Nona Lisa

Nona Lisa
sungai.


__ADS_3

...Aku ingin mengenal mu, jadi! Bisakah kita memulainya. Walau sebatas teman....


.


.


.


.


Masih berjalan menurun, tidak terasa pegal dan panas. Meskipun matahari sudah menyinar tak terlalu menyengat.


" Kamu membawa ponsel?" Tanya Lisa. " Aku ingin foto? Aku lupa tidak membawa ponsel." Ujarnya lagi, sedikit takut saat ingin meminjam atau meminta Bima untuk memfoto dirinya. Sebagai kenang-kenangan dan di abadikan di media sosialnya, jika dirinya pernah ke puncak.


" Enggak boleh ya?" Kata Lisa, melihat Bima masih diam. Tidak menjawab perkataannya dan kembali lagi menatap pemandangan dari samping dengan rasa kecewa kala Bima tidak meminjamkan ponselnya.


Tapi, dirinya berhenti saat Bima berhenti dan menatapnya.


" tetaplah di situ?" Perintah Bima, membuat Lisa mengerutkan kening. Dan tersenyum saat ia melihat Bima akan memfotonya dengan ponsel yang ada di saku celananya.


" Yang bagus ya? Yang banyak?" Pinta Lisa, mulai dengan gaya milenial, atestic dan kece kala Bima memulai menjadi tukang foto dadakannya.


Mengendus kesal, bukan hanya cerewet tapi juga suka bergaya seperti remaja yang suka foto-foto begitu banyak.


" Mau lihat!" Kata Lisa, menghampiri Bima dengan senang. Mencoba melihat fotonya yang di foto oleh Bima, dan hasilnya begitu bagus serta memuaskan, membuat dirinya senang dengan hasilnya


" Sekarang foto berdua." Ucap Lisa, merebut ponsel Bima dan mengarahkan camera depan. Berdiri di depan Bima yang terkejut dengan Lisa yang merebut ponselnya dan mengarahkan camera depan.


" Senyum!!" Riang Lisa, membuat Bima tersadar dan senyum tipis mengarah ponsel.


Mengabadikan foto berdua, dari Bima yang di belakang Lisa, Lisa menyandar di bahu Bima dengan Bima yang menatap wajahnya dan dari mereka saling bertatapan.


" Eh! Maaf." Sadar Lisa, mulai menjauh dari samping Bima dan mengembalikan cepat ponsel yang dirinya pegang pada sang pemiliknya.


Takut-takut jika Bima marah padanya, lebih baik berjalan terlebih dulu meninggalkan Bima. To dirinya bisa pulang sendiri ke villa. Pikirnya!


Melihat Lisa berjalan meninggalkannya hanya bisa menggelengkan kepala. Dia memang seperti anak remaja plin plan, tak tau malu nempel padanya sesuka hati. Dan tak takut jika dirinya bisa berbuat sesuatu dengannya.

__ADS_1


Melihat ponselnya, dengan foto dirinya bersama Lisa. Foto terakhir, saling berpandangan dengan terkejut, jarak yang sangat dekat seperti sepasang kekasih jika di lihat.


Hanya bisa tersenyum, mengambil foto terakhir Lisa yang berjalan memunggunginya sambil melihat pemandangan dari samping. Dan menyimpan ponselnya kembali saat ia merasa puas dengan hasil jepretannya, berjalan mengejar Lisa yang sudah mulai menjauh. Antara malu atau takut dengannya. Tapi yang jelas ia tidak marah, hanya terkejut saja dengan tingkah Lisa yang mulai tau dengan sifatnya kala berdua dengan dirinya.


Lisa melihat orang berjualan nasi pecel di pinggir jalan. Membuat perutnya lapar dan berbalik menatap Bima yang ada di belakangnya.


" Lapar?" Kata Lisa. " Aku gak bawa dompet." Imbuhnya, wajah memelas menatap Bima.


" Hmm." hanya menjawab itu dan mengangguk, membuat Lisa senang dan menggandeng tangan Bima untuk segera memesan makanan yang membuatnya segera ingin memakannya.


" Nasi pecel dua ya buk, sama teh hangat dua." Ucap Lisa, membuat ibu itu mengangguk tersenyum. Dan Lisa duduk di lesehan warung dengan viuw pemandangan sawah.


" Makasih." Ucap bersamaan Bima dan Lisa, saat ibu itu mengantarkan makanan di mejanya.


" Enak?" Ucap Lisa, mulut masih mengunyah tanpa henti. Pecel sedikit pedas di tambah teh hangat yang membuat tubuh hangat dan kenyang.


Mungkin bagi wanita saat bersama pria, ia akan makan dengan gaya elegan dan pastinya akan menyisakan makanan di piring. Gengsi jika makan begitu banyak. Tapi itu tidak berlaku bagi Lisa, apa yang ada di piring dan seberapa porsinya. Jika masih muat, dirinya akan memakannya hingga habis. Tidak memperdulikan rasa malu makan bersama seorang pria, meskipun itu Bima.


Melihat makan seperti anak kecil di hadapannya, Bima hanya bisa tersenyum. Lisa memang menunjukkan jati dirinya, bagaimana kelakuan sesungguhnya tanpa di buat-buat, atau di sembunyikan dari hadapannya.


Dia memang wanita yang unik dan juga sama seperti! seseorang di masa lalunya.


Duduk di bebatuan sungai, sambil merendam kaki ke dalam air yang segar dan dingin. Rasa benar-benar rileks, tanpa haru ke salon spa.


" Kamu sering ke sini?" Tanya Lisa, duduk di samping Bima yang menatap para anak kecil bermain air.


" Jarang, kalau enggak lagi banyak kerjaan." Jawab Bima.


" Tentram ya di sini, menghilangkan stres." Kata Lisa, dan di anggukkan Bima.


" Pernah bawa kekasih ke sini?" Tanya Lisa, membuat Bima tersenyum tipis masih tetap tidak melihat Lisa.


" Tidak."


" Tidak!" Ulang Lisa, memicingkan mata menatapnya. Hanya deheman dan anggukkan kecil untuk menjawab.


" Itu berarti aku wanita pertama yang kamu bawa ke sini." Tanya Lisa, membuat Bima menatapnya.

__ADS_1


" Iya." Jawb Bima, membuat Lisa tak percaya dan mencari kebohongan di mata pria itu. Tapi tak menemukannya, hingga bibir tipis itu tersenyum.


Benar apa yang Bima jawab, jika dirinya tidak pernah membawa wanita siapapun ke tempat persembunyiannya untuk menenangkan diri. Termasuk wanita di masa lalunya. Dan ini pertama kali, Bima membawa wanita di tempat Villanya. Wanita yang entah kenapa bisa mencuri perhatiannya dan bisa membautnya sedikit tersenyum, serta melupakan masa lalu sesaat.


" Masak sih!" Goda Lisa, memercikkan air di muka Bima, membuat Bima terkejut dan berpaling untuk menghindar dari percikan air yang di buat Lisa.


Bukan Marah justru dirinya tersenyum dan membalas percikan air pada Lisa, Lisa yang terkejut segera menghindar dan saling membalas hingga mereka tertawa. Seperti anak kecil yang mereka lihat.


" Ayo pulang, Sudah siang?" Ajak Bima, selesai menyudahi permainan anak kecilnya dengan Lisa.


" Aku masih pengen di sini?" Ucap Lisa, tidak ingin meninggalkan sungai yang sejuk dengan pepohonan di sampingnya.


" Lain kali bisa ke sini lagi." Kata Bima, membuat Lisa membulatkan mata.


" Boleh!" Tanya Lisa, ragu dengan ucapan Bima.


" Iya." Jawabnya, hingga Lisa tersenyum lebar dan mulai berjalan menuju tepi sungai dengan rasa senang. tanpa hati-hati saat berjalan hingga kaki tanpa sengaja terpeleset dan membuatnya terjatuh.


" Lisa!" Pekik Bima, mendengar jeritan Lisa dan segera menghampirinya yang terduduk di aliran sungai. Menuntunnya dengan perlahan menuju pepohonan.


" Aauuww." Ringis Lisa, kala kaki kanan terkilir.


" Mangkanya kalau jalan hati-hati." Nasehat Bima, meluruskan kaki Lisa dan melihat pergelangan kaki yang memerah.


" Sakit!!" Rengek Lisa, saat kaki di pegang oleh Bima. dan memukul untuk tidak memegangnya lagi.


" Ayo naik." Perintah Bima, dengan dia yang berjongkok membelakang Lisa. Berniat untuk menggendongnya, membawanya ke villa untuk di obati.


Mendapatkan perhatian dari Bima, ada rasa senang dan juga terharu di perlakukan seperti itu. Mengalungkan ke dua tangannya di leher Bima sambil membawa sandalnya dan di gendong Bima menuju villa yang lumayan jauh.


Saling diam dengan pikiran masing-masing. tak pernah sedekat ini dengan seseorang di masa sekarang, kecuali di masa lalunya mereka yang pernah dekat seperti saat ini.


.


.


.

__ADS_1


.🍃🍃🍃🍃


__ADS_2