
" Apa?" Ucap bersamaan Lisa dan Riski. menatap Santi dan Max secara bergantian.
Max yang sedang asyik menikmati makanannya, Santi yang meringis mendengar pekikan Lisa dan Riski. Sedangkan Bima, hanya menatap datar dan sekilas tersenyum kala mendengar ucapan Max.
" Tunggu-tunggu!" Kata Lisa, memicingkan mata. " Mbak Santi pulang ke kampung itu, ada urusan penting. Apa urusan pentingnya ini?" Tanyanya. seingat Lisa, Santi meminta ijin libur mendadak karna urusan keluarga. Tapi saat mendengar Max, sudah melamar Santi di kampung. Itu artinya, urusan Santi adalah lamaran Max.
" Bukan mbak?" Elak Santi menggelengkan kepala. " tapi ada teman lelakiku sama orang tuanya datang ke rumah. Dia melamarku lewat orang tuaku dulu."
" Terus mbak Santi terima?" Tanya Riski.
" Enggak." Jawab Santi.
" Kenapa?" Sambung Lisa, mengerutkan kening menatap dalam Santi yang sedang menarik nafas dalam. Seakan sulit sekali untuk bilang padanya.
" Jangan cerita, kalau belum siap di cerita-,"
" Ibunya dulu pernah melabrakku di depan umum, ketika aku jalan sama dia." Saut Santi. membuat semua orang menatap ke arahnya, terutama Max. Yang sebenarnya juga ingin tau kenapa Santi menolak lamaran pria itu.
" Melabrak?" Ulang Riski. " Kenapa bisa mbak." Imbuhnya.
" Karna aku orang miskin, lebih miskin dari ini. Enggak sepadan dengan keluarga dia." Ucap Santi, wajah berubah datar. Tidak ada senyum di bibirnya, seolah perkataan meremehkan itu melekat sudah di hati dan sulit sekali untuk di hapuskan.
Tangan kekar yang berada di sampingnya menyentuh lembut tangannya. Membuat dirinya menatap Max, yang seakan mengisyaratkan untuk tidak meneruskan ucapannya.
Keadaan Santi tidak beda jauh dari Lisa. Sama seperti Santi, Lisa juga pernah merasakan bagaimana di remehkan oleh orang tua dari lelaki yang dekat dengannya. Tapi cara merendahkan sangat elegan dan tidak terlalu menusuk di hati yang paling dalam. Hanya saja tetap dirinya merasa tersinggung dan marah. Karna itu dendam yang terbaik adalah membuktikan, jika dirinya bisa berdiri sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Dan bisa mengungguli orang-orang yang pernah merendahkan dirinya dan keluarganya.
" Aku juga takut, bila nanti bertemu dengan orang tua kamu. Kita berbeda, dan sangat jauh dari kedu-,"
" Orang tua aku tidak seperti itu!" Saut cepat Max. " Apa yang anaknya di inginkan dan sudah di pilih, mereka tetap akan mendukung. Tidak peduli itu orang kaya atau menengah. Karna kebahagian anak adalah yang utama baginya." Imbuhnya, menjelaskan bagaimana sifat orang tuanya pada Santi.
__ADS_1
Orang tua Max, orang tua yang sangat mendukung dirinya dan sangat mempercayainya, ya walaupun Max adalah putra yang nakal, tapi bisa di andalkan dan yakin tidak akan mempermalukan keluarganya.
Masalah status, orang tua Max dulu juga bukan dari orang kaya. Ibunya gadis biasa dan ayahnya orang turis, yang sedang berlibur di pulau dewata. Cinta pada pandangan pertama dan memutuskan menikah setelah menjalin hubungan selama satu tahun lebih.
Memulai dari bawah, pernah merasakan hidup sengsara dan di laluinya dengan sabar. Hingga kesabaran itu membuahkan hasil yang bisa mengubah hidup orang tuanya dulu.
Dan Max, juga di ajarkan orang tuanya untuk memulai bisnis dari bawah tanpa bantuan dari orang tuanya. Tentu saja Max sedikit kesusahan, tapi dengan tekat dan tekun ia berhasil membangun satu swalayan dari hasil jerih payahnya sendiri. Dan sekarang sudah menjadi beberapa cabang swalayan di berbagai kota.
" Mamaku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kamu." Ucap Max tersenyum.
" Kamu sudah bilang?"
" Iya? Aku sudah bilang sama orang tuaku. terlebih Mama sangat antusias mendengarnya. Selalu meneroh. Kapan di bawa ke sini, kapan mama ke rumah calon besan, kapan cepat di nikahinya?" Ujar Max. Setiap hari, sepuluh kali panggilan dari mamanya saat dirinya sudah mengatakan pada orang tuanya tentang dirinya yang melamar wanita dari desa.
Tentu saja orang tua Max sangat senang, pasalnya anak ke duanya itu belum juga menikah. kala umurnya sudah menginjak di anggak tiga. Orang tua mana yang tidak khawatir, khususnya seorang ibu. takut bila anaknya salah jalan. Tapi tetap percaya jika anaknya masih normal, sama seperti putra pertamanya. Yang ternyata tak beda jauh dari putra keduanya, Menikah di atas kepala tiga.
Hanya bisa membalas senyuman dan mata yang berkaca-kaca. Sungguh ia terharu dengan ucapan Max, apa lagi Mamanya sangat ingin bertemu dengannya. Max pun membalas senyuman, menatapnya dengan cinta dan mengusap lembut pipi Santi.
" Hhmm!!" Seloroh Lisa. mata sudah berkaca, bibirnya mengulas senyum menatap sepasang kakasih yang sedang saling menguatkan.
Dan Bima, hanya bisa menggelengkan kepala. Menatap Max yang sedang kasmaran. Dan beralih menatap istrinya yang terlihat matanya ingin mengeluarkan air. Dengan cepat Bima, mengusap bahu istrinya, dan menggenggam lembut tangannya.
" Wihh!! Ada adegan romantis nich!!" Seru Doni yang baru datang dan menghampiri mereka di meja makan. dan duduk di samping Max, berhadapan dengan Riski, yang terlihat wajahnya terasa sebal.
" Kasihan yang jomlo dari tadi liatin yang uwu." Cibir Doni, terkekeh lihat Riski.
" Kayak yang ngomong gak jomblo aja." Cibir balik Riski. " Tu lihat! Mas Max mau nikah, Mas Bima sudah mau punya anak. Turus apa kabar tu yang barusan menghina! Udah nemu belum." Cicitnya, merasa jengkel menjadi obat nyamuk dan sekarang yang baru datang tiba-tiba langsung mengolokkannya jomlo.
Terlalu.
__ADS_1
" Apa?" Cetus Santi. " Mbak Lisa hamil?" Imbuhnya, kala dirinya tidak tau apa tujuannya Lisa mengundangnya makan malam.
" Isstt!! Dasar, ember!" Gerutu Lisa, mencubit lengan Riski. Dan Membuat Riski meringis kesakitan.
" Kelepasan mbak! Gara-gara Mas Doni." Kilah Riski, menatap permusuhan dengan Doni. sedangkan Doni hanya menggelengkan kepala melihat bocah ingusan di depannya.
"Wihh!! Mempan juga itu sakti." Kata Doni, sambil tertawa.
" Gak pernah di pakek, sekali di pakai jadi!!" Timpal Max, yang juga ikut tertawa. Membuat dua wanita yang mendengarnya seakan malu. Sedangkan Riski, hanya bisa mendesah sebal dengan ucapan pria dewasa.
" Gas Bro!! Dikit lagi." Kata Max.
" Nikmat!" Timpal Bima.
" Anj*ng loe." Umpat Doni, mengerti ucapannya mereka yang sedang mengolokkannya karna masih belum mempunyai pasangan. Max dan Bima kini semakin tertawa lepas mendengar umpatan Doni.
Lisa dan Santi saling menatap, saling isyarat mata dan terkejut melihat pasangannya tertawa lepas seperti malam ini di meja makan.
Untuk pertama kalinya Lisa melihat Bima bisa tertawa seperti malam ini, bersama teman-temannya. Wajah Bima benar-benar terlihat sangat bahagia dan senang akan kehadiran calon dua buah hati yang ada di rahimnya. Dan menunjukkan kebahagiannya pada pada sahabat-sahabatnya.
Semoga tawa itu selalu keluar dari bibir kamu." Gumam Lisa, tersenyum melihat wajah dari samping suaminya yang sedang tertawa lepas dengan dua temannya.
.
.
.
.
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃