
...Memang sudah berubah, tapi bukan berarti aku membenci. Hanya karena satu ucapan....
.
.
.
.
" Di tunggu Mas, mbak Lisa mungkin sebentar lagi pulang." Ucap Bik Imah, membuat Fahmi mengangguk dan berjalan duduk di kursi ruang tamu.
Bik imah sudah kenal dengan Fahmi, mungkin bik Imah pernah mendengar cerita Santi tentang Fahmi. Mangka dari itu ia menyuruh pria muda masuk ke dalam rumah untuk menunggu Lisa. Sebenarnya Bik Imah juga tidak tau Lisa akan pulang atau tidak, tapi saat memberanikan diri menelpon Lisa. Lisa sedang ada di perjalanan pulang, dan menyuruhnya untuk melayani tamunya.
Rasa hati berdebar dan senyum tidak pernah pudar kala ia sudah siap memberi kejutan untuk Lisa. Rasanya tidak sabar ingin sekali melihat Lisa dan juga jawaban wanita yang di tunggunya sekian lama.
Sungguh, ia tidak akan takut menikah muda. Walaupun dirinya masih terbilang baru mendapatkan pekerjaan. Fahmi yakin dan sangat yakin Lisa akan menerimanya. Karna dia pernah bilang, jika dia juga mencintainya.
" Fahmi?" Sapa Lisa, berjalan menghampirinya dengan tersenyum. meskipun sebenarnya ia tidak tau kenapa Fahmi ingin bertemu dengannya lagi.
" Lis?" Sapa balik Fahmi dengan senyum dan berdiri dari duduknya.
" Sudah lama?"
" Tidak, barusan." Jawab Fahmi, membuat Lisa mengangguk dan menyuruhnya untuk duduk kembali.
" Ada Apa? Sepertinya penting ingin bertemu." Tanya Lisa. Saat ia menerima pesan Fahmi, kala dia ingin bertemu dengannya dan menanyakan keberadaannya.
" Aku ingin menga-,"
" Lisa." Suara bariton memecahkan rencana Fahmi, kala pria dewasa itu masuk ke dalam rumah Lisa.
" Pak Bima?" Gumam Fahmi dalam hati.
" Bima?" Ucap Lisa, berjalan mendekat ke arah Bima meninggalkan Fahmi yang mengerutkan kening menatap kehadiran bosnya di rumah Lisa.
Tunggu, Bima tau rumah Lisa dan masuk ke dalam rumah Lisa begitu saja tanpa permisi pada penjaga rumah. Dan kenapa para pekerja Lisa seakan menghormatinya.
Apa selama ini mereka begitu dekat, atau memang sangat dekat. Hingga Lisa yang melihat Bima tersenyum manis padanya.
Dan tatapan itu!
Itu tidak boleh terjadi.
" Pak Fahmi." Ucap Bima, membuat Lisa sedikit Terkejut. Bagaimana Bima bisa mengenal Fahmi, karna mereka belum pernah bertemu sebelumnya.
" Kamu kenal?" Tanya Lisa.
" Dia bekerja satu kantor dengan aku." Jawab Bima, membuat Lisa mengangguk. Dan terkejut saat sadar Bima bekerja satu kantor dengan Fahmi.
__ADS_1
" Kalian satu kantor!" Seru Lisa, bergantian menatap Fahmi dan Bima.
" Iya, pak Bima atasan aku Lis."
" Oh!!" Ucap Lisa, mengangguk-anggukkan kepala.
" Selamat malam pak." Sapa Fahmi.
" Malam, pak Fahmi." Jawab Bima.
Duduk bertiga, suasana sangat panas dan canggung untuk memulai percakapan. Persaingan sengit sepertinya akan di mulai, dari tatapan dua pria tidak ada yang mau akan mengalah.
Tapi Bima justru bersikap tenang, tidak sama sekali terusik dengan Fahmi yang sering kali menatapnya. Seakan rencana Fahmi berantakan seketika.
" Tadi mau bilang apa?" Tanya Lisa, memecah suasana terlebih dulu. " Di minum dulu Fahm." Imbuhnya lagi, menawarkan teh hangat yang baru saja di buat oleh Bik Imah.
" Aku ingin mengajak kamu keluar." Terang Fahmi, to dirinya tidak peduli dengan Bima. Karna kini dirinya bukan berada di kantor, dan ini sudah jam bebasnya untuk tidak menjadi karyawan sepulang dari kantornya.
" Keluar?" Ulang Lisa.
" Iya." Jawabnya sambil mengangguk.
Mengalihkan pandangannya kepada Bima, masih terlihat tenang, datar tanpa mengucap sepatah kata pun. Meskipun mendengar Fahmi mengajaknya keluar jalan-jalan malam.
" Mau kemana?" Tanya Lisa, menatap Bima berdiri dari duduknya di ikuti Fahmi yang juga menatapnya.
Fahmi tercengang, saat Bima berjalan santai menuju lantai atas tanpa persetujuan tuan rumahnya. Sedangkan Lisa hanya mengerutkan kening.
" Lisa?"
" Hmm, iya." Kembali menatap Fahmi.
" Pak Bima siapa kamu."
" Dia teman aku." Jawab Lisa. " Kenapa?"
" Sudah lama kenal."
" Iya, Bima sering menolong dan bantu aku." Jawabnya tanpa ragu. Memang Bima sering membantunya, tapi tidak mengenalnya begitu lama.
Dirinya tau, Fahmi pasti terkejut dengan kehadiran Bima dan berjalan ke dalam rumahnya seperti biasa. Tidak ada rasa ragu untuk melangkahkan kakinya. Karna pemilik dan pekerja rumah sudah mengenal baik pria dewasa itu.
teras balkon.
Duduk tenang menikmati angin dan langit malam sambil menghisap sebatang rokok yang menenangkan pikirannya.
Sejenak ia marah, karna bawahannya mengajak jalan wanita yang di sukainya. Bukan tidak bisa melarang, hanya saja ia tidak mau melakukannya. Bukan takut, tapi tepatnya tidak ingin mengekang wanita yang di sukainya. untuk berjalan dengan siapa saja karna statusnya dirinya dan Lisa belum jelas.
Ingin menikahinya, tentu saja ingin menikahinya. Tapi bukan cara memaksa, dan biarkan dulu ini mengalir seperti pada masanya orang berpacaran. Menjalin kasmaran dan saling mengenal satu sama lain. Karna dirinya juga belum sangat mengenal Lisa lebih dalam.
__ADS_1
Kembali menghisap rokok, membuang asap melalui bibir dan membuang putung rokok ke dalam asbak.
Entah, sejak kapan ada asbak di dalam rumah Lisa dan sudah ada di atas meja balkon tempatnya untuk bersantai menenangkan diri.
Tersenyum kecut melihat mobil Fahmi keluar dari rumah Lisa. Menatap jam tangan belum terlalu malam, mungkin Lisa sedang bersama Fahmi dan mau di ajak keluar oleh karyawannya.
Mengecewakan.
Berharap wanita itu menolak, tapi apa yang terjadi ternyata!
Cih!
" Sudah habis berapa batang rokok!" Suara lembut wanita dari sampingnya, membuat Bima menoleh dan menatapnya.
Seulas senyum simpul tersembunyi di balik bibirnya. Hanya senyum kecil, tapi masih terlihat jelas oleh Lisa. Menghampirinya dan duduk di sebelahnya, hingga dia mau tidak mau mematin batang rokok yang hanya tinggal setengah saat Lisa duduk di sebelahnya.
" Enggak jadi pergi?" Tanya Bima, tanpa mau menatap Lisa.
" Bukan enggak mau sih!" Memberi jeda, hingga Bima memicingkan mata menatapnya. " Hanya saja, ada hati yang harus di jaga." Imbuhnya lagi, sambil tersenyum manis ke arah Bima.
Salah tingkah.
Dan senyum mengembang di bibir Bima, tangannya pun merangkul bahu Lisa, membawanya untuk bersandar di bahunya.
Terasa damai.
" Terima kasih." Ucap Bima, sambil mengusap rambut Lisa, dan menatap lurus langit malam.
" Untuk!" Lirih Lisa, ikut hanyut dalam usapan tangan Bima.
" Sudah mau menjaga hati, yang tidak mau kecewa." Jawabnya.
" Memang siapa yang kecewa." Tanya Lisa, mendongakkan mata, untuk melihat indahmya pahatan wajah yang sempurna.
" Aku." Jawab Bima, dan menundukkan kepala menatap Lisa.
Seulas senyum menghiasi bibir Lisa dan Bima, tidak ada yang mau mengungkapkan isi hati, tapi tau akan arti dari tatapan mata. Kembali meluruskan mata, menikmati semilir angin berdua dengan gemuruh hati yang membahagiakan.
Biarkan malam ini dua anak manusia menikmati kencan pertama. yang akan seterusnya untuk mereka lakukan sepanjang hari, tanpa canggung dan tanpa ragu untuk meneruskan ke jenjang yang lebih bahagia.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃
__ADS_1