
" Mbak Lisa sudah terkenal!! Wiihh! Jadi artis dadakan nich." Goda Riski, duduk di depan meja Lisa yang menggelengkan kepala melihat tingkah Riski dan juga melihat tv memberitakan dirinya dan Bima. Konfrensi pars yang di adakan semalam, tayang dengan cepat di dalam tv dan tersebar keseluruh nusantara.
" Waahh!! Pak Bima bukan sembarang Bima." Kata Santi, ikut nimbrung dalam ruangan Lisa dan melihat berita menggemparkan di seluruh masyarakat. khususnya para wanita yang mengidolakan Bima, pengusaha kaya raya.
" Bima sakti dong mbak!" Timpal Riski, membuat Santi tertawa dan Lisa cemberut.
" Awas mbak Lis banyak pelakor meraja lela." Kata Santi.
" Bima enggak akan tergoda." Jawab Lisa, yakin jika suaminya tidak akan tergoda dengan wanita lain.
" Memang gak akan tergoda mbak? Tapi pelakor bisa melakukan apa saja kan buat jerat Pak Bima dan minta tanggung jawab."
" Iya benar itu? hati-hati loh mbak!!" Tambah Riski, memberikan kewanti-wantian pada Lisa yang kini membuat Lisa sedikit mulai takut dengan ucapan dua orang di hadapannya.
Jika Bima tidak merespon wanita lain, bisa saja wanita itu akan menjebak Bima, mengancamnya dan menyuruhnya untuk menikahinya.
Sial! Pikiran Lisa mulai kalut. Karna ucapan dua orang laknat yang mengomporinya. Mempunyai suami tampan dan kaya menjadi momok yang kini sangat menakutkan. Karena banyaknya pelakor berkeliaran dimana-mana.
" Hati hati loh mbak? Hati hati." Ulang Riski, terlalu mengomporinya hingga bulpoin melayang ke arah bocah ingusan. Dan membuat Riski semakin tertawa, karena melihat kekawatiran Lisa.
Riski bocah julid, suka menggoda Lisa. Yang terkadang sampai bisa membuat Lisa jengkel, marah dan hampir menangis karena bocah yang sangat menyebalkan. Tapi, jika tidak ada Riski. Hidupnya mungkin juga akan hampa, datar dan tak pernah merasakan tertawa karena kekonyolannya.
****
" Berani juga si bos ngenalin istrinya di hadapan publik sekarang." Kata Doni, duduk tenang sambil menikmati kaleng bir dingin yang berada di lemari pendingin ruangan Bima.
Doni dan Max, siapa lagi jika bukan teman julidnya yang datang tanpa di minta ke kantornya. Karena penasaran akan tingkah Bima semalam mengadakan konfrensi pars tanpa memberitahukannya.
Dan orang yang lebih kepo adalah Doni, menghampiri Max ke apartemennya dan mengajaknya untuk pergi sebentar ke kantor Bima.
Doni dan Max benar-benar tak percaya, pasalnya Bima dulu tidak ingin Lisa, istrinya di ketahui oleh publik dan ingin menyembunyikannya dari paparazi serta para koleganya. Entah kenapa! Mereka juga tidak tau. Menikah pun juga secara mendadak dan hanya di ketahui oleh orang-orang tertentu saja.
__ADS_1
" Ada strategi baru?" Tanya Doni, membuat Bima menggelengkan kepala dan menikmati secangkir kopi hangatnya duduk bersama dua temannya.
" Terus?" Kepo Doni, memicingkan mata menatap Bima yang santai tanpa beban pagi ini.
" Kamu seperti ibu-ibu, kepo terus." Sindir Max, mendengar Doni yang selalu bertanya pada Bima.
" Ini aneh Max, aneh!" Kata Doni.
" Bos kita bilang sendiri kalau semua orang tidak boleh tau wajah istrinya, tidak boleh tau kalau dirinya sudah menikah. Tapi sekarang." Sambil menggelengkan kepala. " Dia sendiri langsung mengumumkan statusnya pada publik dan juga mengenalkan istrinya lewat media. Aneh kan!"
" Ini pasti ada udang di balik batu." Imbuhnya lagi, menatap curiga pada Bima. Yang semakin tersenyum dan menggelengkan kepala mendengar kecurigaan Doni padanya.
Ya, dirinya sempat mengucap pada dua temannya. Jika tidak boleh ada yang tau tentang statusnya sudah menikah dan juga tidak boleh ada yang tau bagaimana wajah istrinya yang cantik.
Ucapan itu sudah tidak berlaku lagi dan sudah ia singkirkan dengan tindakannya sendiri. Mengenalkan istrinya pada semua orang dan juga mengumumkan dirinya yang sudah menikah secara tertutup.
Dirinya melakukan itu karena satu alasan. Karena istrinya, ya karena istrinya. Meskipun istrinya tidak pernah memintanya untuk mengumumkan pada semua orang siapa dirinya dan siapa Bima baginya.
Tatapan istrinya, bukan kecewa, hanya berharap tapi tak pernah di ungkapkan dan tidak pernah meminta. Hanya ingin di akui, dan bisa seperti wanita lain. Berjalan bebas dengan orang tercinta dan melakukan apa saja di luar sana tanpa ada yang menggunjingnya.
Rasanya tidak adil dan tentu saja menyakiti hati istrinya walaupun istrinya tidak pernah menunjukkan kekecewaannya. Kini dirinya berani mengumumkan dan juga berani menunjukkan wajah istrinya.
Dan ini istriku, yang tidak boleh satu pria mendekatinya. Dan tidak boleh ada yang menyakitinya.
Tatapan isyarat dari mata, yang pastinya hanya sebagian orang tau dari tatapannya. Tatapan lembut dan cinta melihat istrinya dan tatapan nyalang serta cemburu dari sorot kamera yang menangkapnya saat ada pria menatap istrinya.
" Kamu mau kemana?" Tanya Doni pada Max, yang mulai berdiri dari duduknya.
" Balik ke kantor? Sebelum di usir." Jawab Max.
" Kamu gak ba-,"
__ADS_1
" Ikut?" Sela Doni cepat, sebelum Bima meneruskan perkataannya. Dan jawabannya masih menggantung, karna Bima tidak mau menjawab pertanyaannya.
Menyebalkan.
Sia-sia bangun sepagi mungkin, Bima masih enggan menjawab pertanyaannya. Sulit sekali meminta jawaban dari Bima. Jika tidak di paksa Bima akan cerita sendirinya, dan jika di paksa Bima tidak mau cerita.
Menatap kepergian dua temannya, hanya bisa menggelengkan kepala dan juga tersenyum melihat tingkah Doni.
****
" Bima sudah menikah? Dua bulan yang lalu? dengan wanita itu. Tidak mungkin, itu tidak mungkin." Ucap Zellin sendiri, melihat tayangan berita dalam ponselnya.
Mengelak apa yang di dengar dan di baca olehnya sendiri dalam berita pernikahan Bima dan Lisa. Zellin mengira dan yakin, Jika Bima belum menikah dan masih status berpacaran dengan Lisa. Nyatanya salah, Bima sudah menikah dengan Lisa, dua bulan yang lalu di mana pertemuan terakhir Zellin bertemu dengan Lisa di acara pesta mantan suaminya.
" Kamu sudah menikah Bim? Sudah menikah? Dan ingkari janji mu pada ku?" Gumam Zellin dalam hati.
" Apa kamu benar sudah menyingkirkan namaku di hati mu, apa benar itu Bima! Aku masih mencintai kamu Bim, aku masih mencintai kamu?" Sambil meremas ponsel di tangannya dan genangan air begitu saja lolos dari matanya.
Sungguh, dirinya tidak rela dan sangat tak rela Bima bersanding dengam wanita lain. Rasa egoisnya begitu mulai dalam dan rasa ingin menghancurkan Lisa. Ingin merebut kembali Bima, dan ingin memiliki kembali pria yang pernah mencintai dirinya.
Semua ini karena orang tuanya, karena orang tuanya dirinya putus dengan Bima. Dan kehidupannya hancur karena orang tuanya juga.
" Maafkan aku Bim, maafkan aku? Kali ini aku ingin egois." Ujarnya kembali, dan menghapus air matanya.
.
.
.
.🍃🍃🍃🍃
__ADS_1
Selamat tahum baru 😊😊.
Semoga tahun ini di berikan kelimpahan yang banyak, kehidupan yang makmur dan kesehatan sepanjang waktu. Amin 😇😇