
...Dia sudah menjadi masa lalu kamu, dan aku akan masa depan mu....
.
.
.
.
" Hallo?" Jawab wanita yang masih tertidur di atas kasur kecil, sambil mengangkat telpon yang entah dari siapa, pagi-pagi sekali sudah menelponnya. Mata rasanya sulit untuk membuka, mungkin karna semalam dirinya tidak bisa tidur dan sedang memikirkan sesuatu.
Menyebalkan.
" Belum bangun?" Ucap suara lembut dari sebrang sana, sambil mengulas senyum mendengar suara wanita yang semalaman tak bisa membuatnya tidur nyenyak, karna wanita itu tidak memberi kabar seharian.
Sangat membuatnya candu suara wanita itu.
" Jam berapa? Aku masih ngantuk!!" Jawabnya Lirih, memang Lisa masih sangat mengantuk dan sulit sekali membuka mata.
" Sudah jam delapan." Jawabnya." Cepat mandi dan jemput saya di bandara satu jam dari sekarang." Perintahnya dari suara pria.
" Bandara?" Gumam Lisa dan membuka mata lebar melihat nama si penelpon pagi-pagi.
Bima?
terperanjat, duduk dengan cepat dan masih mencerna perkataan Bima.
" Kamu dimana sekarang!" Tanya Lisa.
" Saya ada di kota kamu, jemput saya di bandara." Ujarnya lagi, membuat Lisa mengerjabkan mata berulang kali.
" Hah!!" Pekik Lisa.
" Saya tunggu di bandara." Kata Bima, mematikan panggilan sepihak.
"Dia ada di sini! Ngapain!!" Gumam Lisa dalam hati. dan mendapatkan pesan dari pria itu.
" Jangan membuatku menunggu lama di Bandara." Pesan Bima.
Dia memang di sini, ya Tuhan." Gumamnya kembali, dan bergegas turun dari kasur keluar dari kamar menuju ke kamar mandi.
Mandi begitu tergesa-gesa, masuk ke kamar memakai baju apa adanya tanpa harus memilih dan keluar dengan berjalan cepat.
" Mau ke mana Lis?" Tanya Ibu Lisa, melihat anaknya keluar tanpa menyapanya.
" Ibu?" Sapa Lisa, kembali masuk dan menciumi pipi ibunya. " Lisa pamit keluar dulu buk, ada urusan sama teman." Imbuhnya, menyalimi tangan ibunya dan kembali menciumi pipinya.
__ADS_1
" Hati-hati, jangan ngebut." Nasehat ibu.
" Iya buk?" Ucap Lisa, berjalan ke luar rumah dan masuk ke dalam mobil yang di pinjamkan Mawar.
Sempat menolak kala Mawar menyuruh Lisa untuk membawa mobilnya saat berada di kota ini, Tapi karna Mawar selalu saja mendesak akhirnya ia mau memakai mobil Mawar, ya meskipun tidak pernah di pakai dan hanya menjadi pajangan saja. Beruntungnya, mobil itu tidak di kembalikan dan masih ada di perkarangan rumahnya hingga ia tidak perlu memesan taksi online yang kemungkinan sangat lama.
Mengendarai mobil dengan para tetangga yang sedang berkumpul dan melihatnya, sudah pasti akan menggibah tentang dirinya yang bisa mengendarai mobil tanpa sopir. Entah itu ghibah jelek tentang dirinya, atau ghibah pujian dengan dirinya yang sudah sukses.
Tidak perlu mengambil pusing, dirinya tetap menyapa tetangga. Meskipun nanti akan ada saja hujatan di belakangnya.
Hari weekend tidak begitu padat dan ia masih bisa mengendarai dengan kecepatan sedang menuju bandara untuk menjemput sang pangeran yang datang tiba-tiba, tanpa memberitahunya terlebih dulu.
Tunggu.
Seharusnya yang di jemput adalah cinderella bukan pangeran. kenapa ini kebalikannya.
Menyebalkan.
Sudah hampir sampai di bandara, ingin rasanya Lisa berputar balik kembali ke rumah. Tapi karna kasihan dan berpikir jika Bima tidak tau kotanya. mungkin pria itu akan tersesat, atau mungkin akan terkena hipnotis orang jahat yang mau merampoknya.
Mengerikan.
Tapi mengapa ia harus takut, Bukannya Bima jago berkelahi dan bisa melawan para penjahat. Dan tetap saja hatinya mengarahkan tubuhnya untuk menuju ke bandara, Menemui Bima.
Masuk ke dalam bandara, menelpon pria menyebalkan untuk mengetahui keberadaannya. Menghembuskan nafas lega melihat Bima sedang duduk di salah satu cafe dalam bandara.
" Terlambat dua puluh menit."
" Rumahku jauh dari sini! Dan aku bukan sopir." Gerutu Lisa, mengambil minuman di depan Bima dan meneguknya dengan tandas tanpa meminta persetujuan dulu dari sang pemilik minuman.
Sedikit tercengang dengan kelakuan Lisa, meminum minumananya tanpa ada rasa malu atau jijik satu minuman dengannya.
" Aku haus! mana enggak di pesenin minum lagi." Ndumel Lisa, mengerti tatapan Bima yang mungkin marah karna mengambil minumannya tanpa ijin.
" Ayo?" Ajak Bima, berdiri dari duduknya membuat Lisa mendongakkan kepala menatapnya dengan mengerutkan kening.
" Pulang." Kata Bima.
"Hah! Pekik Lisa, membulatkan mata. Baru saja dirinya mendaratkan bok*ngnya di kursi, Bima sudah mengajaknya pulang tanpa harus menunggu dirinya istirahat sebentar saja.
" Ini!! setir itu mobil." Geram Lisa, menyerahkan kunci mobil kepada Bima dan berjalan terlebih dengan menghentakkan kakinya.
Sangat kesal dengan Bima, baru saja sampai belum juga menghabiskan minuman dan duduk dengan tenang. Pria itu mengajaknya pulang, tanpa memikirnnya yang sedikit mengebut dan capek menyetir.
Bima yang menatapnya bukan kasihan, justru semakin gemas meskipun sekidit marah karna di jemput begitu lama dengan wanita cerewet.
Mengikuti wanita itu sampai ke parkiran mobil, masuk ke dalam mobil dengan Lisa mengerucutkan bibir.
__ADS_1
Menggemaskan.
" Di mana rumah kamu." Tanya Bima, menatapnya dengan tatapan lembut.
" Jln.xxx." Jawab Lisa, masih sebal dengan Bima. dan tidak akan menunjukkan jalan ke rumahnya, biarkan saja Bima mencarinya lewat gogle map.
Hanya tersenyum dan mengacak rambut Lisa, membuat Lisa semakin sebal dan memukul tangan Bima.
" Kebiasaan!!" Ketus Lisa, semakin mengerucutkan bibirnya sambil membenarkan rambutnya.
" Ini?" Kata Bima, mengambil kantong plastik dan menyerahkannya di pangkuan Lisa.
" Apa ini?" Tanya Lisa, tapi langsung di buka tanpa menunggu jawaban.
" Waahh!! Makasih." Ucap Lisa senang, mengambil bungkus makanan ringan di dalam kantong plastik. membuka bungkusnya dan mencium aromanya. Roti berisi sayur, saus, keju dan juga daging sangat melezatkan di saat perutnya mulai keroncongan.
" Beli di mana?" Tanya Lisa. " Masih hangat." Ujarnya lagi.
" Beli di cafe tadi." Jawab Bima, sambil mengerutkan kening saat Lisa menyuapi makanannya di bibir Bima yang belum dia sentuh sama sekali.
" Hhmm." Ucap Lisa, sedikit memaksa hingga Bima menerima suapan dari Lisa dan Lisa memulai memakan kala Bima sudah menggigitnya terlebih dulu.
Sungguh, dia wanita yang sangat berbeda dari wanita lain.
Menjalankan mobil, sekali-kali menerima suapan kembali dari Lisa. Hanya membeli satu dan Lisa membaginya dengannya.
Mengusap ujung bibir Lisa yang menyisakan saus sedikit, hingga Lisa membulatkan mata.
" Kalau makan pelan-pelan?" Kata Bima, menggelengkan kepala sambil tersenyum.
Pipi Lisa mulai memerah, malu akan perlakuan manis dari pria di sampingnya.
Tunggu.
Bukannya dirinya dulu yang memperlakukan manis Bima, menyuapinya makanan dan juga minuman.
Memalukan.
Lagi-lagi dirinya di buat terkejut sendiri dengan perlakuan manisnya di hadapan Bima, seakan dirinya pacarnya saja. Tapi Bima, juga tidak menegur atau mempermasalahkannya. Justru dia menikmatinya.
.
.
.
.🍃🍃🍃🍃
__ADS_1