
...Cukup kamu, jangan ada yang lain....
.
.
.
.
" Bagaimana?" Tanya antusias Mawar bersama Lisa di dalam dapur pagi hari menyuci piring bersama sehabis sarapan keluarga. masih berada di rumah Ayah Bima.
Semalam mereka menginap di rumah ayah Bima, selesai dengan akad nikah dan makan malam bersama. Ayah Bima melarang mereka pulang atau menginap di hotel. Meminta untuk Kevin dan Bima menginap di rumahnya. Dan dua kamar di atas masih kosong.
Tidak ingin mengecewakan pria tua yang baru saja menjadi ayah mertuanya. Lisa akhirnya mau menginap di rumah ayah mertuanya. Dan Mawar juga mau mengenip di rumah Ayah Bima, karna Putrinya sudah tertidur pulas di kamar Bunga dan kasihan jika akan membangunkannya.
Soal Angga, tak perlu khawatir cowok remaja itu akan tidur bersama dengan Rasya. Dan tak tau apa yang akan di lakukan dua remaja itu hingga tidur larut malam.
" Gimana apanya?" Tanya balik Lisa, mengerutkan kening tidak tau maksud sahabatnya itu.
Melirik ke kanan dan ke kiri, tidak ada Bunga yang membuatnya bisa leluasa mengobrol tentang ranjang bersama sahabatnya.
" Malam pertamanya! Sakit enggak, enak gak, Pasti Kak Bima melakukan lembut dan pelan. Iya kan?" Tanya Mawar. Begitu penasaran dengan malam pertama sahabatnya.
Lisa yang mendengarnyanya pun mendelikkan mata, tak percaya sahabatnya ini begitu frontal dan tidak malu untuk mengucapkannya.
" Astaga Ar!!" Pekik Lisa, sambil menggelengkan kepala. " Tanya mu ini, Ih!!" Imbuhnya lagi, dirinya saja merasa malu mendengarnya.
" Idihh!! Pengantin baru malu." Goda Mawar. " Kan aku cuma tanya Lis."
" Itu bukan tanya! Tapi penasaran!!" Sewot Lisa, membuat Mawar tertawa. Ada benarnya juga yang di bilang Lisa, dirinya sangat penasaran. Lantaran tak ada suara sama sekali di kamar Bima dan Lisa tempati malam itu.
Terdengar sunyi.
Tidak ada suara yang membuat dirinya akan merinding sendiri mendengarnya di kamar sebelah. Dan ini, rambut Lisa, tidak ada basah-basahnya sama sekali. Justru rambut dirinyalah yang basah, akibat ulah suaminya semalam dan suara dirinya bersama sang suami menggema di kamarnya.
Menyebalkan.
" Ayo cepat ceritakan!" desak Mawar. " Gimana-gimana!" Imbuhnya penuh semangat, mengeringkan tangannya dengan kain lap.
" Semalam aku ketiduran." Jawab Lisa, duduk di kursi meja makan sambil ikut mengeringkan tangannya.
" Whaatt!!" Pekik Mawar, duduk di depan Lisa dengan mata yang membulat sempurna.
" Mawar!!" Tegur Lisa, teriakan Mawar membuatnya terkejut dan telinga hampir sakit.
" Gila! Malam pertama di lewatkan begitu saja." Ucap Mawar, menggelengkan kepala mendengarnya.
" Namanya saja orang sudah mengantuk, mana bisa enak-enak begitu." Saut cepat Lisa.
__ADS_1
" Astaga Lisa!!" Gemas Mawar. " Seharusnya ngantuknya itu di tahan dulu biar bisa malam pertama!"
" Enggak bisa di tahan, ngantuk berat plus capek."
Mendesah tak percaya sahabatnya ini melewatkan malam pertamanya.
" Ada morning kiss gak." Tanyanya Mawar, membuat Lisa mengerutkan kening.
" Enggak ada!! Bima sudah keluar dulu dari kamar." Cicit Lisa, Dan lagi-lagi Mawar di buat melongo.
Dirinya juga belum sepenuhnya sadar bangun di pagi hari, tidur di kamar siapa, dan nyawa sudah terpenuhi serta mengingat jika dirinya sudah menikah dengan Bima semalam dan kamar ini adalah kamar suaminya.
Tidak melihat Bima di kamar, mungkin saja Bima sudah turun terlebih dulu di bawah dan tidak mau membangunkannya karena terlalu nyenyak dengan tidurnya. dirinya berjalan ke kamar mandi. Menyegarkan diri dan segera keluar dari kamar untuk mencari suaminya. Dan sedikit tersenyum melihat Bima bersama dengan Asistennya di ruang tamu, terlihat Bima menandatangi map yang entah berisi tentang apa.
" Cihh!! Gak romantis sekali."
" Memang." Saut cepat Lisa, membenarkan ucapan sahabatnya. Bima tidak pernah menunjukkan keromantisannya pada dirinya.
Datar, tapi membuatnya nyaman.
****
Tok, tok, tok.
Mendengar suara ketukan pintu dalam rumah, membuat Santi mengerutkan kening. Pagi-pagi sekali ada orang yang mengetuk pintu rumahnya. Dan dirinya merasa tidak punya janji dengan siapapun sepagi ini.
Tok, tok, tok.
" Iya, sebentar." Lirih Santi, berjalan menuju pintu.
Membuka pintu rumah, dengan wajah sedikit pucat. Mendongakkan kepala dan memicingkan mata melihat pria itu datang sepagi ini.
" Kamu?" Lirih Santi, pria yang semalam mengantarnya pulang
Max.
" Pagi? Boleh saya masuk." Sapa Max sedikit tersenyum.
" Hhm, Silahkan." Ucap Santi, membuka pintu lebar-lebar. Memberikan jalan untuk tamu yang datang.
Masuk ke dalam rumah Santi dengan membawa kantong plastik berisi makanan. Di ikuti Santi yang berjalan pelan di belakang. Mendudukkan pantatnya di kursi plastik.
" Wajah kamu pucat, apa masih sakit." Tanya Max, memperhatikan wajah Santi.
" Hhmm, tidak." Elaknya. " Ada apa bapak ke sini?" Tanya Santi.
" Saya sudah bilang kan, untuk tanggung jawab sama kamu."
" Semalam bapak sudah bertanggung jawab, membayar dokter dan menebus obat untuk saya." Ujar Santi, merasa tanggung jawab Max sudah cukup. Dan tidak perlu lagi berurusan dengan pria di hadapannya sekarang.
__ADS_1
" Saya harus bertanggung jawab sampai kamu sembuh." Tegas Max, bukan tanpa alasan dirinya mengucap seperti itu.
Dirinya masih terbayang-bayang bagaimana menderitanya wanita yang di tabraknya sampai terluka, tapi tak sampai masuk rumah sakit. itulah rasa syukurnya pertama.
Dan yang kedua dirinya kasihan dengan wanita di hadapannya ini, yang ternyata tinggal sendiri di rumah minimalis. Satu kamar tidur, kamar mandi, dapur kecil dan ruang tamu sedikit sempit.
Ya, dirinya semalam menumpang ke kamar mandi, yang ternyata kamar mandinya hanya ada closet jongkong dan ember besar. Meskipun sempit tapi kamar mandi Santi bersih. Tidak sengaja melihat kamar Santi yang terbuka saat dirinya keluar dari kamar mandi. Kasur tipis berada di lantai dan satu lemari plastik.
Bisa di bayangkan bagaimana nanti dia akan berdiri dari bangun tidurnya.
Sakit!
Itulah yang di bayangkannya. Dan benar saja, di lihatnya sekarang Santi menahan sakit kakinya, akibat bergerak dan berdiri.
" Tidak perlu rep-,"
" Jangan membantah!" Sela Max. " Nanti Lisa akan bilang, kalau saya pria yang tidak bertanggung jawab dan saya bisa di pecat sama Bima." Ujarnya lagi, membuat Santi terdiam cukup lama. Dan hanya mengangguk pasrah, membiarkan Max bertanggung jawab sampai dirinya sembuh.
" Saya bawakan bubuk. Makanlah." Perintah Max.
" Terima kasih." Jawab Santi, dan akan berdiri tapi di larang oleh Max.
" Biar saya ambilkan sendok dan air minum." Ujar Max. berdiri dari duduk, berjalan mengambil sendok dan air minum di dapur. hanya beberapa langkah saja dari ruang tamu dan Santi bisa melihat Max melakukannya.
" Makasih." Ucap tulus Santi, menerima sendok dari Max. Max duduk kembali, memperhatikan Santi makan dengan pelan.
" Obatnya ada di mana?"
" Ada di kamar?"
" Biar saya ambil." Ucap Max, hanya mengangguk pasrah. Di larang pun Max akan maksa dan membiarkan dia ke kamar untuk mengambil obatnya. Toh tidak masalah, di dalam kamarnya juga tidak ada apa-apa.
.
.
.
.
🍃🍃🍃🍃
Maaf ya akhir-akhir ini updatenya malam.🙏 Masih ada sedikit kesibukan. tapi tenang saja, pasti selalu update setiap hari.
Dan terima kasih buat kalian tersayang sejagat raya yang sudah memberikanku, Vote dan Koin.
Cium dari sini saja ya.😘😘😘
Salam Cuzie.
__ADS_1