
...Jangan merasa kasihan, hingga kau mengorbankan perasaanmu....
.
.
.
.
Bersandar di ranjang, dengan dua insan masih tertidur dan saling bersandar. Lisa menyandar di bahu Bima dan Bima menyandarkan kepalanya di kepala Lisa.
Sama-sama terlelap saling berpegangan tangan, tidak ada yang menyadari jika langit sudah berubah warna putih. Dan masih membiarkan pintu kamar setengah terbuka.
Rasanya berat semalam Lisa memintanya untuk menemaninya tidur. Lihat tatapan memelas dan mata yang masih sebab karna terlalu menangis, membuat Bima tidak tega. Hingga akhirnya ia mau menemani Lisa tidur meskipun rasanya ia sangat takut dan berat.
Ujian baginya.
Lisa menggeserkan tubuhnya untuk Bima agar bisa duduk di sampingnya, sama-sama diam karna ini pertama kali bagi mereka berdua di kamar, meskipun pintu tidak tertutup.
Saling menatap ke arah dinding, bermonolog dengan batinnya sendiri. Hingga tanpa sadar Lisa sudah menyandar di bahu Bima dengan mata tertutup. Mungkin matanya sudah tidak sanggup lagi untuk membuka, dan terlalu sembab hingga membuatnya gampang tertidur.
Bima hanya bisa tersenyum dan menyandarkan wajahnya di atas kepala Lisa. Mencoba untuk sesaat ia ingin menemani Lisa hingga Lisa benar-benar pulas. Tapi sayang, dirinya malah juga ikut tertidur sambil menggenggam tangan Lisa.
Suara tawa gadis kecil, membuat dua insan terbangun dan mengerjabkan mata untuk menetralkan pandangannya.
" Aunty, Om!!" Seru gadis kecil dengan tawa kecil di bibirnya.
" Rania?" Sapa bersamaan Lisa dan Bima, hingga mereka saling menatap dan terkejut saat mereka saling menggenggam tangan dan satu ranjang bersama.
Bima segera turun dari ranjang dan Lisa sedikit menjauh dari Bima. Mencoba menetralkan detak jantung yang berdebar kencang di pagi hari.
" Aku mau ke kamar mandi." Ucap Bima, berjalan keluar kamar dengan perasaan yang aneh.
Lisa hanya bisa menghela nafas panjang, mencoba untuk tidak gugup dan bersikap biasa saja.
" Aunty?" Sapa Rania yang masih tersenyum, membuat Lis menatap gadis kecil itu dengan senyum, menurunkan kakinya, berhadapan dengan Rania dan mencium pipinya.
" Rania ke sini sama siapa, Hmm?" Tanya Lisa, mentoel pipi Rania dengan gemas.
" Sama Mama sama Papa." Jawab Rania. " Aunty kok tidur sama om, kayak Mama sama Papa." Tanya Rania polos.
" Eh!" Pekik Lisa, sedikit terkejut karna pertanyaan gadis kecil di hadapannya.
"Aunty sudah nikah sama Om?" Tanya Rania lagi, membuat mata Lisa semakin melebar, Bisa-bisanya ini anak mengira Lisa sudah menikah dengan Bima. Dan bagaimana bisa Lisa menjelaskannya.
Hanya bisa menggelengkan kepala tanpa mengucap, membuat Rania mengerutkan kening.
" Papa bilang, kalau orang yang sudah nikah boleh tidur bersama?" Ucap Rania, dan Sekali lagi Lisa terkejut.
__ADS_1
" Rania dari tadi ke sini?" Tanya Lisa, mengalihkan topik pembicaraan agar anak kecil si hadapannya ini tak lagi bertanya.
" Sudah dari tadi! Mama sampai uring-uringan." Ujar Rania.
" Kenapa?" Tanya Lisa mengerutkan kening.
" Liat aunty sama Om tidur bersama." Jawab Rania.
"Hemm! Mampus!" Gumam Lisa, menelan seliva saat ia sadar tak pernah bercerita tentang Bima padanya. Dan mungkin saja dirinya akan di intrograsi oleh sahabatnya itu.
***
" Kamu sudah lama kenal?" Tanya Mawar menatap tajam ke arah Lisa. Di saat sudah waktunya yang tepat untuk Mawar bertanya.
" Belum terlalu lama." Jawab Lisa.
" Kenapa kamu gak cerita ke aku Lis, kalau kenal sama Kak Bima teman Papa Rania." Kata Mawar.
" Mana aku tau kalau Bima teman suami kamu Ar?" Jawab Lisa, dan ia baru tersadar jika Bima adalah teman sekaligus mantan asisten Kevin dulu, hingga itu ia merasa tidak asing dengan wajah Bima.
Dulu Lisa pernah beberapa kali bertemu dengan Bima, hanya sekilas. dan tak pernah menyapa. karna mereka juga tidak saling mengenal ataupun di kenalkan.
Tapi sekarang, mereka di pertemukan kembali tanpa ada yang mengenalkan atau menjodohkan. Semuanya berjalan dengan sendirinya, seakan takdir telah menjodohkannya.
" Tapi aku senang kalau kalian saling kenal." Ujar Mawar, dengan senyum mengembang. membuat Lisa mengerutkan kening menatapnya.
" Itu artinya kamu ada yang jaga, dan kak Bima pria yang tepat untuk kamu Lis." Imbuhnya, karna Mawar juga sudah mengenal Bima dari dia menjadi asisten suaminya dan menjadi om Rania yang selalu di manjakan oleh Bima.
" Teman bisa jadi Cintakan? Apa salahnya untuk menjalani Dan siapa tau kedepannya kalian menikah." Jawab Mawar, menggenggam tangan Lisa dengan seulas senyum hangat.
" Aku tidak perlu khawatir sekarang, meskipun aku jauh dengan kamu. Setidaknya Kak Bima bisa menjaga dan melindungi mu Ar? Dan jangan merasa diri kamu sendiri lagi. Masih ada aku dan Angga, Kita saudara kan?" Ujarnya lagi, membuat Lisa kembali menitikan air mata mengangguk dan tersenyum.
Sungguh di saat dirinya terpuruk, masih ada sahabat dan orang terdekat yang menyayangi, menjaga, serta menghiburnya.
Ia sangat beruntung dan bersyukur. Tuhan tak membiarkan dirinya sendiri. Kala ke dua orang tuanya teah tiada.
****
" Aku enggak nyangka kamu dekat dengan Lisa." Ucap Kevin, mengesap teh hangat, berdua bersama Bima di teras rumah Lisa.
" Aku menolongnya saat dia akan di begal." Jawab Bima, pertemuan yang sangat tak mengesankan dan berjalin hingga sekarang.
" Dunia memang sempit." Kata Kevin, membuat Bima mengangguk tersenyum. Membenarkan ucapan Kevin, saat ia sadar jika Lisa sahabat Mawar.
" Aku harap kamu bisa menjaganya dan jangan buat dia bersedih."
" Itu peringatanmu untuk ku!" Kata Bima, membuat Kevin tersenyum kecil.
" Anggap saja begitu! Karna Lisa sudah aku anggap sebagai adikku sendiri." Jawab Kevin.
__ADS_1
Karna dulu Kevin sangat berterima kasih dan tak akan bisa membalas kebaikan keluarga Lisa yang sudah menolong istrinya dan memperlakukan Mawar sebagai putrinya juga.
Jasa ke dua orang tua Lisa, akan ia kenang hingga sekarang dan akan berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga Lisa.
tanpa di ancam pun Bima tak akan menyakiti Lisa dan ia sudah berjanji pada mendiam ibu Lisa. Yang entah kenapa mendiam ibu Lisa percaya padanya, meskipun baru mengenal.
" Kapan kembali ke xxx." Tanya Bima.
" Nanti sore."
" Lisa ikut?"
" Iya, aku akan membawa dia pulang." Jawab Bima, membuat Kevin menganggukkan kepala.
****
" Kabari aku ya kalau sudah sampai rumah." Ucap Mawar, melepas pelukan dengan mata berkaca-kaca. Mengantarkan ke bandara untuk Lisa kembali ke kotanya.
" Iya?" Jawab Lisa, rasa berat untuk kembali ke kota kala setengah hatinya ada di kampungnya.
" Jika ada waktu senggang Kakak dan Mawar akan berkunjung ke sana. Jaga diri kamu baik-baik." Ucap Kevin, mengusap lengan Lisa dengan tersenyum.
" Kabari jika akan ke rumah kak." Kata Lisa, membuat Kevin mengangguk.
Memeluk Angga dengan Angga yang mengusap punggung Lisa. " Aku akan sering ke sana mbak! Kalau ada yang membuat mbak Lisa menangis." Ucap Angga, membuat Lisa sedikit tersenyum.
" Memang kamu banyak uang."
" Ada sedikit, kalau kurang nanti minta sama Kakak ipar!" Jawab Angga, hingga Lisa tak bisa lagi menahan tawa.
" Aunty jangan nangis lagi ya, nanti Rania akan selalu vidio call sama Aunty."
" Memang kemarin-kemarin gak setiap hari telpon!" Saut Angga, membuat Mawar melototkan mata. Adiknya selalu saja mengusili putrinya hingga menangis.
" Aunty akan selalu mengangkat telpon Rania." Kata Lisa, menciumi pipi Rania dan memeluknya.
Setelah puas berpamitan, Lisa, Bima dan suster Santi berjalan masuk ke ruang menunggu untuk beberapa saat dan mulai masuk ke dalam pesawat dengan perasaan yang masih sedih teramat dalam.
Kini dirinya pulang tanpa ibu.
.
.
.
.
ππππ
__ADS_1
Maaf ya kalau gak bisa nurutin untuk double up.ππ Bukan gak mau, tapi otakku masih lemotππ