Nona Lisa

Nona Lisa
pantai malam


__ADS_3

...Biarkan jari ini menyatu bersama jari mu, saat kita berjalan bersama di keramaian malam....


.


.


.


.


" Enak kan?" Tanya antusias Lisa, duduk berhadapan dengan Bima di tempat lesehan malam warung sego sambel.


" Hmm, lumayan." Jawab Bima, saat ia sudah mulai mencicipi nasi dalam piringnya.


" Ya karna punya kamu enggak pedas, Coba punyaku?" Kata Lisa, menyuapi Bima tanpa sendok. dengan Bima menerima baik suapan Lisa yang belum tersentuh sama sekali makanannya.


" Hhmm, pedas sekali!" Seru Bima, mencicipi makanan yang di pesan Lisa sangat pedas baginya. meneguk air botol hingga setengah dan masih terasa pedas di bibirnya.


" Jangan makan pedas-pedas!" Ucap Bima, melihat sambal yang di pesan Lisa begitu pedas dari pada punyanya.


" Ini enggak terlalu pedas."


" Enggak terlalu pedas bagaimana! Ini pedas, gak baik buat lambung." Tukas Bima.


" Kamu enggak suka pedas?" Tanya Lisa, menatap lekat Bima yang meneguk air minum kembali.


" Enggak terlalu." Jawab Bima, mengambil piring Lisa dan menggantinya dengan punyanya.


" Eh!"


" Makan yang ini saja." Perintah Bima, menyingkirkan sambal dan memakan punya Lisa, meskipun sambal sudah di singkirkan masih tetap saja kepedesan.


Lisa yang melihatnya pun hanya bisa mengerucutkan bibir, makanan yang seharusnya ia makan malah di makan oleh Bima dan di gantikan punya dia yang tidak terlalu pedas. tersenyum kala melihat keringat membanjiri wajah Bima. Hingga dirinya mengusap Dahi Bima dengan tangan kirinya, membuat Bima menatapnya dan tersenyum saat ia di perlakukan manis pada wanita di hadapannya.


" Jangan di terusin kalau pedas?" Larang Lisa merasa kasihan melihat Bima kepedasan, dan menyuapi kembali Bima dengan makanan Bima yang di tukar olehnya.


" Kita makan berdua." Ucap Lisa, dan menyuapi dirinya.

__ADS_1


beruntung dirinya memilih tempat di ujung yang tidak terlalu ramai dan longgar hingga leluasa melakukan apapun tanpa risih di pandang orang yang mungkin melihat keuwukan mereka.


Memang makanan yang di pesan Bima tidak terlalu pedas, Mungkin Bima tak suka dengan pedas atau tak terbiasa makan-makanan pedas atau mungkin dirinya trauma dengan makanan pedas. Tapi jika trauma tidak mungkin Bima mau memakan punya Lisa.


Seperti anak kecil, menerima suapan dari tangan Lisa tanpa sendok. Mengajak makan untuk pertama kali, di perhatiin sebaik mungkin dan di suapi dengan lembut. Tidak ada paksaan dan juga tekanan dari satu pihak, semua real kemauan mereka sendiri.


Tanpa sadar atau memang sudah terbiasa mulai nyaman.


Selesai makan dan membersihkan tangan, Bima pergi ke kasir, membayar makanan dan kembali ke tempat duduk Lisa untuk mengantarnya pulang.


" Kita ke pantai dulu yuk." Ajak Lisa, membuat Bima mengerutkan kening sebelum menjalankan mobil.


" Sebentar saja?" Pinta Lisa dengan senyum, hingga Bima mengangguk saat melihat jam tangan belum terlalu malam dan menjalankan mobilnya menuju pantai tak jauh dari kota.


Pantai malam hari, tidak terlalu sepi. Masih ada beberapa sepasang kekasih menikmati pantai di malam hari. terlihat gedung-gelung yang menjulang tinggi dengan lampu menyala. Pantulan sinar bulan menyinari lautan gelap sedikit terang dan berwarna keemasan.


Menghirup udara pantai di pinggiran kota, merasakan angin berhembus tidak terlalu kencang. Suasana romantis bagi para pasangan kekasih.


" Tempat yang tenang di malam hari." Gumam Lisa, melihat ombak tak terlalu besar menerjang pasir putih.


Dia memang gadis sembrono!


" Hah! Enak sekali airnya." Ucap Lisa, saat ombak menerjang kakinya yang telanjang.


" Ayo!" Ajak Lisa, melihat Bima yang masih di tepi pantai tanpa mau mengikutinya.


" Ayo ikut!" Ajaknya sekali lagi, menghampiri Bima yang tak mau bergerak sama sekali dan menarik tangannya untuk ikut bersamanya.


" Tunggu sebentar?" Ucap Bima, Melepaskan sepatu kerjanya mengikuti Lisa yang tidak memakai alas kaki dan berjalan beriringan bersamanya.


" Jangan terlalu menengah, ombaknya sedikit besar." Kata Bima, menarik tangan Lisa yang akan bergerak sedikit menjauh darinya.


Berdecak, cemberut saat di larang oleh Bima dan di tarik tangannya untuk tidak terlalu menengah. padahal dirinya ingin sekali membasahi seluruh kakinya.


" Kamu suka ke sini?" Tanya Bima.


" Iya, kalau lagi ingin nenangin pikiran saja." Jawab Lisa, memainkan kakinya sambil menendang ombak air.

__ADS_1


" Kadang lucu ya, ingin nenangin diri tapi melihat orang pacaran merasa iri." Kata Lisa.


menatap sepasang kekasih sedang bermesraan di pinggir pantai. Duduk berdua, dengan wanita menyandarkan kepala di bahu pria dan saling menggenggam tangan.


" Bukannya tenang, malah meradang! Yang tua jadi obat nyamuk." Ujarnya lagi, tertawa miris meratapi dirinya yang selalu saja melihat sepasang remaja bermesraan dan adegan sangat menjengkelkan.


Bima juga melihatnya, hanya menggelengkan kepala, melihat anak remaja jaman sekarang sudah berani seintim itu di tempat terbuka, yang siapa saja pasti melihat adegan mereka.


Lisa yang geram akan anak remaja jaman sekarang begitu liar dan juga sangat memalukan, dengan cepat mengambil batu karang yang terdampar tidak jauh dari pandangannya.


Hanya melihat dan mengerutkan kening, kala Lisa mengambil batu karang dan terkejut saat wanita itu melemparnya ke arah pasangan remaja hingga mengenai kepala cowok yang berciuaman dengan kekasihnya.


" Woy siapa! Sialan!!" Teriak cowok remaja sedangkan sang gadis sedikit takut karna ketahuan oleh orang sedang berbuat mesum.


Sekali lagi, Lisa melemparkan batu karang ke arah sepasang remaja hingga mereka takut dan memilih pergi dari tempatnya duduk.


Bima yang hanya melihat, cuma bisa tersenyum dan menggelengkan kepala. Melihat tingkah Lisa yang jail, dan memang harus seperti itu. Melempar batu pada pasangan remaja yang sedang mesum di tempat sepi tengah malam. Untuk mengurangi remaja yang nikah di masa dini.


" Sukurin! Biar kapok tu bocah." Geram Lisa, puas karna sudah berhasil mengusir sepasang kekasih remaja di tengah malam. Dan tertawa saat ia sadar telah melempar batu karang dan mengenai kepala remaja cowok ingusan.


" Sudah puas tertawanya. Hmm?" Ucap Bima berada di belakang Lisa.


" Puas banget!" Seru Lisa, berbalik menatap Bima " Jaman anak sekarang kalau pacaran ngalah-ngalahi orang dewasa saja. Aku saja gak pernah seperti itu." Imbuhnya lagi, entah curhat atau hanya lepas kejujuran saja kala dirinya memang tak pernah melakukan adegan kiss bibir.


" Yang kemarin-kemarin cium saya itu siapa?" Pancing Bima.


" Aku! Dan itu pertama kali aku nyium cowok." Jawab Lisa, membuat Bima tersenyum dan Lisa membulatkan mata tersadar dengan pancingan Bima.


" Apaan sih!!" Seru Lisa memukul lengan Bima yang tak bisa menahan tawanya, kala melihat pipi merah merona Lisa menahan malunya.


.


.


.


.🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


__ADS_2