
...Terasa seperti kopi hitam tanpa gula. Pahit, tidak manis, bila tidak ada kamu....
.
.
.
.
" Malam?" Tulis pesan dari wanita yang sedang di tunggunya sejak pagi hingga malam hari. Dan sekarang baru mengasih pesan untuknya, yang sedari tadi terasa resah serta pikiran sedikit tidak konsentrasi dengan pekerjaan.
" Malam juga, sudah sampai?" Tanyanya langsung, ada rasa senang dan juga sedikit kesal harus menunggu kabar dari wanita yang pulang kampung.
" Sudah tadi siang sampai rumah, Maaf baru bisa kabarin kamu?" Jawab Lisa, sedikit menyesal baru mengabari dan ingat tentang pria yang sedang menunggunya dengan galau.
Tidak ada maksut untuk melupakan, memang dirinya sedang sibuk dengan rumah lamanya, menyapa kehadiran para tetangga yang datang ke rumahnya dan juga merapikan pakaiannya ke dalam lemarinya.
" Kamu sudah pulang kerja?" Tulis pesan Lisa, Dengam Bima yang mulai tersenyum.
" Barusan pulang. Lagi apa?" Tanya balik Bima.
" Lagi mikirin kamu." Gombal Lisa, yang semakin membuat Bima melebarkan senyumannya dan dengan cepat memecet tombol vidio call menghubungi wanita yang sedang menggombalinya.
Dan yang sedang di telpon terperanjat melihat ponselnya berbunyi, serta membulatkan mata saat orang yang di gombalinya mencoba vidio call dengannya.
" Eh!! dia vidio call." Gumam Lisa, menggigit kukunya merasa resah dan malu Bima menghubunginya.
" Kenapa gak di angkat." Tulis pesan Bima.
Bagaimana mau angkat telpon, tangan saja rasanya gemetar, wajah sudah memerah seperti kepiting rebus. karna niatnya ingin menggoda Bima, dirinya yang merasa kini menjadi salah tingkah.
Malu!
" Aku belum mandi!" Balas Lisa.
" Apa hubungannya?" Tanya balik Bima, mengerutkan kening melihat isi pesan Lisa.
" Malu tau!! Wajahku kan jelek."
__ADS_1
" Siapa bilang kamu cantik!" Kata Bima, membuat Lisa mengerucutkan bibir. Pria yang sedang berchat dengannya tidak ada manis-manisnya sama sekali. Menggoda atau menggombal pun tidak pernah, justru membuatnya semakin kesal saja.
Tangan sudah geram, ia pun vidio call balik nomer Bima. Dan tanpa menunggu lama, ia pun mulai dengan kode cerewetnya.
" Bisa gak sih jadi cowok itu romantis dikit, gombalin kek, atau apa gitu. biar si cewek jadi tersanjung melayang tinggi ke udara! Bukan di jatuhkan ke air laut. Aku ini enggak jelek lho, aku juga gak cantik, tapi manis. Ya meskipun hidungku gak terlalu mancung!" Cerocos Lisa dengan wajah cemberut sambil menatap layar terpampang jelas pria tampan sedang menahan tawanya.
" Apa!" Pelotot Lisa, hingga Bima tak bisa lagi menahan tawanya.
" Bima!!" Rengek Lisa, memonyongkan bibirnya semakin maju.
" Kenapa telpon, katanya belum mandi?" Tanya Bima, membuat Lisa sedikit terkejut.
" Eh!!" Baru tersadar jika itu pancingan Bima agar dirinya menelpon balik. " Ih, nyebelin!" Imbuhnya lagi dan tersenyum karna Bima tertawa dengan tingkahnya. Bima selalu bisa membuat dirinya terpancing dan juga selalu bisa membuatnya malu sendiri.
" Sudah makan?" Tanya Bima.
Aaahh!! Romantisnya.
Di beri perhatian oleh pria yang sedang dirinya telpon. Membuat dirinya kembali melayang tinggi, ini pertama kalinya Lisa di perhatikan seorang pria jauh darinya. Kalau Riski jangan di tanya, setiap hari dia menawari makanan, tapi ujung-ujungnya ada maunya.
Menyebalkan.
" Hmm sudah, kamu sudah makan?" Tanya Balik Lisa, rasa ada malu dan juga hati berbunga-bunga.
Merasa canggung kembali, seperti ingin mengobrol lama, bercerita apa saja. Tapi bibir terasa keluh untuk berucap. Hanya mata yang saling berpandang dan saling mengisyaratkan isi hati, sulit untuk di ungkapkan atau malu untuk mengungkapkan
" Sudah malam, sana tidur. Besok kerja." Ucap Lisa, terasa berat sebenarnya ingin mengakhiri vidio call bersama Bima. Jika tidak di akhiri, jantung merasa sudah tidak aman dan wajah sudah memerah seperti tomat.
" Hmm, matiin." Perintah Bima.
" Kamu saja yang matiin." Ujar Lisa, membuat Bima tersenyum kembali. Sama seperti wanita yang menelponnya, dirinya terasa berat untuk mengakhiri vidio call.
" Ya sudah, selamat malam."
" Selamat malam juga" Ucap Lisa, tersenyum hangat sebelum mengakhiri panggilannya. Dan ternyata dirinya yang lebih dulu mematin panggilan, tanpa di sengaja.
****
" Selamat malam pak Max?" Sapa ramah bapak Yoga, pemimpin cabang salah satu perusahaan Bima di kota xxx.
__ADS_1
" Selamat malam pak Yoga." Sapa balik Max, berjabat tangan dan terseyum.
" Di mana Tuan Bima pak Max." Tanya pak Yoga.
" Tuan Bima tidak bisa hadir, beliau sedang banyak pekerjaan. Dan saya di suruh beliau untuk menggantikannya." Jawab Max, membuat Pak Yoga mengangguk mengerti. Ada rasa sedikit kecewa, saat ia tidak bisa mengenalkan putranya pada Bima.
" Tuan Bima kirim salam buat Anda." Imbuh Max.
" Terimakasih, salam kembali untuk Tuan Bima pak." Jawab Pak Yoga, Max hanya mengangguk dan tersenyum.
" Perkenalkan pak Max ini istri dan putra saya yang baru saja lulus kuliah di inggris." Ucap Pak Yoga, mengenalkan istri dan anaknya pada kepercayaan Bima. Dengan bangga karna sudah menyekolahkan putranya hingga tinggi.
" Fahmi prayoga." Ucap putra pak yoga, berjabat tangan dengan Max.
" Selamat atas kelulusannya." Kata Max.
" Terima kasih pak?" Jawab Fahmi tersenyum.
" Putra pak Yoga mungkin bisa bekerja di salah satu perusahaan kita, dengan posisi yang bagus. secara putra bapak lulusan terbaik di universitas inggris." Saran Max pada pak Yoga.
" Apa bisa pak Max." Tanya pak Yoga, seperti senang mendapatkan harapan putranya masuk di perusahaan terbesar dengan posisi yang bagus.
" Bisa, biar saya nanti mencoba bilang pada Tuan Bima. Untuk merekrut putra pak Yoga." Kata Max. Membuat pak Yoga sangat senang.
" Terima kasih pak Max."
" Jangan berterima kasih dulu Pak." Larang Max. " Kalau begitu mari kita mulai acaranya." Imbuhnya lagi membuat Pak Yoga mengangguk dan mengikuti ajakan Max.
Ya Max datang di pesta cabang perusahaan kota xx menggantikan Bima, perusahaan pertama yang di dirikan Bima. Beberapa hari yang lalu Asisten Bima mengabari Max untuk menggantikan Bima datang ke cabang perusahaan kota xx, di mana Bima sangat sibuk sekali dengan perusahaan yang lain. Kota di mana Lisa pulang kampung, tapi sayang Bima lupa akan hal itu, karna pikirannya saat ini hanya tertuju pada Lisa dan juga pekerjaan.
Pak Yoga mengenal Bima sangat baik, dan tau akan status Bima yang mempunyai perusahaan tempatnya bekerja. Dirinya juga salah satu orang kepercayaan Bima dan menyembunyikan statusnya dari karyawan lainnya.
Pak Yoga sangat terinspirasi dan sangat senang dengan anak muda seperti Bima yang sukses hingga mempunyai perusahaan sendiri. Di bangun dari bawah dan berkembang pesat hingga besar serta jaya menyaingi perusahaan lain.
Dan itulah ia ingin sekali putranya bisa mencontoh Bima, anak muda berprestasi sejak dini. Agar bisa bekerja, di tempatkan jabatan tinggi serta membanggakan ke dua orang tuanya.
.
.
__ADS_1
.
.🍃🍃🍃🍃