
...Kita di pertemukan kembali, tapi maaf aku sudah berpindah hati....
.
.
.
.
" Mbak Lisa sama ibunya sudah pindah dari sini mas."
" Sudah lama pindahnya! Hampir dua tahun mas."
" Pindah ke kota xx untuk pengobatan ibunya?"
" Iya, ibunya jatuh sakit saat ayah mbak Lisa meninggal. Kasihan mbak Lisa banting tulang buat ibunya untuk sembuh."
" Tapi saya dapat kabar, katanya besok mbak Lisa pulang ke sini sama ibunya, katanya ibunya sudah sembuh. Kangen sama rumah, kangen pengen pulang."
Mengingat percakapan kembali dengan tetangga Lisa yang kebetulan sedang membersihkan rumah Lisa.
Ya, Fahmi datang ke rumah Lisa dengan semangat pagi hari dan membawa hadiah buah tangan untuk gadis yang di cintainya. Tapi bukan menemukannya, justru dirinya terkejut saat mengetahui dari tutur tetangga Lisa, Jika Lisa sudah pindah dari rumah dan pergi ke kota xxx untuk menyembuhkan ibunya yang sakit dan baru tau jika ayah Lisa sudah meninggal.
Dirinya sama sekali tidak tau kabar apapun dari Lisa, komunikasi mereka terputus setelah satu minggu dirinya tinggal di luar negeri. Semua akses untuk berkomunikasi dengan Lisa seperti tertutup rapat serta jarak mereka semakin menjauh.
Seperti ada yang mengganjal dalam hatinya. Lisa tidak pernah sama sekali seperti itu dengannya. Dulu, masalah kecil maupun besar Lisa akan tetap membagi kesedihan dan kebahagiannya padanya, serta jika dia sedang marah tak akan pernah memblokir ataupun pergi darinya. Justru Lisa akan meminta kejelasan dan meluruskan kesalah pahaman, saling maaf dan kembali akur lagi.
Tapi ada rasa senang saat mengetahui hari ini Lisa akan pulang ke kampungnya, akan kembali ke rumahnya. Itu berarti dirinya akan bertemu dengan Lisa. Sekian lama memendam rindu dengan gadis yang di cintainya tanpa kabar, berharap Lisa masih mengingatnya.
Tok tok tok.
Lamunannya berhenti, mendengar suara ketukan pintu membuat dirinya segera bangkit dari duduknya dan berjalan membukakan pintu kamar.
" Mama?" Ucap Fahmi. " Masuk Ma?" Ujarnya lagi, mempersilahkan mamanya masuk ke kamarnya.
" Ada apa Ma?" Tanya Fahmi, ikut duduk di kursi sofa.
" Mama sama Papa mau ajak kamu ke perayaan pesta perusahaan papa kamu bekerja." Ucap Mama Fahmi.
" Kapan Ma?" Tanya Fahmi.
" Nanti malam, ikut ya." Mohon Mama Fahmi,
membuat Fahmi tidak bisa menolak dan mengangguk " Iya Ma."
__ADS_1
Untuk sekian lama, Fahmi tidak pergi bersama dan menghabiskan waktunya dengan keluarga. Kini ia akan menebus waktunya bersama dengan keluarga dan juga akan menanti gadis yang akan pulang kampung.
Mendengar jawaban dari putranya, Mama Fahmi merasa senang dan bisa memperkenalkan putranya pada teman suaminya yang sudah pulang dengan membawa kebanggaan serta kesuksesaan menjadi seorang sarjana di luar negeri.
****
" Kalau sudah sampai sana, jangan lupa kabari saya." Ucap Bima, berada di hadapan Lisa.
" Iya. Jangan kangen ya sama aku." Goda Lisa, tertawa kecil mendengarnya.
" Palingan kamu yang kangen saya." Kata Bima, membuat Lisa berdecak.
" Mana ada aku kangen sama kamu." Jawabnya, sambil mengulum bibir ke dalam menahan senyum dan juga tawa yang melihat kepercayaan diri Bima meningkat.
" Yakin!"
" Hhmm."
" Sudah sana masuk, Ibu kamu sudah nunggu kamu di dalam." Perintah Bima, melihat ibu Lisa dan susternya sudah menunggunya sedikit jauh dengan mencuri pandang memperhatikannya.
" Iya, hati-hati kalau pulang. Semangat bekerja." Ujar Lisa, membuat Bima tersenyum dan mengangguk.
Berjalan menuju ke arah ibu, dan melambaikan tangan pads Bima saat ia akan masuk ke dalam ruang tunggu. Membalas lambaian tangan Lisa, tersenyum menatap kepergian dia dan kembali datar saat ia mulai di tinggal gadis ceroboh pergi pulang kampung. Dan entah kapan akan kembali lagi.
Rasa ingin ikut, tapi pekerjaan masih banyak dan masih harus menemui beberapa klaen yang sudah berjanjian dengannya.
Sesampainya Bima di kantor, baru memasuki lobby semua pandangan karyawan wanita tertuju pada Bima. Ada mata yang melebar sempurna, ada bibir yang mengaga dan ada pula yang menggigit jari saat melihat atasannya memakai baju non formal.
Sangat mempesona!
Terlihat coll dan bertambah tampan.
Seperti anak muda.
" Pagi pak?" Sapa karyawan wanita, hanya mengangguk dan tersenyum tipis untuk menjawab.
Berhenti di depan lift khusus petinggi memeriksa ponsel tanpa mempedulikan karyawan yang menatapnya kagum.
deting lift berbunyi, pintu besi terbuka dan di dalam sana terkejut melihat penampilan Bima pagi ini.
" Ini loe!!" Seru orang di dalam sana, mencoba menghampiri Bima. Tapi dia terlebih dulu masuk ke dalam Lift dan di ikuti kembali oleh orang itu.
Menatap Bima dari bawah ke atas, atas ke bawa dan menggelengkan kepala beberapa saat. Menyadarkan dirinya, Jika yang di lihat adalah benar, itu Bima.
" Loe gak sakit kan?" Tanyanya, memastikan temannya baik-baik saja.
__ADS_1
" Hhmm." Jawab Bima, tersenyum tipis melihat wajah terkejutnya temannya yang heboh itu.
Siapa lagi jika bukan Doni!
Niat mau keluar kantor untuk menemui klaen, tapi saat melihat Bima ada di hadapannya dengan pakaian non formal, ia pun mengurungkannya dan kembali mengikuti Bima menuju ruangannya. untuk pertama kali melihat Bima memakai baju seperti ini membuatnya sangat terkejut.
Bukan hanya Bima saja, Asisten yang melihatnya pun sama seperti Doni, sedikit terkejut. Mengikutinya sampai ke ruang kerja.
" Ini beneran loe kan Bim?" Doni masih tidak percaya, sangat berbeda. Sungguh.
" Kenapa!" Jawab Bima, sambil berjalan menuju lemari dingin. Mengambil minuman kaleng untuk dirinya.
Cepat-cepat Doni mengambil ponsel, menekan layar ponsel untuk menghubungi seseorang. Tidak peduli nantinya akan terkena omelan oleh bosnya.
Dan yang sedang di telpon mengerutkan kening, melihat nama Doni ada di layar ponselnya dengan vidio call. Menjijikkan!
Tapi mau bagaimana lagi, ia pun harus mengangkatnya karna Doni masih saja menelponnya.
" Ada ap-," Rasa ingin mengumpat, tapi tertahan saat ponsel mengarah ke arah Bima yang meneguk minuman.
" Setan! Kerasukan apa itu anak!" Ujar Max, sama terkejutnya melihat penampilan Bima.
" Habis dapat lotrek dari Nona Lisa!!" Seru Doni, dan terperanjat saat kepalanya terkena lemparan tempat tissue dari Bima dan menatapnya tajam.
" Anj*ng!" Umpat Doni, mengusap kepalanya. Kesakitan karna terkena lemparan. Max tertawa pus dan asisten Bima hanya bisa menahan tawa.
" Nanti siang gue ke situ!" Ucap Max.
" Sekarang saja." kata Doni.
" Ada meeting gue."
" Astaga! Gue lupa janjian sama klaen." Pekik Doni, mematikan sambungan tanpa menunggu lama. Mengambil berkas yang ada di meja, menyengir kuda menatap Bima yang semakin menajamkan mata elangnya.
" Gue cabut, serem di sini!!" Ujar Doni, berjalan cepat keluar ruangan. Tidak mau ambil resiko di hadapan bosnya.
Takut di mutasi!
.
.
.
.
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃