
...Mencoba untuk melupakan masa lalu, berganti dengan lembaran yang baru....
.
.
.
.
" Waahh!!" Lirih Lisa, takjub dengan keindahan kota malam hari dari atas puncak. Tak kalah indah dari cafe yang dirinya nongkrong bersama teman.
Kerlap-kerlip berkilauan, seperti permata yang memancarkan keindahannya. Tidak mempedulikan dinginnya malam, saat ia masih betah menatap indahnya kota.
Rasa ingin sekali memiliki rumah seperti yang ia singgahi seperti ini, rumah yang membuat siapa saja akan betah dengan indahnya puncak dan juga hawa tentram untuk melupakan masalah atau pekerjaan sejenak.
Sungguh, inilah yang di ingkankannya. tenang dan damai.
Menghirup udara angin malam, sambil menutup mata dan tersenyum membayangkan yang indah.
" Kau suka?" Suara dari belakang, membuat Lisa membuka mata dan berbalik menatapnya.
" Iya, indah dan tenang." Jawabnya dengan senang, tersenyum merekah di bibir tipisnya, seperti melupakan tentang dirinya yang marah pada Bima.
" Hhmm, tempat yang damai untuk melupakan masalah sejenak. " Ucap Bima, berjalan ke arah Lisa berada di sampingnya dengan dia yang ikut melihat pemandangan kota malam hari.
Mengikuti arah pandangan Bima, dan kembali menatap wajah Bima yang berada di sampingnya.
Manis! Jika tersenyum.
Ya, Untuk pertama kalinya Lisa melihat senyum tipis Bima, walaupun hanya sekilas. dengan dia yang kembali datar dan mata terlihat sendu, seperti bukan dirinya saja yang mempunyai pekerjaan berat, menguras tenaga dan pikiran. Tapi Bima juga sama dengan dirinya.
Kembali dalam diam, menikmati indahnya malam terang akan bulan dan bintang yang terlihat jelas.
" Saya minta maaf." Lirih Bima, membuat Lisa mendongakkan kepala sambil mengerutkan kening.
" Maaf sudah membentak kamu waktu itu." Ujarnya lagi, meminta maaf untuk ke dua kalinya dengan rasa sesal saat ia membentak Lisa hingga membuat wanita di sampingnya menitikan air mata.
Menundukkan kepala, tersenyum samar kala Lisa bisa melihat jelas wajah pria dingin yang meminta maaf tulus kepadanya. Serta bagaimana dirinya juga merasa salah karna sudah mengambil ponsel Bima, yang kemungkinan memang penting baginya.
" Aku juga minta maaf, sudah mengambil ponsel kamu dan membuat kamu marah." Ucap Lisa, menurunkan egonya dan juga meminta maaf atas apa yang dirinya perbuat hingga membuat pria itu marah.
__ADS_1
Bima juga ikut tersenyum, bagaimana wanita di sampingnya ini juga meminta maaf padanya dan mengakui kesalahannya. Sebenarnya juga bukan kesalahan Lisa, hanya saja dirinya begitu takut jika ada orang yang akan menghapus atau melihat foto masa lalunya bersama wanita yang dulu menghiasi hatinya.
Hanya itu yang ia takutkan, tidak lebih.
Tapi sekarang ada yang berubah darinya, entah itu apa? Dirinya tidak tau. Setidaknya ia bisa tersenyum kembali saat bersama wanita ceroboh di sampingnya. Dan untuk pertama kalinya, Bima tidak berbicara formal pada Lisa.
" Kamu datang ke rumah? Mau ngapain?" Tanya Lisa begitu penasaran saat ia mendapat informasi dari dari suster Santi.
" Enggak sengaja lewat rumah kamu, sekalian mampir." Jawab Bima, Bukan sengaja lewat tapi memang sudah berniat untuk bertamu ke rumah Lisa.
" Terus kenapa bawa bingkisan banyak sekali." Kata Lisa, mulai dengan kecerewetannya.
" Kebetulan di kantor bos lagi bagi bingkisan banyak. Ya sudah saya ambil, bagikan ke orang kamu." Jawabnya, yang gampang sekali mencari alasan. Padahal tidak ada bagi-bagi bingkisan di kantor.
Sedikit tidak percaya dengan ucapan Bima.
" Saya lapar? Kamu bisa masak?" Tanya Bima, mengalihkan tatapan curiga Lisa yang intens.
" Hem!! Kamu belum makan?" Tanya balik Lisa, dan di gelengkan kepala oleh Bima.
" Aku juga lapar!!" Ucap Lisa. " Ayo kita masak." Ajak Lisa dengan semangat, hanya mengangguk tersenyum dan berjalan turun menuju dapur. Setidaknya ia bisa menghindar dari pertanyaan Lisa yang tidak akan ada habisnya untuk mencari tau.
" Kamu membelinya?" Tanya Lisa, mengambil buah jeruk yang menyegarkan, mengupasnya dan memakannya.
" Tidak, mungkin istri penjaga villa yang mengisinya." Jawab Bima, dan membuka lemari dingin untuk mengambil sayur yang ingin di masaknya.
" Hem, Manis!" Ucap Lisa, berdiri di samping Bima yang sedang mengambil sayur serta daging untuk di masak.
" Cobain nich!!" Kata Lisa, menyuapkannya langsung ke bibir Bima yang menerimanya dengan terkejut.
" Enak kan?" Tanya Lisa, dan menyuapi dirinya sendiri jeruk yang sangat manis dan menyegarkan.
Masih dengan keterkejutannya, melihat Lisa yang berani Menyuapiny tanpa meminta ijin padanya.
" Kita mau masak apa?" Tanya lagi Lisa, tanpa rasa bersalah atau belum menyadari dengan tindakannya.
" Masak yang ringan saja, mau mie pakai sayur? Ucap Bima, mulai sadar dan tidak protes atau marah sama sekali.
" Em, boleh!" Semangat Lisa. " Pakai kuah ya, enak tu. Hawa dingin, makan yang berkuah." Imbuhnya, dan di anggukkan Bima. Dan mereka memulai memasak dengan Lisa yang terkadang menjaili Bima, atau terkadang dirinya kepedihan karna mengupas bawang merah hingga Bima menyuruhnya untuk mencuci muka atau meniup matanya.
Dan tanpa sadar, mereka sudah melakukan hal konyol seperti sepasang kekasih lagi kasmaran.
__ADS_1
Duduk di meja makan berdua, saat makanan sudah jadi dengan harum yang menyerbak ke seluruh ruangan.
" Hemm, enak!!" Seru Lisa, mencicipi makanan yang di buat oleh Bima. Sedangkan dirinya hanya diam saja, atau lebih sering mengganggunya dan melihat cara memasak Bima yang sudah handal pada urusan dapur.
" Aku jadi minder nih! Gak bisa masak seenak kamu." Imbuhnya.
" Belajar." Ucap Bima.
" Ajarin ya!!" Pinta Lisa dengan senyum mengembang, membuat Bima ikut tersenyum dan mengangguk.
" Aahh!! Makasih!!" Serunya dengan riang dan mulai makan kembali dengan lahap. Makan malam dalam tenang dengan sekali-kali mereke mengobrol.
Membawa dua cangkir coklat hangat untuk di bawa ke lantai atas, menikmati kembali langit yang masih menghitam. Meskipun perut sudah terasa kenyang dan mengantuk. Ingin rasanya Lisa melihat matahari terbit dari puncak, hingga itu ia memilih untuk mempertahankan kantuknya.
Duduk berdua, dalam sofa panjang dan sedikit berjauhan.
" Sudah malam, sebaiknya kamu tidur?" Kata Bima, terdengar manis dan lembut.
" Aku enggak ingin tidur, aku ingin lihat matahari terbit." Jawab Lisa, menikmati secangkir coklat hangat saat tubuhnya mulai kedinginan.
Melihat Lisa kedinginan, Bima Memberikan selimut di samping duduknya.
" Makasih." Ucap Lisa, segera memakai selimut untuk menutupi tubuhnya.
" Kamu enggak tidur?" Tanya Lisa.
" Belum mengantuk." Jawabnya, sambil memeriksa ponsel untuk melihat email dan pesan dari Max.
Kesunyian dan di acuhkan oleh Bima, membuat matanya tak bisa bertahan hingga dirinya mencari tempat yang nyaman, dengan kepalanya merebahkan di pangkuan Bima dan tubuh meringkuk di sofa menghadap pemandangan malam.
" Jangan di pindah, tetap di sini!" Lirih Lisa, memejamkan mata, dengan nafas yang tenang saat ia memakai paha Bima untuk menjadi bantal.
Dan Bima lagi-lagi hanya bisa tercengang dengan wanita yang tidur di pahanya. Menatapnya dengan intens, dan tersenyum menggelengkan kepala. Wanita yang ceroboh, tidak takut tidur di pahanya.
.
.
.
.🍃🍃🍃🍃
__ADS_1