Nona Lisa

Nona Lisa
Mengusap punggung


__ADS_3

...Cuek, tapi perhatian. Itulah kamu, yang sulit di dapat dan sulit untuk di lepas....


.


.


.


.


Bima berdiri dari duduknya, melihat itu Lisa segera berdiri dan menghadang pria tinggi yang akan keluar dari rumahnya.


" Mau kemana?" Tanya Lisa.


" Pulang." Jawab dingin Bima.


" Duduk dulu!" Ucap Lisa, membuat alis Bima mengerut tidak mengerti dengan wanita yang ada di hadapannya ini kenapa.


Bertemu tiga kali, sudah membuatnya pusing di tambah cerewet dan juga ingin naik darah.


" Duduk!" Perintahnya lagi, dan masih tetap Bima tak menghiraukannya. Hingga Lisa mendorong tubuh Bima untuk kembali duduk di sofa.


Tatapan tajam melihat Lisa menyentuh tubuhnya dan Lisa tidak mempedulikan tatapan yang ingin menerkamnya hidup-hidup.


" Tunggu di sini! Jangan kemana-mana!" Sambil melototkan mata, memerintahnya untuk tetap duduk manis di sofa. Melihat Lisa berjalan begitu cepat ke ruang belakang entah apa yang akan dia lakukan pada Bima.


"Ehmm." Ringis Bima kala dirinya akan merenggangkan otot, dan merasakan sakit di punggungnya karena hantaman keras helm dari orang yang tak di kenal dan mencoba melindungi Lisa.


" Kenapa?" Tanya Lisa, yang begitu cepat kembali di hadapannya, sambil membawa baskom dan juga kotak obat.


" Gak papa!" Jawabnya, kembali akan berdiri dan di tahan kembali oleh Lisa.


" Duduk!!" Seru Lisa, dan melihat Riski yang baru keluar dari kamar ibunya.


" Buka kemeja kamu?" Perintah Lisa, membuat Bima terkejut dan menatapnya tajam.


" Buka! Aku hanya mau olesin salep di punggung kamu yang terluka." Ujarnya lagi, Bima pun memijat pelipisnya tidak mengerti dengan wanita yang baru kenal mau mengobati lukanya yang ada di punggungnya, dan tidak mengerti tentang resiko jika bersentuhan dengan lawan jenisnya akan mengundang setan ke tiga.


" Maaf, lupa kalau kita belum kenal." Ucap Lisa, baru sadar jika ia membuat malu dirinya sendiri. Sok kenal dan memaksa untuk mengobati luka di punggung Bima.


Tapi dirinya memang sangat merasa bersalah karena sudah membuat Bima terluka dan tiga kali menolongnya tanpa mengucapkan terima kasih ataupun balas budi yang baik.


" Ki?" Panggil Lisa, membuat Riski menghampirinya.


" Apa mbak?" Tanya Riski.


" Ki? Tolong olehi mas ini obat ya di punggungnya." Perintah Lisa. Membuat dua pria itu membulatkan mata.

__ADS_1


" Aku!!" Seru Riski menunjuk dirinya sendiri dan menatap pria dingi itu yang berbalik menatapnya tajam, hingga dirinya menelan salivanya.


" Iya! Siapa lagi kalau bukan kamu, aku!" Kata Lisa.


" Jangan!!" Larang Riski. " Iya-iya." Ujarnya, menghembuskan nafas mencoba tak takut di pandang pria dingin itu dengan tajam.


" Mas, bisa lepas bajunya." Pinta Riski, Bima masih enggan menanggapinya dan masih tetap acuh.


" Sini aku bukain bajunya." Kata Lisa.


" Jangan!!" Teriak Riski, terkejut dengan ucapan Lisa sama seperti Bima tak kalah terkejut dengan teriakan Riski serta ucapan Lisa, yang ingin membuka bajunya.


Andergron!" Pikir Bima dalam hati.


" Astaga Ki!! Jangan teriak, nanti ibu bangun." Ucap Lisa, dengan mata melotot karna Riski berteriak kencang.


" Maaf!" Lirih Riski. " Lagian mbak ini kenapa sih, mau bukain baju mas ini segala!!" Gerutunya, tidak habis pikir dengan bosnya yang entah kenapa seperti ganjen sekali dengan pria di depannya ini.


" Kan iseng saja nawarin Ki!" Lirihnya, masih terdengar oleh dua pria. " Cepetan di buka itu bajunya! Biar di obatin luka kamu sama Riski." Perintah Lisa, seperti emak-emak yang cerewet tak ada hentinya sebelum dua orang pria itu bergerak.


" Eh!! Mau ngapain." Terkejut Lisa melihat Bima membuka kancing kemeja atasnya, dan kembali menatap Lisa dengan mengerutkan kening.


" Katanya di suruh buka baju! Mau obatin luka! Gimana sih mbak!!" Gerutu Riski, bukan Bima.


" Eh! Oh iya, lupa." Cengirnya tanpa salah, membuat dua pria menggelengkan kepala.


Dan memperhatikan Bima yang mulai membuka kancing kemeja, melepas kemejanya, menaruhnya di meja dan terlihat jelas tubuh atlentisnya meskipun dari samping. Hingga Mata Lisa tak berkedip sama sekali melihatnya, jika saja ia tak mendapatkan lemparan bantal sofa dari Riski.


" Cih!! kayak gak pernah lihat saja!" Gerutu Riski pelan.


" Aku masih dengar Ki!! Mau aku potong ga-,.'


" Enggak!!" Sahut cepat Riski, menyebalkan melihat expresi bosnya seperti mata kranjang terpesona dengan tubuh pria di sampingnya.


Bima hanya menggeleng kepala melihat dua orang masih saja berdebat seperti kucing dan tikus. Dan seulas senyum tipis muncul di bibirnya hingga dirinya kembali lagi dengan wajah datar.


" Parah!" Ucap Riski, melihat punggung Bima yang memah merah begitu besar dan pastinya akan menyebabkan keunguan di kulit putih yang bersih.


Lisa begitu penasaran hingga dirinya berbalik dan berjalan ke arah Riski untuk melihat luka akibat melindunginya dari orang yang akan memukulnya.


" Apa ini sakit?" Lirih Lisa, meringis kesakitan melihat luka memar di punggung Bima. Dan tangan terulur begitu saja mengusap punggung Bima, hingga Bima merasakan tangan Lisa dan tubuh mulai begitu kaku.


Plak..


" Aww!! Sakit Ki!!" Seru Lisa, mengibaskan tangannya yang di pukul Riski karena ulahnya sendiri. Dan mengusap usap tangannya yang sedikut sakit serta mengerucutkan bibir.


" Mau ak-,"

__ADS_1


" Apa!! Enggak takut, potong saja gak papa." Sewot Riski, menajamkan mata menatap Lisa.


" Enggak boleh lihat, malah pegang-pegang." Gerutu Riski, membuat Lisa membulatkan mata dan baru tersadar jika ia mengusap punggung Bima dengan pria itu yang tak menatapnya.


" Maaf." Lirih Lisa, menundukkan kepala merasa malu dan takut. Karna kesalahannya sudah mengusap punggung Bima.


Mengambil kemejanya, memakai kembali kemejanya dan berdiri dari duduknya. Membuat Lisa dan Riski menatapnya.


" Belum di oba-,"


" Tidak perlu, saya bisa sendiri." Potong Bima cepat.


" Saya pulang." Pamit Bima, berjalan meninggalkan Lisa dan Riski menatap kepergiannya.


Menatap Riski, yang hanya mengangkat bahu karna tak mengerti juga, kenapa Bima begitu saja pergi sebelum di oleskan luka.


Lisa segera menyusulnya dan melihat Mobil Bima yang sudah berjalan keluar dari rumahnya.


" Apa dia marah." Gumam Lisa dalam hati.


Kediaman rumah Bima.


Apa ini sakit?


Apa ini sakit?


Ucapan Lisa mulai merasuki pikirannya dan mulai terbayang akan sentuhan halus dari tangan dia, saat mengusap punggungnya. Seperti sengatan


Memijat pelipis, begitu pening dan lelah. Hingga dirinya menyandarkan punggungnya di sofa dan memejamkan mata untuk menghilangkan rasa lelah.


" Tuan?" Sapa pelayan pria paruh baya, menghampirinya dengan sedikit membungkuk.


" Hmm." Hanya menjawab deheman tanpa melihat.


" Mau saya buatkan teh Tuan." Ucapnya.


" Tidak, makasih." Jawab Bima, membuat pelayan itu mengangguk.


" Pak Agus."


" Iya Tuan?" Jawabnya, sebelum dirinya pergi dari hadapan Bima.


" Tolong obati luka di punggung saya." Perintah Bima, membuat pelayan tua itu terkejut akan apa yang di dengarnya.


.


.

__ADS_1


.


.🍃🍃🍃🍃


__ADS_2