjinya, Lisa tak bisa datang. Bukan tidak mau datang, saat akan berangkat suster santi berteriak memanggil dirinya dengan wajah cemas. Membuat dirinya takut dan bergegas masuk ke kamar ibu.
Melihat ibunya yang memegang dadanya dengan nafas tak beraturan, membuat dirinya takut dan bergegas membawa ibunya ke rumah sakit.
Sungguh, dalam perjalanan dia begitu mengebut untuk sampai ke rumah sakit. Rasa takut begitu menghantuinya.
__ADS_1
Tersentak kecil saat mendengar suara pintu IGD terbuka, Lisa, Angga dan suster santi berdiri cepat dari duduk dan menghampiri dokter untuk menanyakan keadaan ibu.
*****
Suara derap langkah kaki sepasang suami istri menggema ke seluruh lorong rumah sakit dengan mereka berjalan cepat mencari seseorang yang sudah menelpon dan mengasih kabar tentang ibu Lisa.
Bertanya pada suster, di mana letak ruangan yang sudah di beritahu Angga, Berjalan cepat dan menuju ruangan itu dan melihat dua orang sedang menenangkan wanita yang diam membisu menangis tanpa suara.
" Lisa!" Sapa Mawar dari kejauhan yang juga ikut menangis dan berlari ke arah sahabatnya.
" Lis?" Sapa ulang Mawar, duduk di samping Lisa yang sama sekali tak bersuara dan tatapan kosong.
" Lisa! jangan begini Lis!" Ucap Mawar, memeluk sahabatnya dengan menangis. Tau bagaimana rasanya di tinggalkan seseorang yang kita sayang selama-lamanya.
Ya, Mawar mendapatkan kabar dari Angga. Jika ibu Lisa meninggal dan tak bisa di selamatkan. Mawar yang mendengarnya pun terkejut, mata melebar dan air mata turun membuat suami dan keluarganya yang melihat heran dengan Mawar. Mawar menceritakannya pada Kevin dan keluarga Kevin.
Tidak mempedulikan acara putrinya yang belum selesai Mawar dan Kevin bergegas menuju rumah sakit untuk mamastikan kebenaran.
" Lis! Sadar Lis." Kata Mawar, menepuk pipi Lisa untuk menyadarkan sahabatnya dari tatapan kosongnya.
" Dimana ibu Lisa." Tanya Kevin.
" Ada di dalam Mas." Jawab Angga, membuat Kevin berjalan masuk ke ruang mayat untuk melihat jenasah ibu Lisa.
Sungguh, ini membuat mereka sangat terkejut dengan ibu Lisa yang meninggal secara mendadak. Yang sebelumnya baik-baik saja, kesehatannya pun juga sangat membaik dan sangat bahagia pulang ke rumah kampungnya.
" Ibu Ar, Ibu!!" Ucap Lisa, saat tersadar dari tatapan kosongnya dan menangis kembali dalam pelukan Mawar dengan Mawar juga ikut menangis serta menenangkan sahabatnya.
" Lisa!" Sapa dari kejauhan, suara pria yang datang ke rumah sakit mendengar kabar dari Mawar jika ibu Lisa telah tiada.
Ya Fahmi sempat menelpon Mawar untuk menanyakan pesta ulang tahun putrinya yang sudah selesai atau belum. Bukan kabar menyenangkan yang Fahmi dapat, tapi kabar duka saat mendengarnya.
Lisa dan semua orang yang mendengarnya pun menatap sumber suara. Melihat Fahmi yang berjalan ke arahnya.
Dan Lisa berdiri saat melihat pria itu, berjalan dengan pelan dengan dia yang menahan air matanya.
Bukan menuju Fahmi, tapi ada seorang pria berdiri di belakang Fahmi yang terdiam sambil menatapnya.
" Ibu." Lirih Lisa, di hadapan pria itu dengan pria itu yang langsung memeluk tubuh Lisa dan membuat semua orang yang melihat terkejut. Terutama Mawar, Fahmi dan Kevin.
.
.
__ADS_1
.
.🍃🍃🍃🍃