
Flasback.
" Hay, lagi di mana? Boleh saya main ke rumah kamu." Pesan Max pada Santi.
Santi yang akan mandi sore pun mengurungkannya, duduk di tepi ranjang dan mulai membalas pesan Max pada dirinya.
" Maaf Aku pulang ke desa, ada urusan keluarga. Kalau aku sudah balik saja, main ke rumah. Jangan lupa bawa martabak." Balas Santi, sedikit memberi candaan pada Max.
Tidak butuh waktu lama pria itu membalas dengan cepat pesan dari dirinya.
" Pulang ke desa? Kenapa enggak bilang. Kapan pulang ke desa, sama siapa." Max sedikit terkejut melihat balasan Santi, karena dia baru bilang jika ada di desa.
Rentetan pertanyaan dari pesan Max, membuat dirinya kembali tersenyum. Merasa ada yang perhatian pada dirinya.
" Kemarin malam aku pulang, sendirian, naik bus travel." Jawabnya.
" Kenapa mendadak, apa semua baik-baik saja." Tanya begitu khawatir.
Seorang wanita pulang ke kampung sendirian, di tengah malam yang pastinya rawan bagi seorang wanita. Santi begitu berani, tak mempedulikan resiko kejahatan di tengah malam.
Rasa khawatir melanda hati Max, membayangkan saja rasanya tidak bisa. Dan saat Santi membalas pesannya pun sedikit ada rasa lega, jika Santi selamat dalam tujuannya.
" Ya, hanya masalah kecil saja. Aku tinggal dulu ya. Nanti lanjut lagi balas pesannya." Jawab Santi.
Masalah kecil, masalah kecil apa?" Pikir Max dalam hati, melihat balasan pesan Santi.
Rasanya tidak sopan jika bertanya lebih lanjut tentang masalah keluarga Santi di desa, tapi rasa penasarannya membuatnya begitu dalam.
Max mencoba menghubungi Bima, saat di butuhkan penting. temannya itu tidak menjawab panggilannya selama empat kali percobaan.
Mengumpat kesal, dan mencoba kembali untuk menelpon yang terakhir. Bila tidak angkat oleh Bima, dirinya akan bersumpah mengobrak-abrik rumah Bima malam ini juga. Meskipun nanti resikonya begitu fatal, tapi tidak peduli. Karna yang utama sekarang adalah rasa penasarannya pada Santi yang pulang ke desa.
" Ada apa!" Suara ketus Bima, sedikit sebal akan temannya yang menelpon di saat dirinya sedang mencoba merayu istrinya yang marah padanya, karna di tahan oleh para pengawalnya
" Aku minta alamat rumah Santi yang ada di desa." Pinta Max cepat, membuat di sebrang sana mengerutkan kening dan menatap istrinya yang sedang menatapnya serta mengangkat ke dua alisnya duduk di sandaran ranjang.
" Max, minta alamat rumah Santi di desanya." Kata Bima pada Lisa, terdengar jelas dari sebrang telpon.
" Buat apa?" Tanya Lisa.
" Bilang ke istri kamu, urusan pentinng dan darurat." Kata Max pada Bima, yang belum mengucap padanya, tapi sudah di saut lebih dulu di sebrang telpon.
__ADS_1
" Kasih saja." Kata Bima pada Lisa, masih penasaran kenapa Max minta alamat Santi di desa. Hanya berdecak tapi memberikan juga alamat kampung halaman Santi.
" Semarang, dusun semilir xxx." Kata Lisa.
Belum mengatakan perkataan Lisa pada Max, Max sudah menyelanya. " Oke terima kasih buk bos." Ucap Max, mematikan panggilannya langsung dan membuat Bima mengendus kesal.
" Bangs*t." Umpat Bima, dan Lisa melototkan mata mendengar umpatan Bima.
Bima tersadar dan meringis melihat pelototkan istrinya. " Max, sayang!" Ucap Bima.
Max yang mendapatkan alamat rumah kampung Santi itu pun dengan cepat memesan tiket pesawat melalui online. Memilih penerbangan awal dan bergegas menuju bandara tanpa mau berganti pakaian kerja terlebih dulu.
****
" Pak Max?" Kejut Santi, melihat Max ada di ambang pintu rumahnya. Semua orang yang ada di dalam ruang tamu pun beralih menatap Santi, menyapa pria tampan di ambang pintu yang tersenyum ke arahnya.
" Hay?" Sapa Max tersenyum.
" Siapa San?" Bisik Ibu Santi pada Putrinya.
Bukan tidak peduli dengan ucapan ibunya, telinganya justru seakan tuli karena terkejut melihat kedatangan Max di rumahnya tanpa memberitahukannya.
Tunggu.
Kejutan yang sangat sempurna.
" Hay?" Sapa Max tersenyum, kala Santi sudah ada di hadapannya.
" Pak Max tau rumah kampungku dari mana, naik apa ke sini. Dan sama siapa?" Cecar Santi, sedangkan orang tua, mantan pacar beserta ke dua orang tua mantan pacar melihat interaksi Santi pada pria berparas tampan, sebelas dua belas dengan artis.
" Satu satu San, tanyanya?" Kata Max samb tertawa pelan. Sedangkan Santi hanya berdecak sebal, tapi juga ikut tersenyum.
" Saya minta alamat kampung kamu dari Nona Lisa." Jawab Max. " Say khawatir saja, kamu bilang kalau ada masalah kecil keluarga kamu. Mangkanya saya nyusul kamu ke sini. Dan ikut bantu masalah kamu biar selesai." Imbuhnya lagi.
Siapa yang tidak tersentuh hatinya dan terharu mendengar ucapan dari pria yang rela jauh-jauh datang ke rumah kampungnya dengan masih berpakaian kantor.
" Semua sudah selesai pak? Tidak ada yang di khawatirkan lagi?" Jawab lembut Santi. " Makasih, sudah peduli denganku." Tambahnya dengan mata berkaca-kaca.
Untuk pertama kali, ada pria yang sebegitunya perhatian dengannya dan rela pergi pulang kerja menyusulnya langsung ke rumah kampungnya.
" Santi?" Sapa bapak Santi, membuat Santi menoleh ke arah bapaknya. Yang sempat melupakan sekejab orang tua dan tamunya.
__ADS_1
" Ayo masuk pak max." Ajak Santi, membuat Max mengangguk dna masuk ke dalam rumah Santi dengan melepas sepatu kerjanya.
" Bapak? Kenalin ini teman Santi. Pak Max." Kata Santi, mengenalkan pria yang sudah di anggap temannya.
Max memberi anggukkan kecil serta tersenyum hangat menyapa bapak Santi.
" Malam om? Saya Max, teman Santi di kota." Kata Max ramah.
" Oh, dari kota? Duduk Nak Max, duduk." Perintah Ibu Santi dengan senang hati.
" Ayo duduk dulu pak." Tambah Santi, menyuruh Max untuk duduk di kursi tunggal.
Max pun menurut dan duduk di kursi tunggal Sambil memperhatikan dua pria dan satu wanita masih duduk di hadapannya.
Ibu Ryan menatap Max dengan mata berbinar, lantaran pria tampan melebihi putranya. Sedangkan Ryan menatapnya dengan mengerut dan rasa tak sukanya pada Max.
Bapak Santi kembali duduk dan tersenyum sekilas menatap tamu putrinya dari kota.
" Maaf saya kesini di waktu yang tidak tepat." Ucap Max, sekilas melihat tamu Santi masih enggan untuk pergi.
" Tidak apa-apa, Kami sudah selesai dan akan pulang." Saut cepat Bapaknya Ryan. Merasa tak enak hati, bila terus-menerus berada di rumah Santi yang sudah menolak lamaran putranya.
" Kalau begitu kami pamit pulang dulu pak Jaka." Ujarnya kembali, berdiri dari duduknya di ikuti bapak Santi yang juga berdiri.
" Sekali lagi saya minta maaf, kalau putri saya menolak lamaran putra pak Tejo." Kata Bapak Santi dengan ramah dan mengulurkan tangannya ke depan bapak Tejo.
" Iya saya mengerti pak, Tidak masalah. Mungkin bukan jodohnya putra saya Pak." Jawab pak Tejo, membalas uluran tangan pak Jaka sambil tersenyum.
" Apa! Santi di lamar, dan dia menolak pria ini." Guman Max dalam hati dan menatap Santi yang hanya tersenyum kecil membalas tatapannya.
" Ayo Ma?" Ajak Ryan pada ibunya, yang merasa tidak mau pulang karena betah melihat wajah tampan Max.
" Hah? Pulang." Sayu Mama Ryan, kaki terasa berat untuk melangkah dan mata masih ingin memandang yang bening-bening.
.
.
.
.
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃