
Flasback.
" Maaf saya sedikit telat pak." Ucap Fahmi, tergesa-gesa datang di tempat cafe menemui seseorang yang sedang ingin berbicara berdua di luar kantor dengannya.
" Tidak apa-apa, silahkan duduk." Ucapnya ramah, menyuruh Fahmi untuk duduk di depannya. Hanya mengangguk tersenyum dan duduk di depan pria yang sedikit lebih tua dari dirinya.
Sangat ramah, sangat mengerti dan sangat bijaksana dalam kehidupannya.
.
" Maaf, ada perlu apa Pak Bima menyuruh saya datang untuk menemui bapak di cafe ini." Tanya Fahmi.
Ya, siapa lagi jika bukan Bima yang meminta bertemu dengan Fahmi di luar kantor jam istirahat. Pria itu tidak pernah membahas pekerjaannya di luar kantor, dan jarang sekali bertemu dengan Fahmi. Kala Fahmi yang juga terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan yang di peroleh dari atasannya. Dan juga Bima yang sama sibuknya sebagai atasannya.
" Di luar, saya bukan siapa-siapa kamu. Jadi bersikaplah seperti biasa saja. Layaknya kita sebagai teman." Kata Bima.
Sedikit mengerutkan kening. Tapi Fahmi tetap mengangguk dan sedikit tersenyum, meskipun sedikit ragu. Dan ada benarnya, di kantor dia adalah atasannya dan di luar kantor dia adalah orang yang sama seperti dirinya, tanpa membedakan status pekerjaan.
" Kamu masih mencintai Lisa." Tanya Bima.
" Apa itu ada berhubungan dengan Mas Bima." Tanya balik Fahmi.
Kata yang pantas memanggil 'Mas' di luar kantor dan menghormati yang lebih tua dari pada memanggil namanya yang pastinya tidak akan sopan untuk di dengar.
" Iya." Jawab Bima, tersenyum karna Fahmi mengerti dari pertemuan ini.
" Kenapa? Apa Mas juga suka dengan Lisa." Kata Fahmi.
" Iya." Jawab Bima lagi, tanpa keraguan.
Hanya bisa mendesah, dan sedikit tersenyum menutupi rasa kecewa dan kesedihan. Fahmi tau, jika Bima juga menyukai Lisa dan tatapan Lisa yang seperti juga menyukai Bima serta terlihat jelas lebih nyaman berada di sisi pria di hadapannya ini.
" Jelas aku akan kalah, Dan mas Bima akan menang mendapatkan Lisa."
" Alasannya."
" Tidak perlu di jelaskan! Dari tatapan Lisa sudah sangat jelas, Lisa menyukai kamu mas dan dia lebih nyaman dengan Mas Bima." Jawab Fahmi.
" Apa karena aku kaya." Tanya Bima, menaikkan satu alisnya. Membuat Fahmi tersenyum menggelengkan kepala.
" Lisa bukan gadis seperti itu!" Lirih Fahmi. " Dia gadis yang tidak pernah memandang status dan juga fisik. Dia berteman dengan siapa saja, termasuk anak pengamen. Dan masalah pacar. Lisa tidak pernah berpacaran. Dia selalu menolak cowok yang menembaknya entah itu orang kaya atau orang miskin." Imbuhnya lagi.
Mengingat masa sekolah bersama Lisa. Ya, Lisa gadis yang juga banyak di incar oleh teman kelasnya, lain kelas dan adik kelasnya. Dia gadis yang tidak pernah tebar pesona, gadis yang ceria, selalu berdua dengan Mawar dan gadis yang jutek jika di dekati cowok.
__ADS_1
" Termasuk kamu?"
" Iya." Jawab Fahmi, tidak mungkin jika dirinya bilang tidak. Bima pun juga sudah tau tentang dirinya yang selalu datang ke rumah Lisa dan mengajaknya pergi, tapi di tolak oleh gadis itu.
" di tolak?"
" Sempat tidak di tolak, kalau aku enggak kuliah ke luar negeri." Jawab Fahmi, membuat Bima tersenyum lebar dan menahan tawanya.
Bukan marah atau cemburu, masalalu Lisa dan Fahmi bisa di mengerti. Masa masih putih abu-abu, masa jaman seperti itu pasti sangat menyenangkan. Dan Lisa wanita yang sulit membuka hati, sama seperti dirinya.
" Di terima sama Lisa?" Tanya Fahmi.
" Jujur?" Fahmi mengangguk mantap dan sedikit tersenyum.
Mengeluarkan buku kecil berwarna hijau di dalam saku jasnya. menaruh di atas meja dan mendorongnya ke arah Fahmi. Mengerutkan kening saat melihat buku seperti pasport, tapi itu bukan pasport. Melainkan buku nikah.
Menatap Bima yang hanya mengangguk kecil serta tatapan mengarah pada buku nikah di hadapannya. Seolah menyuruhnya untuk melihat. Fahmi pun mengambilnya dan mulai melihatnya.
Tertera jelas dua foto Bima dan Lisa, serta stampel dari kua di tengah-tengah foto. Membulatkan mata dan kembali menatap Bima yang hanya diam melihatnya.
" Saya dan Lisa sudah menikah." Ucap Bima.
****
Bukan salahnya Bima juga, pria itu tidak pernah merebut Lisa darinya. Lisa belum menjadi kekasihnya dan Lisa juga tidak sepenuhnya mencintainya. Tidak seharusnya pula meminta maaf padanya. Tapi sebagai seorang pria dewasa, Bima mengerti tentang pikiran dan prilaku seperti Fahmi yang masih labil dan belum memahami arti kedewasaan.
Bertemu dengan Lisa siang tadi dan sudah mengirim pesan pada Bima, jika dirinya ingin berbicara berdua dengan Lisa. Tentu Bima mengijinkan. Bima pria dewasa mana yang pantas di cemburui dan mana yang tidak. Ya, walaupun sebenarnya Bima memang cemburu dan menutupinya dengan santai saja.
Rasa memang sedikit kecewa, tapi juga terasa lega mengetahui tentang Lisa yang sudah menikah dengan orang yang tepat.
Mungkin benar, semakin cinta di kejar semakin cinta itu akan menjauh. Karna cinta yang di kejar belum tentu akan berpihak padanya. Jika berpihak padanya, mungkin itu hanya terpaksa, karna kasihan pada orang yang mengejar cintanya.
Cinta sepihak memang tidaklah enak, lebih tepatnya dua orang sama-sama menderita dan saling merugikan karena cinta sepihak.
Cinta tidak pernah berpihak padanya, atau saja memang dirinya belum menemukan cinta yang sesungguhnya. Miris, terlalu miris percintaan Fahmi dari dulu hingga sekarang.
Hanya bisa menghembuskan nafas berat, menatap langit malam nan teduh dan mencoba tersenyum. Menutupi luka, yang sulit untuk di lupakan.
Semoga dirinya baik-baik saja.
****
" Makasih?" Ucap Max, selesai makan dan minum obat yang di berikan Santi padanya.
__ADS_1
" Sama-sama." Jawab Santi dengan senyum. menaruh gelas di atas nampan.
" Sudah lebih baikan?" Tanya Santi.
" Hhmm, semua ini berkat kamu. Sudah mengurus saya dari tadi." Jawab Max.
" Jangan di ulangi lagi makan pedasnya, kasian lambungnya nanti kalau tidak kuat. Bahaya bisa masuk rumah sakit. Kamu mau?" Kata Santi, Seperhatian itukah Santi dengannya. Tanpa sadar Max tersenyum, senang di perhatikan oleh wanita yang sudah mencuri hatinya.
Tapi wanita di hadapannya ini, seperti biasa saja dengannya. Tidak seperti wanita-wanita lainnya yang dekat dengannya, malah keganjenan.
" Kok malah senyum sih! Mau, masuk rumah sakit!" Ulang Santi, mengerutkan kening menatapnya
" Tidak." Jawabnya sedikit gelagapan.
" Mangkanya jangan di ulangi!"
" Iya." Hanya mengangguk dan tersenyum.
" Sudah malam, kalau begitu aku pulang dulu. Cepat sembuh ya." Ucap Santi, berdiri dari duduknya dan mengambil nampan di atas laci.
" Saya antar pulang." Kata Max, membuka selimut dan segera turun dari ranjang.
" Eh! Tidak usah! Kamu barusan sembuh. lagian aku ke sini juga bawa motor. Jadi gak perlu di antar segala." Tolak cepat Santi.
" Tapi ini sudah malam."
" Belum terlalu malam, jalanan juga masih ramai. Sudah, aku tidak pa-,"
" Kalau begitu jangan pulang, kalau tidak mau saya antar." Ancam Max, membuat Santi melebarkan mata.
.
.
.
.🍃🍃🍃🍃
Maaf seribu maaf ya, yang nulis cerita lagi di kasih sakit. kata dokter authornya harus istirahat untuk sementara waktu, sampai sakit tipesnya hilang.
Hanya minta doa saja, biar cepat bisa nulis kembali.😇 Dan gak masuk rumah sakit lagi, karena suster dan dokternya sudah trauma sama aku, tujuh hari gak pulang-pulang dari RS.😊. padahal pasien yang lain sudah pulang.
Dan kambuhnya tipes kali ini hanya rawa jalan, dan harus cek up kembali.
__ADS_1
Buat kalian jangan lupa jaga kesehatan, kesehatan itu mahal harganya.