
" Maaf, bukan kami menolak. Tapi putri saya masih ingin bekerja dan masih ada yang ingin di capainya terlebih dulu sebelum menikah." Ucap halus Bapak Santi, pada ke dua orang tua dan juga pada lelaki yang ingin melamar putrinya.
" Putra saya juga tidak tergesa-gesa untuk menikah, jadi bisa bertunangan terlebih dulu." Kata Ibu mantan pacar Santi.
Ayah dan mantan Santi mengerti tentang penolakan secara halus yang di lontarkan pada bapak Lisa, entah ibu dari mantan pacarnya itu juga mengerti atau tidak ucapan bapak Lisa. Tetap saja ibu itu sedikit memaksa agar orang tua Santi menerima lamaran putranya.
Bapak Santi menatap istrinya dan bergantian menatap putrinya yang hanya sedikit menggelengkan kepala. Tak ingin bapaknya menerima lamaran itu.
" Maaf, putri saya masih ingin sendiri. Tidak ingin terbebani terlebih dulu, apa lagi jika sudah terikat lamaran." Tegas Bapak Santi, sudah berapa kali ibu dari mantan pacar putrinya memaksanya untuk menerima lamaran putranya.
" Saya mengerti pak? Maaf." Kata mantan pacar Santi.
" Kenapa bapak menolak lamaran putra saya, apa sekarang selera putri bapak bukan anak saya. Dulu kan mereka pacaran, Apa enggak mau balikan sama mantan." Ketus ibu mantan pacar.
" Ryan ini masih suka sama kamu loh San, kerjanya juga sudah mapan, juga sudah sukses. Kurang apa lagi dengan putra ibu." Tanyanya pada Santi, belum puas dengan tolakan bapak Santi pada putranya yang bernama Ryan.
" Maaf buk, cinta tidak bisa di paksa." Kata Santi, sekian lama diam kini berani membuka suara untuk menjawab.
" Jadi kamu tidak menyukai Ryan lagi? Sudah tidak cinta lagi seperti dulu? Kenapa?" Tanya ibu Ryan pada Santi.
Entah lupa atau memang sengaja lupa, tidak mungkin ibu Ryan lupa. Pasalnya masih sangat jelas, bagaimana perlakuan Ibu Ryan dulu padanya dan membuatnya hampir di bicarakan di tempat kerjanya dulu. Kala tak sengaja teman dari tempatnya bekerja melihat kejadian Santi di labrak Ibunya Ryan.
Malu sangat malu, apa lagi banyak yang bilang kasihan padanya. Di perlakukan seperti itu pada ibu Ryan.
Bukan dirinya yang mengejar-ngejar Ryan, tapi Ryan sendiri yang mengejarnya, mengatakan cinta padanya dan selalu perhatian padanya.
Siapa yang tidak luluh mendapatkan perhatian dan cinta tulus dari pria yang latar belakangnya jauh berbeda dengannya. Tapi, sayang ibu dari pria itu tidak suka dengan keluarganya.
" Apa perlu saya ingatkan buk, empat tahun yang lalu." Kata Santi, sedikit tersenyum penuh arti. Membuat ibu Ryan mengerutkan kening, dan Ryan yang menundukkan kepalanya, mengerti tentang kejadian empat tahun yang lalu.
Dan inilah yang ia takutkan, jika orang tua Santi tau tentang ibunya yang melabrak Putrinya. Apa yang akan di lakukan orang tua Santi nanti padanya.
" Empat tahun yang lalu, Apa ibu lupa? Banyak orang yang lihat lo buk?" Ucap Santi, tanpa lagi mengurangi rasa hormatnya pada yang lebih tua.
__ADS_1
" Tidak perlu di ingatkan lagi San, itu sudah masa lalu. Aku minta maaf." Jawab Ryan, bukan Ibunya. Yang kini mengerti maksud dari ucapan Santi.
" Oohh!! Masalah itu dulu. Kamu masih mengingatnya, masih marah sama saya!." Kata Ibu Ryan.
" Ma? Sudah." Cicit Ryan, tak ingin ibunya meneruskan perkataannya.
" Ada apa Yan." Tanya bapak Ryan, belum mengerti apa yang di bahas ibu, anak dan Santi. di masa lalu.
Sedangkan ke dua orang tua Santi hanya diam, dengan tatapan tajam mengerti tentang masa lalu putrinya dan juga Ibu Ryan. Rasa tak terima putrinya di permalukan seperti itu, mencoba untuk sabar meskipun rasa ingin sekali melabraknya.
" Tidak ada apa-apa Yah?" Jawab Ryan, beralih menatap bapak Santi. " Saya terima pak, jika lamaran saya di tolak. Kalau begitu saya dan orang tua saya pamit pulang dulu." Ujarnya, merasa situasi sudah mulai tidak konduktif.
" Iya, terima kasih Nak Ryan sudah mengertikan Santi." Kata Bapak Santi sedikit tersenyum dan berdiri terlebih dulu dari duduknya.
Seperti mengusirnya dengan lembut, tapi penuh arti, agar dirinya tidak terpancing emosi lebih dalam lagi. membuat tiga orang yang ada di hadapannya mendongakkan kepala menatap Bapak Santi. Sedangkan ibu dan Santi hanya menatap datar tiga orang itu, tanpa mengucap satu kata pun.
" Permisi?" Ucap seorang pria dari ambang pintu yang terbuka. membuat semua orang yang ada di dalam ruangan beralih menatap pria yang berada di ambang pintu.
Bapak Santi, Ayah Ryan dan Ryan mengerutkan kening melihat pria itu. Ibu Santi dan Mama Ryan yang melongo melihat pria tampan. Dan Santi yang membulatkan mata melihat pria itu ada di depan ambang printu rumahnya sekarang.
*****
" Sa?" Sapa Bima pasrah, Melihat istrinya duduj bersandar di sandaran ranjang sambil menggerak-gerakan kaki dan juga jarinya sibuk memainkan ponselnya.
" Hmm?" Jawab Lisa acuh, masih asik dengam ponsel di tangannya tanpa mau menatap suaminya.
Entahlah, moodnya malam ini dirinya benar-benar ingin memakan suaminya saja. Rasanya masih tidak terima dengan suaminya, karena suaminya, dirinya tidak bisa bertengkar dengan Nyonya Winda. Andai saja Bima tidak menyewa pengawal untuk memberikan pelindungan padanya dari jarak jauh. Mungkin Lisa akan bertengkar dengan Nyonya Winda di depan umum, dan Lisa akan lebih ganas untuk menyerang Nyonya Winda. Membalas semua perkataan tempo dulu di pesta menantu Nyonya Winda.
Merasa di acuhkan oleh Istrinya, membuat Bima hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum sendiri. Ia tau jika istrinya marah karenanya, lantaran tidak terima pengawalnya mencegah Lisa yang akan meladeni ibu Zellin mengejaknya bertengkar di depan umum.
Merangkak di atas ranjang dan merebahkan kepalanya di paha istrinya. Yang membuat Istrinya sedikit tergelonjak kaget.
" Marah?" Tanya bima, menatap istrinya dengan senyum yang melototkan mata pada dirinya.
__ADS_1
" Sudah tau masih nanya." Ketus Lisa, menaruh ponselnya di atas laci dan bersendekap ke dua tangannya.
" Masih dendam sama tante-tante itu?" Kata Bima, tidak mau menyebutkan nama ibu Zellin.
" Aku belum puas kalau enggak bisa nabok bibir tante itu deh Bim? Rasanya tanganku ini gatal sekali lihat bibirnya yang pernah menghina suamiku. Aku masih enggak terima tau gak." Kata Lisa, mengerucutkan bibirnya.
Mengambil tangan Lisa, mengusapnya dengan lembut dan menciumi tangan Lisa dengan sayang. Hati siapa yang tak luluh, di berikan kecupan romantis seperti itu.
" Jangan marah-marah, nanti cepat tua. Sayang wajah cantiknya nanti hilang." Ucap suaminya, membuat Lisa berdecak sebal.
" Jangan ngalihin pembicaraan deh Bim!" Ketus Lisa. " Sana tidur di luar." Usir Lisa.
" Aku enggak bisa tidur tanpa kamu!" Kata Bima.
" Masak!" Cibir Lisa.
" Hhmm, Cinta Nyonya Bima." Ucap Bima, membuat Lisa tersipu malu, menepuk kecil dada suaminya yang membuat Bima ikut tersenyum dan kembali menciumi tangan punggung istrinya.
" Ayo tidur sudah malam." Kata Lisa, menyisir lembut rambut Bima dengan tangannya.
" Mau buat adik gak." Goda Bima, senyum menggoda dan mata mengerling ke arahnya.
" Mau! Tapi di matiin dulu ya lampunya. Takut nanti ada yang lihat." Jawab Lisa sambil tertawa, di balas tawa renyah oleh suaminya. sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Detik itu juga lampu berganti warna, tidak ada yang tau apa yang akan mereka lakukan. di tengah tamaran lampu tidur yang akan membuat suhu ruangan menjadi hangat. Sehangat sentuhan tubuh di aktivitas malam hari.
.
.
.
.
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃