Nona Lisa

Nona Lisa
bar


__ADS_3

...Meskipun di kejar, tetap saja dia menghindar. Karna dia sudah nyaman dengan yang lain....


.


.


.


.


" Kamu kasih alamat rumahku ke dia?" Tanya Lisa pada sahabatnya di sebrang telpon.


Pagi hari dengan aktivitas padat, sambil bercerita tentang semalam dirinya mendapatkan tamu yang sangat mengejutkan baginya. Tamu yang mungkin tidak di inginkan, tapi masih saja dirinya terima dengan baik. Meskipun dengan wajah kebohongan dan kepalsuan untuk tetap tersenyum.


" Dia meminta dan memohon terus-menerus. pada aku." Jawab Mawar. " Mau gimana lagi, aku enggak tega lihatnya, dan selalu di teror." Imbuhnya lagi, mengingat Fahmi memaksanya dan berulang-ulang kali menelpon, mengirim pesan memohon padanya.


" Maaf!" Lirih Mawar, sedikit merasa bersalah dan tidak memberitahukannya pada Lisa. Dan itu semua karna suaminya. Entah apa maksudnya, harus mengasih alamat rumah Lisa pada Fahmi.


Menyebalkan.


" Tidak papa, lagian juga sudah terlanjur. Dia bekerja di sini." Ucap Lisa, sambil memainkan pena di tangannya dan bersandar di kursi kerjanya.


" Dia pindah?"


" Iya?" Jawab lisa, Sambil menghembuskan nafas berat. " Kamu tau." Tanyanya lagi.


" Dia bilang padaku." Ujarnya " Kamu masih marah dengan dia?" Tanya Mawar.


Menghembuskan nafas berat, kembali memainkan pena di tangannya. sambil menatap sendu tangan sedang mencoret-coret buku


" Sebenarnya aku enggak ada masalah sama Fahmi? Tapi, aku hanya malas saja kembali bertemu dengan orang tuanya, hanya karna dia." Lirih Lisa.


Bukan hanya Lisa, Mawar pun juga sama menghembuskan nafas berat. Ia tahu semua tentang orang tua Fahmi, rasanya juga tidak percaya orang tua Fahmi begitu sombong dan jahat merendahkan orang, seperti Lisa.


Sungguh, jika saja Lisa tidak bercerita waktu itu. Mungkin ia masih menganggap orang tua Fahmi sangat baik dan juga rendah hati. tidak akan membandingkan orang kaya maupun miskin yang akan menjadi pendamping putranya kelak.


Ternyata penilaiannya salah. Sungguh salah! wajah dan sifat sangat berbeda. Wajah yang terlihat kalem, tapi sifat sangatlah jelek.

__ADS_1


Tidak ada yang tau tentang kepalsuan seseorang hanya di lihat dari wajah.


" Bersikaplah seperti biasa, jangan terlalu kentara dengan sikap mu yang sekarang Lis. Kasian dia." Nasehat Mawar, mengingat bagaimana dulu mereka berteman sangat baik dan saling membantu, serta saling melindungi.


" Hmm, iya akan aku usahakan." Ucap Lisa, Rasanya ia juga salah memperlakukan Fahmi dengan ketus dan sedikit jahat.


Bukan maksud dirinya membalas dendam pada Fahmi karna perbuatan ke dua orang tuanya yang merendahkan dirinya. Hanya saja, sakit hati itu masih ada dan melekat di hatinya.


Ya, meskipun perlakuan orang tua Fahmi bisa membuat dirinya bangkit dan membuktikan jika dirinya sudah sukses serta sepadan dengan putranya. Walaupun hanya tamatan menengah atas.


" Aku tutup dulu, ada castamer datang." Ucap Lisa, dan mematikan panggilan serta manatap riski di ambang pintu yang memanggilnya tanpa suara.


Hanya mengangguk dan mulai berdiri untuk menuju ke castamer yang sudah datang.


****


Wanita itu menikah dengan orang kaya, mempunyai dua anak. Laki- laki dan perempuan. putranya bekerja di perusahaan ayahnya dan yang perempuan masih kuliah di universitas xxx."


" Mereka tinggal di kota ini juga dan perusahaanya juga bekerja sama dengan kita."


" keluarga mereka terlihat harmonis dan juga terbilang jauh dari kata gosip Tuan."


Segelas wine belum bisa membuat pikirannya tenang. Duduk di meja bar sendiri, tanpa pelayan dan tanpa teman. Menikmati sebotol wine putih memabukkan untuk menenangkan pikiran, tapi sayang masih saja ingatan demi ingatan kembali memutar di kepalanya.


Rasa marah, kecewa dan juga sedih menjadi satu dalam tumpukan hati dan otak yang hampir gila, kala diriny menerima kenyataan yang pahit.


Sungguh menyedihkan.


Andai saja pria tua itu tidak memberitahukannya, mungkin. Bima tidak akan seperti ini. Iya tidak akan tau kenyataan yang sesungguhnya. Ini Lebih pahit dari kata hinaan orang tua mantan.


Menyesakkan.


Dua, tiga, empat botol wine. mulai sedikit memberatkan kepalanya, mata memerah, tangan mengepal, menyandarkan kepalanya di meja bar. Tanpa sadar, air mata mulai turun membasahi pipinya.


Menangis untuk ke tiga kalinya. Seperti di tinggalkan ibu selama-lamanya dan juga melihat bapaknya menderita di dalam penjara. Tangisannya kembali lagi. Hanya menangisi kenyataan yang kejam.


Begitukah rasanya tidak di inginkan, di buang tanpa rasa bersalah, menelantarkan bayi yang masih memerah, di samping tempat sampah yang sangat menjijikkan. Hanya ada secarik kertas dan juga gelang emas putih peninggalan wanita itu.

__ADS_1


Menyakitkan.


Meremas rambutnya dengan dua tangan, mengusap air mata yang jatuh dan tersenyum miris meratapi nasibnya yang sangat menyakitkan seumur hidupnya.


Kembali menuangkan wine dalam gelas, meneguknya dengan kasar, meremas kuat gelasnya dan pecah, hingga mengenai telapak tangannya dan meneteskan darah segar.


Sakit luka di tangan tidak sebanding sakit hati yang paling dalam. di cabik-cabik hingga ke akar dan berdarah tanpa rasa sakit.


Tidak hanya itu, tangan Bima menyapu seluruh bar tander yang juga penuh dengan botol wine dan gelas-gelas. Dan terdengar suara-suara pecahan kaca berserakan ke seluruh ruangan.


" Kenapa harus pria ini! Kenapa Tuhan, kenapa!" Lirih Bima, mengusap wajah kasar dan kembali menyandarkan kepalanya ke bar tander.


Sungguh berat kenyataan yang pahit.


" Tuan?" Lirih pelayan tua, menghampiri Tuannya yang sangat rapuh dan menyedihkan di malam sunyi ini.


" Tangan Tuan berdarah?" Ucap pelayan, terkejut dan panik melihat telapak tangan yang mengalirkan darah segar dan menetes ke lantai.


" Saya tidak papa." Lirih Bima, berdiri dari duduknya, sempat berpegangan pada ujung meja bar.


" Tuan!" Ucap Pak Agus, dan kembali diam kala tangan Bima mengarah padanya.


" Saya bisa sendiri." tolak Bima, mencegah pelayan tua yang akan membantunya berjalan sempoyongan menuju ke kamarnya.


Menatap kepergian Tuannya yang sangat menyedihkan, dengan tangan berdarah segar menetes mengikuti langkah kakinya.


Ini untuk pertama kalinya, melihat Tuannya minum-minuman hingga mabuk dan kacau. Kemarahan untuk pertama kali, para pelayan melihatnya. Tak pernah Tuannya semabuk seperti ini, meskipun Tuannya sering kali ke ruang bar. Dan tak pernah melihat kemarahan Tuannya ataupun wajah terlihat sangat menyedihkan.


" Tuan Bima kenapa Pak?" Tanya pelayan wanita pada pak Agus. Juga melihat Tuannya yang kacau.


" Tidak papa, cepat bersihkan." Perintah pak Agus.


" Baik pak." Ucap pelayan wanita, dan mulai membersihkan ruangan yang berantakan bersama temannya.


Pak Agus segera keluar dari ruang bar, menuju ke tempat yang sepi dan menghubungi teman Tuannya, untuk memberitahukan apa yang dirinya lihat saat ini. Dan mulai melangkah menuju kamar Tuannya untuk melihat kondisi Bima saat teman Bima menyuruhnya untuk mengawasinya.


.

__ADS_1


.


.🍃🍃🍃🍃


__ADS_2