
...Lebih suka kamu yang cerewet dan marah, karna diam mu membuatku gelisah dan takut....
.
.
.
.
Untuk pertama kali, meja makan semakin penuh dengan tambahnya kehadiran Bima yang ikut makan malam bersama dengan Ibu, Lisa dan para Art.
Sempat para Art merasa tidak enak hati, makan bersama dengan tamu Lisa. Memilih makan di meja dapur, tapi di larang oleh ibu Lisa, dan menyuruh mereka untuk bergabung makan malam bersama. Karna mereka juga sudah di anggap sebagai keluarga oleh ibu Lisa dan Lisa.
Ibu Lisa yang paling bahagia melihat Bima makan malam bersamanya, menyuruh Lisa untuk melayani Bima. Rasanya enggan melayani Bima, Masih ada rasa ramah kala mengingat dirinya di bentak oleh Bima. tapi tak ingin membuat ibunya tau, ia pun terpaksa melayani Bima, tanpa menatapnya.
" Cukup." Kata Bima, saat Lisa sudah menuangkan nasi ke dalam piringnya.
" Mau lauk apa." Datar Lisa, berada di samping Bima yang menatapnya tanpa Lisa mempedulikanya.
" Ayam saja." Jawab Bima, Hanya mengangguk, mengambil ayam dan juga sayur untuk Bima.
" Makasih."
" Iya." Jawabnya dengan dingin dan kembali duduk di samping ibunya yang sedari tadi memperhatikan dirinya melayani Bima dengan bibir yang tersenyum.
Bukan ibunya saja, tapi juga para Art diam-diam mencuri pandang melihat Lisa melayani seorang Pria yang tampan untuk pertama kalinya rumah majikannya terasa ramai. Membuat mereka sedang dan saling memberi kode senyum malu.
Kembali melayani ibunya, menyiapkan makanan di piring ibu dan menyuapi ibunya seperti biasa sebelum dirinya makan. Sudah terbiasa dirinya makan setelah menyuapi ibunya.
" Ma kanlah ber sama Li sa?" Pinta ibunya.
" Nanti saja buk?" Jawabnya lembut dan tersenyum, membuat ibunya tersenyum.
" Ma kan nak Bi ma?" Ajak ibunya.
" Iya." Jawabnya dengan senyum, untuk pertama kalinya. Dan Lisa tak memperdulikan senyuman itu.
Makan malam sederhana, kehangatan dalam meja makan terasa menyenangkan. Tapi tidak bagi Lisa, saat Lisa masih saja mengingat bentakan dari Bima dan juga amarah yang di perlihatkan jelas olehnya.
__ADS_1
Mungkin memang dirinya salah, tapi bisakah tak seperti itu dia membentaknya. Dirinya melakukan itu juga ingin membalas kejailan Bima, tapi tak seharusnya begitu Bima memarahinya.
Lebih memilih diam dan tersenyum paksa saat ibunya sangat senang sekali dengan Bima yang mau makan malam di rumahnya.
Selesai ke makan malam, ibu mengajak Bima di ruang keluarga bukan ruang tamu. Mungkin memang sang ibu sudah begitu suka dengan tamu pria Lisa.
Lisa duduk di samping ibu, dan Bima duduk di sofa tunggal dengan masih memperhatikan Lisa yang acuh padanya.
" Su dah, ke nal, Li sa, bera pa, La ma, Nak Bim? Tanya Ibu Lisa.
" Baru dua minggu ibu?" Jawab Bima.
" Li sa, anak yang ceroboh, ce rewet, suka ma rah-marah.Ta pi, se benarnya Li sa anak yang ba ik.?" Ucap Ibunya.
" Ibu?" Tegur Lisa, menatap tak suka pada ibunya yang memberitahu semua sifat tentang dirinya.
" Ja ngan terkejut ya Nak, dengan kela kuan Put ri ibu?" Ujarnya lagi.
" Iya?" Jawab Bima.
" Sudah malam buk, ibuk harus istirahat. Mas Bima juga harus pulang, besok ada pekerjaan penting." Kata Lisa, membuat Bima terkesiap dengan panggilan ' Mas' dari bibir Lisa.
" I ya." Kata Ibu. " Ma ka sih nak Bi ma, su dah mau makan ma lam ber sama ibu?" Imbuhnya, menatap Bima dengan senyum.
" Ja ngan sungkan un tuk da tang lagi." Ucap ibunya, seakan berharap Bima selalu datang ke rumahnya. Hanya mengangguk dan tersenyum.
Menyuruh suster Santi mengantarkan ibunya ke kamar, dan kembali berdua dengan Bima yang menatap kepergian ibunya menuju kamarnya.
" Sudah malam sebaiknya Tuan pulang, dan makasih sudah atas kehadiran Tuan." Kata Lisa, dengan tatapan dingin.
"Tuan?" Ulang Bima dalam hati, mendapat panggilan itu kembali dari bibir Lisa.
Rasanya seperti aneh, seperti tidak terima dirinya di panggil Tuan pada wanita di hadapannya.
" Maaf?" Ucap Bima, membuat Lisa mengerutkan kening dan menyunggingkan senyum sekilas.
" Saya juga minta maaf sudah membuat Anda marah." Kata Lisa. " Mari saya antar ke depan rumah." Ujarnya lagi, malas sekali membahasnya kala hati masih sedikit sakit.
Mendapatkan perlakuan seperti itu hanya bisa menghembuskan nafas berat dan berjalan di belakang Lisa menuju ke depan rumah.
__ADS_1
" Makasih makan malamnya." Ucap Bima.
" Iya." Jawab Lisa, kembali datar dan acuh.
" Saya pulang."
" Iya." Hanya mengangguk dan sedikit senyum, sungguh Lisa benar-benar masih marah dengan.
" Biar besok pagi, mobilnya di antar sama sopir. " Untuk pertama kalinya Bima mengucap panjang dengannya, Lagi-lagi Lisa hanya mengangguk dan sedikit tersenyum.
" Kau ma-,"
" Sudah malam, selamat malam." Potong Lisa, membuat Bima menghembuskan nafas berat.
" Selamat malam." Ucap Bima, dan berjalan menuju mobilnya. Menatap kepergian Bima dengan perasaan yang masih marah dan tak ingin lagi bertemu dengannya.
Entahlah kenapa dirinya bisa seperti ini! Meskipun dirinya pernah di bentak dan bertengkar pada pria atau wanita, dirinya tidak pernah menangis dan sesakit hati seperti ini. Justru dirinya melawan, dan membalas bentakan balik. Dan kenapa dirinya bisa diam dan sakit di bentak oleh Pria dingin yang sering kali menolongnya.
Berjalan menuju kamar, seperti biasa. dirinya suka menatap langit di depan jendela yang tebuka. Menatap langit malam, bersinar lebih terang akan bintang yang bertaburan.
dari sebrang jalan, mobil berhenti tepat mengarah pada rumah Lisa, seorang pria di dalamnya bisa melihat wanita yang sedang memandangi langit malam. Dengan dia yang merasa bersalah karna sudah membentaknya dan mengingat mata dia sendu itu menggenang, menahan tangisannya.
Terlihat jelas mata sendu itu sakit hati akan bentakannya, dan dirinya tak tau kenapa bisa marah hanya karna ponselnya di bawa oleh Lisa.
Mungkin, karna foto dari masa lalunya masih ada di ponselnya. Mungkin, karna dirinya takut jika ada yang melihat dan menghapus foto-toto yang ada di ponselnya.
Sulit melupakan masa lalu, sulit orang bilang untuk mencari yang baru. Sedangkan dirinya masih terbayang dengan cinta wanita yang sudah menghiasi hatinya di masa lalu.
Dan kini dirinya tidak tau, apa dirinya masih mencintainya atau tidak. Tapi hati ini sedikit masih ada rasa yang sulit sekali untuk menutupnya dan membuka lembaran baru.
Melajukan kembali mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota malam yang sangat sepi menuju rumahnya. Dengan pikiran kacau akan malam ini.
" Bapak? Lisa kangen pak." Ucap Lisa, menutup mata dengan setetes air mata yang membasahi pipinya.
Rindu dengan Ayah dan juga sakit dengan bentakan Bima.
.
.
__ADS_1
.
.🍃🍃🍃🍃