
...Kita di takdirkan bertemu, tapi bukan untuk bersama kembali....
.
.
.
.
" Kamu mau ajak aku ke mana?" Tanyanya untuk kesekian kali. Kala Bima tidak memberitahukan kemana tujuannya membawa dirinya entah kemana.
" Nanti kamu juga akan tau?" jawabnya, membuat Lisa mendesah pasrah karna Bima selalu menjawabnya begitu. Dan dirinya hanya diam tanpa mau bertanya lagi.
Menyalakan musik untuk mengurangi kejenuhan. Bima tetaplah Bima, yang jarang sekali untuk berbicara jika tidak ada perlunya. Bukan ngirit, memang pria ini tipikal pendiam dan tidak banyak omong. Hingga itu Lisa sudah paham betul dengan sifat Bima.
Sudah satu jam lamanya Bima berkendara, melewati jalan raya, masuk ke dalam jalan-jalan bercabang, rumah-rumah yang asri, dan membelokkan kemudinya di salah satu rumah sederhana pagar tak berjulang tinggi. Pohon dan taman kecil tumbuh subuh dan terawat.
Mengerutkan kening kala Bima membawanya ke rumah yang sederhana, seorang remaja laki-laki membukakan pagar.
" Rumah siapa?" Tanya Lisa.
" Rumah orang tuaku." Jawab Bima, membuat Lisa menatapnya tak percaya.
" Orang tua kamu?" Lirih Lisa, hanya anggukan dan senyuman kecil untuk menjawab.
" Ayo turun." Ajak Bima, mulai membuka pintu terlebih dulu meninggalkan Lis yang tercengah dan sedikit terkejut, karna Bima mengajaknya ke rumah orang tuanya.
Lisa tidak percaya, Bima membawanya ke rumah orang tuanya di saat dirinya masih berpakaian kerja. Celana jeans biru dan kemeja warna putih lengan yang tak terlalu panjang. Rambut yang hanya di kuncir kuda dan tidak memakai make up.
" Apa.. Dia membawaku ke rumah orang tuanya! Kenapa dia enggak bilang dari tadi sih!! Mukaku!" Gumamnya dan mencari kaca di tasnya, melihat wajahnya yang sedikit kusam dan bibir sedikit pucat karena tidak memakai lipstik.
Bima!!!" Geram Lisa, dan terkejut saat pintu mobil terbuka dari luar.
" Kenapa enggak keluar, Ayo?" Ajak Bima, begitu ringannya Bima mengajaknya keluar. Sedangkan dirinya begitu panik saat akan bertemu dengan orang tua Bima dengan wajah yang sangat mengenaskan baginya.
" Tunggu Lima menit!" Seru Lisa, membuat Bima mengerutkan kening menatapnya. Tanpa mempedulikan Bima, Lisa mulai memoles bedak di wajahnya dengan cepat.
" Enggak per-,"
__ADS_1
" Diam!" Potong Lisa cepat, menjulurkan jarinya di bibir Bima untuk tidak berkomentar. Dan Bima hanya bisa diam, sambil memperhatikan Lisa yang mulai memakai lipstik.
Hanya tersenyum dan masih setia menatap kekasihnya yang ingin berpenampilan baik di hadapan ayahnya. Menyisir rambutnya, kembali menguncir kuda sedikit lebih ke atas dan melihat kembali ke kaca untuk melihat penampilannya.
" Pas!" Ucap Lisa, melihat penampilannya di kaca. Tidak terlalu buruk dari sebelumnya.
" Cantik?" Puji Bima, membuat Lisa mengerucutkan bibir dan menahan senyum malu di puji oleh kekasihnya.
" Lain kali bilang, kalau mau ngenalin calon mertua! Aku kan juga mau tampil sempurna di hadapan orang tua kamu." Gerutu Lisa, memasukkan kembali bedak dan lipstik ke dalam tas.
" Kamu sudah sempurna, dan gak perlu di sempurnakan lagi."
" Gombal!" Seru Lisa, membuat Bima tertawa kecil.
" Ayo? Orang tuaku sudah menunggu di dalam." Ajaknya, membuat Lisa mengangguk dan tersenyum.
Sedikit berdebar, saat melangkah keluar dari mobil untuk masuk ke dalam rumah, bertemu dengan orang tua Bima.
Ada rasa gugup dan juga takut. Entah bagaimana dirinya nanti akan di intrograsi. Atau nasibnya seperti dulu, saat ia pertama kali bertemu dengan orang tua yang menyukainya di masa lalunya. Di rendahkan dan di suruh untuk menjauhi putranya.
Genggaman tangan dari pria di sampingnya, membuatnya menatap manik hitam yang menenangkan hati. dengan kekasihnya mengangguk dan tersenyum, mengisyaratkan untuk tenang dan jagan takut.
Masuk ke dalam rumah, di sambut hangat dengan satu pria paruh baya dan dua remaja laki-laki dan perempuan yang juga tersenyum menatapnya.
" Bapak!" Gumam Lisa dalam hati, seperti ada yang aneh saat mendengarnya.
Bukankah seharusnya orang kaya dan terpandang memanggil orang tuanya papa, papi, dan dedy. Tapi ini, jelas Bima memanggil orang tua laki-lakinya dengan sebutan Bapak dan itu sama persis seperti dirinya dulu.
" Apa ini menantu bapak?" Tanya Pria tua di hadapannya.
" Iya." Jawab Bima tersenyum, dan Lisa segera melepaskan genggaman tangan Bima. Berjalan melangkah ke arah orang tua Bima, bersalaman mencium tangan pria paruh baya itu yang menyambutnya dengan senyum hangat dan membelai kepala Lisa.
Mendapatkan perlakuan hangat itu, membuat hati Lisa terenyuh. Sungguh, ini seperti dirinya mengingatkan kebersamaannya dengan mendiang bapaknya sendiri.
" Selamat datang di rumah bapak nak Lisa?" Ucapnya. " Ayo kita makan terlebih dulu, bapak lapar nunggu kalian dari tadi." Ajaknya, membuat Lisa tersenyum kecil dan mengangguk. Dan berjalan beriringan di ikuti Bima dari belakang bersama dua adik angkatnya.
" Mbak Lisa cantik mas." Puji Bunga.
" Iya, putih juga." Imbuh Rasya, membuat Bima menggelengkan kepala dan mengacak rambut Rasya.
__ADS_1
****
" Untuk apa kamu ke sini!" Sinis Nyonya Winda, melihat kedatangan menantunya di ruang tamu.
" Mama?" Sapanya berdiri dari duduknya. " Aku ingin bertemu dengan istriku Ma?" Imbuhnya lagi.
" Ada apa Nico?" Ucap Zellin, saat turun dari anak tangga dan menghampiri suami serta mamanya di ruang tamu.
" Zellin, ayo kita pulang." Ajak Nico.
" Zellin tidak akan kemana-mana, putriku akan tetap di rumah ini." Larang Nyonya Winda pada menantunya yang ingin mengajak putrinya ke luar rumah dan kembali ke kediaman Nico.
" Aku suaminya, dan Zellin harus pulang ke rumah ku."
" Suami!" Sinis Nyonya Winda. " Suami macam apa yang memanfaatkan istrinya hanya untuk kepentingan dirinya sendiri." Imbuhnya dengan tatapan tajam. Dan Nico sedikit terkejut.
" Kau sudah mengambil saham suamiku dan juga klaen besarnya! Hingga membuat suamiku hampir bangkrut. Dan kau juga menghianati putriku! Berselingkuh di belakangnya Hah!" Geramnya,
" Aku tidak mengambil saham papa mertua, papa mertua sendiri yang memberikannya padaku beserta klaen besarnya."
" Wah! Kau pintar sekali membalikkan fakta." Ujar Tuan Zain dari ambang pintu masuk rumah, mendengar perdebatan istri dan menantunya dari luar saat dirinya baru tiba.
" Papa?" Lirih Zellin dan Nyonya Winda bersamaan.
" Pa?" Gugup Nico, melihat mertua lelakinya ada di ambang pintu dengan tatapan tajam mengarah padanya.
" Kau bilang apa tadi! Saya yang memberikan kau saham dan juga klaen. Apa itu benar!" Tanya Tuan Zain berjalan mendekati menantunya. " Kau memang menantu yang baik, memuji diriku di hadapan istri dan putriku! " Imbuhnya tersenyum mengejek dan.
Plaakkk.
Satu tamparan mendarat keras di pipi Nico membuat dirinya sedikit oleng. Zellin sedikit terkejut dan Nyonya Winda tersenyum puas melihatnya.
Melempar map coklat ke arah Nico. " Surat perceraian kau dengan putriku!" Ucap Tuan Zein, membuat Nico melebarkan mata. dan menatap ke arah Zellin yang terdiam sambil meneteskan air mata.
.
.
.
__ADS_1
.
🍃🍃🍃🍃