Nona Lisa

Nona Lisa
Martabak manis


__ADS_3

"Hay?" Sapa manis di depan pintu rumah yang terbuka.


" Pak Max." Kejut Santi, mengerutkan kening melihat Max yang bertamu di malam hari.


Dan melihat penampilannya yang masih memakai kemeja kerja. Sudah di pastikan jika dia baru pulang dari kerja dan langsung datang ke rumah Santi, tanpa mengganti pakaiannya terlebih dulu.


" Hay?" Sapa Max lagi, membuat Santi sedikit terkesiap.


" Masuk Pak?" Kata Santi, memberi jalan pada Max untuk masuk ke dalam rumahnya.


Sudah ke tiga kali Max datang ke kontrakannya, dan tidak perlu basa-basi tentang tempat tinggalnya lagi. Masih tetap sama, tidak ada yang berubah.


" Duduk di luar saja gimana." Pinta Max, membuat Santi mengangguk dan mengikuti Max duduk di kursi terbuat dari anyaman.


" Ini untuk kamu?" Kata Max, memberikan kantong plastik pada Santi.


" Apa ini?" Tanyanya penasaran, dan membuka kantong plastik untuk melihat isinya.


" Martabak manis." Kata Max.


" Makasih?" Ucap Santi tersenyum senang, mulai membuka kotak kardus, harum semerbak martabak manis tercium sempurna di hidungnya.


" Ayo makan?" Ajak Santi, pada Max.


memberikan satu potong martabak manis pada Max terlebih dulu. Dan di terima Max dengan senyum mengambilnya dari tangan Santi. Di malam hari setelah hujan, makanan manis yang hangat sangatlah enak. Di tambah perut yang setengah lapar, menambah kenikmatan. Di temani seseorang yang membawakan makanan dan memakan bersama dengan canda tawa.


Rasa lelah sudah terbayar, melihat senyuman dan tawa dari bibir yang di sukainya. Lelah bekerja dan lembur, bayangan sekilas teringat wajah Santi, membuat dirinya yang ingin pulang ke arah rumahnya. Kini berbelok arah, menuju ke kontrakan rumah Santi, dan berhenti sebentar untuk membeli martabak manis di pinggir jalan yang terlihat sedikit ramai. Rela mengantri, dan tidak sia-sia perjuangannya untuk mendapatkan martabak manis di terima dengan senang hati oleh Santi yang memakannya dengan lahap.


Sedikit terkejut saat Max menyentuh bibirnya. " Pelan-pelan kalau makan, belepotan semua" Ujar Max, mengusap sisa coklat manis di ujung bibir Santi.


" Makasih." Ucap Santi, sedikit ada rasa malu dan salah tingkah sendiri Max memperlakukannya dengan manis.


" Hah, Kenyang?" Kata Santi, mengusap perutnya dan bersandar di dinding.


Menghabiskan berdua, satu porsi martabak manis yang penuh dengan keju dan juga coklat. dan yang lebih banyak memakan martabak manis adalah Santi. Begitu sukanya dirinya martabak manis selagi hangat, apalagi yang di beli Max terbilang sedikit mahal karena kardu yang tertulis nama penjual dan juga martabak manis yang lembut, lumer, dan empuk jika di gigit.


Rasanya ia tidak peduli malu dan jaim di hadapan Max. Makan begitu banyak dengan kesukaannya tidak mempedulikan reputasi seorang wanita di hadapan pria.

__ADS_1


" Enak?" Tanya Max.


" Banget!! Keju sama coklatnya banyak banget!" Jawab Santi. " Aku suka." Imbuhnya lagi, tersenyum senang saat mengungkapkannya.


" Kapan-kapan aku belikan lagi." Kata Max, sambil meneguk air minum.


" Eh!! Enggak usah pak makasih." Tolak halus Santi.


" Kenapa!" Sambil menaikkan satu alisnya. " Tadi katanya suka."


" Iya suka, tapi gak usah di belikan. Nanti uangnya pak Max habis gimana."


Sungguh polos atau bagaimana. Max tidak akan kehabisan uang, hanya karena martabak manis yang tidak seberapa harganya bagi Max. Memang sangat enak, dan sebanding dengan harganya. Tapi tidak begitu mahal jika Max yang membelinya. Lain lagi jika Santi yang membeli. Pasti dirinya akan itung-itungan, atau bisa berpatungan dengan Riski untuk membeli makanan yang dirinya inginkan. Dan membaginya bersama Riski.


" Kamu meragukan keuanganku?" Tanya Max.


" Eh! Tidak begitu." Jawab cepat Santi, merasa takut jika Max tersinggung.


Dan sedikit menyadari jika ucapannya salah besar. Seharusnya tidak menolak, karena Max orang kaya dan apa saja bisa dia beli. Apartemen yang bagus dan juga punya mobil serta pekerjaan yang mapan. Kenapa Santi takut dengan keuangan Max.


Bodoh.


" Bukan menolak sih! Hanya malu saja kalau bilang mau." Kata Santi jujur, dan tak mau menatap Max yang sedang menatapnya lekat sambil mengulum bibir.


Bodoh, tak ada jaim jaimnya.


" Kalau tertawa, tertawa saja! Jangan di tahan!" Kata Santi, sambil mengerucutkan bibirnya karena melirik Max yang menahan tawa.


Hanya menggelengkan kepala sambi tertawa sedikit dan kembali menatap lekat Santi yang malu serta mengerucutkan bibirnya.


" Maaf, maaf. Kamu lucu dan gak jaim sama sekali di hadapanku." Kata Max, suka dengan sikap dan kelakuan Santi yang apa adanya tanpa di buat buat seperti wanita lain yang mencoba mendekatinya.


" Aku suka San." Ujarnya lagi, yang kini membuat Santi menatapnya dan melebarkan mata mendengar ucapannya.


*****


" Aku kok jadi takut ya Bim." Ucap Lisa, naik si atas tempat tidur, duduk di samping Bima yang menyandar di sandaran temat tidur dan menatap lekat suaminya.

__ADS_1


" Takut kenapa sayang." Tanya Bima, menaruh ponselnya di atas laci dan mengubah duduknya untuk melihat istrinya.


" Takut suamiku berpaling dariku." Jawab Lisa, membuat Bima mengerutkan kening. " Iya, takut secara banyak wanita yang pastinya akan dekati suamiku dan takut kejebak rayuannya. Secara kan suamiku, masih muda, tampan, gagah dan kaya raya. Siapa yang gak terpesona dengan Tuan Alfrado Bima dan membuatnya harus di miliki." Imbuhnya lagi, sambil meremas selimut.


Membayangkan saja dirinya takut, apa agi bila kenyataan. Rasanya sangat menakutkan.


Merangkul bahu istrinya dan membawanya untuk lebih mendekat padanya. Menggengam tangan Lisa dan juga tersenyum hangat pada istrinya yang mendongakkan kepala.


" Kamu tidak percaya dengan cintaku."


" Aku percaya, hanya saja aku takut." Lirih Lisa.


" Tidak perlu takut, istriku cuma satu dan hanya kamu yang selalu menempati hatiku ini." Kata Bima, mengusap lembut rambut Lisa dan mencium ujung kepala kesukaannya.


" Jangan pernah tergoda dengan wanita ya Bim." Pinta Lisa, mengusap dada suaminya. menikmati sentuhan lembut Bima dan juga menikmati suara detal jantungnya yang tenang.


" Kalau misalnya ada wanita yang mendekati suami kamu ini gimana."


" Aku labrak, aku ajak bertengkar sebelum aku laporkan ke kantor polisi." Kata Lisa, membuat Bima tertawa.


" Sadis banget sayang."


" Iya lah, namanya enggak etis kalau gak di ajak bertengkar dulu, Biar kapok dan istri puas. Deketi suami orang! emang dia enggak laku apa sama yang masih bujang atau yang duda gitu." Gerutu Lisa, semakin Bima tertawa menggelengkan kepala. Istrinya bukan sembarang istri biasa.


" Kamu jangan dekat-dekat sama perempuan, kalau enggak mau nanti perusahaan kamu aku ambil alih." Ancam Lisa, karena semua milik Bima sebagian sudh di alihkan atas nama istrinya. Dan itu Bima sendiri yang memberikannya bukan Lisa yang meminta.


" Ngancam nich sekarang Nyonya Bima." Kata Bima, masih dengan sedikit tertawa.


" Enggak mengancam, cuma menggertak saja." Ujar Lisa, dan suami istri saling tertawa karena mereka tau cinta tidak akan pernah berpindah dan akan tetap orang yang sama.


.


.


.


.

__ADS_1


🍃🍃🍃🍃


__ADS_2