Nona Lisa

Nona Lisa
Permintaan mertua


__ADS_3

...Bukan batu biasa, tapi batu berlian yang aku dapatkan. Dan tidak akan pernah aku lepaskan....


.


.


.


.


Rumah sederhana, kini terlihat ramai berada di dalamnya. Kehadiran putra dan calon menantunya. yang sudah dirinya dengar, beberapa minggu yang lalu. sebelum kejadian menggemparkan di seluruh nusantara, tentang kebenaran putranya dan juga tentang wanita di pelukan putranya.


Dirinya bertanya pada putranya, Apa kamu sudah mempunyai pasangan Nak? Dan jawaban dari bibir Bima, membuatnya senang dan lega.


" Aku belum mempunyai pasangan pak? Tapi ada satu wanita yang kini dekat denganku. Dan mungkin dia akan menjadi menantu bapak di waktu dekat.


Tidak memaksa, kapan putranya akan mengenalkan calon menantunya itu. Sebagai orang tua dirinya hanya meminta pada putranya.


" Jika memang sudah pantas, jangan di ragukan lagi. Bapak masih belum terlalu tua, Dan bisa bermain dengan cucu!


Dan tidak butuh waktu lama, Bima membawa calon menantunya ke rumahnya yang sederhana. Menyambutnya dengan tangan terbuka dan senyuman hangat pada calon menantu pilihan putranya sendiri.


Dirinya tidak berhak menentukan pilihan calon pendamping untuk Bima. Bukan tidak berhak! Hanya saja, ia tidak ingin seperti orang tua di masa dulu. Menjodohkan anaknya yang sama sekali tidak di kenal. Jika berjodoh itu tidak masalah. Tapi! Jika pilihannya tidak tepat. Dirinya akan merasa bersalah pada anaknya, karena sudah membuat hidupnya hancur akan pilihan pendamping yang tidak tepat.


Biarkan Anak menentukan kebahagiannya sendiri, dan biarkan dia menangani semua masalahnya sendiri. Dan jika sang Anak tidak sanggup dengan masalahnya, sebagai orang tua ia akan membantu dan menyelesaikannya. meskipun dirinya sadar, kedudukan putranya lebih tinggi daripada dirinya.


Dan Bima, putra yang tidak pernah mengeluh dan menyusahkannya hingga sekarang. Putranya berdiri sendiri, membangun semuanya sendiri dan berjaya berkat kegigihannya sendiri. Melawan dan menyelesaikan masalahpun juga sendiri. Tidak pernah putranya itu mengeluh padanya. Hanya meminta saran dan juga restu agar putranya tetap di jalan yang benar serta terlindungi dari marabahaya.


Bangga? Tentu saja bangga. Orang tua mana yang tidak bangga dengan kesuksesan dan kejayaan Putranya. Di segani dan di hormati oleh semua orang kaya. Meskipun dirinya hanya orang tua angkat.


Bayi lelaki yang di rawatnya bersama mendiang istrinya dari masih berkulit merah, ari-ari yang masih menempel dan juga kulit masih berkeriput itu. Sekarang sudah sangat dewasa dan sudah menjadi tulang punggung menggantikannya.


Malu, tentu saja malu. Dirinya menumpang hidup pada putra angkatnya, selepas bebas dari penjara karena Bima menebusnya dengan sangat mahal. dirinya ingin bekerja, putranya melarangnya, menyuruhnya untuk diam di rumah dan cukup untuk mendoakan putranya saja.


Pernah tinggal di rumah besar Bima, tapi dirinya tidak betah lantaran dirinya tidak di perbolehkan untuk melakukan kegiatan apapun sama penghuni rumah putranya. Dan dirinya meminta Bima, untuk membelikan rumah yang sangat sederhana dengan ke inginannya, meskipun dirinya tau Bima sangat berat. Dan mau tidak mau pada akhirnya putranya itu membelikan rumah untuknya. Meskipun sedikit jauh karna pilihannya sendiri.

__ADS_1


Dan di sinilah, rumah sederhana yang selalu di kunjungi putranya dan jarang sekali menginap di rumahnya.


Calon menantu yang di bawa putranya, sangat manis, sederhana, ramah dan terlihat seperti gadis baik di matanya.


" Enak gak mbak?" Tanya Bunga, duduk berhadapan dengan calon kakak iparnya.


" Hmm, Enak. Siapa yang masak, banyak lagi?" Tanya Lisa, tidak ada rasa canggung sama dua remaja di hadapannya.


" Bapak sama aku mbak yang masak?" Jawab bangga Bunga. " Tapi, bapak sih yang paling antusias masak! Masakan bapak enak kan mbak!" Imbuhnya lagi.


" Beneran ini bapak yang masak?" Ulang Lisa, seakan wanita ini lupa berhadapan dengan calon mertua yang baru di temuinya.


" Iya?" Jawab bapak Bima tersenyum. " Masakan bapak gak enak ya Nak?"


" Enak pak, Enak sekali malahan! Lisa jadi pengen bela-," Ucapnya berhenti, tersadar dengan suaranya yang sedikit mengecang karena senang dan melupakan image di depan calon mertua.


" Bapak senang kalau calon menantu bapak seperti ini, menunjukkan aslinya dan Tidak perlu malu sama bapak. anggap saja bapak seperti bapak kamu juga." Ucap Bapak Lisa, kala Lisa berhenti berbicara dan menundukkan kepala.


" Wanita yang sudah di bawa putra bapak ke rumah sekarang. Nantinya bukan menjadi menantu." Membuat Lisa mendongakkan kepala dan menatap. " Tapi dia akan menjadi putri bapak." Ujarnya lagi, dengan senyum hangat pada Lisa. Dan Lisa membalas senyuman pria paruh baya di hadapannya serta mata berkaca-kaca.


Di anggap sebagai anaknya bukan menantu, siapa yang tidak terharu mendengarnya. Lisa tau pria paruh baya di hadapannya ini memang sudah sangat jelas orang tua yang baik dan penyayang. Sama seperti mendiang ayahnya.


Tuhan memberikan orang tua angkat yang sudah menganggapnya sebagai anak kandungnya sendiri. Memberikan kasih sayang lebih dan juga bertanggung jawab dengan anak yang di rawatnya.


Tidak salah Bima menyayangi, melindungi dan juga membalas kebaikan orang tua angkatnya yang hanya tinggal satu.


Ayahnya, tidak pernah meminta apapun padanya meskipun dirinya sudah mempunyai segalanya. Dan ketika ayahnya bertanya calon pendamping. Dirinya tau itu adalah keinginan orang tua dan dirinya juga sudah siap untuk memulai kehidupan yang baru.


" Jadi?" Memberi jeda, membuat Lisa dan Bima mengerutkan kening.


" Bisa kalian nikah sekarang?" Imbuhnya, membuat Lisa melebarkan mata mendengarnya.


****


" Cerai?" Ucap Nico, melihat amplop coklat berada di genggamannya dan menatap tajam orang tua Zellin bergantian.

__ADS_1


" Tidak bisa! Zellin tidak bisa cerai denganku! Dan aku tidak akan mencerai-,"


" Putriku sudah mendaftarkan gugatan cerai di pengadilan. Dan minggu depan sidang pertama kalian." Sahut cepat Tuan Zain.


" Apa!" Pekiknya.


" Kamu tidak bisa menceraikanku Zellin!"


" Kenapa tidak bisa!" Potong Nyonya Winda, sedangkan Zellin hanya bisa diam membisu sambil bergelinang air mata.


Entah ini keputusan yang benar atau tidak. Dirinya seperti boneka, di kendalikan hidupnya oleh ke dua orang tuanya. Di nikahkan orang yang tidak tepat, dan di hancurkan oleh ke dua orang tuanya dengan perceraian.


" Atas dasar apa putri mu mau menceraikanku!"


" Perselingkuhan!" Jawab Nyonya Winda." Kami mempunyai bukti perselingkuhan mu dan itu bisa membuat pengadilan mengabulkan semuanya." Imbuhnya lagi, membuat Nico menatapnya tajam.


" Kau yang menikahkan putri mu denganku dan kau yang ingin putrimu sekarang berpisah denganku Mama!" Sinis Nico. " Apa karna ini semua karna Bima! Oohh, maksudku Tuan Alfrado!" Imbuhnya, dan membuat Zellin terkejut.


" Apa itu benar? Apa mama menyuruhku berpisah dengan Nico karna Bima?" Gumam Zellin dalam hati.


Senyum sinis Nico terpancar jelas menatap orang tua Zellin bergantian. " Anda, mama mertua yang sangat matrek. Memanfaatkan putrinya untuk menggoda pria kaya." Ucap Nico.


" Jaga ucapanmu!" Geram Tuan Zain.


" Kenapa! Anda marah Tuan?" Ejek Nico, membuat Tuan Zain geram dan mencengkram kerah kemeja Nico.


" Papa!" Seru Zellin, mencoba melerai papanya yang akan memukul Nico.


Menyeret Menantunya dan menghempaskan tubuh menantunya keluar dari dalam rumah.


" Akan aku pastikan putriku berpisah dengan baj*ngan seperti mu!" Tegas Tuan Zain dengan tatapan tajam, membuat Nico mengibaskan jasnya dan juga menatap tajam orang tua Zellin.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2