Nona Lisa

Nona Lisa
bau parfum


__ADS_3

...Candu, sehari tanpa memikirkan mu. bagai rokok tanpa di hisap....


.


.


.


.


" Aku mengganggu?" Ucap suara pria dari belakang, membuat dirinya menoleh dan tersenyum saat tau siapa suara itu.


" Kamu di sini?" Tanya balik Lisa, berdiri dari duduknya di balkon dan berjalan menghampirinya dengan senyum hangat.


" Baru pulang kerja? Kok malam sekali. Lembur?" Imbuh Lisa lagi.


memperhatikan penampilan pria itu yang masih memakai setelan kemeja kerja dan terlihat wajahnya sedikit lelah. Tapi masih terlihat tampan dan senyum yang manis, saat menyapanya.


Siapa lagi jika bukan Bima, yang datang ke rumahnya. meskipun itu di malam hari, sepulang darinkerja. Lelah itu pasti, tapi saat ada di hadapan Lisa, lelah itu seakan berubah dengan senyuman hangat dari Lisa yang menyambutnya sangat manis.


" Iya, ada pekerjaan tambahan." Jawab Bima, menagacak rambut Lisa gemas. Membuat Lisa berdecak sebal karna Bima selalu suka mengacak rambutnya.


Seperti anak kecil saja!


" Sudah makan?" Tanya Bima.


Perhatian sekali Bima, bukannya berbalik! seharusnya Lisa yang bertanya seperti itu, bukan Bima yang menanyakannya terlebih dulu.


" Masih kenyang tadi makan sama Riski." Jawab Lisa sambil membenarkan rambutnya yang berantakan. "Kamu sudah makan?" Tanya balik Lisa.


" Sudah, di kantor tadi sore."


" Mau makan malam lagi, biar aku panasin sa-,"


" Tidak, aku masih kenyang." Tolak halus Bima.


" Duduk lah kamu pasti lelah, aku buatin teh dulu." Perintah Lisa, akan berjalan meninggalkan Bima, tapi tertahan oleh tangan Bima hingga membuatnya berhenti dan menatapnya.


" Tidak perlu, ayo duduk." Ucap Bima, membawa Lisa untuk kembali duduk dan duduk bersebelahan dengannya.

__ADS_1


" Kamu belum mandi! Mandi dulu sana, bau ih!!" Usir Lisa, ingin menggeser tubuhnya dari samping Bima, tapi terkejut saat Bima menariknya dan membuatnya terbentur di bidang dadanya.


Manis!


Membulatkan mata, saat tubuhnya di peluk oleh Bima. Tidak merasakan bau keringat, justru ia merasakan bau parfum coklat maskulin yang memabukkan.


Terasa tenang dan hangat.


Wanita pasti akan sangat terpikat, apa lagi dengan wajah Bima.


" Enggak bau kan! Wangi malahan." Kata Bima, dengan senyumnya saat Lisa tak kunjung menghindar dari tubuhnya, malah meresapi bau parfumnya.


" Bima! Iihh!!!" Seru Lisa dan sadar saat ia masih dalam dekapan Bima, dengan dia yang enggan melepaskan Lisa dari pelukannya.


Mencoba memberontak, tapi justru Bima semakin erat memeluknya. " Lepas gak." Ucap Lisa, dengan wajah yang sudah memerah malu karna pria ini tak kunjung melepaskan pelukannya.


" Bilang dulu kalau aku enggak bau."


" Memang kamu enggak bau! kan parfumnya di tambahin dulu sebelum ke sini." Sindir Lisa, membuat Bima tertawa menggelengkan kepala.


Wanita yang ada di dekapannya ini seperti mengerti saja apa yang di lakukannya, padahal dirinya sama sekali tidak memakai parfum lagi. Parfum yang ia semprotkan di tubuhnya di pagi hari saat akan berangkat bekerja, dan baunya masih melekat hingga malam hari. itulah sebabnya ia tak bau keringat. Meskipun begitu kringatnya juga tidak bau.


" Sok tau! Kata siapa."


" Tidak." Elak Bima.


" Halah, alasan. Padahal iya." Ucap Lisa. " Kenapa nahan tawa, benarkan!" Imbuhnya lagi, sambil mengerucutkan bibirnya.


" Di bilangin tidak, malah enggak percaya." Kata Bima. " Suka ya sama parfumnya, sampai betah gitu nempel terus." Ujarnya, membuat Lisa melototkan mata.


melihat tangan Bima yang sudah tidak lagi memeluknya membuat dirinya menjauh dan memukul bahu Bima berkali-kali karena kesal di godanya hingga membuat wajahnya merah merona seperti tomat.


Menyebalkan.


Bukannya marah, justru Bima semakin tertawa melihat Lisa yang cemberut dan memukul lengannya berkali-kali. Ia merasa puas bisa menggoda Lisa dan kembali ceria seperti dulu.


Cerewet dan menggemaskan.


" Mau kemana?" Tanya Bima, melihat Lisa berdiri dari duduknya.

__ADS_1


" Mau buat minuman dingin, hawa lagi panas." Ketus Lisa, berjalan meninggalkan Bima.


Bukan karna marah, justru rasanya ia ingin menghindar dari Bima, saat jantungnya berdebar kencang dan takut jika pria di sampingnya mendengar debaran jantungnya. Dan mungkin akan di goda kembali dan semakin di buat malu lagi.


Memilih alasannya yang tepat, untuk menetralkan kembali detak jantungnya. Lisa benar-benar akan pingsan dan di larikan ke rumah sakit bila jantungnya masih berdebar dengan kencang.


Lebay!


Menatap kepergian Lisa, ia hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepala melihat Lisa yang membuatnya semakin gemas dan nyaman dekat dengannya.


Beginikah rasanya jatuh cinta!


Cih! seperti remaja saja. Padahal sudah tua dan umur hampir kepada tiga. Masih saja memikirkan cinta.


****


" Makasih Ar? Sudah di beritahu alamat rumah Lisa." Ucap Fahmi, untuk berterima kasih pada Mawar dari sebrang telpon.


Kala dirinya menelpon Mawar, untuk menanyakan alamat rumah Lisa di kota. Dan juga memberitahunya jika ia sudah pindah bekerja di kota yang sama dengan Lisa.


Tentu Mawar sedikit terkejut mendengarnya, Fahmi pindah bekerja dan memilih kota yang sama dengan Lisa bukan sebab tanpa alasan. Mawar tau jika Fahmi masih mengejar Lisa dan juga mencintai sahabatnya. Tapi dia tak tahu, jika Lisa sudah tidak mencintainya lagi. Justru Lisa sangat ingin menghindar dari Fahmi. Karna masih terbayang akan sakitnya saat di sindir dengan hinaan yang menusuk hati.


Fahmi mendesaknya dan memohon berkali-kali padanya untuk memberitahukan alamat rumah Lisa. Karna ia merasa tak tega dan juga sudah memberitahukan pada suaminya. Suaminya pun mengijinkannya untuk memberikan alamat rumah Lisa. Dan membiarkan cerita cinta di antara mantan asisten dan mantan orang yang menyukai istrinya itu di mulai untuk merebutkan wanita yang di sukainya.


Tidak akan melarang mereka mendekati Lisa, tapi akan mengawasi dan juga tidak akan membiarkan Lisa sakit hati serta terluka. Jika dua pria yang menyukainya mencoba membuatnya terluka ataupun menangis kembali. Kevin akan membuat perhitungan!


Mematikan ponselnya, dan melihat pesan alamat rumah Lisa yang di kirim oleh Mawar. Membuat dirinya tersenyum, merasa senang sudah mendapatkan alamat rumah Lisa. Dan dirinya juga tidak tau kenapa sulit sekali berkomunikasi dengan Lisa, mendapatkan alamat rumahnya pun juga sulit dari Mawar, sampai berulang kali dirinya memohon pada Mawar.


Tapi tak mau ambil pusing, yang terpenting dirinya sekarang sudah mempunyai alamat Lisa. Dan dirinya akan bertemu dengan Lisa membali. Untuk menanyakan kejelasannya dulu dan meminta jawaban yang pasti dari wanita yang membuatnya sangat setia dengan cintanya di negara orang.


Fahim orang yang sangat setia, tapi sayang percintaannya tak semulus dengan rasa setianya. Haruskan ia kembali seperti dulu, di tolak Mawar, apakah Lisa juga akan menolaknya. Tapi sepertinya tidak! Karena dulu ia sempat mendengar Lisa membalas cintanya.


" Lisa, kita akan bertemu dan akan selamanya tetap bersama.!" Gumam Lisa dalam hati.


.


.


.

__ADS_1


.


🍃🍃🍃🍃


__ADS_2