Nona Lisa

Nona Lisa
menyentuh tangannya


__ADS_3

...Mata itu seperti elang, dingin dan tajam. Tapi tersirat hati yang baik....


.


.


.


.


Dua wanita saling menghembuskan nafas lega dengan Lisa melepaskan cengkramannya tangannya dari sang pelayan yang sedang dirinya tolong.


Menghadap ke arah pelayan, Lisa tersenyun dan lega bisa membantu pelayan yang di hina oleh oleh orang-orang angkuh yang ingin memerasnya karena tak keberdayaannya.


" Ada apa ini!" Tanya pria menghampirinya, yang kemungkinan manajer restoran. membuat Lisa dan pelayan menatapnya serta pria dingin yang ingin pergi pun berhenti dan kembali untuk melihatnya.


" Kenapa ada keributan, apa yang kamu perbuat." Tuding manajer hotel pada pelayan, yang lagi-lagi menunduk karena di marahi oleh atasannya.


" Kenapa bapak langsung menuding mbak ini, apa bapak enggak bisa tanya baik-baik perkaranya terlebih dulu!" Kata Lisa, seakan ia paling benci dengan status tinggi pekerjaan semena mena dengan bawahannya.


" Maaf mbak!" Menunduk hormat kala dirinya merasa tak sopan memarahi pelayannya di hadapan para pengunjung. Dan menatap pria dingin yang ada di belakang Lisa, yang entah kenapa nyalinya mulai menciut.


" Pak manajer kemana saja! anak buahnya di hina dan permalukan di tempat umum pak manajer kok tidak ada."


" Saya se-."


" Sedang apa!! Sedang ngecek barang! Atau sedang merangkap laporan. Alasan saja!" Saut Lisa cepat, saat dirinya tau akan mendengar alasan yang bagus agar tidak di salahkan. Dan manajer itu menggelengkan kepala cepat menatap Lisa.


" tidak melerainya, tidak mencari solusi untuk mengakhiri pertengkaran malah menghilang dan sekarang sudah selesai pak manajer keluar marah-marah sama mbak ini.!" Imbuh Lisa lagi.


Mengingat saat dirinya akan menolong pelayan dari wanita angkuh itu, Lisa menyuruh pelayan lain untuk memanggil manajer agar bisa melerai dan mencari solusi untuk mengakhiri hinaan dari wanita angkuh itu.


" Tidak begitu Mbak."


" Tidak begitu apanya!" Kata Lisa, seakan dirinya seperti bos saja yang memarahi pekerjanya. Padahal dirinya hanya seorang pengunjung, Menyadari sikapnya keterlaluan Lisa menghembuskan nafas berat, mengontrol emosi dan menutup mata sesaat.

__ADS_1


" Maaf, saya membentak bapak." Lirih Lisa, membuat pelayan dan managernya menatapnya. Yang marah-marah kini melunak dengan kata maaf.


" Mbak ini tidak salah pak, ada anak kecil yang menyenggol mbaknya dan membuat minuman itu tumpah di meja makan ini. Terus mbak ini di marahi dan di suruh ganti rugi tiga kali lipat, saya dan-." Menatap ke sebelahnya.


" Kemana dia?" Lirihnya, melihat manajer dan pelayan yang menunjuk dengan kepala di belakangnya, dan membuat dirinya memutar badan dan manatap pria dingin yang ada di belakangnya.


" Nah! Ini." Ucapnya dengan senang, meraih tangannya dan menggeretnya untuk ke sampingnya.


" Saya dan Mas ini yang menolong mbak ini! " Jawabnya bangga karena sudah menolong pelayan dari wanita angkuh.


" Iya mbak, terima kasih sudah membantu anak buah saya." Jawab menejer, tak mau lagi berdebat dengan Lisa yang berada di samping pria dingin itu.


" Intinya mbak ini jangan di marahi ya pak! jangan di pecat, kalau sampai di pecat, saya akan demo sama yang punya restoran ini." Ancam Lisa, melindungi pelayan agar tidak di pecat dari pekerjaannya. Sungguh pelayan itu sangatlah membutuhkan pekerjaan dan uang untuk biaya hidup keluarganya, hingga dia rela di hina dan di perlakukan kasar pada pelanggan yang angkuh.


" Iya mbak." Jawabnya. " Kalau begitu saya permisi dulu." Ujarnya dan mengode pelayan untuk ikut dengannya.


" Terima kasih mbak sudah menolong saya." Ucap pelayan wanita, merasa terharu masih ada yang mau membantu dan menolongnya.


" Sama-sama? semangat ya yang kerja, jangan sedih, harus lawan kalau enggak salah. jangan takut." Ucap Lisa, membuat pelayan itu menangguk dan tersenyum. Dan pergi dari hadapan Lisa bersama manajernya.


" Hah! Leganya!!" Ucap Lisa dengan senyum menatap pelayan itu pergi. Dan tersadar saat tangannya memegang sesuatu.


" Maaf!" Lirih Lisa, dan pria dingin itu membenarkan jasnya dan tak lagi menatap Lisa.


" Menakutkan!" Gumam Lisa dalam hati.


Menatap sekilas pria dingin pada Lisa dan berjalan meninggalkannya tanpa mengucapkan sepatah kata apapun, hingga Lisa mendesah tak percaya di tinggal pergi tanpa pamitan.


" Gak perlu bilang makasih juga, percuma dianya sombong." Gumamnya mengerucutkan bibir dan berjalan ke arah mejanya.


" Tolong di bungkus saja mbak." Pinta Lisa, saat pelayan itu membawa pesanannya ke tempatnya. Rasanya sudah tidak mood makan lagi entah karena pria dingin atau karena menolong pelayan restoran.


" Iya mbak." Jawab pelayan kembali dengan membawa makanan Lisa untuk di bungkus.


" Pria itu benar-benar menyebalkan!" Masih menggerutu tentang pria dingin. " Tapi! Ganteng juga." Imbuhnya sambil sanyam senyum sendiri mengingat wajah pria dingin itu.

__ADS_1


Menggelengkan kepala, menghapus imajinasi wajah pria dingin dari kepalanya, serta tak ingin lagi mengingatnya.


Membawa kantong plastik makanan dan boneka membuat dirinya sedikit kesulitan hingga terpaksa Lisa menelpon Riski untuk menemui dirinya di restoran.


" Mbak ini gak enakin orang kencan saja!" Ucap Riski, datang dengan wajah cemberut dan protes akan Lisa yang menyuruhnya untuk datang ke restoran hanya untuk menyuruhnya bawa kantong plastik makanan begitu banyak.


" Ya sudah sana pergi! Pulang naik angkot. Enggak ada uang lembur hari ini." Ancam Lisa.


" Eh!" Pekik Riski. " Jangan lah mbak!!" Ujarnya lagi, tidak tau jika Lisa mengajaknya ternyata di hitung lembur dan mendapatkan uang malam ini.


" Rela ninggalin dia yang penting dapat uang lemburan." Kata Riski, senang jika dirinya akan mendapat uang jajan dari Lisa.


Ya, lebih baik mengejar uang terlebih dulu, daripada mengejar cewek yang belum tentu menerimanya, karena modal tidak ada.


Senang Riski mendapatkan uang lemburan dari Lisa, lumayan jika dirinya mendapatkan dua ratus ribu bisa di tabung dan bisa membeli apa yang di inginkannya. Tak perlu meminta orang tua yang sudah menua.


Ya, Lisa sudah menganggap Riski seperti adiknya sendiri karena Riski juga selalu ada dan membantu Lisa. Di saat dirinya membangun usaha dari bawah dan berjuang bersama dengannya.


Sama seperti Lisa, dirinya juga menganggap Lisa kakaknya. Karena Lisa, sudah mengubah hidup keluarganya di desa dan tak lagi di pandang sebelah mata oleh para tetangga yang meremehkannya tak akan mampu bekerja di kota mengubah nasibnya.


" Teman cewek kamu gimana?" Tanya Lisa, yang mulai kepikiran akan teman kencan riski. Berjalan bersama menuju tokonya.


" Aku tinggal di atas mbak." Jawabnya.


" Ya sudah habis ini kamu balik sana."


" Enggak ah mbak! capek. Mau makan saja." Kata Riski, Kini membuat Lisa menggelengkan kepala tidak bertanggung jawab sama sekali meninggalkan cewek sendirian.


.


.


.


.🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


Hayoo!! penasarankan siapa pria dinginnya!!😁😁.


Jangan lupa vote dan like ya kak.😘😘


__ADS_2